Nick, usia 24 tahun. Memiliki wajah tampan, otak encer dan karir cemerlang. Namun semua itu tak membuat hidupnya bahagia. Hidupnya mulai terasa indah ketika bertemu dengan seorang gadis bernama Azizah.
Bersama Azizah dia merasakan artinya cinta. Namun sayang, orang tua Azizah tak merestui hubungan mereka. Demi bisa bersama, keduanya nekad melakukan hal terlarang yang berbuah petaka.
Nick dan Azizah berpisah dengan cara tak terduga. Kecelakaan tragis yang menimpa dirinya juga Azizah telah mengubah hidup pria itu seratus delapan puluh derajat.
Mampukah Nick menata hidupnya kembali? Apakah dia akan bersatu kembali dengan Azizah atau menemukan tambatan hati yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Adrianz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarung Khan
TOK
TOK
TOK
Iza mengetuk pintu kamar orang tuanya, kemudian membuka pintu yang tidak terkunci. Nampak ummi tengah melipat pakaian yang baru saja diambilnya dari butik. Iza menghampiri kemudian duduk di sampingnya.
“Ummi hmm..”
“Ada apa Zi?”
“Hmm.. Iza boleh ngga datang ke pernikahan teman? Acaranya di Bandung, ummi. Kalau boleh Jumat malam Iza berangkat, pulangnya Minggu sore.”
“Sama siapa?”
“Sama Meta.”
“Berdua aja?”
“Ng.. ngga ummi. Sama temenku yang lain juga.”
“Nick maksudnya?”
Iza menatap wajah ummi cukup lama. Dengan tepat wanita itu bisa menebak siapa orang yang pergi bersama dirinya. Iza menundukkan kepalanya, gadis itu pesimis akan mendapatkan ijin.
“Selain dengan Nick, kamu pergi dengan siapa lagi?”
“Dengan temannya Nick, salah satunya Arnav. Aku kenal dia pas penelitian di kantornya. Sebenarnya yang nikah itu temannya Nick. Aku ngga enak aja kalau ngga datang karena diundang secara langsung.”
Ummi melipat baju terakhir kemudian memasukkan ke dalam keranjang. Rencananya baju tersebut besok akan dikirimkan pada majelis taklim salah satu temannya. Wanita paruh baya itu kembali ke tempatnya semula. Kini dengan serius berbicara dengan anak gadisnya itu.
“Kamu menyukai Nick?”
Lagi-lagi Iza dibuat terkejut dengan lontaran kalimat yang dikeluarkan oleh ibunya itu. Iza menundukkan kepalanya, jari-jari tangannya tampak saling meremat. Ummi meraih tangan Iza kemudian menggenggam dengan kedua tangannya.
“Tanpa kamu jawab, ummi sudah tahu perasaanmu.”
“Maaf ummi.”
“Kenapa harus minta maaf? Perasaan suka terhadap lawan jenis adalah sesuatu yang wajar. Sepertinya Nick anak yang baik. Ummi akan mengijinkanmu pergi, tapi... dengan satu syarat.”
“Apa ummi?”
“Kamu harus mengajak Rivan.”
Rivan adalah anak Anton, adik dari Aurel. Anton sendiri adalah kakak dari Mina, wanita yang kerap dipanggil ummi oleh anak dan suaminya. Selama Ridho, kakak Iza berada di Kairo, Rivan kerap ditugaskan mengawal Iza jika harus bepergian jauh. Walau usianya baru 17 tahun, tapi pemuda itu amanah dan bertanggung jawab.
“Makasih ummi, nanti aku yang telpon Rivan.”
“Biar ummi yang telepon ommu.”
“Tapi abi bagaimana ummi?”
“Makanya ummi bilang kamu harus ajak Rivan. Selain untuk menjagamu, dia juga tiket kamu supaya mendapat ijin dari abi,” ummi menjawil hidung Iza.
“Makasih ummi.”
Iza menghambur ke dalam pelukan ummi. Wanita itu mengusap pelan punggung sang anak. Bahagia rasanya bisa melihat putri satu-satunya bisa tersenyum kembali. Ummi sudah curiga dengan perubahan Iza akhir-akhir ini. Gadis itu terlihat lebih ceria dan banyak tersenyum. Rasa penasarannya terjawab sudah ketika bertemu dengan Nick. Sekali lihat dia sudah tahu ada sesuatu antara anaknya dengan lelaki itu.
🍂🍂🍂
Jam tujuh lebih dua puluh menit Anton mengantarkan anak bungsunya, Rivan ke kediaman Rahadi. Rencananya Rivan akan menemani Iza menghadiri pernikahan temannya di Bandung. Dari arah tangga nampak Iza turun dengan membawa traveling bagnya. Dia lalu menghampiri Anton lalu mencium punggung tangannya.
“Jam berapa rencananya kalian berangkat?” tanya Anton.
“Jam delapan, om.”
“Kamu dijemput ke sini?”
“Ngga om. Kita rencananya kumpul di hotel Ambrossia Hills.”
Awalnya Nick berinisiatif untuk menjemput Iza ke rumahnya namun ditolaknya. Iza belum siap mempertemukan Nick dengan abinya. Bisa-bisa dia batal pergi ke Bandung jika mereka bertemu.
“Kenapa harus di hotel kumpulnya?!” nada suara Rahadi mulai meninggi.
“Cuma kumpul aja abi. Temen aku kan kerjanya di sana. Lagi pula lebih dekat juga masuk ke tolnya.”
“Kalau begitu, ayo om antar.”
“Aku ikut.”
“Kamu diam saja di rumah. Biar aku yang menitipkan Iza pada teman-temannya.”
Rahadi diam begitu mendengar ucapan Anton. Pria itu memang cukup segan dengan kakak iparnya yang jarang berbicara namun memiliki aura tegas yang tidak bisa dibantah.
Iza mencium punggung tangan Rahadi dan Mina bergantian. Mina memeluk Iza sejenak kemudian mencium keningnya. Anton menghela bahu Iza keluar dari rumah bersama dengan Rivan. Ketiganya kemudian masuk ke dalam mobil.
Empat puluh menit berselang, kendaraan yang ditumpangi Iza akhirnya sampai di pelataran parkir Ambrossia Hills. Nick, Abe dan Denis sudah berada di sana. Hanya tinggal Arnav yang sedang menjemput Meta. Iza disusul Rivan dan Anton turun dari mobil. Kedatangan mereka langsung disambut oleh Nick.
Iza memperkenalkan Nick pada Anton. Nick mencium punggung tangan Anton, disusul oleh Abe juga Denis. Ketiganya lalu berkenalan dengan Rivan. Nick mengambil travel bag Iza kemudian memasukkannya ke mobil.
“Saya titip Iza dan Rivan,” ucap Anton.
“Iya om. Terima kasih sudah mempercayakan Iza juga Rivan pada saya.”
“Hati-hati mengendarai mobilnya, jangan ngebut-ngebut.”
“Siap om,” jawab Nick dan yang lainnya bersamaan.
“Kalau gitu om pulang dulu. Rivan, jagain kakak kamu ya.”
“Iya pa.”
Anton mengusap puncak kepala Iza dan Rivan, kemudian berjalan masuk ke mobilnya. Tak lama kereta besi itu keluar dari pelataran parkir. Bersamaan dengan itu, Avanza hitam milik Arnav masuk. Pria itu menghentikan mobil di dekat teman-temannya berkumpul. Meta dan Arnav turun lalu bergabung dengan yang lain.
Meta tersenyum melihat Rivan juga ikut dalam perjalanan ini. Gadis itu mendekati Rivan yang berdiri di samping Iza.
Dia mengenalkan pemuda yang sudah dianggapnya adik pada Arnav. Rivan menjabat tangan Arnav seraya menyebutkan namanya. Matanya menelisik pria yang mirip bintang film India dari atas sampai bawah.
“Mau langsung cabut apa mau makan dulu?” tanya Arnav.
“Langsung cabut ajalah, nanti kita cari makan di jalan atau di rest area,” usul Denis.
Semuanya mengangguk mendengar usulan Denis. Abe dan Denis segera menuju mobil Abe. Mereka berdua memutuskan untuk pergi bersama. Arnav pun mengajak Meta masuk ke dalam mobil. Begitu pula dengan Iza. Tapi Rivan menghentikan langkahnya saat sudah mendekati mobil Nick.
“Kak.. aku naik mobil bareng kak Meta aja ya.”
“Kenapa?” tanya Nick.
“Aku ngga percaya sama si Sarung Khan itu. Kayanya dia tuh cowok tipikal buaya buntung.”
Tawa Nick hampir pecah mendengarnya. Sepertinya wajah Arnav memang identik dengan sebutan playboy, buaya darat atau buaya buntung. Tanpa diberitahu pun Rivan sudah tahu kalau pria keturunan Pakistan itu masuk dalam kategori buaya dan sejenisnya.
Setelah mendapat ijin dari Iza, sambil menggendong tas ranselnya, dia berjalan menuju mobil Arnav. Diketuknya kaca jendela beberapa kali. Arnav menurunkan kaca jendela yang diketuk Rivan.
“Bang.. gue ikut mobil ini. Bukain pintunya dong.”
Dengan sangat terpaksa, Arnav membukakan kunci mobil. Dengan santai Rivan naik ke mobil kemudian memasang sabuk pengaman ke tubuhnya. Meta tentu saja senang Rivan ikut satu mobil bersamanya. Dengan begitu dia tidak akan berada pada situasi canggung selama perjalanan menuju kota Kembang.
“Ngapain ikut di sini? Bukannya kamu disuruh jagain Iza?”
“Situasi kak Iza aman terkendali. Lagian gue ngga mau jadi obat nyamuk tak berasap kalau ikut di mobil mereka.”
“Nah lo di sini juga bakalan jadi obat nyamuk tak berasap.”
“Kalau di sini gue emang sengaja mau jadi obat nyamuk, bang. Soalnya nyamuk di mobil ini nakal banget, yakin gue.”
Meta terkikik geli mendengar perdebatan Arnav dan Rivan. Sambil mendengus kesal, Arnav mulai melajukan kendaraannya. Mengikuti dua kendaraan di depannya yang dikemudikan oleh Abe dan Nick.
Suasana hening begitu terasa di dalam mobil. Arnav lebih memilih diam ketimbang harus berdebat dengan bocah tengil di sebelahnya. Rencananya untuk menikmati perjalanan dengan diiringi lagu romantis dan perbincangan hangat ambyar sudah. Semua rusak gara-gara kehadiran Rivan.
“Bang.. sepi amat, nyanyi napa?”
“Lo aja yang nyanyi!” ketus Arnav.
“Mending abang. Orang India kan pinter nyanyi sama joged kaya Sarung Khan.”
“Gue itu turunan Pakistan bukan India. Lagian juga cuma setengah.”
“Ah elah beda dikit doang. Ya udah deh mending nyetel musik aja. Mau denger lagu apa bang?”
“Terserah lo aja buluk!”
“Oke.. mari kita semarakkan perjalanan ini.”
Rivan membuka tas ranselnya kemudian mengambil sesuatu dari dalamnya. Tangan Rivan menggenggam usb kemudian menyambungkannya ke audio mobil Arnav. Tak tanggung-tanggung, Rivan menaikkan volume cukup tinggi. Seketika terdengar suara musik membahana, mengagetkan Arnav yang tengah menyetir.
“Eh buset kenceng amat volumenya, kecilin!”
Rivan berdecak sebal namun tak ayal tangannya bergerak menurunkan tingkat volume. Kemudian dia ikut bernyanyi mengikuti lagu yang diputarnya. Arnav menggelengkan kepala. Tak menyangka bocah yang disangkanya anak gaul ternyata menyukai jenis musik dangdut koplo.
“Hey! Kenapa kamu kalau nonton dangdut sukanya bilang, buka sitik joss! Apa karena pakai rok mini jadi alesan. Sukanya.. abang ini lihat-lihat bodiku yang seksi. Senangnya... abang ini intip-intip ku pakai rok mini.”
Rivan bernyanyi sambil bergoyang ala Caesar. Meta tak dapat menahan tawanya melihat kelakuan Rivan. Pemuda itu memang agak geser otaknya. Itulah mengapa dirinya juga Iza senang jika bepergian ditemani olehnya. Perjalanan mereka tidak terasa hambar, justru penuh warna.
“Karawang digoyang!! Cirebon mana suaranya!! Ayo bang Arnav goyang bang. Asik-asik josss!!”
“Najis!!”
Meta memegangi perutnya sambil terus tertawa. Tangannya bergerak mengusap sudut matanya yang berair karena tak berhenti tertawa. Arnav melirik gadis itu dari kaca spion. Wajah Meta yang tengah tertawa sungguh membuat hatinya bergetar. Tak sadar pria itu mengulas senyum.
🍂🍂🍂
Setelah melalui kemacetan di beberapa titik, akhirnya rombongan sampai juga di kota Bandung. Waktu menunjukkan pukul nol nol lewat lima menit. Mereka langsung menuju hotel tempat akad dan resepsi akan dilangsungkan esok hari. Fahrul telah menyiapkan tiga buah kamar untuk mereka.
Iza tidur sekamar dengan Meta. Denis dengan Abe dan Nick dengan Arnav. Rivan sebagai personil tambahan akan tidur bersama dengan Nick dan Arnav. Hal ini dimanfaatkan Arnav untuk mengorek informasi lebih banyak tentang Meta.
Setelah membersihkan badan, ketiga lelaki itu merebahkan diri di kasurnya masing-masing. Fahrul sengaja memesan kasur twin beds untuk para sahabatnya. Nick meminta ekstra bed untuk Rivan.
“Van, kalau Meta makanan kesukaannya apa?”
Rivan yang baru saja hendak memejamkan mata kembali membuka matanya lagi. Dia menoleh ke arah Arnav yang tengah berbaring miring dengan lengan menyangga kepalanya. Matanya menatap ke arah Rivan dengan rasa penuh keingintahuan.
“Mau tau aja atau mau tau banget?” tanya Rivan asal.
“Nih bocah dari tadi ngeselin mulu.”
“Wani piro bang?”
“Apa aja gue kasih yang lo mau!”
Rivan bangun dari tidurnya kemudian duduk bersila di atas kasur. Arnav pun melakukan hal yang sama. Tak berbeda dengan sahabatnya, Nick juga kembali menegakkan tubuhnya.
“Kak Meta tuh ngga terlalu suka makanan yang manis-manis. Dia lebih suka yang gurih-gurih gitu.”
“Apa contohnya?”
“Upil!”
Sebuah keplakan mendarat di kepala Rivan. Bocah itu senang sekali membuat Arnav naik darah. Nick pun tak bisa menahan tawanya. Sosok Rivan jauh dari perkiraannya saat pertama melihatnya.
“Nih anak kayanya ada yang putus urat syarafnya,” cetus Arnav.
“Mau lanjut ngga nih?”
“Yang bener curut kasih infonya!”
“Kak Meta tuh suka jajanan pasar kaya risoles, kroket kentang, lemper, panada. Jadi, kalau mau ngasih cemilan ngga usah yang mahal-mahal. Jogrogin aja tuh jajanan pasar pasti abis dimakan sama dia.”
“Dia udah punya pacar belum?”
“Ya belum lah. Ngga ada istilah pacaran dalam hidupnya. Pokoknya kalau udah nemu pasangan yang pas langsung nikah.”
“Lo kenal deket sama Meta?”
“Ya kenallah. Orang rumah kita cuma beda lima langkah doang.”
“Serius lo?”
“Serius. Makanya baek-baek om ama gue kalau mau deketin kak Meta.”
“Om.. om.. om.. kapan gue kawin ama tante lo!”
“Kalau abinya Iza kaya gimana?”
Kali ini terdengar suara Nick. Rivan melihat sejenak ke arah Nick. Alih-alih menanyakan tentang Iza, pria itu malah lebih penasaran akan sosok Rahadi. Wajah Rivan mulai serius ketika membicarakan pamannya itu yang terkenal otoriter dan posesif pada anak perempuannya.
“Kalau om Hadi orangnya agak kaku. Gue juga agak takut kalau ngobrol sama dia. Cuma bokap gue pawangnya om Hadi sama ummi juga pastinya. Kadang gue kasihan sama kak Iza, dia ngga bisa jadi dirinya sendiri. Om Hadi terlalu mengatur dan mengekang hidup kak Iza. Emang sih itu untuk kebaikan tapi kadang gue takut kalau suatu saat kak Iza udah ngga kuat menghadapi semua tekanan dan aturan om Hadi, dia akan meledak seperti apa.”
“Lo tau cowok yang sempet deket sama Iza siapa?”
“Kak Anang?”
“Iya kali.”
“Ya pasti dia, ngga ada lagi. Kak Iza tuh ngga punya temen cowok, satu-satu cowok yang deket sama dia ya kak Anang. Om Hadi tuh suka banget sama dia. Di mata dia ngga ada cowok yang lebih baik dari kak Anang buat kak Iza. Kak Iza juga suka sama kak Anang, tapi ternyata mereka ngga jodoh.
Gue sih ngga permasalahin soal dia nikah sama kak Isma. Tapi yang bikin gue gedeg, tuh orang ngga berani terus terang kalau nerima perjodohan dengan perempuan lain. Enam bulan dia nutupin semua dari kak Iza, om Hadi juga. Kak Iza udah kaya orang bego yang ngga tau apa-apa. Makanya begitu tahu kalau kak Anang nikah sama Isma, yang juga temannya. Dia shock banget.”
Nick terdiam, kini dia tahu kenapa Iza nampak ragu menerima tawarannya untuk ta’aruf. Mungkin gadis itu takut dikecewakan lagi. Nick meraih ponsel yang ada di dekat bantal kemudian dia mulai mengetik pesan pada Iza.
To My Zi❤️❤️❤️ :
Sudah tidur?
From My Zi❤️❤️❤️ :
Baru mau, kenapa?
To My Zi❤️❤️❤️ :
Ngga apa-apa, just checking. Have a nice sleep. I love you.
Nick menunggu beberapa saat, namun tak kunjung ada balasan walau centang abu telah berubah menjadi biru. Dia meletakkan ponsel ke sisi bantal kemudian merebahkan tubuhnya. Nick mulai memejamkan matanya, dia berusaha menulikan telinga saat Arnav masih saja mencari tahu tentang Meta dari Rivan. Pikiran Nick menerawang, bagaimana caranya menaklukkan hati Rahadi. Diakui atau tidak, ayah dari Iza itu merupakan rintangan terbesarnya untuk mendapatkan gadis pujaannya.
🍂🍂🍂
Jarang² ya anak ABG gaul suka lagu dangdut koplo. Mantul lah Rivan. Palakin aja si Arnav, jangan mau kasih informasi gratisan😉
padahal nabila cuman baca.padahal cuman crita.
sampek anakku nanya di sampingku.
emak nangisi apa.nangis kenapa??
ini baca crita online.
heheheheh
arnav kasik jodoh pasangan juga donk .
nbila nangis trus bacanya ini.
😭😭