NovelToon NovelToon
Istri Cerdik Pak Kades

Istri Cerdik Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.

Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Perjanjian Navasari

Navasari tidak lagi terbangun oleh suara kokok ayam yang damai, melainkan oleh deru mesin-mesin berat yang mulai berjaga di perbatasan desa. Kabar tentang deposit lithium dan penangkapan Siska telah meledak di media nasional. Pagi ini, balai desa berubah menjadi medan diplomasi tingkat tinggi.

Arum berdiri di depan cermin, merapikan kerah kebayanya. Di atas meja, kunci emas pemberian Siska dan map merah "Operasi 1995" tergeletak berdampingan.

"Mas sudah kumpulkan para sesepuh dan perwakilan pemuda?" tanya Arum tanpa menoleh.

Baskara mengangguk, ia sedang memakai kemeja batik terbaiknya. "Sudah, Rum. Mereka semua ada di aula. Tapi mereka takut. Mereka dengar pemerintah pusat akan mengambil alih tanah kita malam ini juga."

Arum mengambil tas kerjanya. "Itu kalau kita membiarkan mereka masuk lewat pintu depan. Tapi kita punya pintu kita sendiri."

Aula balai desa penuh sesak. Di barisan depan, duduk utusan kementerian, pengacara dari korporasi Arka Energy, dan beberapa pejabat daerah yang nampak gelisah. Arum melangkah masuk, suaranya yang tenang seketika membungkam riuh rendah ruangan.

"Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian," Arum memulai. "Saya tahu tujuan Anda ke sini adalah untuk membicarakan kontrak penambangan. Namun, sebelum kita bicara soal angka, saya ingin menunjukkan satu struktur hukum yang telah sah terdaftar di kementerian hukum satu jam yang lalu."

Arum memproyeksikan sebuah diagram di layar besar.

"Ini adalah Yayasan Dana Abadi Navasari," Arum menjelaskan dengan nada profesional yang dingin. "Berdasarkan amanat UU Agraria dan celah hukum dalam hak ulayat yang telah dikuatkan oleh dokumen sejarah 1995, tanah Navasari bukan lagi tanah perorangan. Tanah ini telah dikonsolidasikan ke dalam aset milik komunitas yang tidak bisa dijual, hanya bisa dikelola."

Seorang pengacara dari Arka Energy berdiri. "Nyonya Arum, Anda tidak bisa secara sepihak memblokir proyek strategis nasional! Kami punya izin prinsip!"

"Izin prinsip Anda tidak berlaku di atas tanah yang statusnya adalah Laboratorium Alam Terbuka," Arum membalas telak. "Dan saya sudah mengamankan nota kesepahaman dengan tiga universitas top dunia untuk menjadikan Navasari sebagai pusat riset energi terbarukan. Jika Anda memaksa masuk dengan alat berat, Anda bukan melawan warga desa, Anda melawan konsorsium riset internasional."

Baskara menatap istrinya dengan bangga. Ia baru menyadari bahwa kunci emas yang diberikan Siska semalam ternyata berisi akses ke drive digital milik ibunya yang berisi kontrak-kontrak riset yang sudah dirancang sejak 30 tahun lalu namun baru bisa diaktifkan oleh ahli warisnya Arum.

Perundingan berjalan alot selama enam jam. Arum tidak memberikan ruang sedikit pun bagi korporasi untuk memonopoli.

"Syarat kami sederhana," pungkas Arum sambil menyodorkan dokumen Perjanjian Navasari. "Pertama, tidak ada penambangan terbuka. Kedua, 40% keuntungan harus masuk ke dana pendidikan dan kesehatan warga secara permanen. Ketiga, tenaga kerja ahli harus berasal dari anak-anak desa yang kami sekolahkan dengan beasiswa kalian."

Pihak kementerian saling berbisik. Mereka sadar, Arum telah mengunci posisi pemerintah; menolak tawaran ini berarti mereka akan dicap sebagai penindas rakyat kecil di mata internasional, karena Arum telah mengundang media asing untuk meliput secara daring.

Di tengah ketegangan itu, seorang utusan dari istana mendekat ke meja Arum. "Ibu Arum, Anda benar-benar auditor yang berbahaya. Anda tidak hanya menghitung uang, Anda menghitung masa depan."

Arum hanya tersenyum tipis. "Saya hanya melanjutkan audit yang belum selesai, Pak."

Namun, saat semua pihak mulai menandatangani dokumen, Marno masuk dengan tergesa-gesa. Ia memberikan selembar foto satelit terbaru kepada Arum.

"Bu Kades... ada anomali," bisik Marno. "Di titik koordinat sumur tua, suhu tanah meningkat drastis secara tidak wajar. Ini bukan karena reaksi kimia biasa. Sesuatu di bawah sana... mulai bocor."

Arum melihat foto itu. Warna merah tua menyelimuti area sumur. Lithium itu stabil, kecuali jika ada seseorang yang sengaja menyuntikkan katalis ke dalam tanah sebuah tindakan sabotase terakhir untuk memastikan jika mereka tidak bisa memilikinya, maka tidak ada yang bisa.

Arum menoleh ke arah jendela. Di kejauhan, ia melihat sosok pria yang sangat ia kenali berdiri di pinggir hutan, memegang sebuah remote control industri. Kolonel Baskoro.

"Mas, evakuasi warga sekarang!" Arum berteriak. "Mereka mencoba meledakkan urat nadi lithium kita!"

Suasana aula yang tadinya dipenuhi aroma kertas dokumen dan parfum pejabat, seketika berubah menjadi kepanikan massal. Teriakan Arum merobek ketenangan semu yang baru saja tercipta.

"Marno, aktifkan sistem pemadam otomatis di tangki BUMDes! Mas Baskara, giring semua orang ke lapangan terbuka di sisi Timur, sejauh mungkin dari sumur!" perintah Arum, suaranya tetap stabil meski dadanya bergemuruh.

Arum tidak ikut berlari ke arah lapangan. Ia justru menyambar tas laptop dan kunci emasnya, lalu berlari menuju ruang kontrol pompa air desa yang letaknya tak jauh dari sumur tua.

"Arum! Mau ke mana?!" Baskara mencoba mengejar, namun ia tertahan oleh gelombang warga yang panik.

"Aku harus mematikan katup tekanan bawah tanah, Mas! Kalau urat nadi lithium itu meledak karena tekanan panas, Navasari akan jadi kawah!"

Arum sampai di ruang kontrol yang sempit. Di layar monitor, ia melihat grafik suhu yang meroket. Garis merah itu bergetar hebat, menandakan ada tekanan gas yang dipaksa masuk ke dalam rongga mineral.

"Kolonel Baskoro... dia menggunakan pompa injeksi dari proyek waduk lama," geram Arum.

Ia segera meretas sistem kendali pompa jarak jauh. Jemarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ini bukan lagi soal audit keuangan, ini adalah audit sistem fluida. Arum mencari celah dalam protokol keamanan pompa tersebut.

Di luar, tanah mulai bergetar. Suara gemuruh dari dalam perut bumi terdengar seperti raungan monster yang terbangun. Kolonel Baskoro, dari pinggir hutan, menatap layar kendalinya dengan senyum kemenangan. Baginya, jika aset ini tidak bisa dikuasai Jakarta, maka aset ini harus musnah agar tidak menjadi kekuatan bagi rakyat kecil.

BEEP! BEEP! BEEP!

"Dapat!" Arum menekan tombol Enter dengan keras.

Arum tidak mematikan pompa itu karena itu akan menyebabkan backpressure yang justru mempercepat ledakan. Sebaliknya, ia membalikkan aliran (reverse flow). Ia memaksa cairan pendingin dari tangki cadangan desa untuk masuk ke dalam lubang injeksi dengan tekanan dua kali lipat.

Di pinggir hutan, alat kendali Kolonel Baskoro mendadak mengeluarkan asap. "Apa yang terjadi?!" teriaknya pada operatornya.

"Seseorang melakukan override, Komandan! Mereka membalikkan tekanannya ke arah kita!"

Tiba-tiba, pipa injeksi di dekat hutan meledak karena tak kuat menahan tekanan balik. Cairan lumpur dingin menyembur keluar, membasahi Kolonel Baskoro dan anak buahnya. Di saat yang sama, grafik suhu di layar Arum perlahan menurun. Garis merah itu melandai.

Arum jatuh terduduk di lantai ruang kontrol yang dingin. Ia lemas. Napasnya tersengal-sengal. Di luar, suara gemuruh tanah perlahan hilang, digantikan oleh suara sirine polisi yang mendekat ke arah hutan untuk membekuk kelompok Kolonel Baskoro.

Baskara mendobrak pintu ruang kontrol, langsung memeluk Arum yang masih gemetar. "Sudah selesai, Rum. Kamu berhasil lagi."

Arum bersandar di dada suaminya. "Mas... ini benar-benar audit terakhirku. Aku tidak mau lagi berurusan dengan sesuatu yang bisa meledak."

"Tapi Rum," Baskara melepaskan pelukannya sedikit, menatap mata istrinya dengan takjub. "Tadi aku lihat di layar besar aula... saat kamu melakukan override sistem, kamu secara tidak sengaja membuka enkripsi data terakhir milik ibumu yang tersimpan di server pompa itu."

Arum mengerutkan kening. "Maksudmu?"

"Data itu bukan soal lithium, Rum. Itu adalah daftar nama-nama 'Penerima Manfaat' sesungguhnya dari proyek 1995. Dan nama paling atas di daftar itu bukan Adiguna atau Siska."

Arum melihat ke arah monitor. Nama itu muncul dengan jelas. Seorang tokoh bangsa yang selama ini dikenal sebagai pahlawan rakyat, namun ternyata adalah otak di balik penderitaan Navasari selama tiga dekade.

"Perang ini belum berakhir, Mas," bisik Arum, matanya kembali menajam. "Kita baru saja mengetuk pintu bos besarnya."

1
Wanita Aries
seruuu thor
Wanita Aries
mampir thorrr
Chelviana Poethree
ijin mampir thor
piah
bagus ..
menegangkan ..
Agustina Fauzan
ceritanya seru dan d
Agustina Fauzan
ceritanya seruuu...tegang...

lanjut thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!