Shen Kuo Yu, bilioner wanita yang tewas di puncak kejayaannya karena kebocoran jantung, ia terbangun di tubuh Liu Xiao Xiao- gadis malang yang disiksa oleh keluarga angkatnya. Takdir pahit menantinya. Ia dipaksa menggantikan saudari tiri nya untuk menjadi pengantin pengganti dan menikahi Pangeran Keempat yang konon buruk rupa dan berhati kejam.
Shen Kuo Yu akan menaklukan Pangeran itu dan menjadikan nya bidak untuk membalas dendam pada Keluarga Liu yang memperlakukan nya seperti binatang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 : Kobaran Api
Xiao Xiao terbangun bukan karena suara gaduh, melainkan karena rasa panas yang mulai merayap di kulitnya. Indranya yang tajam segera menangkap bau kayu terbakar. Ia tidak berteriak panik. Dengan gerakan tenang namun cepat, ia menyambar kain panjang, mencelupkannya ke dalam sisa air di teko, lalu melilitkannya ke hidung dan mulutnya.
"Mao! Bangun!" seru Xiao Xiao sambil mengguncang bahu pelayannya yang tidur di lantai kamar.
Mao terbangun dengan mata terbelalak ketakutan saat melihat asap tebal sudah memenuhi langit-langit kamar. "N-nona! Api! Paviliun kita dibakar!"
"Jangan bicara, simpan tenagamu! Ikuti aku!" Xiao Xiao menarik tangan Mao.
Bukannya lari ke pintu depan yang sudah dijilat api besar, Xiao Xiao justru menyeret Mao menuju jendela samping yang mengarah ke kolam kecil. Ia tahu betul, pintu depan pasti sudah dikunci dari luar oleh orang-orang Permaisuri atau utusan yang merasa dihina tadi siang.
Brak!
Xiao Xiao menendang kursi kayu hingga hancur, lalu menggunakan kakinya yang patah untuk menyungkil grendel jendela yang macet. Begitu jendela terbuka, udara segar masuk, namun api justru semakin besar karena mendapat oksigen.
"Lompat, Mao! Sekarang!" perintah Xiao Xiao tegas.
Setelah Mao mendarat di rumput basah, Xiao Xiao menyambar kotak kayu kecil berisi ramuan yang tersisa dan beberapa keping uang perak hasil penjualannya. Baginya, barang-barang ini adalah nyawanya saat ini. Ia melompat keluar tepat saat atap kamar mereka mulai runtuh.
Di luar, suasana sangat sunyi. Tidak ada pelayan yang datang menolong. Para penjaga yang biasanya berpatroli seolah menghilang ditelan bumi. Xiao Xiao menyadari bahwa ini bukan sekadar kecelakaan; ini adalah pembersihan yang disengaja.
"Siapa di sana?" sebuah suara berat menggelegar dari balik kegelapan.
Pangeran Wang Zhi Chen muncul dengan pedang terhunus di tangannya. Bajunya tampak berantakan, dan ada noda jelaga di wajahnya yang tertutup topeng. Ia tampak baru saja bertarung dengan seseorang.
"Kalian masih hidup?" tanya Zhi Chen, suaranya terdengar antara lega dan terkejut.
"Seperti yang Anda lihat, Pangeran. Api ini tidak cukup panas untuk membakar saya," jawab Xiao Xiao sembari mengibaskan debu dari hanfu merahnya yang kini menghitam. Matanya menatap kobaran api yang menghanguskan tempat tinggalnya dengan tatapan dingin.
Zhi Chen mendekat, matanya yang tajam menatap Xiao Xiao dari atas ke bawah. "Para penjaga gerbang telah ditarik paksa oleh perintah Istana Utama. Ada orang yang ingin kalian mati terpanggang tanpa ada saksi mata."
Xiao Xiao mengepalkan tangannya. "Permaisuri bergerak lebih cepat dari yang aku duga. Dia lebih suka menghancurkan apa yang tidak bisa dia miliki."
"Lalu sekarang apa?" Zhi Chen menunjuk paviliun yang sudah hampir rata dengan tanah. "Kau tidak punya tempat tinggal, dan semua bahan-bahanmu sudah hangus."
Xiao Xiao menoleh ke arah sang Pangeran. Bukannya terlihat sedih, ia malah menunjukkan senyum yang membuat Zhi Chen merinding.
"Pangeran, istana utama ingin kita kehilangan tempat berteduh agar kita menyerah. Tapi mereka lupa satu hal," Xiao Xiao mengangkat kotak kayu kecil yang berhasil ia selamatkan. "Selama otak dan tanganku masih ada, aku bisa membangun kembali apa pun. Malam ini, aku akan menumpang di paviliun Anda. Dan besok pagi, kita akan menagih 'ganti rugi' yang sangat mahal atas kebakaran ini."
Zhi Chen terdiam sejenak, lalu ia menyarungkan pedangnya. "Kau benar-benar wanita yang berbahaya. Ikuti aku. Tapi jangan harap ada kemewahan di tempatku."
Xiao Xiao berjalan mengikuti langkah besar Pangeran, mengabaikan Mao yang masih gemetar di belakangnya. Di kepalanya, ia tidak lagi memikirkan kebakaran itu. Ia sudah mulai menghitung berapa banyak harta yang bisa ia peras dari kas Permaisuri sebagai kompensasi atas insiden malam ini.
***
Happy Reading❤️
Mohon Dukungan
● Like
● Komen
● Subscribe
● Ikuti Penulis
Terimakasih ^_^ ❤️