Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Berbisa di Hutan Terlarang
Li Hua urung meminum cairan dari sang Penjaga Keseimbangan. Keputusan itu tertunda karena sebuah bayangan hitam melintas cepat di cermin perunggunya sebuah peringatan bahwa ancaman belum benar-benar berakhir.
"Aku belum bisa melepaskan raga ini," bisik Li Hua pada Tian Long, suaranya bergetar menahan sakit di kakinya. "Selir Yue masih hidup. Jika dia berhasil mencapai perbatasan utara, dia akan membawa sisa pasukan Serigala Hitam untuk membakar habis desa-desa kita. Aku harus menyelesaikannya dengan tanganku sendiri."
Tian Long mengangguk, meski hatinya cemas. Ia tahu Li Hua benar. Selir Yue adalah luka terbuka yang akan terus membusuk jika tidak segera dibersihkan. "Kita akan mengejarnya. Tapi kau tidak akan pergi sebagai Permaisuri yang lemah. Kau akan pergi sebagai jenderal perangku."
Pengejaran di Lembah Kabut
Selir Yue, dengan pakaian yang robek dan wajah yang penuh dendam, berlari menembus hutan lebat di perbatasan. Ia tidak sendiri; ia dikawal oleh sisa-sisa pembunuh bayaran klan Yue yang paling setia. Di tangannya, ia menggenggam sebuah segel militer curian yang bisa menggerakkan pasukan cadangan di perbatasan.
"Cepat! Sedikit lagi kita sampai di kamp Utara!" teriak Yue. Matanya liar, dipenuhi kegilaan. Ia telah kehilangan segalanya,kecantikan, status, dan ayahnya. Yang tersisa hanyalah keinginan untuk melihat Li Hua menderita.
Namun, suara derap kuda yang kencang mulai terdengar dari belakang. Di bawah sinar bulan yang pucat, tampak sesosok penunggang kuda dengan jubah merah yang berkibar seperti bendera perang. Itu adalah Li Hua.
Li Hua memacu kudanya secepat kilat, mengabaikan rasa sakit yang menusuk-nusuk kakinya setiap kali kuda itu melompat. Di sampingnya, Tian Long memimpin pasukan kavaleri ringan.
"Yue! Berhenti!" teriak Li Hua. Suaranya menggema di lembah, membuat burung-burung malam beterbangan.
Duel di Tepi Jurang
Pelarian Selir Yue terhenti di sebuah jembatan gantung tua yang melintasi jurang dalam. Di bawahnya, sungai berarus deras mengalir di antara batu-batu tajam.
"Kalian tidak bisa menangkapku!" Yue berteriak, menodongkan pisau kecil ke leher pelayan pribadinya yang ia sandera sebagai tameng. "Satu langkah maju, dan aku akan menghancurkan segel ini dan membunuh semua orang!"
Li Hua turun dari kudanya. Langkahnya terseok, namun ia menolak bantuan Tian Long. Ia berjalan mendekati Yue, membiarkan jubah merahnya terseret di tanah berbatu.
"Yue, kau sudah kalah," ucap Li Hua tenang. "Klanmu sudah runtuh. Rakyat membencimu. Apa lagi yang kau cari?"
"Aku mencari keadilan!" jerit Yue. "Kau hanyalah sampah dari jalanan! Bagaimana mungkin kau, yang buruk rupa dan hina, bisa memiliki hati Kaisar? Aku yang cantik, aku yang terlahir bangsawan, aku yang seharusnya berada di sana!"
Li Hua berhenti beberapa langkah dari jembatan. "Kecantikanmu adalah penjara bagimu, Yue. Kau begitu takut kehilangan wajahmu hingga kau kehilangan kemanusiaanmu. Aku pernah hidup tanpa wajah yang cantik, dan aku tahu bahwa kekuatan sejati tidak ada pada kulit yang mulus, tapi pada keberanian untuk mengakui siapa dirimu.
Yue sempat terdiam,,lalu berteriak "diamm kau berisik sekali aku benci padamu"aku berharap kau cepat mati...hahaha tiba-tiba yue tertawa,ia seperti sudah gila.
kau sudah gila yue,,hanya karena kebencian pada rupa ku,kau ingin membunuhku.