Seorang gadis cantik bernama Anggi yang menjadi korban perceraian orangtuanya karena ayahnya selingkuh dengan sahabat ibunya sendiri. Kejadian itu pun dialami oleh Anggi sendiri.
Anggi memiliki sahabat dari kecil bernama Nia. Bahkan dia sudah dianggap Nia saudara sendiri bukan lagi seperti sahabat. Nia mengkhianati Anggi dan mengambil kekasih Anggi.
Bagaimana kisah selanjutnya yuk baca cerita selengkapnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenca04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Zian yang sudah dua hari tidak masuk kantor saat terakhir Anggie bertemu dengan Zian saat dimana ia mengantarkannya pulang ke rumah orang tua Zian. Hingga hari ini Anggie belum bertemu dengan Zian kembali.
Roy asisten Zian hanya memberi tahu Anggie kalau Zian tidak bisa masuk. Roy juga tidak memberi tahu alasan Zian tidak masuk. Anggie ingin bertanya tapi takut dan gengsi.
Tapi Anggie tak bisa menahannya lagi karena yang ia tahu terakhir kali bertemu dengan Zian kondisinya sedang sakit. Akhirnya Anggie pun memberanikan diri untuk bertanya pada Roy yang sedang sibuk di ruangannya.
Tok
Tok
"Masuk."
"Maaf Pak saya mengganggu."
"Ada apa?"
"Saya mau tanya Pak Zian sudah dua hari tidak masuk..."
Ucapan Anggie terpotong karena Roy mendapat panggilan, "Maaf sebentar ya saya angkat telepon dulu."
"Kalau begitu maaf saya ganggu Pak, saya permisi."
Anggie pun akhirnya pergi dari ruangan Roy dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya lagi dengan pikiran masih terfokus pada Zian. Entah kenapa Anggie pun merasa takut terjadi sesuatu pada Zian.
Tak terasa kini sudah masuk jam pulang. Anggie yang memang langsung pulang ke apartemen Angga dan hati kecilnya berharap bertemu dengan Zian tapi ternyata tidak.
Angga yang memang belum datang karena memang Angga tidak biasa pulang jam awal pulang. Ia selalu lembur.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam Angga yang baru datang langsung disambut Anggie.
"Abang kok baru pulang."
"Wuih Abang di sambut serasa punya istri," kelakar Angga.
"Makanya nikah kalau mau pulang disambut istri," cibir Anggie.
"Ada apa nih tumben nungguin Abang pulang?" curiga Angga.
"Abang kenal kan sama Kak Zian?" Angga mengangguk.
"Abang tahu gak kak Zian kemana?"
"Emang Zian kemana?" Angga balik bertanya.
"Aku nanya Abang bukannya Abang tanya balik," sahut Anggie sambil cemberut.
Angga hanya tertawa melihat adiknya cemberut. "Emang adek mau apa tanya Zian? Bukannya tiap hari ketemu di kantor."
"Justru itu udah dua hari aku gak lihat dia di kantor."
"Jadi ceritanya kangen nih gak lihat Zian dua hari," goda Angga dan membuat Anggie salah tingkah.
"Siapa juga yang," Anggie sambil membuang muka karena takut ketahuan Angga kalau ia sedang salah tingkah.
"Tuh kah wajahnya merah," Angga terus saja menggodanya. Anggie pun langsung lari menuju kamarnya dan menguncinya dari dalam.
Angga yang melihat adiknya salah tingkah hanya tertawa. Ternyata memang adiknya memiliki perasaan yang sama seperti Zian hanya ia takut untuk mengungkapkannya saja.
Di tempat lain Zian yang sedang dicemaskan Anggie, ia sedang ada di Bali selain urusan bisnis ia juga ada urusan lain yaitu urusan hati.
Zian memang sedang di Bali mengurus proyek barunya yang kebetulan ia kerja sama dengan perusahaan milik Abangnya Anggie yaitu Angkasa.
Angkasa memang pindah ke Bali sudah dua tahun hingga ia bertemu calon istrinya. Di perusahaan yang lama Angkasa memang memberikan tanggung jawab sepenuhnya kepada sang adik tapi Angga juga memiliki perusahaan yang masih berkembang.
Zian yang sedang meeting bersama Angkasa pun berjalan lancar dan profesional.
"Terima kasih, semoga proyek kita berjalan lancar."
Angkasa dan Zian pun saling berjabatan tangan tanda proyek kerjasama mereka sudah setuju.
"Pak Angkasa sebelumnya saya boleh minta waktunya sebentar? Karena memang meeting kita sudah selesai juga. Ada yang ingin saya bicarakan dengan Pak Angkasa tapi ini masalah pribadi."