Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?
Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Keheningan yang ditinggalkan Andrew di dalam vila itu terasa jauh lebih menyesakkan daripada kemarahan yang ia bawa tadi. Nadya berdiri mematung di tengah ruangan, menatap pintu yang tertutup rapat. Kata-kata Andrew, terutama saat putranya itu menyebut Revana sebagai ibunya, terasa seperti belati yang tidak hanya menusuk, tapi juga memutar di dalam jantungnya.
Selama puluhan tahun, obsesi Nadya adalah kemenangan. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa memiliki segalanya, harta Adrian, rasa hormat, dan kesetiaan anak-anaknya. Namun sekarang, ia menyadari bahwa ia telah kehilangan segalanya dalam semalam.
Nadya mulai tertawa. Awalnya pelan, lalu berubah menjadi tawa histeris yang menggema di seluruh ruangan kosong itu. Ia berjalan menuju meja bar, meraih botol minuman keras yang masih tersisa, dan menenggaknya langsung.
"Ibu? Dia bilang Revana ibunya?" gumam Nadya dengan mata yang mulai kosong. "Aku yang menahan sakit saat melahirkannya! Aku yang memberikan darahku padanya!"
Ia mulai melempar gelas-gelas kristal ke arah foto keluarga besar Pratama yang ia simpan sebagai target kebenciannya. Prang! Prang! Suara kaca pecah bersahutan dengan napasnya yang tersengal.
Dalam pikirannya yang mulai kacau, Nadya merasa dunia sedang menertawakannya. Ia merasa dikhianati oleh takdir. Jika ia tidak bisa memiliki anak-anaknya, maka tidak boleh ada seorang pun yang memilikinya. Jika ia harus hancur, maka kenangan tentangnya harus membekas sebagai luka permanen di hati Andrew.
Dengan tangan gemetar, Nadya meraih korek api perak dari atas meja. Ia mulai menyiramkan sisa minuman keras dan minyak lampu ke karpet beludru mahal dan tirai sutra yang menjuntai.
"Jika aku tidak bisa menjadi cahaya di hidup kalian, maka aku akan menjadi api yang menghanguskan ingatan kalian," bisiknya parau.
Ia menyulut api tersebut. Dalam sekejap, api merayap cepat, melahap tirai dan menyebar ke seluruh ruang tamu. Nadya tidak mencoba lari. Ia justru duduk kembali di sofa merahnya, menatap kobaran api dengan senyum yang mengerikan. Ia ingin Andrew selamanya dihantui oleh bayang-bayang ibunya yang terbakar akibat keputusannya sendiri.
Di luar, Andrew baru saja masuk ke mobilnya saat ia mencium bau asap. Ia menoleh ke arah spion dan melihat kepulan asap hitam keluar dari jendela lantai atas vila.
"Sial!" umpat Andrew.
Ego dan logikanya menyuruhnya untuk terus memacu mobil dan membiarkan wanita itu menghadapi konsekuensi perbuatannya. Namun, bayangan saat ia masih kecil, saat Nadya pernah memeluknya sebelum semua ambisi mengubahnya menjadi monster, tiba-tiba melintas.
Andrew keluar dari mobil dan berlari kembali ke dalam vila yang mulai dilalap api.
"Mama! Keluar!" teriak Andrew sambil menutupi hidungnya dengan sapu tangan.
Ia menemukan Nadya di tengah ruangan yang sudah dipenuhi api. Wanita itu tampak tenang, seolah sedang menunggu ajal.
"Andrew... kamu kembali?" Nadya bergumam, penglihatannya mulai kabur karena asap. "Kamu kembali untuk ibumu?"
Andrew menerjang kobaran api, menarik lengan Nadya dengan kasar. "Jangan berpikir mati akan membuatku memaafkanmu! Kamu harus hidup untuk melihat betapa bahagianya kami tanpa gangguanmu!"
Dengan tenaga terakhirnya, Andrew menggendong tubuh Nadya yang sudah lemas karena menghirup asap dan membawanya keluar tepat sebelum bagian langit-langit vila itu runtuh.
Andrew menjatuhkan Nadya di atas rumput halaman yang dingin. Ia terbatuk-batuk hebat, paru-parunya terasa terbakar. Petugas keamanan vila segera datang dengan alat pemadam, namun bangunan itu sudah tidak tertolong.
Nadya terbaring lemah, menatap langit malam dengan air mata yang mengalir di sudut matanya. Ia masih hidup, namun jiwanya sudah benar-benar patah.
Andrew berdiri, menatap ibunya untuk terakhir kalinya sebelum ambulans yang dipanggil pengawalnya datang. "Ini terakhir kalinya aku menyelamatkanmu. Setelah ini, kamu tidak punya anak, tidak punya musuh, dan tidak punya rumah. Kamu hanya punya dirimu sendiri."
Andrew berjalan menjauh, meninggalkan vila yang terbakar itu tanpa menoleh lagi. Perang telah usai. Bukan dengan kematian, tapi dengan kehancuran total dari sebuah obsesi yang salah arah.
Lampu merah dari sirene ambulans membelah kegelapan malam, membawa Nadya menuju rumah sakit terdekat. Namun, suasana di dalam ambulans itu jauh dari kata tenang. Nadya tidak berhenti meronta, tenaganya yang tersisa seolah meledak dalam bentuk kegilaan yang mengerikan.
"Lepaskan aku! Revana... kamu pencuri! Kamu merebut anak-anakku!" teriak Nadya dengan suara melengking yang memenuhi ruang sempit ambulans. Matanya melotot, memerah karena iritasi asap dan amarah yang tak terkendali. "Andrew! Jangan dengarkan wanita itu! Dia bukan ibumu! Dia hanya manusia kotor yang mencuri tempatku!"
Sesampainya di Unit Gawat Darurat petugas medis harus memberikan obat penenang dosis tinggi karena Nadya mencoba melukai perawat yang mendekatinya. Ia terus meracau, memaki Revana dengan kata-kata kasar yang tidak pantas, menuduh semua orang di sekitarnya sebagai kaki tangan "wanita pencuri" itu.
Keesokan paginya, seorang dokter spesialis kejiwaan keluar dari ruang isolasi tempat Nadya dirawat. Di lorong rumah sakit, salah satu bawahan kepercayaan Andrew, Bayu, sudah menunggu dengan raut wajah serius.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Bayu.
Dokter itu menghela napas, mencatat sesuatu di papan medisnya. "Secara fisik, luka bakarnya tidak parah. Namun, kondisi mentalnya sangat memprihatinkan. Nyonya Nadya mengalami Acute Psychotic Break yang dipicu oleh trauma emosional yang hebat dan obsesi yang berkepanjangan. Dia kehilangan kontak dengan realitas. Dia menganggap semua orang adalah musuh dan terus berhalusinasi tentang masa lalunya."
Dokter itu menatap Bayu dengan tatapan profesional. "Saran saya, dia tidak bisa dirawat di rumah sakit umum. Dia butuh pengawasan 24 jam di fasilitas kesehatan jiwa yang tertutup. Jika dibiarkan, dia bisa membahayakan dirinya sendiri atau orang lain."
Di bandara, Andrew sedang berdiri di depan jendela besar jet pribadinya, menatap landasan pacu yang basah karena sisa hujan. Ponselnya bergetar. Laporan dari Bayu masuk.
Andrew mendengarkan penjelasan Bayu dengan saksama. Tangannya yang memegang ponsel tampak sedikit gemetar. Ada rasa sakit yang menyayat di sudut hatinya. Sejahat apa pun Nadya, wanita itu tetaplah sosok yang pernah memberinya kehidupan. Mendengar ibunya harus di rawat di rumah sakit jiwa terasa seperti hukuman yang terlalu berat, namun ia tahu ini adalah satu-satunya cara.
"Oke, lakukan sesuai arahan dokter, Bayu," suara Andrew terdengar parau dan berat. "Cari rumah sakit jiwa terbaik, yang paling privat. Pastikan dia mendapatkan perawatan paling layak, tapi... jangan biarkan dia keluar. Jangan biarkan dia punya akses telepon atau siapa pun."
"Baik, Pak Andrew."
"Dan Bayu..." Andrew menjeda kalimatnya, matanya memanas. "Pastikan semua biayanya dipotong dari rekening pribadi saya. Jangan beritahu Papi atau Mommy Revana tentang detail kegilaannya. Cukup katakan dia butuh perawatan intensif."
Andrew menutup teleponnya. Ia bersandar di kursinya, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Air mata akhirnya jatuh juga. Ia menangisi sosok ibu yang seharusnya bisa menjadi tempatnya pulang, namun kini berakhir di balik tembok putih rumah sakit jiwa karena ambisinya sendiri.
Andrew menghapus air matanya saat pramugari memberitahu bahwa pesawat siap lepas landas. Ia harus menguatkan dirinya. Di Singapura, Ares sedang berjuang untuk berjalan, dan sedang menunggunya kembali. Ia tidak boleh membawa aura kematian dan kegilaan ini ke hadapan mereka.
"Ayo berangkat," perintah Andrew pada kru pesawat.
Saat pesawat mulai menanjak ke angkasa, Andrew menatap ke arah Jakarta yang semakin menjauh. Ia baru saja "mengubur" masa lalunya di sebuah kamar isolasi putih. Kejam, mungkin. Namun bagi Andrew, ini adalah cara terakhirnya untuk mencintai Nadya, dengan memastikannya tidak bisa lagi menyakiti dirinya sendiri atau orang-orang yang dicintainya.
...🌼...
...🌼...
...🌼...
...Bersambung......