Dendam salah sasaran, membuat derita panjang tak berkesudahan dalam hidup Rena.
Cinta pertama sekaligus harapan dalam hidupnya meninggalkannya tepat dihari pernikahan mereka.
Pasca kejadian itu, hampir tak ada lagi kebahagiaan yang dirasakan Rena, hamil tanpa diketahui sang mantan, dipaksa menikah sebagai istri ketiga seorang juragan untuk menutupi aib, keguguran karena siksaan fisik dari suami baru.
Dan akhirnya memaafkan masa lalu adalah jalan terbaik untuk menyembuhkan luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zidny zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai pendekatan
"Alya, kamu keterlaluan" Varo refleks membentak kekasihnya itu.
"Dia godain kamu, aku gak suka" Alya menyadari sikapnya yang kelewatan akan membuat Varo marah. Dia kembali ke mode awalnya sebagai gadis manja dan lembut.
"Pulang sekarang" Varo menarik tangan Alya dengan kasar. Sebelum pulang, Varo memerintahkan kepada ketiga temannya yang masih terbengong-bengong untuk membayar semua tagihan serta ganti rugi permintaan maaf kepada Rena sang pelayan.
Varo terus menyeret Alya keluar dari cafe mewah tersebut. Dia tak tahu apa yang sedang dialami hatinya. Kenapa dia begitu marah saat Alya menampar Rena, bukankah seharusnya dia senang, gadis yang dibencinya itu disakiti orang lain.
.
.
.
Varo mengemudikan mobil dengan penuh emosi. Beberapa kali Alya terpaksa memejamkan mata karena ketakutan, Varo ngebut seperti orang kesurupan.
Tak menunggu lama, mobil mewah keluaran terbaru yang dikemudikan Varo sudah berada di depan gerbang rumah Alya.
"Turun" Varo memerintahkan Alya untuk segera turun dari mobilnya. Dia tak memandang sama sekali ke arah Alya. Emosi masih menguasai jiwanya.
"Sayang, kenapa jadi begini?" Alya terisak dalam kalimatnya karena Varo yang begitu menakutkan.
"Tolong turunlah dan langsung masuk kedalam rumah, nanti kita bahas masalah ini" Varo mengucapkan kalimat pendek pendek karena menahan emosinya.
Alya memutuskan untuk tak membantah, dia takut Varo semakin emosi jika dia terus merengek.
"Baiklah, good night baby" Alya mencium pipi Varo sebagai ucapan perpisahan. Dia melangkah gontai masuk kedalam rumahnya yang megah.
Varo menepikan mobilnya di ujung jalan pintu keluar perumahan Alya. Pikirannya terus terganggu karena insiden di cafe tadi.
Varo paham betul kalau kejadian malam ini sama sekali bukan kesalahan Rena. Alya lah yang cemburu buta tak beralasan.
"Apa sebaiknya aku kembali ke cafe,. meminta maaf pada dia?" Varo sibuk sendiri dengan pikirannya.
"Hmmm, tapi nanti gadis sial itu akan merasa diatas angin"
"Biarlah dia rasakan, apa peduliku" sifat dendam dalam diri Varo akhirnya menang.
Varo memilih menghabiskan malam di sebuah cafe lain bersama teman temannya. Otak dan tubuhnya butuh sedikit alkohol untuk mengendorkan syarafnya yang tegang sedari pagi.
.
.
.
Malam berlalu, pagi menjelang.
**Suasana kampus di pagi hari**
"Rena, tungguin" Aulia sahabat dekat Rena mengejar Rena yang berjalan terlalu cepat.
"Aul, kamu udah sembuh?" Rena sangat gembira melihat sahabatnya yang absen ke kampus beberapa hari karena sakit itu sekarang sudah sehat kembali.
"Udah dong, malah makin semangat belajar hari ini" Aulia menanggapi.
"Ah syukurlah, aku kesepian gak ada kamu" ucap Rena sambil mengapit lengan Aulia untuk melangkah bersama memasuki ruang kelas.
"Tumben pakai kacamata neng? nangis lagi ya" Aulia yang melihat mata Rena bengkak langsung bertanya tanpa basa basi.
"Hehe" Rena cuma nyengir menanggapi pertanyaan sahabatnya itu.
Tak lama, dosen yang mengajar masuk ke ruangan kelas. Kedua sahabat itu larut dalam konsentrasi belajar. Hingga siang menjelang.
"Re, ayo ke kantin, aku lapar" Aulia mengajak Rena untuk menemaninya.
"Aku temani aja ya, lagi puasa" Rena menanggapi.
"Oiya, aku lupa, ini hari Kamis, kamu puasa ya"
"Ya udah deh, aku gak jadi makan, gak enak kalo kamu gak ikut makan" Aulia berceloteh.
"Udah ayo, aku udah biasa, nanti kamu pingsan kalo gak makan" Rena menggoda Aulia. Gadis itu langsung menarik lengan sahabatnya itu. Mereka melangkah bersama menuju kantin.
.
.
.
Rena memilih duduk sendirian di pojok kantin sembari menunggu Aulia yang sedang memesan makanannya.
Gadis itu memilih membaca buku yang dibawanya untuk mengusir bosan.
"Pagi Rena" sebuah suara menyapa Rena yang sedang asyik membaca.
Rena menoleh kearah suara yang memanggilnya.
"Pagi kak Varo" Rena sedikit terkejut karena kehadiran pria itu lagi. Rena memilih untuk melanjutkan membaca, dia tak ingin terlibat masalah dengan pria itu, maupun kekasihnya.
Varo kembali menemukan ada yang berbeda di wajah Rena.
"Dia habis nangis sepertinya, matanya bengkak" gumam Varo dalam hati.
"Emm, boleh gabung gak?" Varo berbasa basi.
"Maaf kak, teman Rena lagi ambil makanan, itu tempat duduknya" secara halus Rena mengusir Varo.
"Oh ok" sambil berkata Varo menarik sebuah kursi lain. Dia meletakkan kursi itu di samping Rena. Tak menunggu persetujuan dia langsung duduk di kursi itu.
Lagi lagi Rena memilih tak peduli, dia melanjutkan bacaannya.
"Lagi baca apa Re?" Varo mencoba menarik perhatian Rena kembali.
"Huft" Rena menghela nafas dalam.
Kehadiran Varo mengganggu konsentrasinya.
"Kak Varo kesini mau apa?, silahkan kak dipesan makanannya, kalo mau duduk disini silahkan, biar saya yang pindah" Rena mengeluarkan kekesalannya.
"Aku kesini gak mau makan, aku mau minta maaf soal kejadian kemarin di cafe" Varo akhirnya mengutarakan maksud hatinya.
Setelah semalaman dia terus dihantui perasaan bersalah kepada Rena, hati seorang Alvaro tak bisa dibohongi, kegelisahan menyelimutinya. Dan pagi ini, dia memutuskan untuk menemui sumber rasa bersalahnya itu.
"Gak apa apa kak, tak perlu minta maaf, resiko menjadi pelayan harus mengikuti semua kemauan pelanggan" terdengar suara Rena getir.
Varo terdiam, entah kenapa dia merasakan rasa yang tak biasa saat Rena membalas ucapannya.
"Re, siapa ini?" Aulia baru saja kembali ke meja dengan makanan yang dibawanya.
"Hallo, kenalkan, Alvaro" Varo menyapa Aulia dengan ramah.
"Aulia" gadis itu membalas jabatan tangan Varo sambil menyebutkan namanya.
"Maaf ya Re, gue makan dulu, ayo kak Varo makan" Aulia meminta ijin kepada Rena karena dia sudah tak tahan dengan rasa laparnya.
"Rena gak makan?" Varo bertanya kepada gadis berkacamata yang kembali mengacuhkannya, dia kembali melanjutkan membaca buku.
"Rena puasa kak, gadis sholeha ini setiap Senin dan Kamis selalu puasa. Biasanya aku ikut, tapi karena aku baru sembuh sakit jadi belum bisa puasa" Aulia berceloteh sambil mengunyah makanannya.
"Hei, dikunyah dulu makanannya" Rena menegur Aulia yang berbicara sedang makan.
Varo melirik Rena sekali lagi. Pelan pelan muncul rasa kagum dihatinya melihat sikap Rena yang dewasa.
Drttt...drttttt
Sebuah pesan masuk ke ponsel Varo.
"Meeting mau dimulai" asisten kepercayaannya mengingatkan Varo melalui pesan singkat.
Saat ini memang Varo masih membantu mengurus perusahaan sang ayah. Karena Varo baru saja lulus dan masih ingin menikmati masa masa santainya.
"Rena, Aulia, aku masih harus kerja" Varo memecah keheningan. Rena terus diam dari tadi, dia sibuk dengan bukunya hingga membuat Varo salah tingkah karenanya.
"Silahkan kak" Aulia menanggapi ucapan Varo.
Sementara Rena, hanya melirik sebentar dan kembali membaca. Varo tahu kalau Rena masih menyimpan marah kepadanya, dan dia berniat kembali menemui Rena nanti malam di cafe.
Setelah kepergian Varo, Aulia mencolek lengan Rena, "Siapa itu kak Varo? sepertinya dia mencoba pendekatan" goda Aulia senyum senyum.
Rena cuma memasang wajah datar dan menggerakkan bahunya pertanda tak peduli.
Alurnya tak sesuai dgn watak varo yg seorng chef terkenal