Vina Aulia mengalami nasib buruk yang menimpanya selama satu hari penuh, bertekad pindah keluar negeri demi kehidupan baru. Bertemunya dengan wanita bernama Gladi membuatnya tahu apa arti saudara, saudara tidak perlu harus memiliki hubungan darah namun dia yang baik pada kita pantas menjadi saudara.
Siapa yang tahu dirinya hamil hanya karena di tiduri satu malam oleh Rengga Cafanza. Rengga yang ingin meyakinkan bahwa wanita yang di tidurinya hamil anaknya atau tidak terus melakukan pencarian tanpa henti, hingga saat menemukan Vina dirinya menggunakan seribu cara untuk kembali mengambil anaknya.
" Jodoh Tuan Kejam "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cici aremanita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Bulan demi bulan berganti begitu cepat, Vina merasa tidak percaya bayi kecilnya sudah belajar berjalan di usianya yang menginjak 11 bulan, bicaranya yang masih tidak begitu jelas terkadang membuat Vina tersenyum sendiri saat mendengarnya.
Braaaaaaaak...
Gladi mendobrak pintu rumah yang di kunci Vina tanpa menekan bell terlebih dulu, Vina yang tidak tahu apa yang terjadi pada Gladi hanya bisa memperhatikan Gladi dari kejauhan.
Setelah menunggu beberapa menit Vina menggendong putranya menghampiri Gladi yang menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu, Vina duduk di samping Gladi sambil menepuk pundaknya berharap Gladi bisa menjadi lebih tenang.
"Apa yang terjadi? kamu tidak biasanya seperti ini" ucap Vina.
"Sial, aku merasa sangat kesal" sahut Gladi.
"Mamam mamam" celoteh Raka membuat Gladi yang kesal langsung tersenyum, Gladi menggendong Raka sambil sesekali mencium pipinya.
"Kesal kenapa?" tanya Vina lagi.
"Aku mendapat tugas mengawasi Rengga Cafanza, dan tugas ku itu bukan hanya sehari atau dua hari di sana" sahut Gladi yang masih terus mencium pipi anak Vina.
"Kira-kira berapa lama, kalau lebih setahun aku bisa ikut dengan mu" ucap Vina.
"Ini bukan hanya setahun, bahkan bisa lebih dari tiga tahun" sahut Gladi.
"Kalau begitu aku akan ikut dengan mu" ucap Vina yang masih tidak mengerti maksud Gladi.
"Bagaimana dengan kenangan buruk mu" sahut Gladi.
"Aku sudah melupakan semuanya, lagi pula ada Raka di samping ku semua tidak akan berpengaruh lagi" ucap Vina yang langsung mengambil anaknya dari pangkuan Gladi.
"Haaaaah, karena kamu sudah berkata seperti itu akan menerima misi ini. Kita akan pergi dua hari lagi" sahut Gladi.
"Pergi kemana? kenapa tidak mengajak ku" ucap Andreas yang berdiri di depan pintu.
"Gladi mendapat tugas ke negara kita, aku akan pergi dengannya dua hari lagi" sahut Vina.
"Apa! jadi kalian akan meninggalkan ku sendiri di sini" ucap Andreas.
"Kamu fokus saja dengan kuliah mu setelah lulus kamu bisa kembali, kami menunggu mu di sana" sahut Vina.
"Tapi kak Vina" Andreas terduduk lemas. Alasannya betah tinggal di Singapura hanya karena Vina, jika Vina pergi bagaimana dengan hari-harinya.
"Sudah kamu bukan anak kecil lagi, kamu harus buktikan sama Vina kalau kamu pasti akan serius kuliah" sahut Gladi yang langsung membantu Andreas berdiri.
Selama kami pergi kamu juga harus bisa buktikan kalau kamu kedepannya akan menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab, bukannya kamu ingin menikahi Vina" bisik Gladi.
"Emmm, kalau begitu kalian berhati-hatilah aku berjanji akan menyusul kalian secepatnya" ucap Andreas yang langsung berjalan pergi.
Vina dan Gladi berangkat sesuai jadwal yang mereka pesan, Gladi yang tahu dirinya mungkin akan tinggal lebih lama langsung membeli rumah beberapa hari sebelumnya, Gladi tidak ingin Vina dan Raka mengalami kesusahan jika harus menunggu mencari rumah sewaan.
"Selamat datang di rumah baru" ucap Gladi sambil membuka rumah barunya.
Vina yang menggendong anaknya bergegas mengikuti Gladi dari belakang memasuki rumah baru mereka.
"Kamu beli rumah lagi" ucap Vina sambil memperhatikan isi rumah baru mereka.
"Mau bagaimana lagi" sahut Gladi santai.
"Oh ya Vin besok aku akan mulai bekerja, jadi bagaimana jika kita jalan-jalan malam ini" sambung Gladi.
"Tapi apa kamu tidak capek, kenapa tidak beristirahat saja di rumah" sahut Vina.
"Tidak, lagipula Raka juga ingin berjalan-jalan bukan" ucap Gladi yang langsung menggendong Raka.
"Mamam nyam" sahut Raka sambil memasukan sepotong biskuit ke mulutnya.
"Tuh kamu dengarkan Raka saja setuju" ucap Gladi sambil tersenyum puas.
"Iya, iya" sahut Vina yang malas berdebat dengan Gladi.
Malam hari sesuai yang di rencanakan Gladi mobil bekas yang di belinya siap mengantar mereka berkeliling kota, Vina duduk di samping Gladi sambil memangku putranya, Vina hanya pasrah mengikuti kemana Gladi akan menghentikan mobilnya.
"Wah di depan ada taman, kita pergi kesana yuk" ucap Gladi yang langsung memarkirkan mobilnya.
Vina hanya menganggukan kepalanya sambil mengikuti Gladi yang menuntun putranya berjalan pelan, Vina memperhatikan sekelilingnya yang terlihat sangat ramai sama seperti dulu, Vina mengingat dengan jelas taman yang di datanginya saat ini adalah tempat favorit dirinya dan Lidia sewaktu sekolah dulu.
"Vin, aku mau beli minum dulu" ucap Gladi sambil menghentikan langkahnya.
"Sini biar Raka sama ku" sahut Vina yang langsung menggantikan posisi Gladi menuntun putranya berjalan pelan.
Setelah berjalan cukup jauh Vina langsung menggendong putranya, Vina tidak ingin putra kecilnya sampai kelelahan karena berjalan-jalan terlalu jauh.
Vina yang menggendong Raka merasa kesulitan saat berjalan, tangan putranya yang terus menutupi matanya membuat Vina tidak sengaja menyenggol seseorang.
"Maaf, maaf" ucap Vina yang langsung memegang tangan Raka.
"Vina" sahut suara pria tepat di samping Vina.
"Eh kamu" ucap Vina sambil mengalihkan pandangannya.
"Vin, selama ini kamu kemana saja? aku dan Lidia terus mencari mu, kami khawatir sesuatu terjadi padamu" sahut Bram.
"Tidak perlu khawatir padaku, aku Baik-baik saja. Selamat ya sepertinya hubungan kalian juga semakin serius" ucap Vina sambil menyunggingkan bibirnya.
"Maaf, memang aku salah, seharusnya aku jujur padamu waktu itu" sahut Bram yang langsung menundukan kepalanya.
"Tidak perlu minta maaf, aku tidak masalah. Aku pergi dulu" ucap Vina sambil berjalan pergi meninggalkan mantan kekasihnya itu.
"Tunggu Vin, anak siapa itu?" tanya Bram.
"Tentu saja anak ku" sahut Vina tanpa menghentikan langkahnya.
Vina yang semakin berjalan menjauh meninggalkan mantannya tanpa sadar meneteskan air matanya, walau sudah berusaha melupakan kenangan buruknya tetap saja dia masih bisa mengingatnya dengan jelas.
"Vin, dari mana saja kamu" Gladi menepuk pundak Vina dari belakang.
"Jalan-jalan, habis mama tua lama sih" sahut Vina yang langsung mengusap air matanya.
"Kamu kenapa menangis, siapa yang berani menyakitimu saat aku pergi beli minum" ucap Gladi yang tidak terima melihat Vina bersedih.
"Aku tidak apa-apa, mataku hanya kemasukan debu" sahut Vina yang sengaja berbohong pada Gladi, Vina tidak ingin Gladi merasa bersalah karena membawanya kembali.
"Ya sudah kalau begitu kita pulang saja" ucap Gladi, Gladi tahu betul jika Vina tidak ingin berbicara jujur padanya.
opo aq kurang seksi mas