NovelToon NovelToon
CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.

Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.

Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 — Lembur Berdua

Tenggat proyek kampanye pemasaran semakin dekat, dan seluruh tim marketing harus lembur hampir setiap malam selama seminggu terakhir untuk memastikan semua materi presentasi siap sebelum dipresentasikan ke klien besar minggu depan.

Malam itu, pukul sembilan lewat, kantor sudah jauh lebih sepi dari biasanya. Sebagian besar rekan kerja Kirana sudah pulang lebih dulu, meninggalkan tugas-tugas kecil yang masih harus diselesaikan. Kirana sendirian di mejanya, matanya perih menatap layar komputer, jari-jarinya masih setia mengetik meski rasa kantuk mulai menyerang.

"Kamu masih di sini?"

Kirana terlonjak kaget mendengar suara itu, mendongak dan mendapati Rangga berdiri di dekat mejanya, masih mengenakan kemeja kerja meski dasinya sudah dilonggarkan, lengan kemejanya digulung sampai siku—penampilan yang jauh lebih santai dari biasanya, dan entah kenapa membuat Kirana harus menahan diri untuk tidak menatap terlalu lama.

"Pak, saya kira Bapak udah pulang," Kirana buru-buru duduk lebih tegak, mencoba menutupi rasa gugup mendadak.

"Belum, masih ada beberapa hal yang harus saya selesaikan," jawab Rangga, matanya melirik ke layar komputer Kirana yang menampilkan slide presentasi yang belum sepenuhnya rapi. "Kamu sendiri kenapa masih di sini? Yang lain udah pulang semua."

"Presentasinya belum selesai, Pak. Saya mau pastikan semuanya rapi sebelum dikirim ke klien minggu depan," jawab Kirana, menahan menguap yang hampir lolos.

Rangga memperhatikan wajah Kirana yang mulai terlihat lelah, lingkar hitam samar mulai muncul di bawah matanya. "Kamu udah makan malam?"

Kirana terdiam sejenak, baru menyadari bahwa sejak siang ia belum sempat makan apa pun selain segelas kopi. "Belum sempat, Pak."

Rangga mendesah pelan, seperti sudah menduga jawaban itu. "Tunggu sini."

Ia berjalan pergi tanpa penjelasan lebih lanjut, meninggalkan Kirana yang bingung menatap kepergiannya. Sekitar dua puluh menit kemudian, Rangga kembali dengan dua kotak makanan dari restoran dekat kantor, aromanya langsung membuat perut Kirana yang kosong berbunyi keras.

"Ini, makan dulu," Rangga meletakkan salah satu kotak di meja Kirana, lalu duduk di kursi kosong sebelah mejanya sambil membuka kotak makanannya sendiri.

"Pak nggak perlu repot-repot, saya bisa beli sendiri nanti—" Kirana mencoba menolak, meski perutnya sudah tidak bisa dibohongi lagi.

"Udah, makan aja. Jangan banyak protes," potong Rangga, nadanya kembali dingin seperti biasa, meski tindakannya jelas menunjukkan sesuatu yang jauh lebih hangat dari sekadar formalitas atasan.

Mereka makan dalam diam beberapa saat, suasana kantor yang sepi menciptakan keheningan yang anehnya tidak canggung.

Kirana mencuri pandang ke arah Rangga sesekali, memperhatikan caranya makan dengan tenang, jauh berbeda dari kesan galak yang biasa ia tunjukkan di depan karyawan lain.

"Pak," Kirana akhirnya memberanikan diri bicara, memecah keheningan. "Boleh saya tanya sesuatu?"

"Tanya apa?" Rangga menjawab tanpa mendongak dari makanannya.

"Kenapa Bapak jadi CEO segalak itu? Maksud saya... apa memang dari dulu Bapak orangnya kayak gini, atau ada alasan tertentu?"

Rangga terdiam sejenak, sumpitnya berhenti bergerak. Untuk sesaat, Kirana takut ia sudah bertanya terlalu jauh, melewati batas yang seharusnya tidak ia lewati sebagai staf junior kepada atasannya.

"Saya nggak selalu kayak gini," jawab Rangga akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya, menatap kotak makanannya alih-alih menatap Kirana. "Dulu, waktu masih kecil, saya orangnya cukup ceria. Tapi... ayah saya meninggal waktu saya masih SMA, dan ibu saya harus berjuang sendirian membesarkan perusahaan keluarga yang saat itu hampir bangkrut."

Kirana terdiam, tidak menyangka akan mendapat cerita sepersonal itu.

"Saya lihat sendiri gimana susahnya ibu saya mempertahankan perusahaan, gimana banyak orang yang mencoba memanfaatkan kelemahan kami saat itu," lanjut Rangga, nadanya masih datar tapi ada sesuatu yang lebih rapuh tersembunyi di baliknya. "Sejak itu saya belajar, kalau mau bertahan di dunia bisnis, saya harus jadi orang yang tegas, nggak gampang dimanfaatkan, nggak gampang percaya sama orang lain. Lama-lama, itu jadi kepribadian saya."

"Pantas aja Bapak susah banget dideketin orang," gumam Kirana tanpa sadar, sebelum buru-buru menutup mulutnya sendiri, menyadari kalimat itu mungkin terdengar kurang sopan.

Namun alih-alih tersinggung, Rangga malah tertawa kecil—tawa pendek namun tulus, sesuatu yang jarang sekali Kirana lihat dari atasannya itu. "Kamu benar. Susah banget didekatin orang. Tapi entah kenapa, kamu selalu berhasil bikin saya banyak ngomong kayak gini."

Kirana merasakan jantungnya berdebar mendengar kalimat itu, wajahnya memanas meski ia berusaha menyembunyikannya dengan pura-pura sibuk mengaduk makanannya.

"Mungkin karena saya juga suka bawel, Pak. Jadi Bapak jadi ketularan."

"Mungkin," Rangga tersenyum tipis, menatap Kirana dengan cara yang membuat gadis itu semakin sulit bernapas normal.

Mereka melanjutkan makan dalam diam yang lebih nyaman dari sebelumnya, sesekali diselingi obrolan ringan tentang pekerjaan, tentang kota Jakarta yang tidak pernah benar-benar tidur, tentang hal-hal kecil yang biasanya tidak pernah mereka bicarakan di jam kerja formal.

Ketika akhirnya presentasi selesai dirapikan mendekati tengah malam, Rangga berdiri, merapikan jasnya yang tergantung di kursi. "Saya antar kamu pulang."

"Nggak usah, Pak, saya bisa naik taksi online aja," Kirana buru-buru menolak, meski jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan mencari angkot di jam segitu bukanlah ide bagus.

"Ini bukan permintaan," Rangga berkata tegas, nada suaranya kembali seperti CEO yang biasa memerintah, meski matanya menunjukkan kekhawatiran yang tulus. "Jam segini, nggak aman buat perempuan pulang sendirian."

Kirana ingin membantah, tapi melihat ketegasan di mata Rangga, ia akhirnya menyerah dan mengangguk pelan. "Baik, Pak. Terima kasih."

Sepanjang perjalanan menuju mobil Rangga yang terparkir di basement, keduanya berjalan berdampingan dalam diam, namun kali ini keheningan itu terasa berbeda—lebih hangat, lebih dekat, jauh dari kecanggungan yang biasa menyelimuti interaksi formal mereka di kantor.

Kirana tidak tahu bahwa malam itu akan menjadi salah satu awal dari banyak malam serupa yang akan mereka lalui bersama—malam-malam lembur yang perlahan mengikis dinding formalitas di antara mereka, dan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih rumit, lebih hangat, dan lebih sulit untuk disangkal.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
moana family: terima kasih kk🥰
total 1 replies
moana family
hiii readers mohon dukungan yaa...🥰🥰
ini novel saya pertama🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!