Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.
Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.
Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.
Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penundaan Perceraian
Lampu gantung porselen di ruang rapat firma hukum Aris Setiawan memantulkan cahaya kuning temaram ke meja kaca bundar. Dua bundel berkas permohonan penangguhan sidang tergeletak berdampingan dengan dokumen bersegel merah Singapura.
Devan duduk di kursi kulit cokelat dan menatap kertas-kertas itu tanpa berkedip. Aris menyodorkan pulpen hitam berujung emas.
"Nona Alyssa meminta tim pengacara keluarga mengajukan penangguhan putusan cerai," kata Aris. "Berlaku sampai prosedur pencairan dana wali amanat selesai."
Devan mengangkat pandangannya. "Dia menunda karena syarat dari Singapura."
"Benar, Tuan. Otoritas mereka menolak pengalihan kalau status pernikahan ahli waris utama sudah putus saat dokumen ditandatangani." Aris menggeser lembar bersegel merah itu ke arahnya. "Kalau gugatan disahkan, dana seratus juta dolar itu dibekukan sebagai dana tak bertuan."
Jemari Devan menyentuh pulpen. Dingin.
Dia tidak menunda karena memaafkanku, pikirnya. Dia menahanku karena namaku dibutuhkan.
Ia hampir menutup berkas itu ketika Aris bicara lagi, lebih pelan.
"Ada satu hal yang belum Nona sampaikan, dan saya rasa Anda berhak tahu." Aris menatapnya lurus. "Dari dana yang sama, ada pos untuk yayasan pendidikan dan Panti Asuhan Kasih Bunda. Dua puluh tahun listrik dan makan anak-anak di sana dibayar dari dana ini. Kalau dibekukan, semuanya berhenti."
Devan membeku. Pulpen itu tidak bergerak di jarinya.
Ia teringat buku catatan biru. Susu formula. Biaya sekolah dua belas anak. Operasi ginjal Adik Bayu. Alyssa bekerja sampai subuh bukan untuk dirinya, melainkan untuk mereka.
Dia menahan perceraian ini bukan demi uang, batinnya. Dia menahan dirinya sendiri di rumahku sekali lagi, demi anak-anak itu.
Tenggorokannya terasa sempit. Ia menandatangani lembar persetujuan tanpa ragu, dua kali, tepat di atas meterai sepuluh ribu rupiah.
"RUPS Luar Biasa dan penandatanganan di hadapan notaris konsulat Singapura akan dilakukan di hari yang sama," kata Aris sambil merapikan salinan berkas. "Anda dan Nona harus hadir bersama."
"Aku akan hadir." Devan menutup pulpen. "Dan aku akan memastikan komisaris tidak membuat ulah di menit terakhir."
"Dia hanya meminta itu."
"Ada pesan lain untukku?"
Aris menggeleng halus. Devan berdiri dan merapikan jasnya yang kini terasa longgar di bahunya. Di ambang pintu ia berhenti sebentar tanpa menoleh.
"Katakan padanya aku akan menyelesaikan bagianku tanpa cela."
***
Sepuluh hari kemudian, dua hari menjelang RUPS Luar Biasa.
Pagi itu lantai 28 Gedung Utama Narendra Group sunyi. Puluhan karyawan berdiri di sepanjang koridor tanpa bersuara. Mereka belum pernah melihat pemandangan seperti ini: Devan keluar dari ruangannya sendiri membawa kotak karton cokelat sederhana.
Di dalam kotak itu hanya ada tiga benda. Foto almarhum Kakek Broto. Jam meja kuningan peninggalan masa kecilnya. Dan sebuah bantalan duduk rajut krem yang sudah kempis di tengah, yang ia ambil dari kursi di ruang arsip kecil tak jauh dari sana.
Ia berhenti sebentar di depan pintu ruang arsip itu sebelum melangkah. Meja kayu sederhana di dalamnya masih seperti dulu. Kursinya kini tanpa bantalan. Devan membiarkan pintunya terbuka dan lampunya menyala.
Hendri berjalan di sampingnya dengan mata sembap, memegang map inventaris kantor.
"Tuan Devan, Anda tidak perlu membereskan sendiri. Tim sekretariat bisa..."
"Ini tugas terakhirku sebagai pimpinan, Hendri."
"Anda menanggung kejahatan yang bukan perbuatan Anda, Tuan." Hendri menahan tangis. "Anda mengorbankan nama baik demi memulihkan keadilan untuk Nona Alyssa."
Devan tidak menjawab. Ia menerima tujuh surat pengunduran diri komisaris yang disodorkan Hendri dan membacanya sekilas. Nama-nama tua yang dulu selalu meremehkannya.
"Biarkan mereka pergi. Bekukan hak pensiun mereka sampai audit eksternal selesai."
Ia merogoh saku jas dan mengeluarkan kartu akses hitam bernomor 001. Ia meletakkannya di telapak tangan Hendri.
"Serahkan ke Aris Setiawan setelah RUPS. Sampai hari itu, kamu yang memegang operasional harian."
"Terima kasih atas dedikasimu, Hendri," kata Devan pelan.
Hendri menunduk dalam-dalam dengan kedua tangan yang bergetar. Devan melangkah masuk ke lift eksekutif. Pintu besi menutup perlahan, memutus pandangannya dari gedung yang membesarkan sekaligus menghancurkan hidupnya.
***
Sore itu, lantai lima puluh Mahendra Tower.
Alyssa duduk di balik mejanya. Salinan surat penangguhan perceraian yang ditandatangani Devan terhampar di depannya, dengan dua tanda tangan Devan yang rapi di atas meterai.
Aris menyerahkan laporan terbaru dari kepolisian.
"Berkas perkara Wira dan Nadine dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi, Nona. Ancaman hukumannya hingga dua belas tahun untuk pemalsuan dokumen dan pemerasan."
"Nadine?"
"Sadar, tapi tidak mau bicara pada penyidik. Petugas sel yang mengantar makanannya menghilang sehari setelah kejadian."
Alyssa menarik napas, merapikan lengan blazernya. Gelang perak di pergelangan kirinya bergeser pelan.
"Dan Siska?"
"Stabil. Dua polisi berjaga di luar ICU, dan dua orang kita di dalam. Besok pagi dia dipindahkan ke ruang rawat biasa."
Alyssa mengangguk. Matanya turun ke surat penangguhan itu, ke nama Devan di sana.
Dua hari lagi, pikirnya. Dua hari lagi aku hanya perlu berdiri di sampingnya selama satu sesi tanda tangan.
Ia tidak memikirkan apa yang akan terjadi sesudahnya.
"Bagaimana persiapan RUPS?"
"Seratus persen, Nona." Aris menutup mapnya. "Tapi saya belum menerima daftar peserta dari kustodian. Ada beberapa pemegang kuasa yang baru mendaftar kemarin."
Alyssa menatapnya. "Siapa?"
"Masih saya telusuri."
***
Malam itu Devan tiba di pemakaman keluarga di perbukitan Bogor. Gerimis menyiram rumput dan nisan pualam yang berjajar di balik pagar besi tempa.
Ia berhenti di depan nisan pualam hitam bertuliskan Broto Narendra. Ia meletakkan seikat bunga sedap malam di atasnya, lalu berlutut di tanah yang basah.
"Kakek." Suaranya serak. "Cucumu yang bodoh ini akhirnya mengerti isi surat Kakek."
Air hujan menetes dari ujung rambutnya ke kerah kemeja.
"Aku sudah melepas semua jabatan. Aku sudah menandatangani semua yang diminta Alyssa. Maaf, Kek. Aku terlambat menyadari kebaikan Kakek, dan aku sudah menyakiti orang yang Kakek percayakan untuk kujaga."
Tiga tahun aku membiarkan Ibu menghancurkannya tanpa pernah melindunginya.
Ia menekan telapak tangannya ke pualam dingin. Saat hendak berdiri, langkah kaki berderak di rumput basah dari arah jalan setapak.
Devan menegakkan tubuh dan menyapu air dari wajahnya.
Seorang pria tua berambut perak berjalan mendekat dengan tongkat kayu berukir kepala naga. Jas hitam tebalnya dihiasi pin emas berlogo konsorsium bank internasional. Dua pengawal bertubuh tegap mengikuti dua langkah di belakangnya.
Devan mengenalinya seketika. Selama sepuluh tahun, pria ini penasihat keuangan utama Kakek Broto di Eropa.
"Tuan Henry Wijaya?"
Pria tua itu berhenti tiga meter darinya dan bertumpu pada kepala tongkatnya.
"Selamat malam, Devan. Sudah lama aku tidak melihatmu berdiri di makam sahabatku ini."
Sorot matanya tidak bersahabat. Devan menyipit.
"Kenapa Anda di Indonesia? Bukankah Anda seharusnya di Zurich?"
"Aku terbang sepuluh jam untuk menghadiri RUPS Luar Biasa lusa." Henry tersenyum tipis dan dingin. "Sebagai pemegang kuasa atas sepuluh persen saham pendiri yang ditinggalkan Broto Narendra."
Devan membeku. "Sepuluh persen apa? Tidak ada saham seperti itu di audit resmi."
Henry mengetukkan ujung tongkat ke tanah basah. Bunyinya berat.
"Broto menyembunyikannya di bank Zurich dua puluh tahun lalu. Atas namaku, dengan satu instruksi: kalau Narendra Group terancam jatuh ke tangan pihak luar, jangan pernah serahkan."
"Kakek menitipkannya untuk melindungi Alyssa!"
"Untuk melindungi nama Narendra." Henry memotong dengan suara yang membelah keheningan pemakaman. Ia melangkah mendekat. "Kamu lupa membaca pasal empat puluh dua Anggaran Dasar, Devan. Peralihan kendali penuh kepada pihak di luar keluarga pendiri butuh persetujuan tujuh puluh lima persen suara. Dengan saham yang kamu serahkan dan porsi A-K Capital, Alyssa paling banyak mencapai enam puluh lima. Sepuluh persenku bisa menahan semuanya."
Devan merasakan darahnya surut dari wajah.
"Dia bukan pihak luar. Dia istriku."
"Dia Mahendra." Henry tertawa kecil dan merendahkan. "Dan di atas kertas, itu pihak luar. Bisnis internasional tidak mengenal air mata penyesalan, Nak."
Devan melangkah maju. Tangannya mengepal. "Kakek menulis surat padaku. Isinya bilang Alyssa adalah hal paling berharga yang pernah masuk ke hidupku."
"Surat itu untuk cucunya. Instruksi saham itu untuk perusahaannya." Henry membetulkan kacamata emasnya. "Broto tahu kapan harus lembut dan kapan harus tegas."
"Kamu berbohong."
"Silakan buktikan." Henry berbalik pelan, lalu berhenti dan menoleh sedikit. Nada suaranya merendah, hampir seperti nasihat. "Dan satu hal lagi. Orang yang membayarku jauh lebih mahal daripada kesetiaanku pada almarhum tidak peduli siapa yang menang lusa. Mereka hanya ingin RUPS itu gagal."
Dua pengawal membuka jalan. Langkah ketukan tongkat itu menjauh di antara nisan-nisan basah.
Devan berdiri sendirian di bawah gerimis. Dari balik tanah hitam di depannya, nama Broto Narendra seolah menatap balik tanpa jawaban.
Ia merogoh ponselnya dengan tangan yang masih kaku. Nomor Aris sudah terpilih sebelum ia sadar.
.....
.....
Bersambung.