Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Namun Astiana langsung mendaratkan satu pukulan keras ke ulu hati pria paruh baya tersebut.
Bugh.
"Ukh."
Tuan Kusuma memuntahkan cairan dari mulutnya dan matanya langsung terbalik ke atas.
Tubuhnya merosot lemas ke lantai dan jatuh pingsan di sebelah anak buahnya.
Astiana menyimpan cincin perak itu ke dalam saku celananya dengan aman.
Suara derap langkah kaki para preman kini sudah sampai di ujung tangga lantai dua.
"Tuan Muda Raka, ada jalan keluar lain selain tangga utama."
Astiana bertanya dengan cepat melalui mikrofon di kerahnya.
"Ada, lewat jendela di dalam ruang VIP nomor satu."
Raka langsung memberikan instruksi dari denah bangunan yang dia pelajari.
"Di bawah jendela itu ada atap kanopi yang terhubung langsung dengan dinding gang belakang."
"Bagus, arahkan mobilmu mendekat ke atap kanopi itu sekarang."
Astiana segera menoleh ke arah pria pelelang yang masih duduk gemetar di sudut lorong.
"Bangun, kalau kau ingin tetap hidup malam ini, ikut aku sekarang."
Pria itu langsung mengangguk dengan air mata yang berderai dan berdiri dengan susah payah.
"Iya, Nona, saya ikut, tolong jangan tinggalkan saya di sini."
Astiana menendang pintu ruang VIP nomor satu hingga terbuka lebar.
Brak.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan mewah yang dipenuhi sofa kulit dan meja kaca tersebut.
Astiana berlari menuju jendela kaca besar di ujung ruangan dan membuka penguncinya.
Sret.
Dia membuka jendela itu lebar-lebar dan angin malam yang basah oleh gerimis langsung menyapu wajahnya.
Di bawah sana, Astiana bisa melihat atap seng kanopi yang landai dan basah.
Dari jauh, mobil sedan Raka terlihat melaju pelan mematikan lampunya dan berhenti tepat di bawah kanopi.
"Lompat ke atap itu lalu merosot ke bawah, cepat."
Astiana memerintahkan pria pelelang itu untuk melompat lebih dulu.
"T-tapi ini terlalu tinggi, Nona, kakiku bisa patah."
Pria itu ragu-ragu melihat jarak atap yang cukup curam ke tanah.
Dor dor.
Suara tembakan mulai terdengar dari arah lorong menghancurkan pintu kayu VIP.
Preman-preman itu sudah tiba dan mulai menembaki ruangan secara membabi buta.
"Pilih patah kaki atau kepalamu berlubang."
Astiana menarik kerah pria itu dan langsung melemparnya ke luar jendela tanpa belas kasihan.
"Aaaaa."
Pria itu berteriak histeris saat tubuhnya melayang dan mendarat keras di atas atap seng kanopi.
Bruk.
Tubuhnya meluncur ke bawah dan jatuh berguling ke atas tumpukan kardus basah di gang belakang.
Astiana segera naik ke ambang jendela bersiap menyusulnya.
Beberapa peluru mendesing melewati telinganya namun Astiana sama sekali tidak gentar.
Dia melompat dengan gerakan yang sangat ringan layaknya seekor kucing hitam di malam hari.
Wush.
Astiana mendarat di atas kanopi tanpa menimbulkan suara berisik sama sekali.
Dia meluncur dengan mulus dan melompat turun mendarat tepat di samping mobil Raka.
Ceklek.
Pintu belakang mobil terbuka dan pria pelelang itu sudah merangkak masuk dengan panik.
Astiana segera membuka pintu depan dan duduk di kursi penumpang di sebelah Raka.
"Jalan sekarang, Tuan Muda."
Astiana memberikan aba-aba sambil memakai sabuk pengamannya.
Raka langsung menginjak pedal gas dalam-dalam membuat ban mobil berdecit keras di aspal basah.
Cittt.
Sedan perak itu melesat membelah gang sempit dan menghilang ke jalan raya besar dalam sekejap.
Di kaca spion, Astiana bisa melihat puluhan preman berlarian keluar dari pintu belakang klub sambil mengacungkan parang.
Namun mereka sudah terlambat karena mobil Raka sudah membaur dengan lalu lintas ibu kota.
Hah hah hah.
Terdengar suara nafas pria pelelang yang sangat terengah-engah dari kursi belakang.
"Terima kasih, Nona, Tuan, kalian sudah menyelamatkan nyawa saya."
Pria itu menangis tersedu-sedu sambil memeluk kedua lututnya yang gemetar.
"Diam dan jangan berisik, atau aku akan melemparmu keluar dari mobil ini."
Raka membentak pria itu dari kursi kemudi dengan nada yang sangat galak.
Pria pelelang itu langsung menutup mulutnya rapat-rapat karena ketakutan.
Raka menoleh sekilas ke arah Astiana yang sedang bersandar santai di kursinya.
"Kau tidak terluka sama sekali kan, Nona Astiana."
Raka bertanya dengan nada suara yang kembali melembut dan penuh rasa khawatir.
"Aku baik-baik saja, tidak ada satu peluru pun yang mengenalku."
Astiana tersenyum tipis merespons perhatian dari partner kerjanya ini.
"Syukurlah, jantungku hampir copot mendengar suara tembakan dari mikrofonmu tadi."
Raka menghela nafas panjang mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri yang masih berpacu kencang.
"Tadi kau bilang Tuan Kusuma sedang mengeksekusi orang ini, kenapa dia melakukannya."
"Karena acara lelang semalam menjadi bencana bagi reputasi PT Bintang Zamrud."
Astiana melirik ke arah pria yang meringkuk ketakutan di kursi belakang.
"Tuan Kusuma ingin melenyapkan semua bukti kebodohan mereka termasuk pria ini."
"Lalu apa gunanya kau menyelamatkan nyawa penipu ini."
Raka bertanya heran karena pria ini sama sekali tidak terlihat berguna bagi mereka.
"Dia memang penipu, tapi dia pernah bekerja langsung dengan jaringan PT Bintang Zamrud."
Astiana mengeluarkan cincin perak yang dia rebut dari Tuan Kusuma dan menunjukkannya pada Raka.
"Kita akan membutuhkan kesaksiannya untuk membongkar kejahatan perusahaan cangkang itu ke publik."
Mata Raka sedikit membulat melihat cincin perak dengan ukiran elang dan ular tersebut.
"Kau berhasil mengambil cincin otoritas milik Tuan Kusuma."
"Bukan hanya cincinnya, aku juga berhasil mendapatkan satu nama tempat dari kepalanya."
Astiana menatap cincin itu dengan sorot mata yang penuh determinasi.
"Mansion Bukit Hijau."
"Mansion Bukit Hijau."
Raka mengulang nama tempat itu dengan kening yang kembali berkerut.
"Aku tahu kawasan elit itu, tapi itu bukan kawasan bisnis, itu adalah perumahan pribadi para konglomerat."
"Di sanalah markas utama dari bos besar mereka yang sesungguhnya berada."
Astiana mengepalkan tangannya menyembunyikan cincin itu di dalam genggamannya.
"Wanita paruh baya yang menjadi target utama pencarianku ada di dalam mansion itu."
Raka terdiam sejenak mencerna semua informasi gila yang baru saja mereka dapatkan malam ini.
Menyusup ke klub malam bawah tanah ternyata membuahkan hasil yang jauh melebihi ekspektasi.
"Baiklah, Nona Astiana, kita akan membawa pria ini ke tempat aman untuk diinterogasi lebih lanjut."
Raka memutar kemudi membelokkan mobil menuju jalur yang mengarah ke pinggiran kota.
"Dan besok pagi, aku akan mulai menyelidiki siapa pemilik asli dari Mansion Bukit Hijau tersebut."
Astiana menganggukkan kepalanya merasa sangat puas dengan kemajuan yang mereka capai malam ini.
Dia menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela mobil yang basah oleh air hujan.
Semakin dalam dia melangkah, semakin gelap rahasia yang menunggunya di depan sana.
Tapi dia tidak akan mundur satu langkah pun sampai liontin hijaunya kembali menyala.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣