**Isteri Sah di Balik Bayangan**
Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.
Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.
Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan di Gerbang Kecamatan
Raka berjalan cepat melintasi halaman Kantor Camat Pujut. Rambutnya berantakan, kaus abu-abunya kusut, dan matanya merah seperti tidak tidur semalaman. Beberapa warga yang sedang duduk di bangku tunggu luar menoleh heran.
Hamdan langsung melangkah ke depan, berdiri di antara Raka dan adiknya.
"Berhenti di situ, Raka."
Raka berhenti. Ia menatap Hamdan, lalu menatap Aina di belakangnya, Dadanya naik turun.
"Kak Hamdan, aku tidak datang untuk ribut," katanya dengan suara serak. "Aku cuma mau bicara dengan Aina, Sebentar saja. Tolong."
"Kamu sudah sepuluh tahun bicara dengan adikku," sahut Hamdan dingin. " Lalu bagaimana dengan semua kebohonganmu selama ini!"
Raka menunduk. Ia tidak membantah. Aina menyentuh lengan kakaknya. "Tidak apa-apa, Kak. Biar dia bicara. Tapi di sini, Di depan Kakak."
Hamdan menatap adiknya lama, lalu mundur satu langkah, cukup untuk memberi ruang, tetapi tidak cukup untuk pergi.
Mereka berdiri di bawah pohon ketapang yang daunnya memerah, tempat Aina biasa memarkir motor tuanya setiap pagi selama sepuluh tahun. Dari jendela ruang pelayanan, Aina bisa melihat beberapa wajah rekan kerjanya mengintip. Salah satunya adalah Rini.
"Sekar menemuimu tadi pagi," kata Raka.
"Ya."
"Dia menunjukkan pesan-pesan Ibu."
"Ya."
Raka mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ketika ia menurunkannya, Aina melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat selama sepuluh tahun pernikahan mereka. Raka tidak sedang menyusun cerita, Ia tampak kosong, seperti seseorang yang sudah kehabisan kebohongan.
"Ibu bilang padamu aku sudah setuju," ucapnya. "Itu tidak benar, Na. Aku tidak pernah bilang setuju."
"Tapi kamu juga tidak pernah bilang tidak."
Raka terdiam. Kalimat itu menancap tepat di tempat yang paling benar.
"Kamu benar," katanya akhirnya. "Aku tidak pernah bilang tidak. Tidak kepada Ibu waktu dia menjodohkanku dengan Sekar. Tidak kepada diriku sendiri waktu aku memalsukan berkas di KUA. Tidak waktu Ibu menyuruhku meminjam uang atas namamu." Suaranya bergetar. "Seumur hidupku, aku membiarkan Ibuku yang memutuskan semuanya. Lalu aku berbohong kepada semua orang supaya keputusannya terlihat baik-baik saja."
Aina tercekat. "Pinjaman bank itu… Ibu yang menyuruh?"
Raka mengangguk tanpa berani menatapnya. "Untuk biaya persalinan Sekar dan aqiqah Arsya. Ibu tidak mau keluarga Sekar tahu kami kekurangan uang."
Aina memejamkan mata. Lima tahun ia membayar cicilan itu dari gajinya. Lima tahun ia makan seadanya di akhir bulan, menunda membeli kerudung baru, menolak ajakan rekan kerja makan di luar. Semuanya untuk membayar pesta kelahiran anak dari pernikahan yang tidak pernah ia ketahui.
"Kenapa kamu datang ke sini, Mas?" tanya Aina pelan. "Apa lagi yang mau kamu minta?"
Raka merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar kertas yang terlipat empat. Kertas itu kusut dan sedikit basah di ujungnya, seolah sudah digenggam erat sepanjang perjalanan.
"Aku tidak datang untuk meminta. Aku datang untuk memberi."
Ia menyodorkan kertas itu kepada Aina. Aina ragu sejenak, lalu membukanya.
Tulisan tangan Raka. Ia mengenalinya dengan baik. Tulisan yang sama yang dulu menulis surat cinta untuknya di masa pacaran, yang menulis nama mereka di kartu undangan pernikahan.
"Saya yang bertanda tangan di bawah ini, Lalu Raka, dengan sadar dan tanpa paksaan menyatakan bahwa pada saat menikahi Aina, saya telah terikat pernikahan sah dengan Baiq Sekar Ayu. Saya memberikan keterangan palsu tentang status perkawinan saya kepada pihak KUA. Aina tidak pernah mengetahui hal tersebut dan tidak pernah memberikan persetujuan"
Aina membaca sampai akhir. Ada tanda tangan Raka di bawahnya, Tanggal hari ini.
Tangannya gemetar. "Kamu tahu apa artinya ini, Mas? Kamu bisa dituntut. Kamu bisa…"
"Aku tahu." Raka menatapnya, Untuk pertama kalinya hari itu, tatapannya tidak goyah. "Kak Hamdan pasti sudah bilang padamu. Kamu bisa kehilangan pekerjaanmu kalau tidak bisa membuktikan kamu ditipu. Ini buktinya, Dari mulutku sendiri."
Hamdan, yang sejak tadi diam, maju selangkah. Ia mengambil kertas itu dari tangan Aina dan membacanya dengan teliti. Raut wajahnya berubah.
"Ini harus diulang di depan pejabat berwenang," katanya. "Lebih kuat lagi kalau di depan Pak Camat. Sekarang."
Raka mengangguk tanpa ragu. "Antarkan aku ke dalam, Kak."
Aina menunggu di bangku kayu dekat ruang Camat. Rini duduk di sampingnya, menggenggam tangannya tanpa berkata apa-apa.
Dari balik pintu yang tertutup, terdengar suara Raka. Pelan, terbata-bata, tetapi jelas. Lalu suara Pak Mahsun yang berat. Lalu suara Hamdan. Lalu Raka lagi, lebih lama.
Setengah jam berlalu. Pintu terbuka.
Pak Mahsun keluar lebih dulu. Wajahnya serius, tetapi ketika matanya bertemu mata Aina, ada sesuatu yang melunak di sana.
"Bu Aina, keterangan Saudara Raka sudah kami catat dan akan kami lampirkan dalam laporan ke kabupaten." Ia berhenti sejenak. "Saya sudah dua puluh tahun jadi pegawai. Jarang sekali saya melihat orang datang sendiri untuk mengakui kesalahannya seperti ini."
Raka muncul di belakangnya dengan wajahnya yang tampak memucat, tetapi bahunya tidak lagi merosot seperti tadi. Ia berjalan mendekati Aina dan berhenti satu langkah di depannya.
"Na, aku tidak meminta kamu memaafkanku. Aku tahu aku tidak pantas." Suaranya lirih. "Tapi anak itu… izinkan aku menjadi ayahnya dengan cara yang benar. Tanpa kebohongan. Kapan pun kamu siap. Kalau kamu tidak pernah siap, aku juga akan terima."
Aina menatapnya lama. Lelaki ini pernah menjadi seluruh dunianya. Lalu menjadi luka terbesarnya. Sekarang ia tidak tahu harus menempatkannya di mana.
"Aku belum bisa menjawab Mas," ucapnya jujur.
"Aku mengerti."
Suara klakson panjang memecah keheningan halaman kantor.
Semua orang menoleh.Terlihat sedan hitam yang Aina kenal berhenti di depan gerbang. Pintunya terbuka, Lalu terlihat Lale Rukmini turun dengan langkah cepat. Kebaya ungunya berkibar ditiup angin, wajahnya merah padam. Di belakangnya, seorang lelaki berkemeja batik ikut turun, membawa map.
"Raka!"
Suara itu menggelegar. Warga di ruang tunggu berdiri. Beberapa pegawai keluar dari ruangan.
Lale Rukmini berjalan lurus ke arah anaknya, mengabaikan semua orang. "Apa yang kau lakukan di sini? Ibu sudah bilang, jangan dekati perempuan ini!"
"Ibu" ucap Raka pelan. "Sudah selesai. Aku sudah memberi keterangan kepada Pak Camat. Semuanya."
Lale Rukmini terhenti. Wajahnya membeku sesaat, lalu berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin dari amarah.
"Kau… apa?"
"Aku sudah mengaku Ibu, Tentang KUA, Tentang pinjaman, Tentang semuanya."
Tamparan itu terdengar keras di halaman yang tiba-tiba sunyi. Raka tidak menghindar. Kepalanya hanya sedikit tertoleh, lalu kembali menatap ibunya.
"Kau menghancurkan nama keluarga kita demi perempuan ini?" desis Lale Rukmini.
"Bukan demi dia Ibu, Tetapi Demi anakku. Supaya dia tidak tumbuh di atas kebohongan seperti aku."
Lale Rukmini berbalik menatap Aina. Matanya berkilat penuh kebencian. Ia membuka mulut, hendak berkata sesuatu.
Tetapi Aina tidak mendengarnya.
Rasa nyeri yang tajam tiba-tiba menyerang perut bagian bawahnya, menjalar seperti sengatan. Aina terhuyung, mencengkeram lengan Rini. Pandangannya mengabur.
"Bu Aina? Bu!"
Suara Rini terdengar jauh. Aina merasakan tubuhnya melemas. Ia melihat Hamdan berlari ke arahnya. Ia melihat Raka menoleh dengan wajah ketakutan.
Dan hal terakhir yang ia dengar sebelum semuanya menjadi gelap adalah suara Raka yang berteriak memanggil namanya.