NovelToon NovelToon
SATU ATAP SERIBU DUSTA

SATU ATAP SERIBU DUSTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.

​Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.

​Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.

​Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SATU ATAP SERIBU DUSTA

​

​Gedung Grand Ballroom Hotel Bintang Lima Mandala Kusuma malam ini bergemerlap luar biasa. Ribuan kelap-kelip lampu kristal dari megahnya lampu gantung raksasa memantulkan cahaya keemasan di atas lantai marmer yang mengkilap. Ratusan tamu undangan mulai dari para investor elit, tokoh penting industri kecantikan nasional, jurnalis dari berbagai media cetak dan elektronik ternama, hingga jajaran dewan komisaris NesAura Skincare tampak memadati ruangan yang didekorasi dengan konsep futuristic botanical bernuansa putih dan perak.

​Di tengah hiruk-pikuk dan kemeriahan pesta penyambutan peluncuran akbar lini produk Glow Series, sebuah panggung megah berdiri kokoh dengan layar LED raksasa di bagian belakangnya, menampilkan logo NesAura yang berkilau elegan.

​Namun, di balik riuhnya tepuk tangan dan alunan musik instrumental klasik yang mengalun lembut, atmosfer di ruang tunggu VVIP belakang panggung justru terasa sangat pekat dan menegangkan.

​Nesa berdiri tegak di depan meja rias berlampu sorot. Ia mengenakan gaun panjang berpotongan asimetris berwarna hitam malam dengan aksen bordir perak di bagian bahunya. Gaun itu dirancang khusus untuk memancarkan aura ketegasan, wibawa, dan keanggunan seorang pimpinan tertinggi. Tidak ada lagi sisa-sisa kepucatan di wajahnya; riasan wajah yang sempurna berhasil menutupi rasa lelah, sementara gincu merah marun di bibirnya menegaskan ketangguhan yang kini mendarah daging di dalam dirinya.

​Pintu ruang ganti terketuk pelan, dan Bila melangkah masuk dengan napas sedikit terengah-engah. Di tangan asisten muda itu tergenggam sebuah tablet digital yang menampilkan status kesiapan teknis acara.

​"Bu Nesa... semua persiapan di luar sudah seratus persen beres," lapor Bila dengan suara bergetar tertahan, menunjukkan rasa gugup sekaligus antisipasi yang luar biasa besar. "Para tamu undangan sudah mengisi seluruh kursi utama. Media nasional sudah bersiap di area media pit, dan jajaran dewan komisaris sudah duduk di barisan depan. Sesuai jadwal, lima menit lagi acara grand opening akan dimulai."

​Nesa menoleh dari cermin, menatap bayangan Bila di pantulan kaca. Ia tersenyum tipis sebuah senyuman yang tenang, terkontrol, dan sangat mematikan.

​"Terima kasih, Bila. Kamu sudah bekerja sangat luar biasa malam ini," ucap Nesa dengan nada suara yang begitu tenang, kontras dengan badai emosi yang bergolak di dalam dadanya. "Bagaimana dengan tamu istimewa kita? Apakah Dika dan Sasya sudah tiba di area belakang panggung?."

​Bila mengangguk cepat. "Sudah, Bu. Tadi saya berpapasan dengan mereka di koridor samping. Pak Dika dan Ibu Sasya datang bersamaan dengan mengenakan pakaian formal serasi. Mereka... mereka tampak sangat percaya diri, tertawa dan berbincang akrab dengan beberapa direktur mitra bisnis seolah-olah merekalah pemilik mutlak perusahaan ini."

​Mendengar hal itu, sudut bibir Nesa terangkat membentuk sebuah seringai tipis. Nikmati senyuman kalian selagi masih bisa, batin Nesa dingin.

​Beberapa meter dari ruang ganti Nesa, di sebuah sudut lorong VVIP yang agak tersembunyi, Dika dan Sasya memang tengah menikmati puncak euforia kemenangan semu mereka.

​Sasya merapikan gaun malam merah muda bermotif berlian yang ia kenakan, sementara Dika membetulkan letak dasi kupu-kupu hitam di kerah kemejanya sambil tersenyum lebar ke arah sang kekasih gelap.

​"Kamu lihat sendiri kan, Sasya? Suasana di luar luar biasa megah," bisik Dika penuh kemenangan, merangkul pinggang Sasya dengan posesif. "Semua orang memuji persiapan acara ini. Dan begitu nanti kita naik ke atas panggung bersama dewan komisaris untuk mengumumkan restrukturisasi kepemimpinan perusahaan, Nesa tidak akan punya pilihan selain menyerahkan kursi CEO itu secara resmi di hadapan publik."

​Sasya tertawa kecil, matanya berbinar-binar penuh ambisi yang telah lama terbakar. "Akhirnya kerja keras dan kesabaran kita selama ini terbayar lunas, Dika. Setelah malam ini, tidak akan ada lagi nama Nesa di NesAura. Perusahaan ini sepenuhnya milik kita berdua."

​"Betul," balas Dika mantap. "Yuk, sebentar lagi acara dimulai. Kita sambut panggung kita."

​Dengan langkah penuh keangkuhan, pasangan pengkhianat itu berjalan beriringan menuju sisi panggung utama, bergabung dengan jajaran direksi lainnya, siap menyambut detik-detik kejatuhan Nesa yang mereka nantikan.

​Di atas panggung utama, lampu sorot tiba-tiba meredup. Musik instrumental pengantar berhenti, digantikan oleh suara pembawa acara (host) yang menggelegar penuh semangat melalui mikrofon nirkabel, menyapa seluruh tamu undangan dan membuka acara peluncuran Glow Series secara resmi.

​"Selamat malam, para tamu undangan yang terhormat, investor terkasih, serta rekan-rekan media sekalian! Selamat datang di acara Grand Launching Glow Series oleh NesAura Skincare."

​Suara tepuk tangan meriah bergemuruh di seluruh ballroom.

​"Dan tanpa membuang waktu lebih lama lagi, mari kita sambut wanita inspiratif di balik keseriusan dan inovasi luar biasa ini pendiri sekaligus CEO NesAura Skincare, Ibu Nesa Mahardika."

​Gemuruh tepuk tangan semakin riuh menggema di ruangan tersebut. Sorot lampu putih yang terang benderang langsung menghantam sisi kiri panggung, tempat di mana tirai beludru belahan samping perlahan terbuka.

​Dari balik tirai itu, Nesa melangkah keluar dengan postur tubuh yang sangat tegap, anggun, dan penuh wibawa. Langkah kakinya mantap menapaki karpet merah panggung, diiringi tatapan penuh kagum dari ratusan pasang mata yang hadir. Di barisan depan, para dewan komisaris mengangguk hormat, sementara para jurnalis mulai mengangkat kamera mereka, membidik setiap detik momen berharga tersebut.

​Di sisi kanan panggung, Dika dan Sasya berdiri berdampingan sambil tersenyum lebar, bersiap untuk ikut maju ke tengah panggung begitu Nesa selesai memberikan sambutan pembuka sebuah skenario yang telah mereka rancang di dalam kepala mereka sendiri.

​Nesa berdiri di depan podium utama yang dihiasi logo perak NesAura. Ia memegang sisi mikrofon dengan tenang, menatap lautan manusia di hadapannya, sebelum pandangannya bergeser tajam ke arah Dika dan Sasya yang berdiri menatapnya dengan seringai penuh kemenangan.

​"Selamat malam semuanya..." suara Nesa mengalun jernih, tenang, dan menggema ke seluruh penjuru ruangan melalui pengeras suara. "Terima kasih atas kehadiran Bapak, Ibu, dan rekan-rekan media sekalian di malam yang sangat istimewa ini."

​Nesa menjeda kalimatnya sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan keheningan sesaat menyelimuti ruangan sebelum ia melanjutkan dengan nada suara yang mulai berubah menjadi lebih berat dan menusuk.

​"Sebelum kita menyaksikan peluncuran resmi produk terbaru Glow Series malam ini... izinkan saya untuk membagikan sebuah cerita kecil. Sebuah cerita tentang sebuah rumah... tentang sebuah perusahaan yang dibangun di atas cucuran keringat, air mata, dan pengorbanan masa muda."

​Di barisan pinggir panggung, Dika sedikit mengerjap. Kening suaminya berkerut dalam. Ada nada bicara yang tidak biasa dari cara Nesa menyampaikan sambutannya bukan sekadar sambutan korporat standar, melainkan sebuah kalimat pembuka yang sarat akan ketegangan.

​"Sebuah bisnis yang hebat tidak hanya diuji dari seberapa besar keuntungan finansial yang dihasilkannya," lanjut Nesa, matanya kini menatap tajam lurus ke arah Dika dan Sasya tanpa berkedip sedikit pun. "Melainkan dari seberapa kuat integritas orang-orang yang ada di dalamnya. Sayangnya... ada kalanya orang-orang yang paling kita cintai, orang-orang yang tidur di bawah atap yang sama, dan orang-orang yang kita beri kepercayaan penuh di dalam perusahaan... justru menjadi duri dalam daging yang menusuk kita dari belakang."

​Bumm!

​Seketika itu juga, atmosfer di dalam ballroom mewah itu berubah drastis. Bisik-bisik mulai terdengar dari barisan tamu undangan dan para jurnalis. Para dewan komisaris saling berpandangan dengan kening berkerut, kebingungan mendengar arah pidato CEO mereka yang melenceng jauh dari naskah acara.

​Di sisi panggung, senyuman di wajah Dika dan Sasya seketika lenyap seketika. Wajah Dika memucat, sementara Sasya mengepalkan tangannya erat-erat, merasakan ada bahaya besar yang mendadak mendekat.

​"Bu Nesa... apa yang dia katakan?" bisik Sasya panik kepada Dika di sampingnya. "Cepat hentikan dia! Dia merusak acara."

​Dika hendak melangkah maju ke tengah panggung untuk menginterupsi pidato Nesa, namun sebelum kakinya sempat melangkah, Nesa mengangkat tangan kanannya pelan sebuah isyarat mutlak seorang pimpinan tertinggi yang memerintahkan siapa pun untuk tetap diam di tempatnya.

​"Jangan bergerak, Dika," ucap Nesa melalui mikrofon, suaranya yang dingin menggema ke seluruh ruangan, membuat langkah Dika terhenti kaku di atas panggung.

​Nesa menoleh ke arah layar LED raksasa di belakang podium. Ia mengangkat tangan kirinya, lalu menekan sebuah tombol kecil pada pengendali jarak jauh di telapak tangannya.

​Klip.

​Layar LED besar di belakang panggung yang tadinya menampilkan logo indah NesAura mendadak berubah hitam total selama satu detik, sebelum kemudian berganti menampilkan sebuah tampilan dokumen digital resmi berukuran raksasa yang bisa dibaca oleh seluruh orang di dalam ballroom.

​Itu bukanlah presentasi produk kosmetik.

​Itu adalah tampilan grafik aliran dana rekening bank, akta pendirian perusahaan cangkang fiktif, serta rekaman dokumen otorisasi anggaran agensi iklan siluman yang dikelola secara ilegal oleh Dika dan Sasya.

​Seluruh isi ruangan seketika terkesiap ngeri. Para jurnalis langsung mengangkat kamera mereka, memotret layar raksasa tersebut secara membabi buta. Bisik-bisik kencang berubah menjadi kehebohan besar di antara para tamu undangan dan investor.

​"Ya Tuhan... apa itu?."

"Itu data transaksi penggelapan dana korporat."

"Lihat nama yang terdaftar di perusahaan cangkang itu... itu nama Direktur Operasional dan Kepala Humas."

​Di atas panggung, wajah Dika dan Sasya berubah sepucat kertas dalam hitungan detik. Keringat dingin bercucuran deras di pelipis Dika, sementara Sasya menutup mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar hebat akibat syok luar biasa. Kedok busuk yang selama ini mereka sembunyikan rapat-rapat kini dibongkar mentah-mentah di hadapan ratusan pasang mata publik nasional.

​Nesa melangkah perlahan dari balik podium, berjalan mendekati Dika dan Sasya yang kini berdiri bagaikan orang bodoh di atas panggung megah tersebut. Sorot mata Nesa begitu dingin, tajam, dan mematikan.

​"Kalian mencari kursi kepemimpinan ini, bukan?" suara Nesa berbisik tajam melalui mikrofon, namun cukup keras untuk didengar oleh seluruh mic di sekitar panggung. "Kalian pikir dengan bersekongkol di belakangku, merusak sistem perusahaan, dan memanipulasi aset di balik punggungku, kalian bisa menguasai NesAura semau kalian?."

​Dika menelan ludahnya yang terasa sangat kering, suaranya tercekat di kerongkongan. "Ne... Nesa... jangan dengar... ini semua fitnah! Ini pencemaran nama baik perusahaan!" teriak Dika panik, mencoba membela diri di hadapan para dewan komisaris yang kini menatapnya dengan pandangan jijik dan penuh kemarahan.

​"Fitnah?" Nesa mendengus sinis, tertawa kecil yang terdengar begitu mengerikan. Ia kembali menekan tombol di pengendali jarak jauhnya.

​Klip.

​Layar LED besar di belakang mereka berubah lagi. Kali ini, layar tersebut menampilkan rekaman audio-visual percakapan rahasia antara Dika dan Sasya di sebuah restoran mewah beberapa minggu lalu, di mana mereka dengan bangga menertawakan kebodohan Nesa dan merencanakan pengambilalihan perusahaan secara paksa.

​Suara percakapan itu menggema jelas ke seluruh ruangan ballroom, menelanjangi kebusukan moral dan kejahatan korporat mereka tanpa sisa.

​Sasya yang tidak tahan lagi melihat kehancuran total di hadapannya tiba-tiba menjerit histeris, melangkah maju hendak menyerang Nesa. "Nesa! Sialan kamu! Kamu sengaja menjebak kami?!" teriak Sasya kalap, melupakan seluruh etika publik.

​Namun, sebelum tangan Sasya sempat menyentuh Nesa, dua orang petugas keamanan berbadan tegap yang sudah bersiaga di balik panggung langsung menerjang maju, mencekal kedua lengan Sasya dan menahan tubuh wanita itu hingga tidak bisa bergerak sama sekali.

​Di saat yang bersamaan, pintu utama ballroom terbuka lebar. Tiga orang petugas kepolisian berpakaian dinas resmi melangkah masuk dengan tegas ke dalam ruangan, berjalan lurus menuju ke atas panggung di hadapan Dika dan Sasya.

​Seorang perwira polisi memperlihatkan surat perintah resmi di hadapan Dika yang kini berdiri mematung tanpa nyawa.

​"Bapak Dika Pratama dan Ibu Sasya Kirana, atas laporan resmi dari pihak direksi utama NesAura Skincare terkait tindak pidana penggelapan aset korporat, pemalsuan dokumen direksi, dan konspirasi penipuan bisnis, Anda berdua dinyatakan sebagai tersangka. Silakan ikuti kami ke kantor polisi sekarang juga."

​Kalimat itu menjadi palu hakim terakhir yang menghantam sisa-sisa harga diri Dika dan Sasya.

​Dika terduduk lemas di atas lantai marmer panggung, tatapannya kosong menatap lantai, sementara Sasya menangis histeris sambil meronta-ronta dalam cekalan petugas keamanan, mencaci maki Nesa dengan sumpah serapah yang perlahan tenggelam oleh riuhnya suara kamera jurnalis yang terus membidik wajah mereka tanpa henti.

​Di bawah sorot lampu panggung yang gemerlap, Nesa berdiri tegak di tengah-tengah kekacauan tersebut. Ia menarik napas panjang, merapikan gaun hitamnya, lalu menatap tajam ke arah dua pengkhianat hidupnya yang kini digiring keluar panggung dalam balutan kehinaan yang abadi.

​Badai itu akhirnya tiba. Dan di atas reruntuhan istana kebohongan mereka, Nesa bangkit sepenuhnya sebagai ratu sejati yang tidak akan pernah bisa dijatuhkan lagi oleh siapa pun.

​

1
fatmiatun sahono
sy komen ya....pdhal di upload aja itu surat ancaman di media gosip seperti PD saat wkt makan siang rame gosip nya. nah surta ancaman itu akan rame klo di upload dg narasi ancaman pertama seru ne....
fatmiatun sahono
maaf emang sdh cerai ya Dika sama Nisa...apa sy ada yg kelewat ya...baca nya..
Mundri Astuti
kebiasaan dimanja si Sasa ...tapi dimana" mang Sasa cuma buat pelengkap bumbu 🤭
stela aza
bukan anak kandungnya x itu s nesa masa dr kecil sampai dewasa masih di beda bedakan 🤦
Sya Haron
Di bab 19 syasya dan dika sudah dijatuhi hukuman. Bila waktunya syasya dilepaskan?
blcak areng: Hay kak terima kasih ya revisi dari Kamu nya🙏🙏🙏.. maaf ya aku sedikit sibuk di dunia rl jadi beberapa kali mlh bikin kesalah 🙏🙏
total 1 replies
Agunk Setyawan
othornya lagi ngantuk kali ya🤣🤣🙏
blcak areng: udah di revisi ya kak
total 1 replies
Zhafran Althaf
waittt bentar bentar bukannya Dika udah di penjara yaaaa kok ini muncul lagi
Dewi Rahmawati
bagus ceritanya up terus kk 💪
Mundri Astuti
obatnya nesa nich
stela aza
kelamaan bertindak
Zhafran Althaf
aku hadierrrr kakak
Zhafran Althaf: kak
karyamu yang tamu di atap orang tuaku kamu hapus ta kak kok aku cari ga ada
total 2 replies
Zhafran Althaf
hallo Kaka aku hadirrrr😍
blcak areng: yeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee mksh Kakak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!