Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35 Nasib Derita Istri kuli bangunan
Suara rintik hujan yang menghantam seng atap rumah petak kontrakan terdengar bertalu-talu, menciptakan melodi sendu yang menemani malam panjang keluarga kecil itu. Di dalam ruangan sempit berukuran empat kali empat meter yang hanya diterangi oleh satu bohlam kuning remang-remang, Anisa duduk bersila di depan sebuah meja kayu tua.
Di hadapannya berserakan kain perca, gunting kain, benang jahit berwarna-warni, serta sebuah mesin jahit manual tua yang berdecit setiap kali pedalnya diinjak , saat sedang asik menjahit mengerjakan pesanan , terdengar tangisan anak nya yang masih berumur 3 bulan.
Lalu Anisa berhenti sejenak menjahit nya langsung berlari mendekati anak nya dan menggendong nya, pada saat itu Anisa merasakan anak nya badan nya panas lalu memanggil burhan
Mas ," anak kita badan nya hangat " ucap Anisa kepada Burhan,
" sini nis biar mas lihat " jawab burhan
sambil menempelkan tangan nya ke jidat anak bayinya
" benar Nisa , kata Burhan
" nisa ambil air untuk kompres nya mas ya " ucap Nisa buru - buru
"Sabar ya, Nak. Sebentar lagi Ibu ambil air hangat buat kompres " ucap Burhan sambil mendekati anak nya,
" ini mas coba mas kompres nya sebisa nya ," ucap Anisa
" ya Nisa " jawab Burhan
" nanti kalau udah dingin air nya bilang biar Anisa ambilkan " kata Anisa memberi tahu Burhan
Kemudian Anisa melanjutkan menjahitnya, sedangkan Burhan merawat anak nya dan tidak lama kemudian anak nya berhenti rewel tangisan nya dan tidur,
Anisa menghentikan gerak tangannya sejenak. Ia menoleh ke belakang, menatap suami dan anaknya dengan senyuman tipis yang dipaksakan agar terlihat tegar.
Tak lama kemudian Burhan memanggil Anisa dan berkata istirahat dulu nisa " ucap burhan
"Kamu sudah menjahit sejak pukul tujuh pagi tadi, Nis. Istirahatlah barang setengah jam. Kamu tidak boleh jatuh sakit," ucap Burhan dengan nada cemas yang kentara.
Anisa menggeleng pelan, tangannya kembali merapikan jahitan tepi kain gamis pesanan tersebut.
" nanti mas, biar cepat selesai karena nanti mengerjakan orderan yang berada kotak kemarin itu lagi " jawab Anisa kepada Burhan.
Burhan menghela napas panjang, meresapi kepahitan dari kenyataan hidup mereka. "Maafkan aku, Nis. Kalau saja saya tak kecelakaan pasti bisa bantu nisa , " ucap Burhan dengan nada sedih
"Hei, jangan bicara begitu," potong Anisa tegas, menoleh ke atas untuk menatap mata suaminya lurus-lurus. "Kita berjuang bersama, Mas. Tidak ada istilah menanggung beban sendirian dalam pernikahan kita. mas dulu mencari nafkah untuk keluarga kecil kita , karena kini mas tidak bisa gantian Nisa yang mencari nafkah ," jawab nisa memberi semangat suaminya
Burhan tersenyum haru, merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya di tengah kesederhanaan dan kerasnya himpitan ekonomi. Ia berjalan perlahan dengan tongkat dan mengecup kening istrinya
Waktu terus merayap menuju pukul dua siang Hujan di luar mulai turun, menyisakan tetesan air yang jatuh dari genting bambu. Di meja kerjanya, Anisa langsung menyambar kain pesanan yang baru saja selesai dijahit. Tanpa menunda sedetik pun, ia memeriksa setiap jahitan obras dan kancingnya untuk memastikan kualitasnya sempurna.
Burhan yang sedang merebus air hangat di sudut dapur kecil menghampiri istrinya sambil membawa segelas teh manis hangat.
"Sudah selesai, Nis?" tanya Burhan meletakkan gelas itu di meja.
"Alhamdulillah, sudah beres semua, Mas," jawab Anisa dengan napas lega, meregangkan otot-otot tangannya yang pegal. Ia melipat rapi gamis-gamis tersebut dan memasukkannya ke dalam kantong plastik besar. "Totalnya ada lima potong baju seragam pengajian. Besok pagi-pagi sekali, sebelum matahari tinggi, aku akan langsung antar ke rumah Bu Haji."
"Biar aku yang antar jalan pakai tongkat nis kan jarak 3 rumah saja kok Ucap Burhan kepada nisa
"Jangan, Mas. Kamu kan harus banyak istirahat selama 6 bulan lebih mas kata dokter biar cepat sembuh " jawab nisa kepada burhan
Burhan menatap istrinya dengan tatapan penuh rasa bersalah bercampur bangga. "Kamu selalu memikirkan orang lain dan suamimu dulu sebelum memikirkan diri sendiri, Nis."
"Karena hidup kita adalah kerja sama tim, Burhan," jawab Anisa tersenyum tulus. "Selama kita mau ikhtiar dan tidak malu halal mencari rezeki, Allah pasti buka jalan."
Keesokan paginya, fajar baru menyingsing ketika Anisa sudah bersiap dengan kerudung sederhana dan kantong plastik besar berisi pakaian jahitan di tangan kanannya. Sebelum melangkah keluar pintu, ia mencium bayinya dan pamitan kepada burhan
"Aku berangkat ya, Mas. Doakan urusannya lancar!" teriak Anisa dari balik gerbang kayu.
"Hati-hati di jalan, Nis! Jangan terlalu lelah!" balas Burhan melambaikan tangan dengan senyuman lebar.
Perjalanan kaki pagi itu terasa sejuk. Di sepanjang jalan setapak perkampungan padat penduduk, Anisa melangkah dengan keyakinan penuh. Ia tahu perjuangannya bersama Burhan masih panjang dan penuh liku, namun setiap tetes keringat yang ia curahkan untuk menyelesaikan orderan tepat waktu adalah bukti nyata bahwa cinta dan keteguhan hati mampu mengalahkan kemiskinan apa pun.
Setibanya di rumah Bu Haji Aminah, wanita paruh baya itu menyambut Anisa dengan senyuman puas melihat kerapian hasil jahitan yang dikerjakan kilat semalam. Pelunasan pembayaran diterima, dan senyum bahagia terpancar nyata di wajah Anisa bekal semangat baru untuk kembali merajut asa bersama suami dan buah hati tercinta di rumah kontrakan kecil mereka