Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.
Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.
Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.
Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.
Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Kecil
"Tambah lagi, Nak! Tambah!"
Mbok Rondo menumpuk sepotong paha kambing lagi di atas daun pisang di depan Satrio. Tulang-tulang di samping daun itu sudah menggunung setinggi gelas bambu. Satrio mengangguk-angguk dengan pipi menggembung, terlalu penuh untuk berterima kasih.
Kepala desa menyembelih dua ekor kambingnya sejak siang. Malam itu pendopo balai desa penuh sesak oleh bau gulai dan asap daging yang dibakar di atas bara. Seseorang menabuh kendang di sudut, anak-anak berlarian di antara tiang, dan peronda yang biasanya berjaga di gardu mulut desa pun ikut duduk berebut tulang. Satrio didudukkan di ujung meja panjang di tengah pendopo, di sebelah tempat duduk kepala desa sendiri.
Ia makan seperti orang yang tiga hari tidak makan, dan kenyataannya memang tidak jauh berbeda. Tiga hari di jalan ia cuma mengunyah singkong rebus bekal dari Lintang dan Sekar, lalu sepiring nasi jagung di pasar. Kapan terakhir kali ia makan daging kambing, ia sendiri sudah lupa.
"Pelan-pelan, bocah," kata Eyang, "Kau makan seperti Gandung."
'Gandung makannya lebih banyak,' batin Satrio sambil merobek daging dari tulang dengan giginya.
"Tidak malam ini."
Kunyahan Satrio melambat. Kalau Gandung tahu ia makan kambing sebanyak ini tanpa dia, sahabatnya itu pasti merajuk sampai purnama. Ia menyisihkan sepotong tulang yang masih tebal dagingnya ke pinggir daun untuk Gandung. Lalu ia teringat perjalanan pulang yang tiga hari, dan daging itu pasti sudah basi sebelum sampai di gunung. Tulang itu ia makan juga.
Anak Mbok Rondo datang terpincang-pincang ke ujung meja. Balutan di betisnya sudah diganti kain bersih, dan kain itu tetap kering sejak tadi siang.
"Kakang sudah tidak bau," katanya.
Satrio tertawa dengan mulut penuh. Anak itu ikut tertawa, lalu terpincang-pincang kembali ke kerumunan anak-anak di dekat tangga pendopo.
Pagi tadi Satrio berendam di sungai sampai kulit jarinya keriput. Baju Gandung yang robek dan berlumur darah sudah ia cuci dan lipat rapi di samping tikarnya, dan yang ia pakai sekarang baju lurik hijau tua pemberian Mbok Rondo, bekas mendiang suaminya. Warnanya persis kain yang kemarin ia raba di lorong kain, sebelum tangannya dipukul penggaris bambu. Balutan di telapak kanannya juga sudah ia ganti sendiri dengan sobekan kain bersih, diikat rapat sampai ke pergelangan.
Gadis tabib itu duduk di sebelahnya tanpa permisi. Ia meletakkan mangkuk tempurung berisi air rebusan di depan Satrio, lalu menarik kerah baju lurik itu untuk memeriksa balutan di bahunya.
"Sudah merapat," katanya, "Besok bisa dipakai mengangkat beras, asal jangan dipakai berkelahi. Minum itu. Pahit, jangan protes."
Satrio meminumnya sekali teguk dan langsung meringis sampai matanya berair.
"Sukmajati yang mau kau rebut kemarin," kata gadis itu, "Sebenarnya untuk siapa?"
"Guruku."
"Ceritakan." Gadis itu melipat tangannya di atas meja, "Aku Ratna Kemuning, tabib dari Tirta Kencana. Kalau mau meracik obat, aku harus tahu dulu penyakitnya."
"Aku dari Geni Wening," jawab Satrio cepat, lalu langsung bercerita.
Ia bercerita soal Ki Arya yang makin sering batuk darah, soal cakra gurunya yang rusak dan terus bocor, soal Nyi Waru dan rebusan daun kering yang cuma bisa menahan sepekan dua pekan, dan soal Teratai Getih yang tidak dijual di pasar mana pun. Ratna mendengarkan tanpa menyela. Sesekali ia bertanya, berapa kali sehari gurunya batuk, darahnya merah segar atau kehitaman, dan apakah tangan gurunya dingin di malam hari.
"Nyi Waru bilang," Satrio meletakkan tulang di tangannya kembali ke daun, "Kalau dalam sebulan tidak ada Teratai Getih, Sekar disuruh menyiapkan kain putih."
Ratna mengetuk-ngetukkan ujung jarinya ke meja.
"Sukmajati bisa menahan cakra yang bocor sampai musim berganti, asal diracik dengan benar," katanya, "Direbus begitu saja seperti semalam, khasiatnya cuma separuh. Daunnya harus dikeringkan dulu, ditumbuk bersama akar alang-alang, lalu direbus dengan api kecil sampai airnya tinggal sepertiga. Itu belum menyembuhkan, tapi cukup untuk membeli waktu sampai teratai itu ditemukan."
Satrio menatapnya.
"Kuracikkan," kata Ratna, "Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Berhenti membuat dirimu terluka. Dua kali kita bertemu. Sekali kau tercebur got, sekali bahumu bolong."
"Yang got itu kan kau yang..."
"Syaratnya tetap sama." Ratna menyipitkan mata, "Lagi pula, kalau gurumu sakit separah itu, kenapa kau turun gunung cuma membawa uang segenggam?"
"Aku membawa tongkat rotan berinti hitam untuk dijual. Kang Damar bilang jangan dilepas di bawah dua karung beras."
"Lalu?"
"Kujual satu karung."
"Kenapa satu?"
"Kakekku bilang, kalau di pasar, tawar setengah harga."
Ratna menatapnya dengan mulut setengah terbuka, "Itu kalau membeli!"
Lalu tawanya pecah. Ratna tertawa keras sampai mangkuk tempurung di dekat sikunya terguling, dan beberapa warga di meja sebelah ikut menoleh. Ia menutup mulut dengan punggung tangan, tapi bahunya masih naik turun menahan tawa.
"Kakekmu," gerutu Eyang di kepala Satrio. Nadanya lebih geli daripada marah.
"Kau bisa tertawa juga ternyata," kata Satrio.
Tawa Ratna berhenti. Ia meluruskan punggung dan memasang kembali wajah galaknya, "Jangan dibiasakan."
Kepala desa datang membawa kendi tuak dan duduk di tempatnya dengan napas berat. Ia menuangkan tuak ke dua cangkir bambu, satu untuk Satrio dan satu untuk dirinya sendiri. Ratna menolak tawaran tuak itu dengan kibasan tangan.
"Keluargaku sudah tiga turunan tinggal di pinggir hutan ini, Nak," kata kepala desa, "Babi hutan merusak kebun singkong, itu biasa. Tapi setahun belakangan, binatang dari hutan selatan makin sering keluar, dan bentuknya makin aneh." Ia menghitung dengan jari-jarinya yang keriput, "Kijang bermata merah. Ular berkepala dua yang menelan anak kambing bulat-bulat. Anjing hutan yang tidak takut obor. Lalu celeng itu."
"Di desa-desa sepanjang sungai juga begitu, Ki," kata Ratna, "Tabib-tabib Tirta Kencana mendengar cerita yang sama hampir setiap bulan."
Di kepala Satrio, Eyang yang sejak tadi terus mengomentari cara makannya mendadak diam.
'Eyang?'
"Habiskan makananmu, bocah," jawab Eyang pendek.
Kepala desa merogoh balik kainnya dan meletakkan sebuah kantong kain di telapak tangan kiri Satrio. Keping-keping di dalamnya beradu dengan bunyi yang lebih nyaring daripada tembaga.
"Sekantong perak, sesuai janji," katanya, "Lima karung berasnya ada di lumbungku. Besok pagi kusiapkan gerobak kerbau untuk mengantarmu sampai jalan besar."
Satrio menimang kantong itu. Beratnya melebihi semua uang yang pernah ia pegang seumur hidup. Di kepalanya langsung terbayang guci tanah liat di toko berubin dekat gerbang pasar.
"Besok pagi aku ke pasar dulu," katanya, "Sukmajati di toko dekat gerbang itu..."
"Tidak perlu."
Ratna menunjuk ke atas dengan dagunya. Di balok pendopo, tepat di atas tungku tempat gulai kambing dimasak, tergantung seikat daun hijau keperakan yang sedang diasapi.
"Sisa yang semalam," katanya, "Warga sudah tidak memerlukannya lagi. Sudah kusisihkan sejak tadi siang. Besok pagi kering, lalu kuracik."
Satrio mendongak ke ikatan daun itu, lalu menatap kantong perak di tangannya, lalu menatap Ratna. Telinganya memerah sampai ke ujung.
"Aku harus bilang terima kasih dulu," katanya pelan, "Atau minta maaf dulu?"
"Dua-duanya. Urutannya terserah."
"Kalau begitu, terima..."
Kendang di sudut pendopo berhenti di tengah pukulan.
Lima lelaki bercaping melangkah masuk ke lingkaran cahaya obor di tangga pendopo. Kain hitam membalut pergelangan tangan mereka. Empat orang membawa golok di pinggang. Lelaki yang berjalan paling depan tidak membawa apa-apa. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, dan capingnya utuh tanpa satu lubang pun.
Satrio meletakkan kantong perak itu pelan-pelan di pangkuannya. Tangan kanannya masuk ke balik lengan baju lurik. Caping dan kain hitam di pergelangan itu pernah ia lihat sebelumnya, di jalan setapak di bawah Geni Wening, di atas tubuh yang berasap.
"Bau itu," desis Eyang. Suaranya mendadak tajam, "Hidungku sudah bersih, bocah. Itu bau binatang yang sama dengan tanda di tangan pemburu bercaping dulu."
Satrio menarik napas pelan-pelan. Panas di perutnya baru pulih separuh sejak semalam, dan bahu kirinya masih terbalut.
Lelaki paling depan itu melepas capingnya dan tersenyum ramah kepada seisi pendopo.
"Maaf mengganggu pestanya, Ki," katanya kepada kepala desa. Suaranya halus dan sopan, "Kami cuma lewat dan mau bertanya sedikit."
'Jangan percaya orang yang terlalu ramah,' batin Satrio.
Kepala desa bangkit dengan bertumpu pada tongkatnya, "Silakan, Kisanak."
"Di desa ini," lelaki itu memandang berkeliling, dari wajah ke wajah, "Ada pemuda yang tubuhnya bisa memancarkan cahaya merah?"
Sepotong daging jatuh dari tangan peronda ke lantai. Para ibu menarik anak-anak mereka ke pangkuan. Di sebelah Satrio, tangan Ratna turun pelan ke bumbung di pinggangnya.
Anak Mbok Rondo, yang berdiri paling dekat dengan tangga pendopo, menoleh ke arah Satrio.