NovelToon NovelToon
Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: EMPIRE RAJA

**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**

Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.

Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.

Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 naga yang bagaikan malaikat

Pagi-pagi sekali, ketika matahari baru mengintip dari balik pegunungan, Emma sudah sibuk menyiapkan semua keperluan Veronica untuk menyambut kepulangan Altres. Di dalam bak mandi besar berisi air hangat, berbagai parfum dan ramuan pelembut kulit dituangkan satu per satu hingga uapnya mengepul pekat dan harum. Veronica berendam di dalamnya dengan wajah berkerut dan hidung yang terus bergerak-gerak, karena penciumannya yang tajam membuat aroma bunga itu terasa menusuk hingga ke ubun-ubun. "Emma, ini terlalu wangi. Hidungku rasanya mau pecah," keluhnya sambil menutup separuh wajah dengan telapak tangan.

"Bertahanlah sebentar, Nyonya," bujuk Emma sambil menahan senyum melihat hidung majikannya yang berkerut seperti anak kelinci, lalu menuangkan seciduk ramuan lagi dengan tangan yang cekatan. "Setelah ini Nyonya akan sangat wangi, dan kulit Nyonya akan terasa selembut sutra."

Veronica mengerucutkan bibir dan menatap Emma dengan curiga, bulir air menetes dari ujung hidungnya. "Memangnya aku bau, sampai harus mandi dengan air seharum ini?"

"Tentu tidak, Nyonya!" Emma buru-buru menggeleng sambil tersenyum menenangkan. "Hanya saja, pria akan sangat senang dengan wanita yang wangi. Saya akan membantu Nyonya memenangkan hati Tuan Duke, bagaimanapun caranya."

Setelah selesai berendam, dengan kulit memerah dan kepala sedikit pusing, Veronica dibungkus handuk tebal dan didudukkan di depan cermin, sementara Emma mengeringkan rambutnya dengan sabar. "Gaun ini cantik sekali, Emma," gumam Veronica sambil melirik gaun itu lewat cermin. "Tapi apakah aku bisa makan dengan memakainya?"

"Nyonya tidak boleh makan sebelum Tuan Duke datang," jawab Emma tegas, membuat Veronica langsung merosot lemas di kursinya. Gaun merah muda itu terhampar di atas ranjang, dengan renda halus di bagian leher dan pita satin di pinggangnya. Berbagai hiasan rambut berkilau disematkan satu per satu ke rambut Veronica, dan sepasang anting yang memantulkan cahaya jendela dikenakan di telinganya, bergoyang pelan setiap kali ia menoleh. Emma merias wajah majikannya dengan sangat hati-hati, ujung kuasnya bergerak pelan di pipi dan kelopak mata Veronica seakan sedang melukis mahakarya. Ketika semuanya selesai, Emma mundur selangkah dengan tangan terkatup di depan dada dan matanya berbinar puas, sebab majikannya kini lebih mirip peri dari negeri dongeng daripada seekor naga yang gemar melahap kue.

Tak lama kemudian, Veronica berjalan menuju pintu depan bersama Erin dan para pelayan, dan terdengar derap kuda dari kejauhan menandakan rombongan Altres sudah dekat. Rombongan itu tiba dengan penuh wibawa, para kesatria berbaris rapi dengan baju besi yang berkilat tertimpa cahaya siang. Erin langsung mendorong punggung Veronica dengan lembut agar maju ke depan, berharap putranya melihat istrinya yang begitu cantik, sementara Emma di barisan pelayan menahan napas penuh harap. "Ibu, aku tidak yakin dengan semua ini," bisik Veronica dengan suara hampir tak terdengar.

"Tenang saja, kau cantik sekali," balas Erin sambil tersenyum menenangkan. Veronica menelan ludah dengan gugup, jemarinya meremas lipatan gaun, namun ia berusaha menegakkan punggung dan tetap tenang menjalankan tugasnya.

Altres turun dari kudanya dan melangkah dengan ekspresi biasa saja ketika melihat deretan pelayan yang menyambutnya, hingga pandangannya jatuh pada Veronica yang berdiri di depan pintu dengan penampilan yang begitu memukau. Langkahnya terhenti seketika, tangannya yang hendak melepas sarung tangan ikut membeku, dan ia terpaku di tempat seolah lupa cara bernapas. Beberapa kesatria di belakangnya pun ikut melongo, saling berbisik penasaran apakah benar tuan mereka menikahi seekor naga, bukan seorang malaikat. "Apa benar itu istri Tuan Duke? Kukira naga itu bertanduk dan menyeramkan," bisik salah satu dari mereka. "Entahlah, tapi dia lebih mirip bidadari," sahut temannya dengan mata melebar dan mulut setengah terbuka.

Altres menoleh tajam ke belakang dengan alis terangkat dan rahang mengeras, wajahnya yang memerah ia sembunyikan dengan berpura-pura marah. "Urus perlengkapan kalian dan letakkan semuanya di gudang senjata. Sekarang."

Para kesatria buru-buru menunduk dan membubarkan diri sambil menahan tawa, suara sepatu bot mereka bergema di halaman. Altres kembali melangkah dengan tenang menghampiri pintu, meski matanya tak lepas dari sosok Veronica, seakan ia sedang memastikan bahwa gadis di hadapannya benar-benar nyata. Veronica tersenyum dan membungkuk anggun, gerakannya kaku seperti boneka yang baru diajari. "Selamat datang kembali, Altres. Apakah perjalananmu menyenangkan?" Walau enggan melakukannya, ia tetap memaksakan diri demi mertua yang sangat ia sayangi, dan senyumnya hanya sedikit kaku di ujung bibir.

"Cukup lancar," jawab Altres singkat. Ia mengangguk pelan sambil menarik napas, lalu menambahkan, "Kau tampak cantik hari ini."

Veronica langsung menatapnya dengan mata membulat penuh keheranan, seolah baru mendengar seekor kucing bicara, dan ia nyaris melepaskan lipatan gaun dari genggamannya. "Apa?" gumamnya refleks. Altres buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain, menyembunyikan wajahnya yang diam-diam memerah karena terpana, lalu melangkah cepat menghampiri ibunya dan memeluknya erat. "Aku pulang, Ibu."

"Selamat datang, putraku," bisik Erin dengan mata berkaca-kaca sambil menepuk punggung putranya dan memeriksa wajah serta bahunya. "Syukurlah kau kembali dengan selamat tanpa luka sedikit pun." Ia kemudian melirik Veronica sekilas dan menatap putranya dengan alis terangkat. "Lalu, kenapa kau tidak memeluk istrimu juga?"

Altres tampak gugup, telinganya merah padam, dan ia berdeham canggung sambil menarik kerah bajunya. "Aku sangat lelah, Ibu. Perjalanan dari perbatasan tidak mudah, dan aku ingin segera melepas baju besi ini. Aku akan ke kamar untuk berganti pakaian dan beristirahat, lalu keluar saat makan malam."

Erin tersenyum penuh arti dan mengangguk dengan mata berbinar jenaka. "Tentu saja, itu tidak masalah, istirahatlah yang cukup. Veronica, temani Altres beristirahat."

"Apa?" Altres tampak kaget dan menoleh cepat. "Tidak perlu, Ibu. Aku bisa beristirahat sendiri."

"Aku tidak keberatan," sahut Veronica dengan senyum yang dipaksakan sambil mengangkat dagu, lalu melangkah ke sisi Altres tanpa menunggu jawaban. Keduanya berjalan menyusuri lorong menuju kamar Altres dalam keheningan yang canggung, jarak di antara mereka cukup lebar untuk dilewati satu orang lagi, saling menghindari tatapan mata, dan langkah mereka terdengar nyaring di lantai batu. Emma yang mengintip dari ujung lorong tampak cemas, tangannya meremas ujung celemek. "Nyonya Erin, apakah saya kurang baik mendandani Nyonya Veronica? Tuan Duke sepertinya tidak terlalu senang."

"Kau sudah melakukan yang terbaik, Emma," jawab Erin sambil tersenyum menenangkan. "Sekarang kita hanya perlu menunggu hasilnya. Aku ingin mereka tidak diganggu oleh siapa pun."

Pintu kamar tertutup di belakang mereka dengan bunyi klik pelan yang terasa begitu nyaring. Di dalam kamar, Altres mulai melepas baju besinya sepotong demi sepotong dan meletakkannya di atas meja, dentang logam memecah keheningan di ruangan itu. Veronica berdiri di dekat pintu sambil memilin ujung pita gaunnya, mencuri pandang ke arah punggung Altres, lalu memberanikan diri bertanya. "Apakah kau ingin mandi? Aku bisa membantumu."

"Tidak perlu," sahut Altres cepat tanpa menoleh, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya. "Aku bisa mengurusnya sendiri. Kau tidak perlu repot-repot. Aku hanya ingin beristirahat."

Veronica mengangguk patuh, lalu berjalan ke arah ranjang dan naik ke atasnya dengan tenang, seolah itu hal paling wajar di dunia. Altres yang baru menoleh langsung membeku dengan satu tangan masih memegang pelindung lengan. "Apa yang kau lakukan, Veronica?"

Veronica mengalihkan pandangan ke dinding agar tidak bertemu mata dengannya, pipinya terasa panas dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. "Aku ingin menemanimu beristirahat."

"Itu tidak perlu."

"Itu tanggung jawab seorang Duchess," jawab Veronica dengan suara pelan namun tegas, menatap pola selimut seolah benda itu sangat menarik.

Altres terdiam seribu bahasa dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya, urat di lehernya tampak menegang menahan sesuatu yang tak ia ucapkan. Ia memandangi Veronica yang duduk di tepi ranjang dengan gaun merah muda dan hiasan rambut berkilau, dan dadanya berdebar tak keruan. Dalam hati ia sadar, dengan perasaan campur aduk, bahwa ia tidak yakin bisa menahan diri jika terus memandang gadis yang begitu cantik itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!