NovelToon NovelToon
Terlambat, Mas! Aku Sudah Mati Rasa

Terlambat, Mas! Aku Sudah Mati Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.

Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.

Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Yang Dingin

Malam semakin larut ketika mobil hitam milik Edward Galvano akhirnya berhenti di pelataran kediaman mewahnya. Pria itu keluar dari mobil dengan garis bibir yang perlahan menyunggingkan senyuman tipis, sesuatu yang sangat jarang terlihat dari raut wajahnya yang biasanya kaku dan dingin. Suasana hatinya malam ini sangat luar biasa baik setelah pertemuannya dengan Angela di parkiran restoran tadi. Rasa rindu yang terendam selama bertahun-tahun seolah terobati dalam sekejap.

​Namun, langkah kaki Edward terhenti tepat di depan teras. Dahi pria itu berkerut dalam.

​Rumah besar itu tampak gelap gulita. Tidak ada satu pun lampu teras atau lampu utama yang menyala. Situasi yang sangat tidak biasa, mengingat mau selarut apa pun Edward pulang, rumah ini akan selalu terang benderang. Yoselin biasanya sudah berdiri di dekat pintu dengan senyuman manis yang menyambutnya, dengan cekatan mengambil tas kerjanya, dan membantunya membuka jas.

​"Apa Yoselin belum pulang?" gumam Edward bingung.

​Ia memegang gagang pintu utama dan memutarnya. Pintu itu terbuka dengan mudah tanpa perlu kunci.

​"Tapi, biasanya Yoselin selalu mengabarkan aku kalau ada acara sampai larut..." ucapnya pada diri sendiri, suaranya terdengar makin heran.

"Bahkan pintu rumah sama sekali tidak dikunci?!"

"Ceroboh sekali!"

​Nada suaranya berganti menjadi sedikit kesal. Keamanan rumah seolah diabaikan begitu saja. Edward menghela napas panjang, enggan merusak suasana hatinya yang sedang membumbung tinggi.

​"Ah, sudahlah!" cetusnya pelan sembari melangkah masuk.

​Tanpa repot-repot menyalakan lampu ruang tamu, Edward menerobos kegelapan dan langsung berjalan menaiki tangga menuju kamar utama di lantai atas. Mengabaikan histeria kesunyian yang menyelimuti seluruh sudut rumah.

​Ketika membuka pintu kamar utama yang juga dalam kondisi gelap gulita, langkah Edward mendadak terhenti. Di balik remang cahaya bulan yang menembus celah jendela, ia menangkap siluet seseorang yang duduk mematung di sofa kamar.

​Buru-buru Edward menekan sakelar di samping pintu. Seketika, cahaya lampu kristal menerangi seluruh ruangan.

​Pandangan Edward jatuh pada sosok Yoselin yang duduk termenung. Wanita itu hanya menatap kosong ke arah lantai. Wajahnya pucat pasi, dan kedua matanya terlihat sangat bengkak serta kemerahan seolah-olah Yoselin baru saja melewati badai tangis yang menyakitkan.

​Bukannya bertanya mengapa istrinya menangis, rasa jengkel Edward justru memuncak karena kebiasaan kerapian rumahnya terganggu.

​"Mengapa kamu tidak mengunci pintu bawah dan menyalakan lampu?!" tanya Edward kesal, nada suaranya ketus.

"Bagaimana kalau ada maling yang masuk?!"

​Yoselin tidak langsung menjawab. Ia bahkan tidak mendongak untuk menatap suaminya. Setelah jeda beberapa detik yang penuh kecanggungan, suara lirih keluar dari bibirnya.

​"Aku lupa," jawab Yoselin singkat dan datar.

​Edward terkejut. Alisnya bertaut rapat. Ini bukan respon yang biasa ia dengar. Biasanya, Yoselin akan langsung panik, berkali-kali meminta maaf, dan bergegas merapikan kekeliruannya jika membuat kesalahan sekecil apa pun. Tapi kali ini, ekspresi dan intonasi wanita itu sangat acuh tak acuh.

​Edward berdecak pelan, mencoba menahan emosinya. "Sudahlah... Kamu sudah siapkan air hangat di bathtub? Aku ingin berendam malam ini."

​"Aku lelah, tidak sempat," jelas Yoselin tanpa memandang Edward sedikit pun.

"Jadi kamu buat sendiri dulu."

​Edward terpaku di tempatnya berdiri. Matanya membelalak kecil mendengar penolakan secara langsung dari Yoselin. Tatapan acuh tak acuh dan nada suara yang dingin itu terasa begitu asing. Rasa kebingungan mulai merayapi pikiran Edward, meninggalkan teka-teki kecil di kepalanya. Namun, enggan memperpanjang perdebatan, Edward memilih mengalah. Toh, suasana hatinya yang bahagia karena Angela tidak boleh rusak hanya karena sikap aneh istrinya malam ini.

​Ia melirik Yoselin sekali lagi yang masih duduk kaku di atas sofa tanpa bergerak sedikit pun, lalu berbalik melangkah menuju kamar mandi.

​"Ada apa dengannya?" tanya Edward pada dirinya sendiri saat berada di dalam kamar mandi.

​Ia menatap pantulan dirinya di cermin, menggelengkan kepala samar. Edward akhirnya memilih untuk mandi biasa menggunakan shower tanpa perlu berendam. Hari ini adalah hari yang terlalu berharga baginya; ia memenangi kembali kebahagiaannya bersama Angela. Karena alasan itu, Edward memutuskan untuk memaafkan sifat acuh dan janggal Yoselin malam ini.

​Beberapa saat kemudian, Edward keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Matanya menyapu sekeliling area tempat tidur.

​Pakaian tidurnya belum disiapkan di atas kasur seperti biasanya. Dan di sudut ruangan, Yoselin masih duduk diam di sofa dalam posisi yang sama persis saat ia tinggalkan tadi.

​Edward menghentikan usapan handuk di kepalanya. "Mana baju tidurku?" tanyanya dengan nada kesal yang mulai tak tertahan.

​"Kamu bisa mengambilnya sendiri," balas Yoselin tak bersemangat, suaranya pelan namun terdengar sangat tegas menolak.

"Aku lelah."

​Edward menatap tajam Yoselin. Dadanya bergemuruh pelan oleh kejengkelan. Namun sekali lagi, ia mengingat momen bahagianya bersama Angela jam sebelumnya dan enggan merusak mood-nya sendiri. Edward menarik napas panjang, melangkah menuju lemari pakaian, lalu mengambil baju tidurnya sendiri.

​Setelah mengenakan pakaian lengkap, Edward melemparkan tubuhnya ke atas ranjang berukuran king size. Ia mencoba memejamkan mata, berusaha mengabaikan presensi Yoselin yang masih setia mematung di atas sofa. Satu menit, dua menit berlalu, keheningan di dalam kamar itu terasa sangat mencengkeram dan tidak nyaman.

​Edward akhirnya membuka matanya kembali, mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Ia menatap punggung Yoselin yang membelakanginya.

​"Ada apa denganmu, Yoselin?" tanya Edward, suaranya akhirnya melunak meski masih tersirat ketegasan. Ia sudah tidak tahan lagi dengan atmosfer aneh ini.

​"Tidak ada," balas Yoselin pendek tanpa menoleh.

"Hanya lelah."

​Edward bungkam seketika. Lidahnya mendadak terasa kelu. Ada serangkaian pertanyaan yang ingin meluncur dari mulutnya, bertanya mengapa matanya sembap, dari mana ia pergi, atau mengapa ia berubah drastis dalam semalam. Namun, Edward menahannya. Terasa sangat aneh dan tidak biasa bagi seorang Edward Galvano untuk menanyakan atau memedulikan perasaan wanita di hadapannya ini. Bukankah selama dua tahun ini ia selalu bersikap tidak peduli?

​Hening kembali melingkupi mereka.

​Tiba-tiba, Yoselin menggerakkan tubuhnya. Ia berdiri perlahan dari sofa, membetulkan letak gaunnya tanpa melirik sedikit pun ke arah tempat tidur. Langkah kakinya terdengar pelan menuntunnya berjalan menuju pintu kamar.

​Melihat gerakan itu, Edward spontan kembali bersuara. "Mau ke mana?"

​Yoselin menghentikan fisiknya sejenak tepat di ambang pintu, tangannya memegang gagang kayu yang dingin.

​"Bawah," balas Yoselin acuh, tanpa menolehkan kepala sama sekali.

​Detik berikutnya, Yoselin melangkah keluar dan menutup pintu kamar rapat-rapat, meninggalkan Edward sendirian di dalam kamar yang luas itu dengan seribu kebingungan yang menyelimuti pikirannya.

Bersambung...

1
falea sezi
mampus lu daniel
falea sezi
Daniel Daniel oon🤣
Sribundanya Gifran
lanjut
Luna
ingat jika ada orang yg belum selesai dengan masa lalu nya jangan coba coba jadi pahlawan yg ada kamu cuma dianggap sekedar ada,,, apalagi kalo keduanya masih sama sama cinta ,jadi GK usah seperti korban drama,GK perlu nunggu 2 tahun ,5 bulan menikah kalo masih tak Sudi melihat mending pergi,
Luna
kenapa kamu mau yg menjadi pahlawan padahal sudah jelas dari awal,,,kamu berharap bisa dicintai,disini kamu bukan korban kamu sendiri yg cari penyakit, untuk apa mengobati luka orang lain tapi kamu sendiri tak ada yg ngobatin ,,,
Halimatun Saadiah
lanjut
Ruryn Amanda
ayo lanjut Thor,,😄
Ruryn Amanda
🤣🤣🤣dasar laki2 manipulatif,,licik,,penuh akal bulus tp q suka,,,,🤭
Ruryn Amanda
🤣🤣javierrr gue bius yaaaa,,,,
Ruryn Amanda
ayo Javier,,hancurkan si ed itu,,pebinor yg kudukung,,🤭
It's me Ri🥕: No no yaa🤣
total 1 replies
falea sezi
lanjut🤭
Sribundanya Gifran
lanjutthor
merry yuliana
crazy up yq kak💪💪💪🙏🙏🙏😍😍😍
Potatoes 🥔
Cerai ajalah🥺
Potatoes 🥔
Kurangajar emang Edward!
Sribundanya Gifran
lanjut
Mia Camelia
makin membara nih javier🤭
Gustinur Arofah
ceraikan Thor, terus kasih liat Edward klo angela tidak sebaik yg dia kira. biar menyesalnya double😁
hayasna
next
It's me Ri🥕
Hmm... ntahlah ya? Tunggu aja🤭🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!