"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Ampun, Mayor!
Pukul empat sore.
Sinar matahari senja menyelinap masuk melintasi gorden jendela rumah dinas bertipe sembilan puluh itu. Suara musik pop bertempo cepat berdentum renyah dari speaker televisi di ruang tengah.
Vina sedang melompat-lompat kecil di atas karpet tamu, memegang gagang sapu seperti mikrofon konser sambil ikut bernyanyi dengan suara cempreng lepas tanpa beban. Daster motif polkadot kuningnya mengembang meliuk-liuk, dan sandal jepit hijaunya menepuk-nepuk ubin keramik nyaring.
Brak!
Pintu utama terdorong terbuka kencang. Mayor Yudhana melangkah masuk dengan napas memburu kaku. Pria itu menyambar remote TV di atas meja konsol, lalu menekan tombol Power hingga layar datar itu mendadak mati gulita.
Ruang tengah seketika menjadi hening.
Vina menghentikan lompatannya, memiringkan kepala seraya menurunkan gagang sapu dari depannya. Ditatapnya Yudhana dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan raut wajah polos yang sangat menyebalkan bagi Sang Mayor.
"Dih," letus Vina santai, membetulkan letak jepitan badak di rambutnya. "Datang-datang main matiin TV aja! Lagi seru-serunya juga lagu favorit saya!"
Yudhana melangkah mendekat, berdiri tegak tepat tiga tapak di depan Vina. Pria itu melepas baret hijau tuanya, memegangnya dengan jemari yang menegang kaku di sisi tubuh.
"Vina," tegur Yudhana, suara baritonnya rendah dan bergetar menahan ledakan emosi yang ditahannya sejak dari markas. "Duduk. Saya mau bicara serius."
"Ogah ah," balas Vina enteng seraya menyenderkan gagang sapu ke dinding. "Saya capek habis olahraga sore. Om kalau mau marah-marah ya ngomong aja langsung, kagak usah pakai formalitas suruh duduk segala."
Rahang Yudhana menegang kencang hingga otot pipinya menonjol kaku. "Vina! Ini soal etika kamu! Kamu tahu tidak apa yang heboh dibicarakan orang-orang di markas dan di lingkungan komplek hari ini?!"
Vina menguap lebar tanpa menutupi mulutnya, lalu menggeleng polos. "Mana saya tahu, emang saya peramal?"
Yudhana menyentak napasnya kasar, matanya membelalak kaku. "Mereka membicarakan kelakuan kamu kemarin sore! Duduk bersila di teras rumah dinas bersama laki-laki asing, teriak-teriak memanggil saya 'Om Kaku' di pasar malam, dan memperlakukan rumah dinas ini seperti tempat kontrakan liar!"
Pria itu melangkah satu tapak lagi, menunjuk dada seragamnya sendiri dengan raut ketegasan yang memuncak.
"Saya ini perwira menengah Batalyon, Vina! Punya jabatan dan nama baik yang harus dijaga di mata publik dan bawahan!" tekan Yudhana, nadanya melengking kaku oleh benturan gengsi. "Sebagai istri perwira, kamu punya kewajiban untuk menjaga citra suami! Menjaga tata krama, bersikap anggun, dan tidak mempermalukan saya di depan umum! Kamu paham tidak?!"
Keheningan yang pekat dan dingin menggantung di ruang tengah.
Vina menatap wajah Yudhana yang memerah padat dari leher hingga pelipis. Tidak ada binar penyesalan di mata cokelat beningnya. Tidak ada raut bersalah, apalagi kecemasan akan amarah suaminya. Bagi Vina saat ini, gertakan kaku Sang Mayor tak lebih menakutkan dibanding cegukan sore hari.
Vina tertawa kecil—sebuah tawa konyol yang menelanjangi kepalsuan argumen kewajiban itu.
"Istri perwira ... citra suami," gumam Vina geleng-geleng kepala dengan nada mengejek.
Vina melangkah santai melintasi Yudhana menuju cermin besar di dekat kamar utama. Ia berdiri di samping Yudhana yang membalikkan badan mengikutinya.
Yudhana membetulkan letak kerah seragamnya yang kaku di depan cermin, mendengarkan jawaban polos Vina dari balik pintu kamar yang memotong semua argumen kewajibannya.
"Lagian ya, Om Tentara," ujar Vina santai, memegang daun pintu kamar utama seraya menyenderkan bahunya di sana. "Om sibuk banget ngurusin citra lah, etika lah, nama baik lah. Om kagak capek apa hidup serba kaku begitu?"
"Vina! Saya sedang bicara serius!" tegur Yudhana tajam.
"Saya juga serius, Om Tentara!" potong Vina cepat, matanya mendelik galak. "Om, kan kerja di markas Batalyon buat ngurusin ratusan prajurit, ya fokus aja kerjaan Om di sana! Kagak usah ribet-ribet ngurusin gaya hidup saya di sini!"
Vina menunjuk wajah Yudhana dengan jari telunjuknya. "Lagian Om ingat kagak sih? Kita ini kan sebentar lagi mau cerai! Om sendiri yang dari kemarin koar-koar mau menceraikan saya, surat cerainya sudah diurus, kan! Jadi buat apa saya repot-repot menderita menjaga citra istri perwira buat Om-om yang sebentar lagi bakal jadi mantan?!"
Pukulan kata-kata Vina menghantam tepat di pilar pertahanan Yudhana yang paling rapuh.
Pria itu membeku di tempatnya berdiri. Bibirnya mengatup rapat, kaku tak sanggup merangkai sepatah kata pun untuk membalas kebenaran kasar yang diucapkan Vina.
Buat apa saya menjaga citra buat Om-om yang sebentar lagi bakal jadi mantan?!
Kalimat itu menelanjangi kenyataan yang selama ini dicoba dihindari Yudhana. Vina sama sekali tidak memiliki rasa cemburu, tidak memiliki rasa terikat, dan yang paling menyengat dadanya: Vina sama sekali tidak menganggap status sebagai 'Istri Mayor' sebagai sesuatu yang berharga untuk dipertahankan.
Kecemburuan Vina terhadap hidupnya, jabatannya, dan dunianya adalah nol besar.
"Udah ah, saya mau mandi," cetus Vina enteng tanpa beban sedikit pun. "Om kalau pusing, mending rapikan tuh kerah seragam Om yang miring dari tadi. Malu-maluin perwira aja kerah baju miring begitu!"
Klek ... Bles!
Vina masuk ke dalam kamar utama dan menutup pintu kayu jati itu di depan dada Yudhana, meninggalkan Sang Mayor yang berdiri mematung sendirian di dekat cermin besar.
Yudhana perlahan-lahan mengangkat pandangannya ke arah cermin.
Ditatapnya pantulan dirinya sendiri—seorang Mayor tegap berseragam dinas yang gagah, namun dengan lidah kerah baju sebelah kiri yang masih sedikit terlipat miring. Dan di balik mata pekatnya yang biasa memancarkan ketegasan kaku, kini terpancar bayangan seorang pria yang kalah total, didera rasa asing, penasaran, dan penyesalan yang kian tak tertahankan.
Alhamdulillah 🤲