Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.
Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13.Bukan aku
Lantai marmer dapur terasa begitu dingin menusuk kulit, namun Aruna tak sedikit pun bergeming. Gadis itu masih terduduk di sana, memeluk kedua kakinya rapat-raban dengan jemari yang berguncang hebat.
Di sampingnya, pecahan keramik dari cangkir kopi hitam yang dibanting Kaivan berserakan, sementara cairan pekat yang membekas di atas taplak meja perlahan mengering.
Suara bentakan Kaivan yang menggelegar, guncangan di bahunya, hingga bunyi hantaman kepalan tangan pria itu di dinding dapur masih bergema begitu nyaring di dalam kepala Aruna.
Setiap kali Aruna mencoba menarik napas panjang, dadanya terasa seperti dihimpit batu besar. Napasnya tersendat, menyisakan rasa sesak dan perih yang tak tertahankan.
"Bukan... bukan aku..." bisik Aruna parau pada keheningan ruangan. Suaranya serak dan nyaris tak terdengar, tenggelam bersama linangan air mata yang tak kunjung berhenti membasahi pipinya yang pucat.
Gadis itu tahu betul tabiat ibunya, Rosmala. Ibunya adalah sosok yang sangat terobsesi dengan gengsi dan status sosial. Sejak dulu, Aruna hanyalah bayangan yang diabaikan di rumah keluarga Rasyara, sementara Karen-kakak perempuannya-selalu dipamerkan.
Namun, demi menutupi kehancuran finansial Rendra Rasyara, ibunya tanpa ragu memanfaatkan momen akad nikah seadanya itu untuk mengembalikan citra keluarga mereka di mata publik.
Mereka mendapatkan panggung dan pujian, sementara Aruna yang harus menanggung seluruh penderitaan dan amarah Kaivan di rumah ini.
Aruna menyeka air matanya dengan ujung lengan bajunya yang lusuh. Dengung di telinganya perlahan berkurang, berganti dengan rasa perih yang teramat sangat di punggung tangan kanannya. Saat Aruna melihat ke bawah, kulit mulusnya tampak memerah dan membengkak akibat cipratan air kopi panas saat cangkir itu dihempaskan tadi.
Namun, rasa panas di kulitnya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit di dalam dadanya.
Kalimat terakhir Kaivan kembali menghantam ingatannya dengan kejam: Harusnya aku biarkan saja kau mati pingsan di atas lantai hari itu.
Aruna memejamkan mata rapat-rapat. Rasa hangat yang sempat menyusup ke hatinya saat Kaivan menyuapinya bubur tiga hari lalu kini benar-benar musnah. Pria itu kini memandangnya sebagai musuh-seorang penipu licik yang sengaja berpura-pura sakit demi mendapat belas kasihan.
Dengan sisa-sisa tenaga dan tubuh yang masih gemetaran, Aruna memaksa dirinya untuk bangkit. Ia tidak boleh terus terpuruk di atas lantai. Kaivan telah memberi perintah kaku: pekerjaan rumah tangga tetap harus selesai, dan ia tidak boleh menampakkan wajah di hadapan pria itu.
Aruna berlutut pelan, mulai memunguti satu per satu pecahan serpihan cangkir kopi di atas lantai. Jarinya yang gemetar tak sengaja menyentuh pinggiran keramik yang tajam, membuat goresan kecil yang mengeluarkan setetes darah segar. Aruna bahkan tidak meringis. Hatinya sudah terlalu kebas untuk merasakan sakit fisik yang sepele itu.
Setelah membersihkan pecahan keramik, mengelap tumpahan kopi, dan merapikan kembali area dapur hingga tak tersisa sedikit pun jejak amarah Kaivan, Aruna berjalan kaku menuju kamarnya di lantai dua.
Kamar yang dulu terasa suram dan sepi, kini terasa seperti satu-satunya tempat persembunyian yang aman baginya.
Sementara itu, di kantor pusat Adikara Group yang megah di pusat kota, suasana di lantai paling atas terasa sangat mencekik.
Kaivan duduk di kursi kebesarannya di balik meja kerja berbahan kayu mahoni hitam. Jas hitamnya terikat rapi, namun dasinya sedikit dilonggarkan. Wajah pria itu luar biasa kaku dan dingin, dengan aura gelap yang membuat sekretaris serta para manajernya tidak berani menatap matanya langsung sejak rapat pagi tadi.
Di atas meja Kaivan, koran bisnis hari ini dan layar tablet yang menampilkan grafik saham Adikara Group tergeletak terbuka. Grafik yang tadinya stabil menunjukkan penurunan tipis akibat maraknya pemberitaan media terkait keterlibatan Adikara Group dengan Rendra Rasyara.
"Pak Kaivan," ujar Sekertaris Dimas dengan suara pelan dan sangat berhati-hati seraya berdiri di depan meja.
"Pihak tim legal dan humas sudah menyiapkan draf klarifikasi resmi untuk media. Kami bisa menyatakan bahwa berita tersebut tidak benar atau membatasi pernyataan mengenai hubungan Anda dengan keluarga Rasyara."
Kaivan tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah kaca jendela besar yang memperlihatkan pemandangan pencakar langit Jakarta. Jemari tangannya terjalin kaku di atas meja.
Setiap kali nama 'Rasyara' disebut, bayangan wajah Aruna yang pucat pasi, matanya yang membelalak ketakutan, serta tangisannya yang memohon di dapur pagi tadi mendadak melintas di benaknya.
Kaivan mengepalkan tangannya kencang-kencang, berusaha menepis bayangan itu dari kepalanya.
Jangan bodoh, Kaivan, tegurnya pada diri sendiri dengan tajam. Dia cuma sedang berakting. Gadis itu menangis karena takut rahasia kebusukan keluarganya terbongkar, bukan karena polos.
"Pak Kaivan?" panggil Dimas lagi karena tak mendapat respons.
Kaivan menarik napas panjang, menekan rasa gejolak tak nyaman yang aneh di dalam dadanya. Suaranya terdengar sangat dingin dan tanpa emosi saat akhirnya bersuara.
"Tahan surat klarifikasi itu," perintah Kaivan kaku.
"Keluarkan pernyataan singkat saja dari tim humas bahwa Adikara Group tidak memiliki kerja sama investasi baru dengan Rasyara Group. Mengenai foto pernikahan itu... biarkan saja. Tidak perlu dikonfirmasi, tidak perlu dibantah."
Dimas agak terkejut dengan keputusan atasannya. "Baik, Pak. Lalu... bagaimana dengan Pak Rendra Rasyara? Beliau dari tadi pagi mencoba menghubungi sekretariat Anda beberapa kali untuk mengatur pertemuan."
Mendengar nama Rendra, sudut bibir Kaivan terangkat, membentuk ulasan senyum sinis yang sarat akan kebencian.
"Abaikan," sahut Kaivan pendek.
"Biarkan orang tua serakah itu menikmati popularitas semu dari berita ini sebelum aku menghancurkan sisa-sisa perusahaannya."
"Baik, Pak Kaivan. Saya mengerti." Dimas membungkuk sopan lalu melangkah mundur keluar dari ruangan.
Setelah pintu ruang kerjanya tertutup rapat, keheningan kembali menyergap Kaivan. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi kulitnya yang empuk. Ia memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
Bukannya merasa puas karena telah meluapkan amarahnya pada Aruna pagi tadi, perasaan di dalam dada Kaivan justru terasa sangat tidak tenang. Omelan yang biasanya meluncur bebas dari mulutnya saat memarahi Aruna terasa berbeda pagi tadi-kali ini, ada kepedihan dan amarah liar yang lepas kendali.
Kaivan membuka matanya, menatap buku-buku jari tangan kanannya yang sedikit memerah akibat menghantam dinding dapur di samping wajah Aruna tadi pagi.
Mengapa tatapan matanya tadi pagi seperti orang yang benar-benar hancur? bisik batin Kaivan, teringat bagaimana Aruna mencengkeram dadanya yang sesak dengan wajah memutih seperti kehabisan napas.
"Cukup," gumam Kaivan keras-keras pada dirinya sendiri, menepis keraguan itu dengan kencang.
"Gadis itu adalah anak Rendra Rasyara. Dia sama saja dengan mereka semua. Jangan biarkan dirimu terkecoh lagi, Kaivan."
Pria itu menyambar pena di atas mejanya dan kembali berfokus pada berkas-berkas perusahaannya, mencoba menenggelamkan rasa bersalah yang tak masuk akal itu di balik tumpukan pekerjaan.
Hari berganti malam dengan cepat. Pukul sembilan malam, mobil hitam Kaivan memasuki pelataran rumah mewahnya.
Suasana rumah terasa luar biasa sepi dan gelap. Hanya lampu-lampu utama di ruang tengah yang menyala remang-remang. Tidak ada aroma wangi masakan dari dapur, tidak ada suara langkah kaki yang terburu-buru menyambutnya, dan tidak ada sosok Aruna yang biasanya berdiri menunduk di dekat lorong tangga.
Kaivan melangkah masuk, melepaskan jas kerjanya dan menggantungkannya di lengan. Pandangannya secara refleks menyapu area meja makan.
Di atas meja makan, sudah tersaji satu piring makanan yang ditutupi tudung saji tebal. Di sebelahnya, terdapat sebuah cangkir keramik baru berisi air putih dan satu set sendok yang tertata sangat rapi-persis seperti yang biasa dilakukan Aruna.
Namun, Aruna sendiri tidak ada di sana.
Kaivan berjalan mendekati meja makan. Ia membuka tudung saji itu. Makanan di dalamnya-tumis sayur dan ayam panggang-masih tampak rapi, namun sudah dingin. Gadis itu menyiapkan makan malam untuknya, tetapi memilih untuk bersembunyi di kamar sesuai dengan perintahnya pagi tadi.
Baguslah, batin Kaivan keras kepala. Dia tahu diri dan mematuhi perintahkan untuk tidak menampakkan wajahnya.
Namun, saat Kaivan hendak mengambil gelas air minumnya, matanya tak sengaja menangkap secarik kertas kecil berwarna putih yang tergeletak tepat di bawah tatakan gelas.
Kaivan menyipitkan mata. Ia meraih kertas kecil itu. Tulisan tangan di sana sangat rapi, meski garis-garis hurufnya terlihat agak gemetar:
#Pak Kaivan, makan malam sudah saya siapkan. Maaf jika makanannya sudah dingin. Makanan dan obat untuk besok pagi juga sudah saya rapikan di kulkas. Saya mohon maaf atas segala kesalahan dan kekacauan yang terjadi pagi tadi. Saya tidak akan menampakkan diri di hadapan Pak Kaivan lagi#
Kaivan memandangi secarik kertas itu selama beberapa detik. Kalimat-kalimat sederhana itu tertulis tanpa nada protes, tanpa pembelaan diri, dan tanpa luapan amarah-hanya kepatuhan mutlak yang terasa begitu hampa dan dingin.
Entah mengapa, kertas kecil itu terasa begitu berat di jemari Kaivan. Hatinya yang keras seperti dihantam oleh keheningan rumahnya sendiri.
Kaivan melempar kertas itu kembali ke atas meja dengan gerakan kaku. Pria itu menghela napas panjang dan kasar, mematikan lampu dapur, lalu melangkah menuju lantai dua tanpa menyentuh makanan di atas meja makan sedikit pun.
Saat melintasi koridor lantai dua, langkah kaki Kaivan secara tidak sadar melambat ketika melewati depan pintu kamar Aruna di ujung lorong.
Ruangan di dalam sana gelap gulita. Tidak ada celah cahaya yang keluar dari bawah pintu. Tidak ada suara sedikit pun dari dalam. Pintu kayu itu tertutup rapat, seolah mengunci seluruh penderitaan dan tangisan Aruna di dalam kegelapan.
Kaivan berdiri mematung di depan pintu itu selama beberapa saat. Tangannya terangkat sedikit di udara, seolah berniat untuk mengetuk kayu tebal itu demi memastikan apakah gadis di dalam sana sudah tidur atau... kembali pingsan seperti beberapa hari lalu.
Namun, sebelum jemarinya menyentuh pintu, gengsi dan dinding prasangka Kaivan kembali menariknya mundur.
"Ini yang kau inginkan, bukan?" gumam Kaivan pelan pada pintu yang tertutup rapat itu, suaranya terdengar sangat kaku di tengah keheningan malam.
"Tetaplah di dalam sana. Jangan buat masalah lagi."
Kaivan membalikkan badannya dengan kasar dan melangkah cepat menuju kamar utamanya sendiri, meninggalkan koridor dingin itu dalam selimut kesunyian yang mencekik.
_Bersambung