Livia Alessandra adalah tunangan yang sempurna, namun bagi Axel Killian, Livia hanyalah tameng untuk mendapatkan warisan kakeknya. Setiap kali Livia membutuhkan Axel, laki-laki itu selalu menghilang demi Elena. Alasan Axel selalu sama, yaitu Elena fisiknya lemah karena sakit.
Hingga pada akhirnya Livia memilih pergi dan menghilang dari Axel setelah puncaknya ia ditinggal Axel saat fitting baju pengantin. Dan saat itu Livia sudah tahu tentang hubungan Axel dan Elena dibelakangnya. Ternyata Elena bukan sahabat perempuan Axel, tapi mantan pacarnya.
Diambang kehancuran hati, semesta tidak membiarkan Livia jatuh. Ia diselamatkan oleh Morenzo, pemimpin mafia brutal yang diam-diam telah mengamatinya dengan obsesi gila sejak lama.
Livia kini bangkit kembali bukan sebagai pengemis cinta. Saat Axel mulai memohon kesempatan kedua karena sadar Elena hanyalah parasit, Livia hanya tersenyum dingin dibalik pelukan posesif Morenzo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertunjukan Untuk Livia
Hari-hari berikutnya menjadi neraka bagi Axel. Axel tidak terima dilupakan. Baginya Livia adalah satelit yang harus selalu berputar mengelilingi dirinya. Bagaimana mungkin satelit itu tiba-tiba melepaskan diri dan menemukan galaksinya sendiri?
Setiap detik, tangan Axel tidak pernah lepas dari ponselnya. Ia menatap layar yang gelap, berharap ada notifikasi muncul, berharap Livia meneleponnya, memaki-makinya, atau setidaknya menangis dan meminta penjelasan apa pun, asal Livia menunjukkan bahwa ia masih peduli. Tapi ponsel itu tetap bungkam. Padahal Axel sudah lakukan pancingan agar Livia menghubunginya dengan cara membuat story aneh tentang Livia di semua sosial medianya.
Pekerjaan di kantor terbengkalai. Rapat-rapat penting ia batalkan. Bahkan Elena yang biasanya selalu menjadi prioritasnya, kini tak sengaja ia abaikan. Elena masuk ke ruangannya, membawakannya kopi, atau mencoba memancing percakapan tentang masa depan mereka, namun Axel hanya menatapnya dengan pandangan kosong.
"Axel, kau harus makan agar tubuhmu tetap sehat dan kuat." bujuk Elena.
"Aku sedang tidak lapar."
Axel mulai terobsesi membuntuti Livia. Beberapa hari belakangan ia mencari tahu keberadaannya, pergi ke tempat-tempat yang biasa Livia kunjungi. Namun, Livia seperti telah menjadi hantu. Setiap kali Axel merasa sudah dekat, jejak wanita itu menghilang begitu saja. Setiap kali Axel merasa sudah hampir menemukan titik terang, ada saja gangguan kecil yang menghalangi. Entah itu kerumunan orang yang tiba-tiba melintas, truk besar yang mendadak mogok di tengah jalan menutupi pandangannya, atau ban mobilnya yang tiba-tiba tertusuk paku secara misterius. Seolah-olah seluruh semesta, atau mungkin tim keamanan Livia yang sangat terlatih, sedang bekerja sama untuk membuat Axel tetap buta.
"Dia melakukan ini untuk membalas dendam padaku," gumam Axel pada dirinya sendiri pada saat itu.
Dia berubah sedingin ini hanya untuk membuatku merasa bersalah. Dia ingin aku berlutut memohon padanya. Ya, itu pasti rencananya. Livia tidak mungkin benar-benar membuangku. Axel terus berpikir tentang Livia.
Axel meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua kedinginan Livia hanyalah akting tingkat tinggi. Ia tidak sadar, atau mungkin menolak untuk sadar, bahwa Livia sudah sampai pada tahap jijik. Livia tidak sedang bermain peran. Ia sedang membersihkan sisa-sisa kotoran hubungan mereka dari hidupnya.
Dan kini meskipun Elena dapat penolakan halus dari Axel, Elena tidak menyerah. Ia tahu Axel sedang dalam kondisi mental yang paling lemah. Maka ia tidak beranjak pergi dari rumah Axel saat ini.
Tidak lama kemudian, Meri sang ART membawakan minuman serta buah.
"Minumlah ini, supaya kau lebih tenang. Jika kau tak mau makan, makanlah sedikit buah ini agar ada santapan untuk cacing di ususmu. Aku bantu kupaskan." ujar Elena lembut.
Axel yang memang sedang merasa haus dan frustrasi, menyambar gelas itu dan menegaknya hingga tandas. Elena tersenyum tipis. Ia kemudian duduk kembali di samping Axel, kali ini lebih dekat. Ia mulai bercerita tentang masa-masa indah mereka dulu, tentang bagaimana ia selalu ada untuk Axel saat Livia sibuk dengan dunianya sendiri.
Lama-kelamaan, Axel mulai merasakan reaksi aneh di tubuhnya. Kepalanya yang tadi pusing karena alkohol, kini terasa berdenyut dengan panas yang menjalar ke seluruh saraf. Suhu ruangan seakan meningkat drastis. Ia mulai merasa gerah yang luar biasa. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
"Kenapa panas sekali?" gumam Axel, tangannya mulai membuka kancing kemejanya satu per satu secara impulsif.
Elena melihat ini sebagai lampu hijau. Ia mengambil sapu tangan kecil dan mulai mengelap keringat di dahi Axel. Gerakannya sangat lambat, sengaja membiarkan ujung jarinya bersentuhan dengan kulit Axel. Ia juga mendekatkan wajahnya, membiarkan aroma parfumnya yang kuat dan menggoda memenuhi indra penciuman Axel.
"Kau sangat panas, Axel. Biarkan aku membantumu," bisik Elena tepat di depan bibir Axel.
Axel mencoba melawan. Akal sehatnya masih berteriak bahwa ini salah, bahwa wanita di depannya adalah sahabatnya. Ia mendorong pelan bahu Elena. "Elena, menjauhlah. Aku tidak bisa berpikir jernih."
Namun dorongan itu sangat lemah. Sentuhan Elena di dada bidangnya yang kini terbuka membuat napas Axel semakin memburu. Gairah yang dipicu oleh zat kimia dan rasa frustrasi memuncak seketika. Akal sehatnya benar-benar kabur.
Dengan gerakan kasar dan penuh tuntutan, Axel merengkuh pinggang Elena, menariknya hingga Elena jatuh ke pangkuannya. Ia mencengkeram rahang Elena dan melumat bibir wanita itu dengan buas. Elena memekik pelan dalam ciuman itu, tangannya melingkar erat di leher Axel. Di balik ciuman itu, sebuah senyum kemenangan terukir di wajah Elena. Ia telah berhasil menjerat sang pewaris kembali ke pelukannya.
...🍎🍎🍎🍎...
Sementara itu di sisi lain dalam waktu yang bersamaan, Livia sedang berdiri memegang sebuah tablet yang sedang menampilkan siaran langsung dari kamera tersembunyi yang secara diam-diam juga disadap oleh pihak Morenzo.
Livia menonton adegan itu dengan tatapan datar. Ada rasa muak yang melonjak di perutnya melihat pria yang hampir menjadi suaminya sedang bercumbu dengan wanita lain di kamar yang seharusnya menjadi tempat privasi mereka.
"Kau sakit hati melihatnya, Livia?"
Suara berat Morenzo terdengar tepat di belakang lehernya. Pria itu berdiri begitu dekat hingga Livia bisa merasakan embusan napasnya yang beraroma duit dan cerutu mahal.
Livia menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu karena kehadiran Morenzo.
"Tidak, Tuan. Tidak ada waktu untuk sakit hati. Aku hanya butuh rekaman ini sebagai senjata. Dengan ini, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyalahkanku atas pembatalan pernikahan ini. Axel yang berkhianat, bukan aku."
Morenzo terkekeh.
"Jawaban yang sangat bagus. Aku suka wanita yang tahu cara memanfaatkan situasi."
Morenzo melingkarkan lengannya di pinggang Livia, menarik tubuh wanita itu untuk berdiri dan berbalik menghadapnya. Tatapan Morenzo sangat intens.
"Lalu, bagaimana denganmu? Apakah Nyonya Morenzo ingin melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan di layar itu?"
Livia bergidik. Ketakutan dan ketertarikan aneh bertarung di dalam dirinya. Ia tidak memberikan jawaban verbal, hanya menggigit bibir bawahnya, sebuah kebiasaan saat ia merasa terpojok atau gugup.
Melihat reaksi itu, Morenzo tidak menunggu lebih lama. Dengan satu gerakan dominan, ia menarik Livia menuju tempat tidur king size. Livia memekik kaget, "Ah!" saat tubuhnya terlempar ke atas kasur yang empuk.
Sebelum Livia sempat bangkit, Morenzo sudah menjatuhkan diri di hadapannya, mengunci pergerakan Livia dengan berat tubuhnya.
Morenzo mulai membuka kancing kemejanya dengan tatapan mata yang gelap dan penuh gairah.
"Aku izinkan kau menikmati tubuhku ini, Nyonya Morenzo. Anggap saja ini sebagai pelampiasan hasratmu melihat siaran langsung pecundang itu bergelut dengan wanitanya." Begitu katanya.
Apalah dia apalah, dia yang ingin, aku yang tertuduh. Batin Livia pasrah.
Bersambung.
jika melompT di pagi hari bisa menggugurlan kecebong 🤣🤣🤣🤭🤭
apakah Livia pernah menolongmu
betapa sakitnya diabaikan dan di lupakan🤭🤭