NovelToon NovelToon
Jodoh Di Tangan Sahabat

Jodoh Di Tangan Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:95.3k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semangat Reyna!

Dua hari telah berlalu, dan kota Bandung dilanda hujan gerimis sejak pagi tadi, menyisakan udara dingin yang merembes masuk lewat celah-celah jendela kayu kontrakan Reyna.

​Suasana sunyi menyelimuti ruangan kecil itu, Reyna duduk melipat kaki di atas kasur tipisnya dan memangku laptopnya. Jemarinya dengan lincah meneliti satu per satu baris lowongan pekerjaan di sebuah aplikasi pencari kerja online.

​Sejak kembali dari Dieng, Reyna memilih untuk menyibukkan diri sepenuhnya. Ia tak ingin membiarkan pikirannya kosong, sebab setiap kali ada jeda, bayangan tatapan mata Dikta yang dingin, tenang, namun menghanyutkan itu selalu berhasil menyelinap masuk dan memicu denyut aneh di dadanya. Perasaan kehilangan yang absurd, padahal ia sendiri yang dulu menepis uluran tangan pria itu.

​"Fokus, Reyna. Kamu butuh kerjaan, bukan malah mikirin cowok," gumam Reyna pada diri sendiri, mengusap wajahnya yang letih.

​Tepat saat ia hendak mengklik tombol refresh pada halaman lamaran, sebuah notifikasi pop-up muncul di sudut kanan atas layar laptopnya, dan sebuah surel baru saja masuk ke kotak surat elektroniknya.

​Jantung Reyna seketika berdegup kencang. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena gugup dan bersemangat, ia mengeklik surel tersebut dan membacanya dengan cermat.

Dalam surel tersebut, berisikan undangan wawancara kerja di salah satu perusahaan yang Reyna lamar sebelumnya, dimana Reyna melamar sebagai staf administrasi.

​"Senin minggu depan...," bisik Reyna, matanya berbinar menatap layar.

​Hari ini adalah hari Kamis, yang artinya Reyna punya waktu empat hari untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang, rasa haru dan lega membuncah di dadanya. Setelah badai pahit atas fitnah di tempat kerjanya yang lama, pintu rezeki dan harapan baru akhirnya terbuka kembali untuknya.

​Reyna langsung mengetikkan balasan konfirmasi kehadiran dengan kalimat yang sangat rapi dan profesional, lalu mengirimkannya kembali. Usai mengirim surel tersebut, ia menutup laptopnya, menyandarkan punggung ke dinding kamar dan tersenyum cerah untuk pertama kalinya setelah beberapa hari diliputi perasaan muram.

​Saking bahagianya, jemari Reyna refleks menggapai ponsel yang tergeletak di samping bantal, aplikasi pesan singkat ia buka dan nama Agnia langsung menjadi tujuan pertamanya.

^^^Reyna : ​Agnia, aku dapat panggilan interview buat hari Senin! Doakan aku ya, Ni.^^^

​Pesan itu terkirim. Tak butuh waktu lama, ponsel Reyna bergetar hebat menerima telepon masuk dari Agnia.

​[Reyna! Beneran?] - Agnia

Agnia berteriak histeris dari balik telepon begitu Reyna menggeser tombol hijau.

^^^[Iya, beneran!] - Reyna^^^

[Demi apa? Wah, selamat ya, Rey! Aku seneng banget dengernya!] - Agnia

​Reyna terkekeh pelan, rasa hangat menjalar di dadanya mendengarkan antusiasme sahabatnya itu.

^^^[Aku juga seneng banget, Ni. Ini baru banget emailnya masuk tadi] - Reyna^^^

[Tuh kan, aku bilang juga apa. Kamu itu pintar dan berpengalaman, pasti ada perusahaan bagus yang ngeliat potensi kamu! Senin ya? Tapi, kamu mau naik apa? Katanya kemarin motor kamu nggak bisa nyala? Mau aku antar nggak?] - Agnia

^^^​[Eh, nggak usah, Ni! Gampang kalau itu, nanti aku naik angkutan umum atau ojek online aja] - Reyna^^^

[Yaudah, tapi yang terpenting kamu siapkan baju dan mental kamu baik-baik dari sekarang ya. Nanti pas weekend, kita cari baju formal baru yuk, aku yang beliin!] - Agnia

^^^​[Gak usah, Agnia... Baju lamaku masih ada yang bagus kok! Aku cuma mau minta doa kamu aja] - Reyna^^^

​[Iya, pasti! Aku selalu doain kamu, Rey. Sukses ya buat Senin nanti!] - Agnia.

​Setelah mengobrol dan saling bertukar tawa beberapa menit, panggilan telepon pun berakhir. Reyna menatap layar ponselnya yang kembali redup.

"Semangat Reyna!" seru Reyna, menyemangati dirinya sendiri.

...###...

Hari Senin yang dinanti akhirnya tiba. Sejak pukul lima pagi, udara dingin khas Kota Bandung yang menusuk kulit tak menyurutkan semangat Reyna. Ia bangkit dari tempat tidur, merapikan kontrakan kecilnya, lalu bersiap dengan penuh ketelitian.

​Kemeja putih polos yang sudah disetrika sangat rapi dipadukan dengan rok bahan hitam selutut serta sepatu pantofel sederhana, rambutnya diikat rapi ke belakang, memancarkan kesan bersih dan profesional.

Meski tanpa pakaian baru seperti yang sempat ditawarkan Agnia, Reyna tetap merasa percaya diri. Sebelum melangkah keluar pintu, ia menatap cermin kecil yang tergantung di dinding, mengusap dadanya pelan, lalu berbisik.

"Kamu pasti bisa, Reyna. Ini awal yang baru."

​Dengan menumpangi bus kota yang penuh sesak oleh para pekerja pagi, Reyna menembus kemacetan menuju sebuah gedung perkantoran yang begitu megah.

​Gedung tinggi bertulang kaca itu sempat membuat langkah Reyna terhenti sejenak di pelataran parkir. Ada rasa minder yang mendadak menyelinap, namun bayangan masa depannya yang harus diperbaiki kembali meneguhkan tekadnya. Ia melangkah masuk, mengisi daftar tamu di resepsionis dan diarahkan menuju lantai lima, tempat proses wawancara kerja berlangsung.

​Di ruang tunggu yang dingin ber-AC, Reyna duduk berdampingan dengan belasan pelamar lainnya. Sebagian besar dari mereka berpenampilan sangat modis, membawa map dokumen tebal, dan tampak sangat berpengalaman. Rasa canggung kembali merambat, membuat jemari Reyna saling bertautan erat di atas pangkuan.

​"Panggilan untuk Reyna Garvita," seru seorang staf HRD dari ambang pintu kayu berpelitur gelap.

​Reyna menarik napas dalam-dalam, berdiri tegak, lalu melangkah masuk.

​Di dalam ruangan, duduk dua orang pewawancara, seorang pria paruh baya berkacamata dan wanita bermuka datar yang menatap Reyna dari balik laptopnya, wawancara dimulai dengan pertanyaan standar mengenai latar belakang dan pengalaman kerja.

​Awalnya, semua berjalan cukup lancar. Reyna menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan tenang dan santun. Namun, situasi mendadak berubah ketika sang pria paruh baya meneliti rekam jejak pekerjaan Reyna di perusahaan sebelumnya.

​"Di CV kamu tertera hanya bekerja selama kurang lebih empat tahun di PT Perkasa Gemilang, lalu berhenti secara mendadak di pertengahan bulan. Bisa jelaskan alasannya?" tanya pria itu seraya menatap tajam dari balik kacamatanya.

​Jantung Reyna berdegup kencang, bayangan tuduhan palsu dan perlakuan semena-mena Bu Sandra kembali berkelebat di ingatannya. Sesuai dengan saran profesional pada umumnya, Reyna memilih tidak membeberkan konflik internal atau memburuk-burukkan mantan atasannya.

​"Saya berhenti karena ada ketidaksesuaian visi kerja dan dinamika internal perusahaan yang kurang mendukung tumbuh kembang profesional saya, Pak," jawab Reyna berusaha selugas mungkin.

​Wanita di sebelah pria itu menghentikan ketikannya pada keyboard laptop, ia menyandarkan punggung dan menatap Reyna dengan pandangan skeptis.

"Jawaban yang sangat klise dan mengambang, ketidaksesuaian visi? Atau kamu yang tidak tahan dengan tekanan kerja? Perusahaan kami membutuhkan staf administrasi yang tahan banting dan bisa bekerja di bawah tekanan tinggi, bukan yang gampang menyerah saat ada masalah internal," ucap wanita tersebut.

​"Bukan begitu, Bu... Saya selalu menyelesaikan seluruh kewajiban administrasi saya tepat waktu, bahkan...,"

​"Cukup! Dari cara kamu merespons situasi konflik dan ekspresi kurang meyakinkan yang kamu tampilkan, kami merasa kamu kurang menguasai teknik manajemen stres kerja. Jawaban kamu mengenai penguasaan perangkat lunak akuntansi lanjutan juga terasa sangat standar dibanding kandidat lain hari ini," potong pria itu seraya menutup berkas milik Reyna dengan dentuman pelan.

.

.

.

Bersambung.....

1
Syifa Fauziah
😍😍
Aidil Kenzie Zie
Dikta junior sama Reyna junior bakalan launching buah kerja kerasnya pak Dokter 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
lah si Dikta ditinggal molor 🤣🤣🤣🤣
Nani Haryatiyati
wahhhhhhh, gejala awal akibat bergadang tanpa baju iniiiii🤣🤣🤣
lia juliati
😍
Felycia Fernandez
jadi pengen liat 😭
Sastri Dalila
😅🤗🤭
Sastri Dalila
🤭🤭
Sastri Dalila
🤗🤗
Sastri Dalila
🤭😅
Aidil Kenzie Zie
lah Nia ngga ngaca dulu apa y🤔🤔🤔🤭🤭🤭🤭wong punya suami sama-sama ganas 🤫🤫🤫
Valen Angelina
wkwkwkk gini2 klo suami istri liburan ya gtu gak jauh2 dari ranjang😂😂😂
Rizky Manik
agnia sok bilangin orang ya Rey, padahal dia juga olahraga🤣🤣🤣
lia juliati
mantabs
Rizky Manik
nakal kamu ya dikta🤣🤣
goda² Rey terus
langsung gas aja mas Dikta, gkusah pura² "sayangg banget yaa"🤭🤭🤭
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
klo salahpun, aq pribadi tetap aja ga tau krn ga ngerti🤭🤭
lia juliati
pacaran halal😍
lia juliati
tor sebernya dikta suka sama Reyna sejak kapan? apa pas acara buket bunga ya?
Sastri Dalila
🤣😅
Sastri Dalila
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!