Selama hampir empat tahun, Puspita Kusumah dikurung di panti perawatan setelah keluarganya merekayasa tuduhan terhadapnya. Dengan bantuan kuasa hukum independen, ia meminta pengadilan membatalkan penetapan yang membatasi kewenangannya mengurus kepentingan perdata dan memperoleh putusan yang memulihkan haknya. Setelah dokter menyatakan rawat inap tak lagi diperlukan, ia dipulangkan secara resmi dan dapat mengurus warisan suaminya, Arya, termasuk saham Keluarga Mahesa. Namun, ada sebuah rahasia. Suaminya yang dikabarkan tewas dalam kecelakaan pesawat ternyata masih hidup dan menyamar sebagai dosen hukum yang dingin di kampus. Kini keluarga Kusumah dan Mahesa berusaha merebut hartanya, sementara orang yang paling ia rindukan berdiri di hadapannya tanpa sudi mengakuinya. Mengapa Arya memalsukan kematian, dan sampai kapan Puspita harus berpura-pura tidak mengenal suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17 - Pakai Warisan Mantan Suamiku
Layar siaran langsung tertutup efek kapal pesiar yang melayang melintasi bingkai, begitu rapat sampai wajah profesor di baliknya lenyap sama sekali. Kolom komentar membanjir dalam hitungan detik, dan untuk seketika, tidak ada seorang pun yang bisa melihat apa pun di balik cahaya itu, kecuali kilauan yang terus bertambah.
"Uang wanita itu dari mana..." gumam salah satu penonton di antara gemuruh kecil ruang obrolan.
\=\=\=\=
Dua jam sebelumnya, Yusuf berdiri di depan sofa lounge dengan wajah penuh harapan.
"Tidak perlu kita mengganggu pembukaan restoran di hotel itu," kata Puspita tanpa mengangkat wajah dari ponselnya. "Toh mereka keluarga sendiri. Kalau sampai berantakan di depan umum, justru kita yang terlihat jelek."
Hotel berbintang tempat restoran itu membuka diri bukan aset Keluarga Mahesa dan bukan asetnya pula. Ia hanya mitra bisnis pihak ketiga yang meminjamkan namanya untuk malam pembukaan, dan merusak acara di halaman orang lain justru akan membuat Puspita terlihat seperti pihak yang pertama mengulurkan tangan.
Yusuf menangkap kata kuncinya dengan kecepatan seorang asisten yang sudah empat tahun belajar membaca kehendak tuannya. "Maksud Nona, boleh mengganggu dengan cara lain?"
Puspita menoleh setengah, ujung bibirnya naik tipis. "Kau benar-benar berbakat."
"Boleh kukerahkan orang?"
"Tunggu sebentar." Ia menyipitkan mata, jempolnya berhenti di atas layar. "Kasus di Kota Wirasaba itu, kau pantau terus. Kalau perkara selesai di pengadilan, biar Toto yang menanganinya."
"Anak kecil itu?" Yusuf berkedip. "Dia bukan pengacara, Nona."
"Pengacara bisa kupertemukan dengannya." Puspita menyandarkan kepalanya. "Yang penting namanya yang berdiri di depan. Biarkan Sedaya berdarah sedikit."
Yusuf diam sesaat, lalu matanya sedikit melebar ketika peta itu tersusun sendiri di kepalanya. Kota Wirasaba adalah kampung halaman Retno, dan Grup Sedaya selama ini membanggakan program tanggung jawab sosialnya di kawasan itu di setiap materi presentasi direksi. Begitu kasus seorang nenek yang nyaris dikubur hidup-hidup oleh anaknya sendiri itu menyeruak ke media nasional dengan Toto yang berdiri di depannya, gambar indah yang sudah disusun Sedaya akan retak tepat di bagian paling mereka banggakan.
Puspita bisa membaca isi hati Toto dengan cukup jelas. Gadis itu memang tampak seperti gadis kecil yang berdandan tebal dan berbicara kasar di permukaan, tetapi di balik itu ada harga diri dan garis dasar yang tidak sembarangan ia langgar. Kalau tidak, gadis itu sudah menerima tawaran rumah darinya tanpa banyak pikir panjang.
Karena Toto menolak rumah itu, Puspita harus menemukan jalan lain untuk membantu.
\=\=\=\=
Kabar baik datang dari Kota Wirasaba, dari mulut Bu Ratmi sendiri di beranda rumah panggung itu, dan sampai sekarang kabar itu masih mengambang di kepala Puspita seperti lampu yang baru dinyalakan. Damar tidak mati. Kakak kembarnya diadopsi seorang dokter dari keluarga bernama Winata, nama yang dulu nyaris hilang dari ingatan nenek tua itu.
Orang yang tidak mati, pasti akan bertemu suatu hari.
Mengingat itu, kekesalan yang mengendap di dada Puspita sejak pagi perlahan-lahan mereda seperti uap di atas cawan teh. Ia membuka aplikasi pesan, mencari nama lembaga bantuan hukum yang menangani warga kecil di Wirasaba, lalu mengetik satu perintah donasi publik atas nama Toto tanpa meminta pendapat siapa pun.
Uang memang tidak membeli keadilan. Tetapi uang bisa membayar pengacara yang sabar, dan pengacara yang sabar bisa membeli waktu bagi keadilan.
Yusuf yang menerima salinan notifikasi donasi itu hanya mengangguk sekali tanpa bertanya berapa angkanya. Angka itu, menurut pengalamannya, akan membuat seorang direktur keuangan nyaris terperanjat dari kursinya.
Sore itu Puspita kembali menghabiskan waktu dengan game di ponselnya. Peringkatnya jatuh dari Raja sampai Bintang, bintang-bintang yang dulu disempurnakan Arya satu per satu terkuras habis, dan pada kekalahan terakhir ia menghantamkan ponselnya ke sandaran sofa sampai layarnya retak.
\=\=\=\=
Malam harinya, Guntara Prasetya memulai siaran langsung dengan wajah yang datar seperti permukaan danau tanpa angin.
Ia membahas ketentuan hukum acara, suaranya teratur dan tanpa emosi, seperti mesin yang tidak pernah lelah menghafal pasal, dan ruang obrolan yang tadinya ramai perlahan-lahan mengecil. Para penonton mulai mengantuk. Di kursi pijat rumah deret, Puspita menyeduh teh melati kedua kalinya sejak sore dan menatap layar dengan mata setengah terpejam.
[Aku jadi mau tidur.]
[Untung saja wajah Profesor Guntara yang menahanku.]
[Untuk mimpi jadi pengacara, aku bertahan sampai sekarang.]
[Nona kaya itu hari ini tidak datang, ya? Aman bisa tidur.]
Kemudian, satu komentar berbingkai emas berkilau melayang masuk ke tengah kolom, dan ruang obrolan yang nyaris tidur itu langsung bangun seolah disiram air dingin.
[Puspita800]: Kalau orang dieksekusi, boleh bergerak-gerak?
[!!!]
[Dia datang! Si wanita kaya datang!]
[Hahaha, otak orang kaya memang berbeda dari otak kami orang biasa.]
[Sama pertanyaannya tiga hari berturut-turut itu, aku hafal.]
[Pakar eksekusi baru datang.]
Pria di balik layar sedang menjelaskan sistem peradilan pidana ketika komentar itu muncul. Suaranya berhenti sejenak. Ia menurunkan kacamata dengan ujung jari, menutup kilatan yang melintas di mata gelapnya, lalu tertawa kecil sekali.
[Astaga, suamiku tertawa! Kenapa dia tampan sekali!]
[Profesor Guntara tertawa karena melihat nomor satu daftar pemberi hadiah!]
[Sudah, profesor memang tunduk pada uang.]
Puspita tidak menunggu komentar itu selesai. Lima hadiah virtual dilemparnya beruntun, disusul beberapa kapal pesiar yang melayang naik dari dasar layar, dan efeknya menutupi seluruh bingkai siaran sampai sosok profesor di baliknya tidak terlihat lagi.
[???]
[Berapa banyak uang wanita ini? Aku jadi iri.]
[Ini buang-buang uang namanya!]
Guntara mengerutkan alis menatap layar penuh cahaya itu. "Jangan buang-buang uang."
[Puspita800]: Tidak apa-apa. Aku punya warisan Rp 84 triliun.
[Puspita800]: Kudukung dengan warisan mantan suamiku.
Melihat kata "mantan suami" itu, nada suara Guntara turun dua tingkat. "Tidak perlu. Uang segitu tidak kubutuhkan."
[Anakku, profesor keras sekali! Rp 84 triliun, uang sebanyak itu!]
[Rp 84 triliun dianggap uang receh?]
[Aku tahu, ini namanya hidup dari warisan istri tapi tetap galak.]
Puspita melempar beberapa hadiah virtual lagi tanpa bicara. Layar kembali tertutup efek sampai ruang obrolan hanya berisi tanda tanya. Guntara menekan pelipisnya dengan ujung jari, dahinya berkerut, dan suaranya keluar lagi dengan sabar yang dipaksakan.
"Kirimkan pesan pribadi padaku." Ia menatap layar tanpa menyebut nama siapa pun. "Uangnya akan kukembalikan."
Komentar meledak lagi, tetapi Puspita sudah mematikan siaran.
\=\=\=\=
Layar ponselnya gelap sesaat sebelum notifikasi pesan pribadi masuk, dan nama pengirimnya membuat jempolnya berhenti di udara.
[Guntara, Universitas Bhinneka]: Jangan kirim hadiah lagi. Besok, kirimkan pesan padaku. Uangnya akan kutransfer balik.
Puspita menatap pesan itu lama sekali, ujung bibirnya terangkat perlahan tanpa suara.
"Profesor hukum yang menghitung uang," bisiknya pada layar. "Menarik sekali kau."
Ia tidak membalas. Membiarkan pesan itu terbuka di layar tanpa satu pun balasan adalah cara paling sederhana untuk melihat apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya, dan Puspita selalu penasaran pada orang yang tidak pernah diajak bermain.
Pagi harinya, potongan siaran semalam sudah beredar di forum kampus dengan judul profesor hukum termuda menolak warisan Rp 84 triliun di depan ribuan mata. Ia menyimpan tautan itu tanpa mengomentarinya, lalu mematikan layar dan menyandarkan punggungnya ke sofa untuk menatap langit-langit yang putih dan sunyi.
Balasan untuk pesan semalam tidak pernah ia ketik. Belum.