Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 - RENCANA INFILTRASI GEDUNG
Pintu besi servis teknisi menutup pelan dengan suara klik halus yang nyaris tak terdengar. Suasana di dalam lorong tangga darurat Gedung Elektronik Sentral terasa dingin dan lembap. Udara di sini beraroma sangit kabel terbakar, debu pendingin ruangan yang kering, serta aroma halus tanah basah yang menandakan keberadaan spora di area gedung. Hanya ada pendaran sinar darurat kuning redup dari lampu indikator dinding yang menerangi anak tangga semen bertingkat.
Luna melangkah paling depan, menuruni dan menaiki dua anak tangga pertama dengan tumpuan lutut yang sangat lentur. Di belakangnya, Steve memegang erat pipa besi tebalnya, sementara Rian berdiri merapat ke dinding semen, mengatur napasnya yang masih memburu kencang.
Steve menekan tombol panggil pada radio penerima hitam di tangannya, mendekatkan speaker kecil itu ke telinganya.
"Nancy, kami sudah ada di dalam lorong tangga servis teknisi." Steve berbisik pelan ke arah transmiter radio.
Suara desis halus terdengar dari pengeras suara radio sebelum vokal jernih Nancy membalas dari balik transmiter ruang server.
"Bagus. Kalian sekarang ada di jalur akses maintenance bawah." Nancy menjawab dengan nada lega yang kentara.
"Gambarkan situasi di lantai dua secara detail. Kami butuh peta kekuatan musuh di luar pintumu." Luna mengambil alih pembicaraan, suaranya tenang dan penuh nada komando yang terukur.
Di dalam ruang server lantai dua, Nancy menggeser tetikus komputernya cepat, membesarkan tampilan gambar dua kamera CCTV yang memantau koridor utama lantai dua dan area lorong penyimpanan barang.
"Ada empat belas zombie berkumpul di sepanjang koridor utama lantai dua, tepat di depan pintu besi ruang serverku." Nancy menjelaskan seraya membaca data pergerakan di layarnya.
"Ada jenis apa saja di sana?" tanya Luna menegaskan.
"Tiga di antaranya jenis pelari cepat dengan pakaian bekas karyawan toko. Delapan zombie infeksi sedang yang bergerak lambat, dan tiga zombie mutasi lanjut dengan kerak jamur tebal menutupi wajah atas mereka." Nancy membeberkan analisa visualnya dengan cermat.
Steve meringis pelan saat mendengar jumlah tersebut, melirik ke arah pipa besi tebal di tangannya.
"Empat belas ekor di koridor sempit. Kalau kita nekat menerobos langsung lewat pintu tangga utama, kita cuma bakal memancing pembantaian terbuka." Steve memberikan pertimbangan realistisnya.
"Aku tidak berniat melakukan penyerangan langsung dari depan." Luna menggeleng tegas seraya menyandarkan busur recurve-nya di paha.
Luna berjongkok di anak tangga semen, memberi isyarat agar Steve dan Rian merapat mendekatinya. Mata kelamnya menatap tajam ke arah ceiling lorong tangga, memikirkan tata letak bangunan pertokoan elektronik empat lantai ini.
"Nancy, apa ada sistem audio atau perangkat demonstrasi bersuara kencang di area lantai dua yang masih terhubung ke suplai listrik cadanganmu?" tanya Luna lewat radio.
Di layar komputernya, Nancy dengan cepat membuka diagram skematik aliran daya darurat lantai dua. Jemarinya menari di atas papan ketik, menyisir jaringan kabel audio toko.
"Ada! Di ujung lorong timur lantai dua, ada area showroom perlengkapan sound system dan ruang demo home theater. Speaker aktif berdaya tinggi di sana masih terhubung ke jalur daya darurat UPS dua." Nancy menjawab bersemangat saat menemukan data yang diminta.
"Bisa kamu nyalakan sistem audio di ruang demo itu dari terminal komputermu?" tanya Luna lagi.
"Bisa! Aku punya hak akses penuh ke kontrol pemutar media otomatis toko dari meja serverku." Nancy mengangguk yakin di depan layarnya.
"Bagus. Itu kuncinya." Luna mengangguk pelan, senyum taktis tipis menggaris di bibirnya.
Steve menatap Luna dengan mata berbinar paham. "Kamu mau memancing seluruh rombongan zombie itu menjauh dari pintu ruang server menuju ruang demo audio?"
"Tepat sekali." Luna membeberkan rencana operasinya.
"Dengar baik-baik rencana infiltrasi ini." Luna memandang Steve, Rian, dan mengarahkan suaranya ke radio secara bersamaan.
"Langkah pertama, kita bertiga bergerak naik lewat tangga servis teknisi ini sampai ke pintu darurat lantai dua yang terhubung langsung dengan lorong penyimpanan gudang di belakang ruang demo audio." Luna memulai instruksinya.
"Langkah kedua, begitu kita berada di posisi aman di balik pintu gudang, Nancy akan memicu suara musik atau nada alarm bervolume maksimal di ruang demo audio lorong timur dari komputernya." lanjut Luna.
"Suara kencang di ruang tertutup itu bakal menarik perhatian empat belas zombie di koridor utama. Makhluk-makhluk itu bakal bergerak serentak meninggalkan area pintu ruang server untuk mendatangi sumber suara di lorong timur." Steve menyambung analisa taktis tersebut dengan senyum puas.
"Benar." Luna mengangguk setuju.
"Langkah ketiga, saat gerombolan zombie fokus mengerumuni ruang demo audio, aku dan Steve akan menyelinap cepat menuju pintu ruang server. Nancy buka kunci pintumu dari dalam, masuk ke barisan kita, dan kita langsung mundur kembali ke tangga servis teknisi ini." Luna menyelesaikan uraian rencananya.
"Rencana yang sangat rapi dan efisien." Steve memuji ketegasan analisis taktis Luna.
Di balik radio, Nancy menghela napas panjang, mengagumi betapa cepat dan terstrukturnya wanita pemanah itu merancang strategi infiltrasi hanya dalam hitungan menit dari luar gedung.
"Bagaimana denganku, Luna?" tanya Rian ragu dari balik punggung Steve.
Luna menoleh menatap Rian yang tampak cemas. "Rian, tugasmu sangat vital untuk keselamatan jalur mundur kita."
"Kamu tetap berdiri di balik pintu besi tangga servis ini di lantai dasar. Tahan selot pintu agar tidak terkunci penuh, dan awasi area gang luar. Kalau ada zombie asing mendekati pintu bawah, ketuk besi tangga tiga kali dengan pisaumu sebagai peringatan." instruksi Luna dengan nada percaya.
Rian menelan ludah kaku, namun mendengar bahwa tugasnya memegang kunci pelarian kelompok membuat dadanya sedikit mengembang lega.
"Aku mengerti, Luna. Aku bakal jaga pintu bawah ini sampai kalian bertiga turun." Rian mengangguk mantap.
Steve menepuk pundak Rian pelan dengan tangan kekarnya. "Pegang pisaumu dengan benar, Anak Muda. Kalau ada apa-apa, berteriak saja."
"Nancy, persiapkan pemutar audio daruratmu. Kami mulai bergerak naik ke lantai dua sekarang." Luna memberi sinyal akhir melalui transmiter radio.
"Semua sistem audio di ruang demo sudah siap di papan kontrolku. Begitu kalian beri sinyal lewat radio, aku langsung tekan tombol putar." balasan Nancy terdengar mantap dari pengeras suara radio.
Steve mengikatkan radio penerima hitam itu di saku rompi dada kemejanya agar tangannya bebas memegang senjata. Ia menyesuaikan genggamannya pada pipa besi bengkoknya yang siap dipakai untuk pertarungan jarak dekat jika ada zombie terlengah yang tersisa di lorong.
Luna mencabut dua anak panah karbon berujung broadhead dari tabung pinggangnya, memegangnya di antara celah jemari tangan kirinya agar bisa dipasang ke tali busur dalam fraksi detik jika situasi memburuk mendadak.
"Tetap tenang, jaga jarak langkah, dan percaya pada koordinasi." Luna berbisik pelan memberikan motivasi terakhir.
Ketiganya bergerak perlahan. Rian mengambil posisi berjongkok di balik pintu besi bawah tangga servis, menggenggam pisau pautnya dengan penuh kewaspadaan. Sementara Luna dan Steve melangkah tanpa suara, menaiki anak tangga semen satu per satu menuju lantai dua Gedung Elektronik Sentral.
Rencana infiltrasi taktis telah disusun rapi. Di atas sana, di tengah kegelapan toko elektronik yang dikepung belasan zombie berspora, pertarungan untuk membebaskan sang ahli teknologi baru saja dimulai.