Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.
Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.
Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.
Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
Suasana di ruang tengah mansion Ashford perlahan mulai kembali mencair, meski sisa-sisa ketegangan pasca-tragedi berdarah pagi tadi masih menyisakan hawa dingin di setiap sudut ruangan.
Para kerabat besar telah berangsur-angsur pulang, menyisakan keluarga inti yang memilih duduk berkumpul di ruang keluarga berukuran luas dengan interior klasik bernuansa emas dan kayu jati.
Florence Nightingale memilih beristirahat di kamar tamu lantai atas setelah mendapatkan suntikan obat penenang tambahan dari dokter pribadi keluarga.
Kehadirannya yang kini absen membuat atmosfer di ruang keluarga terasa jauh lebih bernapas, terutama bagi Dominic.
Pria 32 tahun itu duduk di sofa panjang berlapis velvet hijau zamrud, namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana.
Matanya terus menerus melirik ke arah sudut ruangan—tempat di mana Ester Alba sedang duduk menghadapi meja belajar mini.
Hari sudah menjelang sore.
Mau tak mau, tugas privat Ester harus tetap berjalan di tengah situasi yang kacau ini. Namun, alih-alih fokus pada buku tata bahasa Inggris, interaksi di meja kecil itu justru diwarnai oleh momen-momen canggung yang manis dan sarat akan curi-curi pandang.
Di antara Ester dan muridnya, duduklah Angelo—bocah laki-laki berusia 13 tahun yang merupakan putra bungsu dari Penny dan Huxley. Angelo, dengan sifat usil khas remaja seusianya, tiba-tiba saja memajukan posisi duduknya tepat di tengah-tengah, bertindak sebagai 'pembatas' fisik yang memisahkan antara guru privatnya dan sang paman.
"Paman Dominic," panggil Angelo tiba-tiba dengan nada suara yang sengaja dikeraskan, melirik curiga ke arah Dominic yang terus menatap meja mereka.
"Kenapa dari tadi Paman terus melihat ke arah Miss Ester? Bukannya harusnya Paman melihat buku latihan ini?"
Ester yang mendengarnya langsung tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya yang putih mulus seketika merona merah padam hingga ke pangkal telinga. Ia menunduk dalam-dalam, berpura-pura sibuk merapikan lembar kerja di atas meja.
Dominic berdehem pelan, mencoba menetralkan ekspresinya yang tertangkap basah. Pria itu mengangkat cangkir tehnya, lalu balas menatap keponakannya dengan sebelah alis terangkat.
"Aku sedang mengawasi kalian berdua, Angelo. Jangan sampai kau membuat gurumu pusing dengan pertanyaan-pertanyaan bodohmu."
"Aku tidak bertanya hal bodoh!" protes Angelo tak terima, mengerucutkan bibirnya. "Aku hanya bertanya kenapa sedari tadi Paman senyum-senyum sendiri melihat ke sini. Padahal biasanya Paman paling serius kalau urusan belajar."
Ester menggigit bibir bawahnya, menahan senyuman yang mendesak ingin keluar.
Di balik punggung Angelo yang menjadi pembatas, Ester melirik sekilas ke arah Dominic.
Pria itu membalas tatapannya dengan senyuman tipis yang sarat akan rasa gemas—sebuah ekspresi lembut yang sama sekali tidak pernah diperlihatkan Dominic kepada siapapun selama bertahun-tahun.
Saling pandang itu berlangsung selama beberapa detik, diisi oleh debar jantung yang sama-sama bergemuruh hebat, hingga sebuah getaran keras memecah keheningan kecil di antara mereka.
BZZZZT! BZZZZT! BZZZZT!
Ponsel yang tergeletak di atas meja di sebelah tangan Ester berdering hebat. Layarnya menyala terang, memajang nama seorang penelepon yang langsung membuat darah Ester mendadak surut seketika.
Kekasihnya.
Pria posesif, kasar, dan pemarah dari Boston itu kembali mencengkeram dunianya.
Ester menelan ludah dengan susah payah. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia meraih ponselnya, lalu menekan tombol hijau dan mendekatkannya ke telinga dengan hati-hati, berusaha menjauhkan posisinya dari Angelo dan Dominic.
"Halo..." bisik Ester pelan, mencoba terdengar senetral mungkin.
Belum sempat Ester merangkai kalimat, suara bentakan berat langsung meledak dari seberang sambungan, begitu keras hingga nyaris bocor keluar dari speaker ponsel.
"Kenapa lama sekali mengangkat teleponku, hah?! Kau mati?!" suara berat di seberang sana langsung menghardik penuh amarah.
"Sudah kukatakan berapa kali, jika aku menelepon, kau harus mengangkatnya dalam kurung waktu kurang dari tiga dering! Apa yang sedang kau lakukan sekarang?!"
Ester mengepalkan tangan kirinya di bawah meja, menahan gejolak jijik dan takut yang mendadak merayap di dadanya.
"A-aku sedang mengajar, Sayang... Seperti yang sudah kukatakan tadi pagi, hari ini ada jadwal les tambahan di rumah keluarga Ashford."
"Mengajar? Atau kau sedang mencari perhatian pada pria-pria di sana?!" suara pria itu makin meninggi, sarat akan paranoia dan ancaman yang memuakkan.
"Jangan coba-coba membohongiku, Ester! Aku tahu rumah itu dihuni oleh pria-pria kaya! Dengar baik-baik ya, sialan! Awas kalau sampai berani menatap pria lain, atau tersenyum pada mereka! Akan kupecahkan kepala ayahmu di rumah sakit jika kau berani berulah di belakangku!"
Deg.
Ancaman itu menghantam ulu hati Ester seperti hantaman martil.
Napasnya seketika sesak.
Air mata kemarahan mendadak menggenang di pelupuk matanya, namun ia harus mati-matian menahannya agar tidak bersuara di hadapan keluarga Ashford.
Di dalam hatinya, Ester merutuk penuh kebencian.
Aku bahkan sudah jalang, sialan! Aku sudah menyerahkan segalanya pada pria lain semalam! batin Ester menjerit penuh amarah dan kemenangan terselubung.
"Tidak... aku tidak melakukan apa-apa," jawab Ester dengan suara yang dipaksakan setenang mungkin, meski jemarinya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih.
“Aku hanya... sedang fokus bekerja. Teleponnya akan kututup sekarang karena pelajarannya mau dilanjutkan."
"Jangan berani-berani mematikan telepon sebelum aku suruh—"
Klik.
Ester langsung memutuskan sambungan secara sepihak, mematikan daya ponselnya sepenuhnya dan melemparkannya ke dalam tas jinjing miliknya dengan tangan yang masih gemetar hebat.
Ia menunduk, mengatur napasnya yang memburu akibat sisa-sisa teror dari Boston. Ia tidak menyadari bahwa di seberang meja, sepasang mata tajam milik Dominic Ashford telah mengamati setiap perubahan ekspresi di wajahnya sejak dering pertama tadi.
Dominic melihat bagaimana bahu gadis itu menegang, bagaimana tangan Ester bergetar hebat saat mematikan ponsel, dan bagaimana genangan air mata tertahan di sudut mata cokelat yang indah itu.
Tanpa mempedulikan Angelo yang masih sibuk mencoret-coret buku catatannya, Dominic bangkit berdiri dari sofa. Langkah kakinya yang panjang membawanya mendekati meja belajar tersebut.
"Angelo," panggil Dominic tenang namun tegas pada keponakannya. "Pindahkan buku-bukumu ke sofa sebelah. Aku harus bicara berdua dengan Miss Ester mengenai materi belajar hari ini."
Angelo mendengus kecil, mendongak memprotes.
"Tapi Paman, kami baru mulai sepuluh menit—"
"Pindahkan sekarang, Angelo," ulang Dominic dengan tatapan mengunci yang tidak bisa dibantah.
Bocah 13 tahun itu akhirnya mengangguk patuh, membereskan alat tulisnya dan berpindah tempat duduk ke sofa seberang.
Kini, tinggal Dominic dan Ester yang berdiri berhadapan di dekat meja marmer tersebut. Suasana di sekitar mereka mendadak terasa begitu sunyi, seolah dunia luar disaring dari pendengaran mereka.
Dominic menatap wajah Ester yang masih menyisakan pucat pasi dan mata berkaca-kaca. Tanpa ragu, pria itu mengulurkan tangan kanannya, menyentuh lembut pergelangan tangan Ester yang dingin.
"Apa itu dari ayahmu?" tanya Dominic pelan, suaranya sarat akan kelembutan yang amat kontras dengan badai yang baru saja mereda di kepala Ester. "Ada masalah di rumah sakit? Mau kuantar sekarang untuk melihatnya?"
Pertanyaan tulus itu justru membuat pertahanan diri Ester hampir runtuh.
Mendengar betapa perhatiannya Dominic—pria matang yang memberinya perlindungan, yang merengkuhnya dengan gairah namun kini menatapnya penuh rasa cemas—berbanding terbalik seratus persen dengan kekasihnya yang kasar, pemarah, dan penuh ancaman di Boston.
Ester mengerjap cepat, menelan sisa air matanya, lalu menggeleng pelan dengan senyuman tipis yang dipaksakan.
"Bukan... bukan dari Ayah, Tuan," jawab Ester lirih, berusaha menyembunyikan getar di suaranya. "Hanya... masalah pribadi yang tidak penting. Saya baik-baik saja."
Dominic menyipitkan matanya, tidak langsung percaya begitu saja pada jawaban klise itu. Ia bisa melihat jelas sisa teror di mata gadis di hadapannya. Namun, menghargai privasi Ester, Dominic tidak mendesak lebih jauh.
Pria itu mendekatkan wajahnya sedikit, membisikkan kalimat yang membuat jantung Ester berdegup kencang untuk alasan yang sepenuhnya berbeda.
"Jika ada seseorang yang mengganggumu... atau membuatmu takut di luar sana, katakan padaku, Ester," bisik Dominic parau, matanya menatap lurus ke dalam manik mata cokelat gadis itu. "Kau berada di bawah perlindunganku sekarang. Tidak ada seorang pun yang boleh membuatmu ketakutan seperti itu."
Ester menatap dada bidang Dominic yang berdiri begitu kokoh di hadapannya.
Di titik itu, di dalam sudut dapur dan ruang keluarga yang penuh rahasia terlarang ini, Ester tahu persis... monster dari masa lalunya tidak akan pernah bisa menyentuhnya lagi selama perisai bernama Dominic Qiel Ashford berdiri di hadapannya.
Dan senyum kemenangan itu akhirnya terbit sempurna di bibir Ester.
love sekebon kebonnya 😍/Kiss/
sekejap saja bacanya,kayak kurang panjang 😄
di tunggu kelanjutannya Thor 💪
berasa sedikit bacanya 🤭
makasih Thor sudah up 🙏