NovelToon NovelToon
LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Naluri ilmuwannya merasa tertantang dengan pernyataan yang sangat spesifik dan percaya diri dari balita di depannya ini.

"Buka inkubatornya dan angkat anggrek itu perlahan ke meja bedah sekarang," perintah Profesor Kusuma tegas.

Para asistennya terkejut tapi tidak berani membantah perintah langsung dari atasan mereka.

Mereka memindahkan anggrek layu itu ke atas meja bedah berwarna putih dengan sangat hati-hati.

Profesor Kusuma mengambil pinset steril dan sebuah kaca pembesar beresolusi tinggi.

Dia mengais media tanam di bagian akar paling bawah dengan sangat teliti dan pelan.

Mata tua Profesor Kusuma langsung membelalak lebar melihat apa yang bergerak-gerak di balik akar utama tersebut.

"Astaga, ada koloni cacing nematoda merah bersembunyi di sini," gumam Profesor Kusuma tidak percaya melihat temuan itu.

"Hama ini berukuran mikroskopis saat masih berupa telur, mereka pasti berhasil lolos dari proses sterilisasi tanah."

Semua asisten langsung maju melongok dan ikut melihat dengan wajah pucat pasi.

"Cepat siapkan larutan anti-nematoda dan ganti semua media tanamnya sekarang juga!" teriak Profesor Kusuma kembali bersemangat.

Para asisten berlarian kesana kemari mengambil peralatan untuk segera menyelamatkan anggrek langka itu dari kematian.

Lula tersenyum lega melihat bunga hitam itu sekarang sedang diobati oleh kakek berbaju putih.

Profesor Kusuma meletakkan pinsetnya di atas nampan dan menatap Lula dengan pandangan luar biasa takjub.

"Anak kecil, bagaimana kau bisa tahu ada hama sekecil itu di dalam tanah tanpa menggunakan alat apapun?" tanya Profesor Kusuma penasaran.

Lula memiringkan kepalanya ke kanan dan tersenyum sangat lebar memamerkan gigi kecilnya.

"Bunga hitamnya yang kasih tahu Lula Kakek, bunganya bilang sakit karena akarnya digigit cacing," jawab Lula sejujurnya.

Profesor Kusuma tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya mendengar jawaban yang sama sekali tidak masuk akal itu.

Sebagai seorang ilmuwan kelas atas, dia tentu tidak percaya pada keajaiban atau sihir komunikasi dengan tumbuhan.

Namun Profesor Kusuma menganggap Lula memiliki kepekaan observasi visual dan insting yang sangat jenius sejak lahir.

"Baskoro benar-benar beruntung mengadopsi anak perempuan secerdas ini," puji Profesor Kusuma sambil menepuk pundak Bastian.

"Adikmu ini punya insting botani yang jauh lebih tajam dari asisten-asistenku yang sudah bergelar master."

Bastian membusungkan dadanya dengan perasaan yang sangat bangga karena adiknya dipuji oleh ilmuwan tersohor.

"Tentu saja Profesor, dia adalah putri bungsu kesayangan keluarga Ayodhya," balas Bastian pamer dengan wajah angkuhnya.

Setelah menunggu setengah jam, anggrek hitam itu selesai diobati dan daunnya mulai terlihat sedikit lebih segar.

"Terima kasih banyak anak kecil, gara-gara matamu yang jeli itu penelitian sepuluh tahunku terselamatkan," ucap Profesor Kusuma tulus.

"Sebagai hadiah, kau boleh memilih satu tanaman atau suvenir apapun dari pameran ini untuk dibawa pulang."

Lula melompat kegirangan dan matanya langsung menyapu seluruh area stan pameran tersebut dengan cepat.

Pandangan Lula berhenti pada sebuah pot tanah liat kecil yang berisi tanaman kaktus berbentuk bulat lucu.

Kaktus itu memiliki bunga kecil berwarna merah muda cerah di bagian puncaknya.

"Lula mau kaktus bulat itu Kakek Profesor!" tunjuk Lula tanpa ragu sedikitpun.

"Pilihan yang sangat bagus, itu kaktus yang mudah dirawat dan bunganya bisa mekar sangat lama," kata Profesor Kusuma sambil menyerahkan pot itu.

Lula memeluk pot kecil itu di dadanya dengan sangat hati-hati agar jari-jarinya tidak tertusuk duri.

"Terima kasih Kakek Profesor yang baik," pamit Lula sambil menunduk sopan gaya anak TK.

Bastian dan Lula kemudian melanjutkan perjalanan mereka berkeliling area pameran sampai sore hari menjelang.

Mereka melihat banyak hewan langka mulai dari bunglon yang bisa berganti warna sampai kura-kura darat raksasa dari benua Afrika.

Lula terus mengobrol di dalam hati dengan hewan-hewan menakjubkan itu sepanjang perjalanan mereka.

Sore harinya mereka kembali ke mobil van keluarga untuk perjalanan pulang ke rumah.

Lula duduk santai di kursi belakang sambil terus menatap pot kaktus barunya dengan senyum bahagia.

"Namamu sekarang Kaktus Bulat, kau harus berteman baik dengan Tuan Bonsai di rumah ya," bisik Lula pada kaktusnya.

"Tentu saja anak manusia yang baik, aku sangat suka tempat yang banyak temannya," balas kaktus itu pelan.

Bastian yang sedang menyetir mobil melirik dari kaca spion tengah dan tersenyum sangat lembut.

Dia tidak bisa mendengar suara kaktus itu, tapi dia bisa melihat betapa bahagianya sang adik hari ini.

"Kak Bastian senang pergi hari ini?" tanya Lula tiba-tiba memecah keheningan di dalam mobil.

"Sangat senang, ternyata mengajakmu jalan-jalan jauh lebih seru daripada terus-terusan diam di rumah," jawab Bastian jujur.

"Apalagi melihat wajah sombong Profesor Kusuma takluk dan kagum pada anak berumur lima tahun."

Lula tertawa renyah membayangkan wajah kaget profesor tua tadi saat cacingnya ketahuan.

Sesampainya di halaman rumah, Cakra dan Dewa ternyata sudah menunggu mereka di depan pintu utama.

Mereka berdua langsung cemberut melihat Lula turun dari mobil hanya membawa sebuah pot tanaman kecil.

"Tuh kan benar kataku, main sama Bastian pulangnya cuma bawa rumput berduri tidak jelas," ledek Cakra sambil melipat tangannya.

"Padahal kalau main denganku ke mall, kau bisa bawa pulang boneka sebesar kulkas," tambah Dewa ikut-ikutan menyindir.

Bastian berjalan melewati kedua adik remajanya itu dengan gaya yang sangat angkuh dan elegan.

"Diam kalian berdua, anak cerdas memang sudah seharusnya berteman dengan ilmuwan, bukan dengan berandalan mall," sindir Bastian telak.

Cakra dan Dewa langsung menggeram kesal merasa terhina lalu mengejar Bastian masuk ke ruang tengah.

Rumah keluarga Ayodhya sore itu kembali dipenuhi oleh suara teriakan dan pertengkaran lucu antar saudara laki-laki.

Lula hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan kekanak-kanakan kakak-kakaknya itu.

Gadis kecil itu berjalan santai menuju kebun belakang sambil memeluk erat pot kaktus barunya.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt Thor
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt Thor 😍💪
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: terimakasih kak Heni support nya🙏
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak heni🙏
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: kemana aja kak Heni
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak kemna aja kak kok baru kelihatan 🤭
Astiana 💕
mampir Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!