Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33: Perceraian yang Ditolak
____🌺
Adrian membaca deretan kalimat yang tercetak di atas beberapa lembar kertas di dalam map bening itu. Matanya berhenti pada sejumlah istilah yang tercantum dengan jelas: Konsultasi Hukum, Gugatan Cerai, dan Harta Gono-Gini.
Di bagian bawah dokumen, tertera nama sebuah firma hukum yang lokasinya tidak jauh dari rumah ibu Nayara.
Rahang Adrian mengeras. Tangannya yang memegang kertas itu mulai mengepal. Bukan kesedihan yang muncul di wajahnya, melainkan kemarahan karena Nayara benar-benar berani mengambil langkah sejauh ini.
Ia mengangkat kepala dan menatap perempuan di hadapannya.
"Kamu benar-benar sudah menemui pengacara?" tanyanya dengan suara rendah.
"Iya," jawab Nayara tenang. "Aku sedang berkonsultasi untuk mengurus perceraian. Dokumen ini masih ada beberapa hal yang perlu dibahas dengan pengacaraku, sebelum gugatan diajukan ke pengadilan agama."
Adrian tertawa pendek tanpa sedikit pun rasa geli. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari map, meremasnya hingga kusut, kemudian melemparkannya ke lantai teras.
"Aku tidak akan membaca sampah seperti ini," ucapnya tajam. "Dan aku tidak akan pernah menyetujui perceraian ini. Singkirkan pikiran gila itu dari kepalamu."
Nayara melirik kertas yang berserakan di lantai sebelum kembali menatap suaminya.
"Kamu tidak perlu menyetujuinya, Mas. Kalau aku yang mengajukan gugatan, prosesnya tetap bisa berjalan tanpa tanda tanganmu."
Wajah Adrian semakin tegang.
"Kamu pikir proses perceraian itu semudah membalikkan telapak tangan?" Ia melangkah mendekat. "Kamu pikir bisa menghadapi pengacara keluarga kami sendirian? Mereka bisa membuat proses ini berlarut-larut sampai kamu kehabisan waktu, tenaga, bahkan uang. Pada akhirnya, kamu sendiri yang akan menyerah."
"Lakukan saja."
Jawaban Nayara terdengar singkat, tetapi tegas. Ia sama sekali tidak mundur.
"Aku tidak peduli berapa lama prosesnya. Aku juga tidak peduli berapa banyak uang yang harus aku keluarkan. Aku hanya ingin satu hal, Mas. Aku tidak mau lagi menjadi istrimu."
Adrian mengacak rambutnya yang berantakan. Kepalanya terasa semakin berat. Semalaman ia hampir tidak tidur karena harus menemani Selena di rumah sakit.
Namun, pagi ini, ia justru harus menghadapi Nayara yang sama sekali tidak mau mendengarkan perkataannya.
Ia mengembuskan napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya.
Membentak Nayara jelas tidak akan menyelesaikan masalah. Perempuan itu sudah berbeda.
"Oke. Kita bicarakan baik-baik," katanya akhirnya. Kedua tangannya sedikit terangkat, seolah meminta Nayara menenangkan diri. "Aku tahu kamu marah. Aku tahu kamu kecewa karena masalah Selena dan persoalan perusahaan itu. Aku mengerti."
Nayara tidak menjawab. Ia hanya menatap Adrian, menunggu apa lagi yang akan dikatakan pria itu.
"Dengar, Nay." Adrian berusaha melembutkan suaranya. "Sebenarnya, apa yang kamu inginkan? Kalau kamu tidak nyaman tinggal di rumah kita karena semua kejadian ini, kita bisa pindah."
Nayara mengernyit.
"Pindah?"
"Iya. Kita beli rumah baru." Adrian mengangguk cepat. "Kamu bisa memilih lokasinya. Kemang, Pondok Indah, atau di mana pun yang kamu suka. Aku akan membelinya dan atas nama kamu. Rumah itu sepenuhnya menjadi milikmu."
Nayara menatapnya tanpa ekspresi.
"Atau kamu butuh jaminan keuangan?" lanjut Adrian. Ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan ponsel. "Aku bisa menyiapkan rekening khusus atas namamu. Lima puluh juta atau seratus juta setiap bulan. Kamu tinggal tentukan jumlahnya. Aku akan memastikan uang itu masuk tepat waktu."
Ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan nada semakin membujuk.
"Kamu bisa menggunakannya untuk apa saja. Membuka usaha, membantu Ibu, atau sekadar menikmati hidup. Kamu tidak perlu memikirkan biaya apa pun lagi."
"Mas ...." Nayara mencoba menyela.
"Tunggu, dengarkan dulu."
Adrian mengangkat satu tangan, meminta Nayara tidak memotong pembicaraannya.
"Kalau masalahnya Selena, aku juga bisa mengaturnya. Dia sudah punya tempat tinggal sendiri. Aku akan menyewa suster dan pengasuh untuk mengurus kebutuhannya. Aku tidak akan membiarkan dia mengganggumu. Aku juga akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersamamu."
Nayara terdiam beberapa saat. Bukan karena tergoda oleh tawaran itu, melainkan karena sulit mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
"Kamu sedang menawarkan rumah mewah dan uang ratusan juta supaya aku tetap menjadi istrimu?" tanyanya memastikan.
"Kalau itu yang kamu inginkan, iya."
Adrian mengangguk mantap.
"Anggap saja sebagai permintaan maaf atas kesalahanku. Aku tahu aku sudah membuatmu kecewa. Tapi, Nay, kita masih bisa memperbaiki pernikahan ini. Kamu tidak perlu membuang semuanya hanya karena masalah yang sebenarnya bisa kita selesaikan."
"Masalah?" Nayara mengulang kata itu pelan.
"Iya. Masalah."
Adrian menghela napas.
"Percayalah, banyak istri dari rekan bisnisku yang memilih mempertahankan rumah tangga mereka meskipun suaminya pernah melakukan kesalahan. Mereka tahu bagaimana bersikap realistis. Kita bisa melakukan hal yang sama. Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu."
Rasa muak yang sejak tadi ditahan Nayara akhirnya tidak bisa dibendung lagi. Ia menatap wajah suaminya dengan tatapan tidak percaya.
"Kamu sedang menyamakan aku dengan perempuan-perempuan yang bisa dibungkam menggunakan uang?"
"Bukan begitu maksudku, Nay. Aku hanya berusaha mencari jalan keluar."
"Jalan keluar yang seperti apa?" suara Nayara mulai meninggi. "Kamu pikir dengan membelikan aku rumah, dan memberiku uang setiap bulan, perselingkuhanmu bisa dianggap lunas? Kamu pikir semua yang sudah kamu lakukan bisa dihapus begitu saja dengan uang?"
"Nayara, dengarkan aku dulu."
"Apa lagi yang harus kudengarkan?!" bentak Nayara. "Kamu sudah mengkhianati pernikahan kita, Mas! Kamu bahkan menghamili perempuan lain, lalu sekarang datang kepadaku seolah-olah semua itu bisa diselesaikan dengan sejumlah uang!"
Adrian mengeraskan rahangnya.
"Jaga bicaramu."
"Kenapa? Kamu tidak suka mendengar kenyataan?"
"Aku ini suamimu!" Adrian membalas dengan suara keras. "Aku sedang berusaha bertanggung jawab atas kesalahanku. Aku menawarkan sesuatu yang bisa menjamin masa depanmu!"
"Tanggung jawabmu seharusnya menjaga janji pernikahan kita, bukan memberiku uang supaya aku diam!" Nayara membalas tanpa gentar. "Aku tidak pernah meminta semua kemewahan itu darimu."
"Lalu apa maumu?!" Adrian mulai kehilangan kesabaran. "Aku sudah menurunkan egoku. Aku menawarkan rumah, uang, bahkan berjanji akan lebih banyak menghabiskan waktu bersamamu. Apa lagi yang kurang?"
"Karena aku tidak membutuhkan semua itu!"
Nayara melangkah maju dan menunjuk dada Adrian.
"Aku tidak butuh rumah. Aku tidak butuh uang seratus juta setiap bulan. Yang aku butuhkan sejak awal hanya kejujuran dan kesetiaan. Tapi kamu sudah menghancurkan keduanya!"
Adrian menepis tangan Nayara.
"Kejujuran tidak bisa menjamin kehidupanmu, Nayara! Kesetiaan juga tidak bisa membayar kebutuhan ibumu! Kamu harus sadar bahwa hidup ini membutuhkan uang. Dan aku punya cukup uang untuk memastikan kamu tidak kekurangan apa pun!"
"Aku lebih baik hidup sederhana di rumah ibuku daripada bergelimang harta dari hasil kebohonganmu!"
Nayara menatapnya tajam.
"Simpan saja uang dan rumah barumu itu. Kamu lebih membutuhkannya untuk mengurus Selena dan anaknya. Mereka yang harus kamu tanggung sekarang, bukan aku."
"Kenapa kamu keras kepala sekali?!" Adrian kembali mengacak rambutnya. Urat di lehernya mulai terlihat jelas. "Kamu benar-benar mau menghancurkan rumah tangga ini hanya karena sakit hati?"
"Sakit hati?" Nayara tertawa hambar. "Kamu masih menganggap ini cuma soal sakit hati?"
Ia menggeleng pelan.
"Yang membuatmu panik bukan karena aku terluka, Mas. Kamu panik karena aku tidak lagi bisa dikendalikan dengan uangmu. Kamu baru sadar bahwa kali ini aku benar-benar ingin pergi."
Adrian terdiam.
Rahangnya mengeras. Ia menatap Nayara lekat-lekat. Semua cara sudah dicobanya. Mengancam, membentak, bahkan membujuk dengan menawarkan harta. Namun, tidak satu pun berhasil membuat perempuan itu mengubah keputusannya.
"Jadi, kamu benar-benar menolak tawaranku?" tanyanya. Kali ini suaranya terdengar jauh lebih dingin.
"Aku menolak semuanya. Termasuk kamu."
Nayara menatapnya tanpa ragu.
"Kalau dokumen gugatan sudah selesai, pengacaraku akan mengurus proses selanjutnya. Kamu tinggal menyiapkan pengacaramu sendiri."
Setelah mengatakan itu, Nayara berbalik dan hendak masuk ke dalam rumah. Baginya, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan pria yang masih menganggap uang bisa menyelesaikan segala persoalan.
Namun, sebelum tangannya sempat meraih gagang pintu, Adrian bergerak cepat.
Pria itu mencengkeram bahu Nayara dan memutar tubuhnya dengan kasar hingga perempuan itu kembali menghadapnya.
"Mas! Lepaskan!"
Nayara berusaha melepaskan diri, tetapi Adrian justru menahan kedua bahunya semakin kuat.
Tatapan pria itu berubah. Tidak ada lagi bujukan atau kepanikan seperti sebelumnya. Wajahnya kini dipenuhi kemarahan yang sulit disembunyikan.
"Kamu pikir ini cuma urusan kita berdua?" desis Adrian tepat di hadapan wajahnya.
Napasnya terdengar berat. Ia menahan rasa sakit di kedua bahunya.
"Maksud kamu apa?"
Adrian mendekatkan wajahnya, lalu menurunkan suara agar pembicaraan mereka tidak terdengar dari dalam rumah.
"Kamu pikir Papa dan Mama akan membiarkanmu pergi begitu saja setelah kamu mengetahui rahasia perusahaan?"
Nayara terdiam sesaat.
"Kamu pikir para pemegang saham akan tinggal diam kalau persoalan rumah tangga kita sampai menyeret nama perusahaan?" lanjut Adrian. "Kalau masalah ini mencuat ke publik, bukan cuma reputasiku yang terancam. Seluruh keluarga bisa ikut terseret."
Nayara menelan ludah. Namun, ia tetap mempertahankan tatapannya.
Adrian mempererat cengkeramannya pada bahu Nayara.
"Jadi, pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan. Perceraian kita bukan sekadar urusan suami dan istri, Nayara. Ada perusahaan dan keluarga yang ikut dipertaruhkan."
Ia berhenti sejenak, lalu berbisik lebih pelan.
"Dan kalau kamu sampai membuka mulut tentang apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan itu, jangan harap semuanya akan berakhir baik-baik saja."
emang lu doang yang bisa 🤣🤣