Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.
Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.
Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 — Cerita yang Terus Bertumbuh
Hidup itu memang penuh kejutan ya. Kadang rencana yang sudah kita susun rapi belum tentu berjalan seperti yang kita mau, tapi ternyata hasilnya jauh lebih indah dari yang pernah kita bayangkan. Dulu aku pikir setelah buku pertama terbit dan semua cerita selesai, aku akan berhenti di situ. Ternyata justru di situlah awal dari banyak hal baru yang menantang untuk dijalani.
Beberapa waktu lalu aku mendapat undangan sederhana dari sebuah komunitas kecil yang bekerja membantu anak-anak yang kehilangan orang tua atau keluarga terdekat. Mereka membaca tulisanku dan memintaku untuk berbagi cerita di pertemuan mereka. Awalnya aku ragu. Aku bukan orang hebat dan aku juga masih belajar setiap hari untuk mengatasi rasa sedihku sendiri. Tapi mereka bilang justru karena aku juga sedang berjalan di jalan yang sama, kehadiranku akan lebih berarti daripada orang yang sekadar memberi nasihat. Jadi aku memberanikan diri untuk datang.
Hari itu cuacanya cerah banget. Aku datang lebih awal dan duduk di sudut ruangan sambil memperhatikan mereka satu per satu datang. Ada anak-anak yang masih kecil, ada juga yang sudah berusia remaja. Wajah mereka terlihat biasa saja, tapi kalau kamu perhatikan lebih dalam ada kerinduan yang samar di mata mereka. Kerinduan yang aku pahami betul. Aku tidak bercerita di atas panggung tinggi hari itu. Aku duduk melingkar di lantai bersama mereka. Aku mulai dengan cerita yang paling sederhana. Tentang seseorang yang berjalan jauh hanya untuk duduk di sebelahku dan berbagi hal-hal kecil. Tentang bagaimana dia pergi terlalu cepat dan bagaimana aku pernah pikir duniku sudah berhenti berputar. Tentang bagaimana aku belajar bahwa kehilangan bukan berarti lupa, dan bahwa boleh sekali-kali merasa sedih asalkan tidak menetap di sana terlalu lama.
Saat aku selesai bercerita tidak ada yang langsung bicara. Lalu seorang anak perempuan yang duduk paling depan mengangkat tangannya pelan. Dia bilang dia rindu ibunya setiap malam sebelum tidur dan dia takut kalau suatu hari nanti dia akan mulai melupa bagaimana suara ibunya terdengar. Aku tersenyum dan bilang kepadanya bahwa melupa sedikit itu wajar dan itu bukan kesalahan. Yang terpenting bukan mengingat setiap detail kecilnya, tapi mengingat bagaimana rasanya dicintai oleh orang itu. Perasaan itu yang tidak akan pernah hilang dari dalam hatimu. Anak itu tersenyum dan matanya terlihat lebih tenang. Satu per satu orang lain mulai berbagi cerita mereka. Ada yang marah karena ditinggalkan, ada yang merasa bersalah karena kadang mereka lupa merindukan, ada yang takut menceritakan tentang orang yang hilang itu kepada teman-temannya yang lain karena takut dihakimi. Aku cuma mendengarkan. Aku tidak punya jawaban untuk semua pertanyaan mereka. Tapi ternyata mendengarkan saja sudah cukup untuk membuat mereka merasa tidak sendirian.
Setelah acara selesai salah satu pendiri komunitas itu berbicara denganku. Dia bilang banyak anak yang merasa lega setelah berbagi cerita. Mereka tidak butuh jawaban yang rumit. Mereka cuma butuh tahu bahwa perasaan mereka itu wajar dan mereka tidak sendirian. Mendengar itu aku berpikir, mungkin inilah tujuan sebenarnya dari semua yang pernah aku alami. Bukan untuk ditulis dalam buku atau dibaca oleh banyak orang. Tapi supaya aku bisa duduk di sebelah mereka dan bilang aku tahu rasanya. Kamu tidak gila. Kamu tidak lemah. Ini memang jalannya yang berat, tapi kamu kuat dan kamu akan melewatinya.
Pulang dari sana aku berhenti di taman itu sebentar. Bangku kayu masih di sana, pohon besarnya juga masih rindang. Aku duduk di sana sebentar sambil mengingat kembali hari pertama kita berbicara. Dulu aku pikir kamu datang ke sini untuk aku. Sekarang aku sadar kamu datang ke sini supaya aku bisa berjalan ke tempat lain dan menyapa orang-orang yang membutuhkan teman seperti kamu pernah menyapaku. Terima kasih Bima. Kamu selalu tahu lebih banyak dari aku kan? Kamu selalu melihat lebih jauh ke depan dari yang bisa kulihat saat itu.
Beberapa minggu kemudian aku mulai rutin bertemu dengan mereka. Bukan sebagai pembicara atau penulis. Cuma sebagai teman yang datang berkunjung. Kita menanam bunga di halaman depan rumah komunitas itu bersama-sama. Anak-anak itu masing-masing menanam satu jenis bunga yang mereka pilih sendiri. Mereka bilang setiap bunga mewakili orang yang mereka rindukan. Kalau bunganya tumbuh dan mekar berarti orang itu tersenyum melihat mereka dari jauh. Hatiku terasa hangat melihat mereka tertawa sambil menyiram dan membersihkan rumput liar di sekitar tanaman mereka. Kehilangan tidak harus selalu berupa air mata kan? Kehilangan juga bisa berupa bunga yang tumbuh dan hidup yang terus berjalan dengan indahnya.
Dimas ikut membantu juga. Dia membawa kamera dan memotret proses menanam itu dari awal sampai bunganya mulai tumbuh. Foto-foto itu ditempel di dinding ruangan utama dengan tulisan di bawahnya. Dari Rindu Tumbuh Kehidupan. Judul yang sederhana tapi bermakna banget. Setiap kali ada anak baru yang datang mereka akan melihat foto-foto itu dan tahu bahwa mereka juga punya tempat untuk menanam rindu mereka di sini.
Suatu sore aku duduk di antara bunga-bunga itu sambil menulis di bukuku.
"Kebaikan itu menular. Bukan dalam arti yang besar dan luar biasa. Tapi dalam hal-hal kecil. Satu orang berbagi senyum, orang lain merasa berani untuk tersenyum juga. Satu orang berbagi cerita, orang lain merasa aman untuk berbicara juga. Satu orang menanam harapan, banyak orang lain ikut tumbuh juga. Bima mengajarkan aku bahwa kita semua terhubung tanpa kita sadari. Langkah yang kamu ambil hari ini bisa jadi akan menjadi penopang bagi seseorang yang belum kamu temui besok lusa. Jadi teruslah berjalan dengan tulus. Kamu tidak akan pernah tahu seberapa jauh kebaikanmu akan sampai."
Langit sore berwarna jingga keunguan yang lembut. Angin berhembus pelan menyentuh kelopak bunga yang baru mekar. Di kejauhan terdengar tawa anak-anak yang sedang bermain di halaman belakang. Hidup terus berjalan. Sedih masih ada kadang kala, tapi ia tidak lagi menguasai hatiku. Ia tinggal di sana sebagai bagian dari cerita yang membuatku lebih bijaksana dan lebih lembut kepada orang lain.
Besok akan ada hari baru lagi. Mungkin ada yang menyenangkan, mungkin ada yang menantang. Tapi aku siap. Karena aku tahu setiap langkah yang diambil dengan tulus, sekecil apa pun, selalu berarti bagi seseorang di suatu tempat. Dan itu sudah cukup untuk membuatku terus melangkah dengan kepala tegak dan hati yang terbuka.