NovelToon NovelToon
Gawat Jendral, Istri Gendutmu Ternyata Badas!

Gawat Jendral, Istri Gendutmu Ternyata Badas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:44.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”

Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.

Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.

Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.

​Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 23

Arjuna duduk membeku di kursi kebesarannya. Laptop di hadapannya masih menyala terang, menampilkan file rekaman video CCTV yang baru saja diserahkan oleh Mayor Dimas beberapa menit lalu.

Layar itu memperlihatkan Nakula kecil yang dipaksa berlutut di lantai dingin. Disusul rekaman lain yang jauh lebih biadab.

"Wina, berani sekali kau menyeret tubuh mungil anakku menuju gudang gelap itu," gumam Arjuna dengan rahang mengeras.

Lalu rekaman berpindah memperlihatkan Ratna yang dengan wajah tanpa dosa menyuruh pelayan memberikan piring berisi sisa makanan basi kepada cucunya sendiri. Rekaman selanjutnya menampilkan Nakula duduk sendirian di meja makan besar, menatap hampa makanan sisa, sementara Damar dengan lahap menikmati hidangan hangat sambil menertawakan dan mengejeknya.

"Dasar bocah pembawa sial!"

Suara Wina di dalam rekaman terus menggema berulang-ulang di telinga Arjuna, menghujam gendang telinganya tanpa henti. Tangan kekar pria itu mulai gemetar hebat.

Brak!

Kepalan tangan besi Arjuna menghantam permukaan meja kerja kayu itu hingga gelas kaca di atasnya terpental dan bergetar keras.

"Brengsek!" desisnya penuh murka yang tertahan.

Mayor Dimas berdiri tegak beberapa langkah di belakang atasannya. Selama bertahun-tahun mengabdi sebagai ajudan sekaligus sahabat terdekat Arjuna di medan perang, baru kali ini ia melihat sang jenderal bintang dua kehilangan kendali emosional separah ini.

Arjuna dengan gugup menekan tombol play pada file video berikutnya.

Kini terlihat Nakula yang menangis tersedu-sedu sendirian di sudut lorong rumah setelah dipukuli habis-habisan oleh Damar. Hebatnya, tidak ada satu pun orang dewasa di rumah itu yang membelanya. Bahkan Ratna hanya melengos lewat begitu saja di samping cucunya yang sedang terluka.

Napas Arjuna memburu kencang, dadanya naik turun tak beraturan.

"Enam tahun..." Suara pria itu bergetar parah, nyaris tak keluar dari kerongkongannya. "Enam tahun lamanya anak kandungku hidup di rumah ini diperlakukan bagaikan binatang?"

Matanya memerah pekat, urat-urat di pelipisnya menegang.

"Dan aku... aku sebagai ayahnya tidak tahu apa-apa?!"

Air mata pertamanya jatuh. Air mata seorang kapten militer yang bahkan tak pernah menetes setetes pun di tengah kecamuk medan perang berdarah, kini runtuh begitu saja membasahi pipinya.

"Aku benar-benar gagal menjadi seorang ayah yang baik."

Mayor Dimas menundukkan kepala dalam-dalam. Jujur, ia sendiri ikut menahan rasa geram dan amarah yang mendidih di dadanya sejak melihat seluruh rekaman kebiadaban itu. Namun melihat atasannya menangis hancur, dadanya ikut sesak.

"Jenderal," panggil Dimas sangat pelan.

Arjuna menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan besar miliknya, terisak pilu. "Aku selalu bangga pada diriku karena merasa mampu menjaga seluruh kedaulatan negara ini. Tapi di rumahku sendiri, aku bahkan tidak becus melindungi darah dagingku."

Tangis penyesalan itu akhirnya pecah tak tertahankan. Mayor Dimas melangkah mendekat dengan penuh rasa hormat, lalu menepuk pelan bahu atasannya yang bidang.

"Jenderal, saya tahu beban ini sangat berat. Tapi anda belum terlambat untuk memperbaiki segalanya."

Arjuna menggeleng lemah. "Nakula sudah telanjur terlalu lama menderita."

"Benar, Tuan." Dimas tersenyum dan berusaha menenangkan. "Tapi sekarang dia tidak sendirian lagi melawan mereka. Dia punya anda sebagai pelindungnya. Dia juga punya nyonya Arunika yang tulus. Tebus lah sisa waktu di mana kalian sempat terpisahkan."

Kalimat itu membuat Arjuna tertegun. Bayangan Arunika yang tanpa kenal lelah menjaga Nakula di rumah sakit kembali memenuhi kepalanya. Wanita itu rela begadang, menyuapi, memeluk dan menenangkan putranya dengan penuh cinta tanpa pernah mengeluh sedikit pun.

Sementara dirinya? Selama ini ia hanya bisa menyesali kebodohannya.

"Kalau boleh saya berpendapat, nyonya Arunika datang di waktu yang paling tepat. Kalau bukan karena ketulusan beliau, mungkin kekejaman ini masih akan terus berlanjut tanpa kita ketahui," tambah Dimas.

Arjuna memejamkan matanya rapat-rapat. "Ya, aku berutang nyawa dan segalanya pada Arunika."

Beberapa menit berlalu dalam sunyi, hingga akhirnya Arjuna mengusap sisa air matanya sampai bersih tak berbekas. Sorot mata pria itu perlahan berubah drastis. Bukan lagi ekspresi seorang ayah yang hancur berkeping-keping, melainkan kembali menjelma menjadi seorang jenderal militer seutuhnya.

Dingin. Tenang. Mematikan.

"Terima kasih atas bantuanmu, Mayor Dimas," ucap Arjuna dengan suara bariton yang kembali tegas.

"Siap, Jenderal!"

"Aku akan mengikuti rencana Arunika sepenuhnya. Kita belum akan bergerak sekarang."

"Berarti kita biarkan mereka berpuas diri merasa menang, Jenderal?"

"Biarkan saja," Arjuna menutup layar laptop berisi rekaman CCTV itu perlahan. "Tapi mulai hari ini, detik ini juga, setiap langkah dan gerak-gerik mereka akan berada dalam pengawasan mata-mataku."

*

*

*

Sementara itu, di ruang keluarga, Ratna dan Wina justru sedang tertawa-tawa santai sambil menikmati sore hari.

"Lihat, kan, Ma?" ujar Wina dengan senyum kemenangan. "Arjuna sama sekali tidak menaruh curiga pada kita. Buktinya dia bahkan belum menemui kita lagi sejak tadi."

Ratna mengangguk. "Mama sudah bilang dari awal. Sejak kecil Arjuna itu selalu percaya dan patuh pada kita. Dia memang anak yang bodoh!"

Damar ikut menyahut riang. "Paman juga lebih sayang sama aku daripada si pembawa sial Nakula!"

Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak bersama, merasa di atas angin. Tak satu pun dari parasit-parasit itu menyadari bahwa kepercayaan mutlak Arjuna kepada mereka telah hancur berkeping-keping menjadi debu.

"Kenapa istri dan anakku belum juga pulang sampai sekarang?" suara bariton yang dingin tiba-tiba menggelegar dari ambang pintu, membuat Ratna dan Wina terlonjak kaget setengah mati.

Wina buru-buru memasang wajah manis palsunya.

"Sudah aku bilang tadi, Juna! Istrimu itu sengaja mengajak anakmu jalan-jalan entah ke mana tidak jelas tujuannya."

Arjuna menyipitkan mata tajam. "Sepertinya aku harus memberi mereka pelajaran dan menghukum mereka berdua begitu pulang nanti."

"Ya, Paman! Hukum saja sekalian!" sahut Damar sengaja memanasi.

Sementara Mayor Dimas yang berdiri di belakang Arjuna hanya menggeleng-gelengkan kepala.

"Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Tamat sudah riwayat kalian bertiga," batin Dimas.

1
Muft Smoker
duuuh gx expect ma ekspresi ny trio gx tau diri ,,
udh pindah aj ke dapur itung2 latihan nanti kalo makan di penjara ,, 🤭🤭🤣🤣🤣 ,, biar gx kaget
nining cahyaningrum
/Drool//Drool/
Ita rahmawati
denger GK tuh kalian
Ita rahmawati
iya iya percaya,,hanya karena kasian aja kan 🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
😫😫😅😅😅😅😅😅🤣🤣🤣🤣🤣giod
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣😅😅😅😀😀😌😌😫😫😫😫
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bunda SalVa
dari kasihan lama2 jadi bucin ya Jun 🤭🤭
Sri Rahayu
hahaha. bu Ratna....senjata makan tuan.... bukan Arunika yg hrs makan didapur...tp Ratna Wina dan Damar 🤩🤩🤩🤪🤪🤪... lanjut Thorr😘😘😘
Bunda SalVa
empuk banget kayak donat ya Nakula 😄😄
dyah EkaPratiwi
🤣🤣🤣🤣 arunika😍
Endang Sulistiyowati
senjata makan tuan, rasain tuh. Arunika di lawan
Mundri Astuti
ampun dah si arunika jangan keluarin bar"nya klo di kamar arun😂😂😂
Maria Lina
bagus juna jgn ngalah lgi ok..lanju lgi thor ya ya
dyah EkaPratiwi
gengsinya gede amat jendral
Mundri Astuti
😂😂😂
Sri Rahayu
walah Jendral ga usah malu2 gengsi ngakuin mulai tertarik dgn Arunika... pura2 hanya merasa kasihan 🤪🤪🤪🤩🤩🤩... lanjut Thorf😘😘😘
Endang Sulistiyowati
Rasa kasian yang di tumbuhi bunga2 cinta 🤭
Maria Lina
dsr sunderu li arjuna tar jatuh cintro lo wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!