NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:815.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Raven Ayu

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, Laras dicampakkan dalam semalam setelah putri kandung mereka, Tiara, ditemukan lewat tes DNA. Ketika Tiara menolak menikahi “duda tua beranak tiga dari kampung”, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi menjaga nama baik.
Di desa asing itu, Laras menghadapi seorang lelaki dingin bernama Arya dan tiga anak yatim yang kurus serta waspada. Semua orang mengira ia telah menikah turun derajat dan hanya bisa pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu bahwa Arya sebenarnya adalah mantan perwira Kopassus yang disegani para jenderal sekaligus konglomerat yang menyamar sebagai peternak sapi. Pria yang katanya dingin itu justru memanjakan Laras setiap hari lewat tindakannya, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik hidupnya. Ia membesarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius, membuat orang-orang yang pernah meremehkannya menelan hinaan mereka sendiri, dan bangkit dari “ibu tiri kampungan” menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Namun Tiara belum menyerah merebut apa yang dianggap seharusnya menjadi miliknya. Di saat yang sama, rahasia asal-usul ketiga anak itu mulai terungkap: mereka membawa darah keluarga konglomerat Adiwangsa.
"Kamu menikahiku karena terpaksa," kata Arya. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: Sarapan Berdua

Aku bangun karena mencium aroma nasi goreng.

Sisi ranjang di sebelahku sudah kosong, tetapi masih hangat. Di meja ada segelas air baru dan selembar kertas bertuliskan dua kata dengan tulisan Arya yang tegas: di dapur.

Tubuhku terasa pegal ketika bangun. Aku mandi cepat, mengenakan baju rumah, lalu turun perlahan.

Suara Bayu terdengar sebelum dapur terlihat.

“Ayah, nasinya gosong!”

“Tidak.”

“Yang hitam itu apa?”

“Kecap.”

“Kecapnya terlalu semangat.”

Aku berhenti di ambang pintu. Arya berdiri di depan kompor dengan celemek bermotif stroberi milik Bu Sumi. Raka sedang mengiris mentimun, Bayu mengawasi wajan seperti komentator pertandingan, dan Sasa duduk di kursi makan sambil memukul meja dengan sendok plastik.

“Pagi,” kataku.

Empat kepala menoleh bersamaan.

Arya langsung mematikan api. “Kenapa turun sendiri?”

“Karena tangga tidak bisa naik menjemputku.”

Dia mendekat dan meneliti wajahku. “Masih sakit?”

Raka berhenti mengiris. Bayu membuka mulut dengan rasa ingin tahu.

Aku mencubit lengan Arya pelan. “Bicarakan nanti.”

Telinganya seketika memerah.

“Ayah sakit?” tanya Bayu.

“Tidak,” jawab kami bersamaan.

Raka menutup wajah dengan telapak tangan. “Kita sarapan saja.”

Bu Minah dan keluarga Tegalsari sudah pulang setelah Subuh agar tidak terlambat bekerja. Karena itu, pagi pertama setelah pernikahan benar-benar hanya berisi kami berlima.

Arya menarikkan kursi untukku. Dia menaruh nasi goreng di piringku, memilih telur yang paling rapi, lalu menambahkan potongan ayam sampai hampir menutupi nasi.

“Aku tidak mungkin menghabiskan ini.”

“Makan dulu.”

“Mbak Laras dapat ayam paling banyak,” protes Bayu.

Arya hendak mengambil ayam dari piringnya sendiri, tetapi aku lebih dulu membagi punyaku untuk Raka dan Bayu.

“Sasa juga,” kata Bayu.

“Sasa punya telur lembut sendiri.”

Sasa meraih potongan telur dengan tangan, memasukkannya ke mulut, lalu tertawa ketika sedikit nasi menempel di pipinya. Rambutnya bersih dan diikat dua. Tidak ada lagi kutu, bekas garukan baru, atau baju berbau apak.

Pemandangan itu mengingatkanku pada pagi pertama di rumah ini, ketika Bayu memohon setengah mangkuk nasi dan Raka menolak makan karena takut aku memasukkan sesuatu ke dalam piring mereka.

Kini Raka duduk di meja yang sama dan tanpa ragu memakan ayam dari piringku.

“Hari ini Mbak Laras jangan kerja berat,” katanya.

Aku hampir tersedak. “Siapa yang mengajarimu mengatakan itu?”

Dia melirik Arya. “Ayah.”

Arya fokus pada piringnya seolah tidak terlibat.

Bayu menyeringai. “Ayah bilang kalau Mbak Laras terlihat capek, kami harus bantu. Memangnya semalam Mbak angkat apa?”

“Kursi,” jawab Arya cepat.

Aku menunduk agar anak-anak tidak melihatku tertawa.

Setelah sarapan, kami membagi pekerjaan. Raka mencuci piring bersama Arya, Bayu menyapu remah di bawah meja, dan aku membersihkan wajah Sasa. Ponselku terus berbunyi oleh pesan grup WA keluarga. Sari mengirim foto akad. Bu Minah bertanya apakah aku sudah sarapan. Rian dan Rio saling menyalahkan soal kelopak bunga yang miring.

Bayu mengambil foto Arya yang masih mengenakan celemek stroberi dan hendak mengirimkannya ke grup keluarga. Arya merebut ponsel sebelum tombol kirim ditekan.

“Hapus.”

“Tapi Ayah terlihat lucu.”

“Hapus.”

“Mbak Laras belum lihat.”

“Aku sudah melihat langsung,” kataku. “Tidak perlu bukti digital.”

Bayu menghapus foto sambil mengeluh, tetapi Raka ternyata sudah menyimpan satu salinan. Dia menunjukkan layar kepadaku diam-diam. Untuk pertama kalinya, kami bertiga memiliki rahasia kecil yang sama, dan rahasia itu hanya tentang celemek, bukan rasa takut kehilangan makanan.

Di grup warga, Bu Sumi sudah memasukkan jadwalku untuk pengajian pekan depan. Dia juga mengingatkan arisan RT bulan berikutnya, seolah status istri baru otomatis memberiku lima agenda tambahan.

Sesudah dapur rapi, aku membawa sisa ayam ke teras untuk Jagoan. Anjing besar itu duduk sebelum menerima makanan, lalu mengibaskan ekor sampai debu berputar. Sasa berjongkok di belakang kakiku dan mencoba menirukan gerakannya dengan menggoyangkan tubuh. Jagoan mendekat hanya sampai ujung rantai, kemudian menundukkan kepala agar tanganku bisa mengusapnya.

“Dia sekarang lebih patuh pada Mbak Laras,” kata Raka.

“Karena Mbak Laras membawa ayam,” sahut Bayu.

“Kamu juga begitu,” balas Raka.

Bayu tidak bisa membantah.

Arya memeriksa pesan dari Bang Gino tentang sapi yang harus divaksin dan jadwal pengiriman daging. “Aku ke peternakan sebentar.”

“Pergilah. Aku baik-baik saja.”

“Kalau lelah, tidur.”

“Iya.”

“Jangan angkat ember.”

“Iya, Pak Mayor.”

Dia menatapku. Anak-anak tertawa. Bahkan sudut bibir Raka terangkat.

Sebelum pergi, Arya menaruh tangannya singkat di puncak kepalaku. Gerakan kecil itu begitu alami hingga suasana meja mendadak terasa utuh.

Rumah ini akhirnya memiliki suara piring, tawa anak, pesan keluarga, dan seseorang yang berpesan akan pulang sebelum makan siang.

Untuk pertama kalinya sejak datang, aku tidak merasa sedang memperbaiki rumah orang lain. Aku sedang menjalani pagi di rumahku sendiri.

Aku mengira hari-hari kami akan terus berjalan seperti itu.

Namun di seberang jalan, di balik rumpun pisang dekat rumah kosong, Bik Inah berdiri dengan kerudung menutupi sebagian wajah.

Sejak dipecat, dia kehilangan gaji, makanan yang biasa dibawa pulang, dan tempat untuk merasa berkuasa. Dari celah daun, dia melihat Arya menyentuh kepalaku sebelum pergi. Dia melihat anak-anak tertawa di dapur yang dulu dikuasainya.

Lalu tatapannya berhenti pada jendela lantai dua, tempat kotak-kotak mahar disimpan.

Sambil menggenggam duplikat kunci lama yang belum diketahui siapa pun, Bik Inah menelan kebenciannya sedikit demi sedikit.

1
Marina Tarigan
orang serakah sm keluarga senfifi pasti hanvurr
Marina Tarigan
karena laras anak yg tersakiti yg dibuang karena tdk diperlukan itu balasan eanita yg congkak dan sombong sepertimu zTiara
Sfarlett Alexana
Semangqt thor, lanjut💪
Marina Tarigan
harimau tutul mulai mengaum wanita. serakah
Marina Tarigan
aku kangen sm ibjmu setiap aku pulang betkumjung selalu ada gulai ayam kampung dan sambal terasi enaknya bukan main
Marina Tarigan
kau gila Inah kau korupsi bahan utk perut anak 2 inah dimana hati nuranimu biadap a anak2 kau bentak setiap mereka mints mkn kau dtakul a pdhal semua kebutuhan anak2 setiap minggu fikitim lebih dari cukup kamu wanita tdk punya hati tega sekali kamu menindas anak orang
Marina Tarigan
beratti bi inah selama ini menekan dan tdk beri makan dan tdk meraeat mereka bahkan mencuri kebutuhan mereka dgn diam2 durhaka kamu I zN A H. keparat
Marina Tarigan
tega kali nik inah menvuri makanan anak yatim begitu sampai mereka kelaparan dan kurud begitu padahal semua sdh disiapkan bos Aria perlu ditebas tangannya spi putus biadap
Marina Tarigan
bik inah kok tegs menyiksa anak 2 itu dgn kelaparan sih cepat sih tahu belangnya
Syalari sholeh
nomor hp?
tdk tersimpan d hp anak² kah?
ceuceu
Laras masih aj manggil arya ga pakai panggilan mas.
arya suamimu ras bukan teman mu
ceuceu
pindah lg aj
ceuceu
Laras wlw.ratna bimo menyakitimu tapi sikapmu jgn datar dingin begitu,biar bagaimana pun kamu di rawat dari kecil oleh mereka,klw baca dialog kayanya laras tipe datar dingin,ga suka sih karakter laras
Syalari sholeh
Damar,didiklah binimu
ceuceu
Laras manggil arya sih ke suami
Asmainiati Pelis
kok panggilannya masih mbak
ceuceu
bayu pinter penuh perhitungan
miss blue 💙💙💙
ini yg nulis berapa orang sih? kayak cerita dari 2 orang, soalnya banyak yg tadi nya kenal jadi kayak asing, bayak cerita yg udah di ketahui tapi seolah baru terjadi 🤔🤔🤔 walau alur nya tetep maju, tapi kayak cerita yg disambung oleh orang yg berbeda.
Secret Admire: iya kak.. betul.. skrg terjadi lagi.. bukannya dulu Laras sama Mira sudah bertemu dan mereka akrab.. tapi sekarang seperti baru bertemu lagi ya??
pada bab sebelumnya juga aku sempet bingung ketika Raka seperti baru mengetahui kalau Arya bukan ayah kandungnya.. padahal Raka udah tau kalo Ayah kandungnya itu Danendra..
total 1 replies
miss blue 💙💙💙
kok pusing ya, kan farel tetangga di semarang, sering main bareng, kenapa seolah gak kenal pas ketemu di jakarta 🤔🤔🤔
Ica Syam Ica
lamjut👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!