NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:709
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Semua orang bilang Laras sial.

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.

Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.

Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.

Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.

Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…

*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: Sarapan Berdua

Aku bangun karena mencium aroma nasi goreng.

Sisi ranjang di sebelahku sudah kosong, tetapi masih hangat. Di meja ada segelas air baru dan selembar kertas bertuliskan dua kata dengan tulisan Arya yang tegas: di dapur.

Tubuhku terasa pegal ketika bangun. Aku mandi cepat, mengenakan baju rumah, lalu turun perlahan.

Suara Bayu terdengar sebelum dapur terlihat.

“Ayah, nasinya gosong!”

“Tidak.”

“Yang hitam itu apa?”

“Kecap.”

“Kecapnya terlalu semangat.”

Aku berhenti di ambang pintu. Arya berdiri di depan kompor dengan celemek bermotif stroberi milik Bu Sumi. Raka sedang mengiris mentimun, Bayu mengawasi wajan seperti komentator pertandingan, dan Sasa duduk di kursi makan sambil memukul meja dengan sendok plastik.

“Pagi,” kataku.

Empat kepala menoleh bersamaan.

Arya langsung mematikan api. “Kenapa turun sendiri?”

“Karena tangga tidak bisa naik menjemputku.”

Dia mendekat dan meneliti wajahku. “Masih sakit?”

Raka berhenti mengiris. Bayu membuka mulut dengan rasa ingin tahu.

Aku mencubit lengan Arya pelan. “Bicarakan nanti.”

Telinganya seketika memerah.

“Ayah sakit?” tanya Bayu.

“Tidak,” jawab kami bersamaan.

Raka menutup wajah dengan telapak tangan. “Kita sarapan saja.”

Bu Minah dan keluarga Tegalsari sudah pulang setelah Subuh agar tidak terlambat bekerja. Karena itu, pagi pertama setelah pernikahan benar-benar hanya berisi kami berlima.

Arya menarikkan kursi untukku. Dia menaruh nasi goreng di piringku, memilih telur yang paling rapi, lalu menambahkan potongan ayam sampai hampir menutupi nasi.

“Aku tidak mungkin menghabiskan ini.”

“Makan dulu.”

“Mbak Laras dapat ayam paling banyak,” protes Bayu.

Arya hendak mengambil ayam dari piringnya sendiri, tetapi aku lebih dulu membagi punyaku untuk Raka dan Bayu.

“Sasa juga,” kata Bayu.

“Sasa punya telur lembut sendiri.”

Sasa meraih potongan telur dengan tangan, memasukkannya ke mulut, lalu tertawa ketika sedikit nasi menempel di pipinya. Rambutnya bersih dan diikat dua. Tidak ada lagi kutu, bekas garukan baru, atau baju berbau apak.

Pemandangan itu mengingatkanku pada pagi pertama di rumah ini, ketika Bayu memohon setengah mangkuk nasi dan Raka menolak makan karena takut aku memasukkan sesuatu ke dalam piring mereka.

Kini Raka duduk di meja yang sama dan tanpa ragu memakan ayam dari piringku.

“Hari ini Mbak Laras jangan kerja berat,” katanya.

Aku hampir tersedak. “Siapa yang mengajarimu mengatakan itu?”

Dia melirik Arya. “Ayah.”

Arya fokus pada piringnya seolah tidak terlibat.

Bayu menyeringai. “Ayah bilang kalau Mbak Laras terlihat capek, kami harus bantu. Memangnya semalam Mbak angkat apa?”

“Kursi,” jawab Arya cepat.

Aku menunduk agar anak-anak tidak melihatku tertawa.

Setelah sarapan, kami membagi pekerjaan. Raka mencuci piring bersama Arya, Bayu menyapu remah di bawah meja, dan aku membersihkan wajah Sasa. Ponselku terus berbunyi oleh pesan grup WA keluarga. Sari mengirim foto akad. Bu Minah bertanya apakah aku sudah sarapan. Rian dan Rio saling menyalahkan soal kelopak bunga yang miring.

Bayu mengambil foto Arya yang masih mengenakan celemek stroberi dan hendak mengirimkannya ke grup keluarga. Arya merebut ponsel sebelum tombol kirim ditekan.

“Hapus.”

“Tapi Ayah terlihat lucu.”

“Hapus.”

“Mbak Laras belum lihat.”

“Aku sudah melihat langsung,” kataku. “Tidak perlu bukti digital.”

Bayu menghapus foto sambil mengeluh, tetapi Raka ternyata sudah menyimpan satu salinan. Dia menunjukkan layar kepadaku diam-diam. Untuk pertama kalinya, kami bertiga memiliki rahasia kecil yang sama, dan rahasia itu hanya tentang celemek, bukan rasa takut kehilangan makanan.

Di grup warga, Bu Sumi sudah memasukkan jadwalku untuk pengajian pekan depan. Dia juga mengingatkan arisan RT bulan berikutnya, seolah status istri baru otomatis memberiku lima agenda tambahan.

Sesudah dapur rapi, aku membawa sisa ayam ke teras untuk Jagoan. Anjing besar itu duduk sebelum menerima makanan, lalu mengibaskan ekor sampai debu berputar. Sasa berjongkok di belakang kakiku dan mencoba menirukan gerakannya dengan menggoyangkan tubuh. Jagoan mendekat hanya sampai ujung rantai, kemudian menundukkan kepala agar tanganku bisa mengusapnya.

“Dia sekarang lebih patuh pada Mbak Laras,” kata Raka.

“Karena Mbak Laras membawa ayam,” sahut Bayu.

“Kamu juga begitu,” balas Raka.

Bayu tidak bisa membantah.

Arya memeriksa pesan dari Bang Gino tentang sapi yang harus divaksin dan jadwal pengiriman daging. “Aku ke peternakan sebentar.”

“Pergilah. Aku baik-baik saja.”

“Kalau lelah, tidur.”

“Iya.”

“Jangan angkat ember.”

“Iya, Pak Mayor.”

Dia menatapku. Anak-anak tertawa. Bahkan sudut bibir Raka terangkat.

Sebelum pergi, Arya menaruh tangannya singkat di puncak kepalaku. Gerakan kecil itu begitu alami hingga suasana meja mendadak terasa utuh.

Rumah ini akhirnya memiliki suara piring, tawa anak, pesan keluarga, dan seseorang yang berpesan akan pulang sebelum makan siang.

Untuk pertama kalinya sejak datang, aku tidak merasa sedang memperbaiki rumah orang lain. Aku sedang menjalani pagi di rumahku sendiri.

Aku mengira hari-hari kami akan terus berjalan seperti itu.

Namun di seberang jalan, di balik rumpun pisang dekat rumah kosong, Bik Inah berdiri dengan kerudung menutupi sebagian wajah.

Sejak dipecat, dia kehilangan gaji, makanan yang biasa dibawa pulang, dan tempat untuk merasa berkuasa. Dari celah daun, dia melihat Arya menyentuh kepalaku sebelum pergi. Dia melihat anak-anak tertawa di dapur yang dulu dikuasainya.

Lalu tatapannya berhenti pada jendela lantai dua, tempat kotak-kotak mahar disimpan.

Sambil menggenggam duplikat kunci lama yang belum diketahui siapa pun, Bik Inah menelan kebenciannya sedikit demi sedikit.

1
Manusia lewat
well, gini y
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!