"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 | PERJANJIAN DI MEJA MAKAN
"Austin tidak bisakah kau membiarkannya bernapas sejenak? Dia baru saja sembuh dari demam," tegur suara berat yang dipenuhi wibawa di ujung meja makan.
Aleeza Wira menunduk tipis. Malam itu, untuk pertama kalinya ia duduk di meja makan panjang berlapis marmer hitam milik kediaman utama Vanderbilt. Di samping kirinya duduk Olivia yang menatapnya hangat, sementara di ujung meja utama duduk Kevin Vanderbilt Pria paruh baya berambut perak yang memancarkan dominasi luar biasa, sama persis seperti Putranya, Austin Vanderbilt.
Austin yang duduk tepat di sebelah Aleeza hanya mendengus santai, terus memotong daging steak di piring Aleeza sebelum menukarnya dengan piringnya sendiri.
"Dia sudah sembuh, Dad," jawab Austin dingin tanpa mengalihkan pandangannya. "Dan lagipula, dia merasa jauh lebih baik berada di sisiku daripada mengurung diri di kamar."
Aleeza melirik Austin tajam, menggigit bibirnya kesal. Siapa juga yang bilang ia merasa lebih baik di sini? Pria arogan ini hanya membuat alasan agar ibunya dan sang ayah tidak mengirimnya kembali ke apartemennya!
"Kenapa kau begitu memaksanya, Austin?" potong Olivia lembut, menatap putranya heran.
"Biarkan Aleeza memutuskan sendiri apakah dia ingin tinggal di sini atau kembali ke apartemennya sampai hari pertunangan kalian minggu depan."
"Tidak bisa, Mom," tegas Austin datar, menghentikan gerakan pisau dan garpunya. "Di luar sana terlalu banyak serigala yang menunggu kesempatan untuk memanfaatkannya. Julian dan Karina masih berkeliaran. Tempat teraman untuk calon istriku adalah di mansion ini, di bawah pengawasanku langsung."
Kevin menatap putranya lekat-lekat, menyunggingkan senyuman tipis yang penuh arti. "Kau tampak sangat protektif padanya, Austin. Apakah ini hanya bagian dari strategi bisnismu atau kau benar-benar sudah terjatuh pada gadis jurnalis ini?"
Pertanyaan itu membuat suasana di meja makan seketika membeku.
Aleeza menahan napasnya, dadanya berdegup kencang menantikan jawaban dari mulut pria di sampingnya. Namun, Austin hanya tersenyum miring sebuah senyuman misterius yang tak tertebak.
"Aku tidak pernah melakukan hal yang tidak menguntungkan bagiku, Dad," jawab Austin tenang, melirik Aleeza dari sudut matanya.
" Dan Aleeza adalah investasi paling berharga yang pernah kumiliki."
Investasi. Kata itu kembali menghantam dada Aleeza dengan rasa getir yang familiar.
Sebelum perdebatan di meja makan semakin memanas, Austin tiba-tiba berdiri dari kursinya. Tanpa memedulikan tatapan heran dari kedua orang tuanya, ia meraih pergelangan tangan Aleeza dan memaksanya ikut berdiri.
"Makan malamnya cukup sampai di sini. Aleeza harus kembali beristirahat," ucap Austin tegas, langsung menuntun Aleeza melangkah keluar dari ruang makan megah itu.
Begitu mereka memasuki kamar tidur utama dan pintu terkunci rapat, Aleeza langsung menghempaskan pegangan tangan Austin.
"Investasi, El Oso?! Kau menyebutku investasi di depan orang tuamu?!" sergah Aleeza melotot marah.
Austin tak menjawab. Ia melangkah mendekat, mengurung tubuh Aleeza di antara lengannya dan pintu kamar yang tertutup. Manik birunya menatap Aleeza begitu dalam, menghilangkan seluruh jarak di antara mereka.
"Jika aku tidak menyebutmu investasi, Dad akan langsung campur tangan dalam urusan kita, Mi Amor," bisik Austin parau di dekat bibir Aleeza. "Kau mau dia mengirimmu jauh ke luar negeri agar tidak mengganggu fokus bisnis keluarga?"
Aleeza tertegun, amarahnya seketika menyusut digantikan rasa kaget.
"Dengar baik-baik, Aleeza Wira," lanjut Austin penuh penekanan, jemarinya mengelus dagu Aleeza dengan lembut namun posesif.
"Perjanjian kita memang dimulai dari sandiwara tapi takdir yang kuikat malam ini tidak akan pernah kulepaskan lagi. Kau milikku, dan seluruh keluarga Vanderbilt tahu itu."
▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!