Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
Rentetan pengakuan yang meluncur tanpa tedeng aling-aling itu menghantam tepat di ulu hati, meremukkan benteng pertahanan yang kubangun susah payah. Suasana pagi mendadak senyap, menyisakan deburan ombak di dalam dadaku sendiri yang bergemuruh riuh. Udara dingin yang semula menusuk kulit seketika menguap, tergantikan panas yang merambat cepat ke cuping telinga.
Aku terdiam beberapa saat, mengepalkan jemari di sisi tubuh demi mengendalikan debar liar yang nyaris terbongkar. Membuang pandangan ke deretan rumah petak di seberang jalan, aku mendengus kasar—sebuah reaksi putus asa untuk menyembunyikan keterkejutanku atas keterusterangannya yang memabukkan.
"Bagus kalau lo sadar pikiran lo jadi berantakan,"
sahutku rendah, menoleh kembali dengan tatapan lurus yang menuntut kendali penuh atas situasi.
Sudut bibirku terangkat tipis, menyamarkan gejolak rasa yang kian membuncah di balik topeng arogansi.
"Cemburu? Jangan terlalu percaya diri. Gue cuma nggak sudi barang kepunyaan gue disentuh atau dipikirin orang lain. Kalau lo ngerasa nggak terkontrol, itu masalah lo, bukan gue."
Kutarik napas panjang, mencondongkan badan sedikit lebih dekat sembari memegang setang motor erat-erat.
"Sekarang pegangan yang kuat. Kita berangkat."
Pada akhirnya theo tidak menjawab semua pertanyaan eca dengan memuaskan, sesampainya di RS terlihat alex sudah menunggu di lobby RS dan menyapa kehadiran eca, eca pun membalas sapaan alex yang sedari tadi terlihat sudah menunggunya di lobby.
"Besok gue ada baksos di SMA Tunas Bangsa"
"Lo bakal masuk sekolah kan?"
"Gue harap besok bisa bertemu lo di aula sekolah lo"
"Gue masuk dulu, gue bakal mengembalikan tas alex ini" balas eca dengan murung
Pemandangan di teras depan gedung bertingkat itu langsung membuat hawa panas menyengat dadaku. Sosok dokter berseragam putih itu berdiri congkak di sana, melambaikan tangan dengan senyum yang teramat menjengkelkan. Rasa muak seketika membakar kerongkonganku, merusak suasana hatiku yang sempat melayang beberapa menit lalu.
"Masuk sekolah?"
Aku berdecih sinis, mencondongkan badan ke arahnya seraya menarik ujung tali tas mewah yang masih ia dekap erat. Sorot mataku menghunus lurus ke manik matanya, sarat akan tuntutan mutlak yang dingin.
"Bahkan kalau gedung sekolah gue roboh sekalipun, besok gue bakal nongol di aula itu cuma buat pastiin lo nggak jelalatan ke dokter gadungan ini."
Pandanganku beralih menusuk ke arah pria di lobi yang mulai melangkah mendekat. Dengusan gusar meluncur dari celah bibirku saat melihat gerak-gerik gadis ini yang terburu-buru hendak menemuinya.
"Balikin sekarang dan jangan banyak cingcong di depan dia,"
desisku dengan nada rendah berbau peringatan keras.
"Satu detik lebih lama lo senyum ke dia, gue seret lo balik ke atas motor."
"Suka-suka gue lah, mau senyum atau nggak sama alex" dengan muka eca yang menantang theo
"Mulut,mulut gue"
"Gue gak jelalatan sama dokter gadungan yg lo bilang itu, gue mau ganti deketin anak sekolahan yang lebih muda-muda...weeek haha" tawa eca seiring meninggalkan theo memasuki RS.
Darahku mendidih seketika melihat seringai mengejek yang ia lemparkan tepat sebelum membalikkan badan. Kalimat kurang ajar soal mendekati anak sekolahan berputar bising di telingaku, menghantam rasa percaya diriku telak.
Siapa yang dia sebut bocah ingusan? Dasar perawat keras kepala yang tidak tahu diuntung.
Aku memelototi pintu kaca otomatis yang tertutup rapat di belakang punggung mereka. Tangan kiriku meremas setang hingga buku-buku jariku memutih pucat. Senyuman lebar yang ia pamerkan pada Alex tadi membuat perutku mual oleh gelombang amarah yang membakar dada. Berani-beraninya dia menantang batasan kesabaranku tepat di depan wajahku sendiri.
"Mau main-main sama gue?"
desisku dingin, memutar gas hingga raungan knalpot memekakkan pelataran rumah sakit.
Seringai sinis terbit perlahan di sudut bibirku, menyembunyikan letupan posesif yang tak terbendung. Aula sekolah besok akan menjadi panggungnya, dan aku pastikan dia tidak akan bisa mengalihkan pandangannya barang sedetik pun dari tempatku berdiri.
"Tunggu aja besok. Bakal gue bikin lo nyesel udah nolak patuh sama gue hari ini."
...****************...
hadir kak, mampir juga ya😊