Sabar adalah kata yang selalu di ucapkan ibuku kepadaku, kata itu lah yang membuat ku kuat karena kesedihan tidak selamanya ada, akan ada kebahagiaan yang menanti.
Sejak kecil aku dan ibuku hidup berdua, ayah ku tidak pernah kembali setelah berpamitan dengan ibu ku pergi merantau ke luar negeri, setelah pergi tidak pernah ayah ku mengirim uang untuk kehidupan kami, ibu ku kerja menjadi buruh cuci gosok dari rumah ke rumah, aku sering ikut dengan ibuku karena tidak ada yang menjaga ku di rumah.
Ibu ku berhasil menyekolahkan ku sampai aku selesai kuliah, kehidupan ku yang berat membuatku selalu berhati hati kepada semua orang sampai suatu hari aku bertemu Yuda di tempat kerja ku. dia meluluhkan hati ku, membuat ku percaya bahwa lelaki tidak semua seperti ayah ku. sampai suatu hari dia mengenalkanku kepada keluarganya, disitulah aku bertemu ayah ku, pria yang sudah 20 tahun tidak pernah aku temui yang hanya aku lihat dari fotonya di kamar ibuku. ternyata ayah Yuda adalah ayahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zahira alkhansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
POV Putra
Sejak kecil aku selalu tinggal dengan nenek, mama dan papa sering keluar kota untuk urusan pekerjaan, sering kali papa dan mama mengajak nenek untuk ikut papa dan mama ke Pekanbaru tapi nenek tidak pernah mau, kata nenek di desa ini banyak enangan bersama kakek. Akhirnya papa dan mama mengalah. sesekali papa dan mama akan pergi ke Pekanbaru untuk mengurus ladang sawit mereka disini. Sedangkan nenek, mengurusku dari kecil tidak memperbolehkan ku di bawa oleh mama dan papa kesana kemari. Sehingga waktu ku lebih sering ku habiskan bersama nenek.
Sejak masuk SMA nenek sering sakit sakitan, di pertengahan semester nenek meninggal, papa dan mama yang saat itu sedang di Pekanbaru langsung terbang datang mengurus pemakaman nenek, saat itu marah ke mama dan papa karena sudah ku larang papa dan mama untuk pergi karena kondisi nenek sedang sakit tapi pekerjaan mereka lebih penting dari nenek.
Hampir satu tahun aku tidak berkomunikasi dengan mama dan papa, kalau papa dan mama aku lebih suka di luar bersama Aryo. Ya, Aryo sudah seperti abangku sendiri. Bahkan di saat nenek meninggal Aryo lah yang membantuku di saat papa dan mama belum datang.
Terkadang aku sering tidur di rumah Aryo, dan kalau mama dan papa tidak ada Aryo yang sering tidur di rumahku.
Malam itu Aryo tidur di rumahku, karena papa dan mama ku sudah berangkat ke Pekanbaru.
" put, kayaknya aku lagi jatuh cinta deh" kata Aryo
" waaaaahhh, sama siapa???Ratna berhasil menaklukkan hati Lo bro???"tanya ku
" gila aja, kenapa Ratna. Cahaya, kayaknya aku jatuh cinta sama cahaya" ucap Aryo
" whatt?? Bukan nya lu bilang udah anggap cahaya kayak adek lu sendiri bro?? Tanyaku
" awalnya sih begitu, aku gak mau ngeyakini ini cinta. Tapi setiap ada yang berkata jahat tentang dia, aku gak terima put. Kalau aku gak mendengar kabarnya aku merasa khawatir, dan aku ngelihat cahaya semakin hari semakin cantik put, aku ngelihat cahaya bukan lagi sekedar anak perempuan yang dulu sering aku jahilin. " Aryo mulai bercerita.
" jadi, sekarang kamu mau cerita ke cahaya kalau kamu cinta sama dia?? Tanyaku
" ya enggak lah, gila aja iya kalau aku diterima kalau enggak, aku gak bisa ngelindungin dia lagi bro, gak bisa jalan bareng dia lagi"
"Jadi sekarang elo mau gimana??" tanyaku sebel
" nanti saat aku udah berhasil aku baru mau ungkapin perasaan ku ke dia tapi untuk sementara ini, cuma Lo yang tau perasaan ku. Kalau sampai cahaya tau berarti elo yang ngebocorin rahasia ini, dan gue akan kejar lu" ucap Aryo
" emank nya aku ada hutang, sampe di kejar kejar"
Kami pun tertawa.
hari itu adalah hari yang naas bagi kami, entah mimpi apa yang kami terima, seandainya saja motor ku tidak ku berhentikan mungkin kejadian itu tidak akan terjadi. aku masih mengurus parkir kereta tiba tiba semua orang menjerit Aryo terlibat perkelahian dan bruuaakkk Aryo terjatuh banyak darah keluar dari perut Aryo, aku berlari menuju ke tempat Aryo, aku menaikkan Aryo ke atas becak saat itu ada becak yang lewat lalu aku suruh berhenti dan mengangkat Aryo.
" cepat pak kita ke rumah sakit terdekat" ucapku
" iya nak, ya Allah kenapa bisa begitu" ucap bapak itu
aku gak memperdulikan perkataan bapak itu.
aku panik, aku tekan luka tusuk Aryo agar darahnya tidak keluar. Di saat seperti itu bisa bisa nya Aryo tersenyum.
" bro, gak apa apa kalian bro" sambil terbata bata Aryo berbicara
" diem Lo, jangan bicara Lo diem aja." ucap ku sambil menangis melihat Aryo
" kenapa nangis bro?? Bro, tolong jagain Aya buat gue bro" ucapnya
" kenapa gue, elo sendiri yang harus jagain Aya bukan gue. Elo gak kenapa kenapa elo akan sehat lagi" ucapku.
Lalu Aryo tersenyum dan pingsan.
Aku panggil panggil namanya tapi tidak ada respon sama sekali.
Sesampainya di rumahsakit, Aryo langsung di larikan ke IGD dan dokter minta tandatangan karena Aryo harus di operasi. Aku hubungi orang tua Aryo, tidak lama kemudian ibua Ryo datang sambil menangis histeris, ibu nya lalu menandatangani surat persetujuan operasi.
lalu aku menghubungi cahaya, tapi tidak ada sambungan, aku permisi ke ibu nya Aryo, lalu dengan sepeda motor yang sudah dibawa oleh teman ku ke rumah sakit aku ke rumah cahaya, ternyata paket data cahaya habis makanya dari tadi aku hubungi tidak bisa.
waktu itu pertama kali nya aku lihat cahaya tidak berhijab, rambut nya yg hitam panjang membuat cahaya terlihat sangat cantik. Ternyata benar kata Aryo, cahaya sangat cantik, selama ini aku hanya melihat cahaya menggunakan pakaian sekolah dengan kemeja sekolah yg warnanya sudah tidak putih lagi dan agak sedikit kebesaran, dengan rok yang warnanya sudah pudar. Dan hijab yang bisa di bilang kadang berantakan.
hari itu aku melihat cahaya sangat berbeda. Setelah cahaya mengenakan hijab, celana jins yang membuat kaki cahaya terlihat jenjang tinggi, dan kemeja bunga bunga yang membuat kulit putih nya semakin bersinar. Cahaya benar benar cantik. Tapi aku tidak boleh menyukai cewek yang di taksir oleh sahabatku. Pikirku saat itu.
Aku membonceng cahaya ke rumah sakit, apa yang di alami Aryo, sekarang aku alami, jantungku berdebar kencang saat membonceng cahaya. Sesampainya disana kamu mendatangi ibu Aryo, ibu Aryo sudah mulai tenang, sambil terus berdoa memohon kesembuhan Aryo.
Lalu dokter memanggil ibu Aryo, dan di suruh mencari golongan darah O positif. kami mencari kesana kemari bersama cahaya darah O positif dan akhirnya dapat di PMI ada di kota. Tetapi semua terlambat, saat kami membawa 4 kantong darah untuk Aryo, Aryo tidak bisa di selamatkan. Begitu kami tiba disana Aryo sudah meninggal. Lalu cahaya tiba tiba jatuh pingsan. Dengan bantuan perawat kami membawa cahaya ke IGD dan aku langsung menelepon ibu nya cahaya. Tidak lama kemudian ibu cahaya datang, karena aku harus membantu keluarga Aryo, aku meninggalkan cahaya bersama ibu nya di ruang IGD.
Semua seperti mimpi, kepergian Aryo, perasaan ku terhadap cahaya semua serba cepat, secepat aku membalikkan telapak tangan.
Saat aku memberi tau cahaya bahwa Aryo mincintainya, cahaya keliatan syok. Dia tidak menyadari perasaan Aryo selama ini. Dan aku disini, tugasku menggantikan Aryo menjaga cahaya. Kata kata Aryo terngiang lagi di pikiran ku,
" bro, cahaya itu tidak ada sosok laki laki hebat di samping nya, ayah nya kabur saat dia belum lahir, paman paman nya, bahkan tidak mau mengakui mereka keluarganya, hanya ada cahaya dan ibunya, menurut Lo, siap yang ngelindungi cahaya??"
Kata kata Aryo itu seperti, menyadarkanku, kalau aku harus menggantikan posisi Aryo untuk melindungi cahaya.
Hari itu aku terpaksa berbohong pada cahaya kalau aku memiliki pacar, semua itu biar cahaya percaya kalau aku tidak memiliki perasaan apapun pada cahaya.
Tapi hari hari berlalu, saat ujian kelulusan aku ingin menyampaikan perasaanku kepada cahaya. Tapi tidak berhasil.sama seperti Aryo, aku takut di tolak.
Tapi sebelum berangkat mengikuti ujian ujian seleksi masuk aku tidak bisa berada di sisi cahaya, paling tidak 1 tahun aku tidak bisa ketemu cahaya. hari itu aku memutuskan ke rumah cahaya untuk mengutarakan perasaan ku. Setibanya di rumah cahaya, tidak ada orang di dalam rumah cahaya, semua jendela di tutup. Lalu tetangga cahaya bilang kalau cahaya dan ibunya sudah pindah ke kota. Aku hubungi no ponselnya tapi tidak aktif. Tidak ada kabar dari cahaya, membuat hatiku tidak tenang. ku lakukan motorku ke kota. Kudatangi terminal dan menanyakan ke loket apa cahaya dan ibunya menaiki bus mereka. Ternyata benar, pihak loket tanda karena cahaya cantik dan mereka sempat mengganggu ganggu cahaya. Lalu aku pun memesan tiket juga untuk menyusul cahaya ke Medan.
Deeerrt..deeerrtttt
suara getar hp ku berbunyi.
Mama, tulisan di layar HP.
" iya ma? Jawabku
" put, mama Minggu ini tidak pulang untuk proses registrasi pendaftaran mu sudah mama urus sama oom mu, nanti oom mu yang bantu kamu melengkapi semuanya ya sayang" ujar mama
" iya ma, owh iya ma ini putra ke Medan ada urusan sebentar malam ini putra nginap di Medan"
" ada perlu apa put??kamu nginap dimana?? Tanya mama
" belum tau ma, kemungkinan putra nginap di hotel aja" jawabku.
" kamu nginap di rumah nya Tante Yuli aja, nanti mama ngubungintante. Kamu jangan nginap nginap di hotel. Dengar??"
" putra males ma nginap di rumah saudara" jawabku
" gak ada tapi tapian kamu haru ke rumah Tante Yuli."
Sambungan telepon dimatikan oleh mama.
Pukul 22.00 wib aku sudah sampai di terminal. Aku bingung harus mencari cahaya dimana. Lalu ku putuskan untuk ke rumah Tante Yuli dahulu, Tante Yuli adalah adek dari mamaku. Sesampainya di rumah Tante Yuli, Tante menyambutku, Tante Yuli belum memiliki anak sehingga sangat sayang kepadaku.
Esok harinya aku meminjam sepeda motor Tante Yuli, aku hendak ke USU untuk melihat lihat sekeliling siapa tau cahaya sedang melihat lihat kampusnya. Tapi setelah berkeliling seharian aku tidak menemukan cahaya. Malamnya aku kembali ke kampung karena aku harus mengurus berkas berkas ku.
Mungkin cahaya menjauhi ku, kenapa dia harus mengganti no handphone nya?? Atau handphone nya yang rusak??
Banyak pertanyaan yang ada di kepalaku, tetapi tidak bisa ku jawab. Aku hanya harus berhasil menjadi polisi agar aku bisa lebih mudah mencari cahaya. Hanya itu keinginanku saat ini.