Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.
Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.
Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode — 35.
Malam mulai larut.
Setelah insiden itu, acara International Gala Dinner tetap dilanjutkan. Namun suasananya berubah. Jika sebelumnya para tamu hanya mengenal Zahira sebagai General Manager muda dari Wiranata Corp, kini hampir semua peserta mengetahui bahwa wanita itu baru saja menjadi korban fitnah yang berhasil dipatahkan dengan bukti-bukti yang tak terbantahkan.
Revan memperhatikan Zahira dari kejauhan. Wanita itu tetap melayani setiap percakapan dengan senyum yang tenang, seolah kejadian beberapa puluh menit lalu tidak pernah terjadi.
"Pak." Sekretarisnya mendekat.
"Hm?"
"Polisi Singapura meminta Bapak datang besok pagi untuk memberikan keterangan tambahan."
"Aku akan datang."
"Lalu pelaku yang menyamar sebagai staf hotel juga sudah mengaku."
Revan mengalihkan pandangannya dari Zahira pada sekretarisnya. "Dia mengaku?"
"Iya."
"Apa katanya?"
"Semuanya dilakukan atas perintah Almira. Kayla juga ikut memberikan uang muka.“
"Itu sudah cukup."
"Tidak ada tindakan lain?"
"Belum perlu."
Sekretaris itu tampak heran. "Pak, bukankah ini kesempatan untuk menghancurkan Capital Group?"
"Aku tidak pernah tertarik menghancurkan perusahaan orang lain, aku hanya ingin setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya."
Sekretaris itu tersenyum tipis, Ia sudah menduga jawaban tersebut.
Tak lama kemudian, acara gala dinner resmi berakhir. Para tamu mulai meninggalkan ballroom.
Di koridor hotel, Deris berdiri seolah sedang menunggu seseorang. Begitu melihat Zahira berjalan bersama Revan, ia melangkah mendekat.
"Ra."
Zahira menghentikan langkahnya. "Ada apa, Mas?“
"Aku cuma ingin memastikan... kamu baik-baik saja setelah kejadian tadi."
"Aku baik." Jawab Zahira.
"Lega mendengarnya." Deris mengangguk pelan, ia menoleh kepada Revan. "Terima kasih, karena sudah melindungi Zahira.“
Kening Revan mengernyit dalam, wajahnya tampak dingin. "Aku tidak melakukannya untuk mendapat ucapan terima kasih dari siapapun, apalagi darimu."
"Aku tahu." Deris tersenyum pahit. "Tapi tetap saja... terima kasih."
Deris kembali memandang Zahira. "Dulu, saat kamu membutuhkan seseorang untuk berdiri di sampingmu... aku justru menjadi orang pertama yang meragukanmu. Hari ini aku melihat sendiri, bagaimana seharusnya seseorang memperlakukan perempuan yang dia sayangi."
Perkataan mantan suaminya itu membuat Zahira menghela napas pelan.
“Ra, aku tidak akan mengganggumu lagi." Deris mengembuskan napas panjang, tatapannya beralih kepada Revan. "Tolong... jaga dia."
Revan menatap Deris tanpa mengubah ekspresinya. “Deris, kamu hanya mantan Zahira. Tidak perlu mengatakan hal-hal yang sudah bukan menjadi hakmu lagi.”
Ucapan Revan terdengar cukup dingin untuk membuat Deris terdiam, pria itu menundukkan pandangannya sejenak sebelum mengangguk pelan.
“Aku mengerti.” Senyum pahit terukir di bibir Deris. “Maaf... aku sudah kelewatan.”
Setelah mengucapkan itu, Deris memberi anggukan kecil kepada Revan dan Zahira.
“Aku permisi.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkah pergi. Kali ini, ia benar-benar sadar bahwa dirinya telah kehilangan hak untuk ikut campur dalam kehidupan Zahira.
Ia berbalik.
Namun, kali ini langkahnya tidak lagi berat. Karena Deris tahu, perempuan yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya kini telah menemukan seseorang yang benar-benar mampu menghargainya.
...*****...
Malam terakhir di Singapura.
Business Leadership Summit resmi ditutup dengan jamuan makan malam sederhana yang hanya dihadiri para delegasi utama. Setelah seluruh rangkaian acara selesai, para tamu mulai meninggalkan ballroom satu per satu.
Lampu-lampu kota Singapura berkilauan di balik dinding kaca hotel. Zahira berdiri di balkon luar ballroom sambil menikmati angin malam.
Suara langkah kaki mendekat dari belakang.
"Aku tahu kamu ada di sini."
Zahira menoleh, Revan berdiri beberapa langkah darinya dengan kedua tangan berada di saku celana. "Kamu tidak ikut yang lain?"
"Aku ingin menghirup udara sebentar."
Revan mengangguk pelan, lalu berdiri di sampingnya. Untuk beberapa saat keduanya sama-sama diam menikmati pemandangan malam.
"Aku masih sulit percaya semuanya sudah selesai."
"Belum semuanya."
"Maksudmu?"
"Masih ada satu hal yang belum pernah ku selesaikan."
Zahira memandangnya dengan tatapan penasaran.
Revan tersenyum tipis, ia mengembuskan napas perlahan. "Dari dulu, aku pernah berjanji pada diriku sendiri."
"Janji apa?"
"Kalau suatu hari nanti kamu benar-benar bebas..." Revan menghentikan kalimatnya selama beberapa saat. "...aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
Zahira mengernyit pelan. "Revan, apa maksudmu?"
"Dari dulu... ada satu hal yang tidak pernah sempat kusampaikan." Tatapan Revan lurus menatap langit malam, ia mengembuskan napas pelan.
Zahira menunggu tanpa memotong perkataan Revan.
"Aku menyukaimu sejak SMA." Revan akhirnya menyatakan perasaannya.
"Aku tahu." Zahira tersenyum.
"Kamu tahu? Sejak kapan?" Kali ini justru Revan yang tampak terkejut.
"Bukan saat kita masih sekolah." Zahira menggeleng pelan. "Beberapa minggu setelah kelulusan, Nina yang mengatakannya padaku."
"Jadi... akhirnya kamu tahu juga." Revan menghela napas sambil tertawa kecil.
"Iya."
"Lalu kenapa kamu tidak pernah menghubungiku?" tanya pria itu.
Zahira tersenyum tipis. "Karena saat itu, aku sudah bertemu Mas Deris. Lagipula, aku juga gak pernah yakin apakah yang Nina katakan benar atau hanya tebakannya saja."
"Nina memang tahu perasaanku waktu itu."
"Dia bilang, kamu bukan tipe laki-laki yang pandai mengungkapkan perasaan.“
"Sebenarnya bukan karena itu saja," Revan tersenyum tipis. "Aku juga nggak ingin membuatmu berada dalam posisi sulit menjelang kelulusan. Jadi kupikir... kalau memang berjodoh, setelah lulus aku masih punya kesempatan."
"Lalu?"
"Aku datang mencarimu." Tatapan Revan perlahan berubah sendu. "Tapi aku mendapat kabar kalau kamu sudah bersama orang lain."
"Maaf..." Zahira menundukkan pandangannya sejenak.
Revan langsung menggeleng. "Jangan minta maaf, kamu nggak melakukan kesalahan apa pun. Waktu itu kamu gak pernah tahu perasaanku, dan mungkin... memang belum waktunya."
"Dan ternyata... hidup membawa kita bertemu lagi setelah sekian tahun." Zahira tersenyum lembut.
“Bedanya sekarang, aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan terus memendam semuanya." Revan menarik napas panjang. "Ra... aku tahu pernikahanmu baru saja berakhir. Aku juga tahu kamu membutuhkan waktu untuk menata hidupmu kembali. Jadi, aku gak ingin memaksamu. Karena itulah... aku menunggu sampai semua urusanmu benar-benar selesai. Menunggu sampai kamu kembali menjadi dirimu sendiri."
Suara Revan tetap lembut. "Lalu hari ini, aku ingin meminta sesuatu secara baik-baik. Zahira, maukah kamu memberiku kesempatan... untuk menjadi laki-laki yang bisa mendampingimu?“
Tatapan Revan tidak bergeser sedikit pun dari wajah Zahira. "Hari ini aku tidak ingin berdiri di hadapanmu sebagai teman SMA, ataupun atasanmu. Aku ingin berdiri sebagai laki-laki yang ingin menjalin hubungan serius denganmu. Zahira, aku memintamu menjadi kekasihku."
Zahira menahan napas, jantungnya berdetak lebih cepat saat menatap pria yang berdiri di hadapannya.
“Aku tidak memintamu menjawab malam ini,” ucap Revan dengan suara lembut. “Kalau kamu masih butuh waktu, aku akan menunggu. Aku sudah menunggu selama bertahun-tahun, menunggu sedikit lebih lama lagi gak akan mengubah perasaanku padamu.”
Mata Zahira perlahan memanas, karena ternyata ada seorang pria yang memperlakukannya dengan begitu penuh penghargaan. Revan tidak pernah mendesaknya, dan tak pernah memanfaatkan saat dirinya sedang rapuh.
Senyum tipis menghiasi wajah Zahira.
“Revan... aku memng pernah terluka, karena itu, aku jadi lebih hati-hati dalam membuka hati. Aku juga tak ingin terburu-buru lagi. Aku sudah pernah salah memilih, dan aku tidak mau mengulanginya.”
“Aku mengerti,” jawab Revan dengan tenang. “Karena itu aku tidak akan memaksamu, yang kuinginkan hanya satu kesempatan. Kamu gak perlu harus segera mencintaiku, Ra. Aku akan membuktikan, kalau kali ini kamu tidak memilih pria yang salah.”
Kata-kata tulus Revan membuat senyum Zahira semakin lebar, Ia menatap Revan cukup lama seolah memastikan ketulusan yang selama ini diam-diam sudah ia ketahui sejak masa SMA.
“Aku rasa, kamu sudah membuktikannya,” ucap wanita itu lirih, Zahira menarik napas pelan. “Kalau laki-laki lain mungkin sudah menyerah setelah bertahun-tahun, tapi kamu tetap menungguku. Bahkan... saat aku menjadi istri orang lain, kamu tetap menjaga batas dan menghormati pilihanku.”
“Karena sejak awal, aku tidak ingin memilikimu dengan cara yang salah.” Tatapan Revan melembut.
Senyum Zahira akhirnya berubah menjadi tawa kecil. “Kalau begitu... aku mau memberimu kesempatan itu.”
Untuk sesaat, Revan hanya menatap Zahira seakan memastikan dirinya tidak salah dengar. “Kamu serius?”
Zahira mengangguk sambil tersenyum. “Iya. Aku ingin mencoba mengenalmu, bukan lagi sebagai teman SMA, tapi sebagai laki-laki yang ingin berjalan beriringan bersamaku.”
“Berarti... sekarang aku resmi boleh mengejarmu?” Senyum di wajah Revan akhirnya mengembang tanpa bisa ia sembunyikan.
Zahira mengangguk kecil. “Boleh, tapi ada syaratnya.”
“Sebutkan.”
“Di kantor, kita tetap profesional. Aku tidak mau ada yang mengira posisiku berubah hanya karena hubungan kita.”
Revan tersenyum hangat. “Tenang saja, Ra. Bahkan kalau suatu hari kamu menjadi pendamping hidupku, aku tetap akan menghargaimu sebagai perempuan yang berdiri dengan kemampuannya sendiri.”
Kalimat itu membuat pipi Zahira memerah tipis. “Pandai sekali bicara.”
“Bukan pandai, aku hanya mengatakan apa yang memang sudah lama ingin kukatakan.”
Keduanya tertawa pelan.
Di bawah gemerlap lampu kota Singapura, tidak ada pelukan, dan tak ada janji yang berlebihan. Hanya dua hati yang akhirnya memilih melangkah ke arah yang sama, setelah dipertemukan kembali pada waktu yang paling tepat.
kalo papamu ngikutin kemauan kamu, semuanya bisa kena, bisa bangkrut, aneh berpendidikan tapi otaknya ga dipake
Dan kesalahan tu yg bikin mereka gx ingin melihat Dunia luar lgii ,, 😏😏😏😏😏😏
dsnii bakal keliatan ,,
mana yg berdiri dg kaki ny ,,
Dan mana yg berdiri msh menggunakan kaki orang tuany ,, 😒😒😒😒🤭🤭🤭🤭