Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 - PESTA PANEN YANG KACAU
Pesta Panen Kerajaan Langit adalah pesta terbesar dalam setahun.
Setahun sekali, setelah semua padi emas di sawah-sawah perbatasan dipanen, semua kepala desa, semua bangsawan dari kerajaan tetangga, dan semua rakyat pilihan akan diundang ke Balairung Langit untuk merayakan kemakmuran.
Balairung Langit hari ini dihias dengan sangat indah. Ribuan padi emas yang masih ada tangkainya digantung di langit-langit, ribuan lentera minyak digantung di setiap pilar, dan di tengah Balairung ada gunungan hasil bumi setinggi tiga meter, terdiri dari padi, jagung, pisang, dan buah-buahan lain.
Aroma harum padi dan bunga melati memenuhi seluruh istana.
Aku datang dengan gaun emas sederhana yang sudah dimodifikasi sedikit oleh Mbok agar tidak terlalu berat. Gaun itu berwarna emas pucat, bukan emas menyala seperti selir-selir lain. Di bibirku, aku memakai lipstik merah delima yang tipis saja, tidak tebal. Di dalam selendang emas ku, aku menyelipkan kotak P3K kecil yang sudah aku isi dengan oralit, arang aktif, dan plester. Jaga-jaga, kata Mbok. Karena setiap pesta besar di istana, pasti ada saja yang pingsan karena kepanasan atau kekenyangan.
Segara El-Bhumi duduk di singgasana naga hitamnya, memakai jubah kaisar lengkap berwarna hitam dengan sulaman naga emas. Wajahnya dingin dan datar seperti biasa, tatapan Kaisar Tanpa Hati yang membuat semua bangsawan menunduk takut. Tapi saat matanya bertemu dengan mataku yang baru masuk, matanya yang dingin itu sedikit melunak dan telinganya yang terlihat dari balik mahkotanya, sedikit memerah.
Ibu Suri duduk di singgasana samping yang sedikit lebih rendah, memakai gaun ungu tua yang anggun. Wajahnya tersenyum lembut ke semua bangsawan, tapi saat menatapku, senyumnya agak kaku.
Lima selir yang kemarin aku rias, datang dengan wajah yang sangat cantik dan percaya diri. Bibir mereka semua merah merona dengan sisa lipstik merah delima yang aku bagi kemarin. Mereka duduk dengan anggun dan saat melihatku, mereka semua tersenyum tulus dan melambaikan tangan kecil padaku. Tidak ada lagi tatapan iri.
Pesta dimulai dengan tarian persembahan.
Sepuluh penari perempuan dengan gaun hijau daun menari di tengah Balairung dengan gerakan yang lembut seperti padi yang tertiup angin. Musik gamelan pelan mengalun indah.
Semua orang terpukau. Termasuk aku.
Di tengah tarian, pelayan-pelayan istana berkeliling membawakan anggur beras hasil panen baru dan kue-kue beras untuk semua tamu.
Seorang pelayan dengan nampan perak datang ke arah para penari dan memberikan anggur beras kepada penari utama yang sedang berhenti menari sejenak karena haus.
Penari utama itu, seorang gadis desa yang cantik berumur 18 tahun, meminum anggur itu dengan satu tegukan karena haus setelah menari.
Satu detik. Dua detik.
Tiba-tiba, gadis penari itu memegang lehernya. Matanya membelalak. Wajahnya pucat.
"Ugh... ugh..."
Gelas anggur di tangannya jatuh dan pecah. *Prang!*
Tubuh gadis itu kejang-kejang dan jatuh pingsan di tengah Balairung, mulutnya mengeluarkan busa putih.
Satu Balairung hening total. Musik gamelan berhenti.
"Racun! Ada racun di anggur pesta!" teriak Tabib Ageng yang duduk di dekat penari itu.
Semua bangsawan panik dan berdiri. Para pengawal langsung menghunus pedang dan mengelilingi singgasana Kaisar.
"Jangan minum anggur! Jangan minum anggur! Semua letakkan gelas!" teriak pengawal.
Suasana pesta panen yang tadinya indah dan harum padi, dalam sekejap berubah menjadi kepanikan dan ketakutan. Ibu-ibu bangsawan menjerit, anak-anak menangis.
Segara langsung berdiri dari singgasananya. Wajahnya yang tadinya dingin, sekarang merah padam karena marah besar.
"Siapa yang berani meracuni pesta panen Kerajaan Langit!" bentaknya dengan suara menggelegar yang membuat seluruh Balairung bergetar.
Matanya menyapu seluruh Balairung, mencari pelaku.
Aku yang duduk tidak jauh dari penari yang pingsan itu, melihat anggur yang tumpah di lantai. Warnanya agak keruh, tidak bening seperti anggur beras biasanya. Dan ada sedikit endapan putih di dasar gelas yang pecah itu.
Di kepalaku, Sistem berbunyi dengan cepat.
[DETEKSI RACUN: RACUN PERUT JENIS KECUBUNG PUTIH KADAR RENDAH. TIDAK MEMATIKAN, TAPI MENYEBABKAN MUNTAH HEBAT, KEJANG, DAN PINGSAN. BISA DIATASI DENGAN ARANG AKTIF + ORALIT + AIR KELAPA MUDA]
Racun perut biasa. Bukan racun mematikan seperti serbuk kecubung hitam. Pelakunya tidak ingin membunuh, hanya ingin membuat pesta panen kacau.
Tapi penari itu harus segera ditolong. Jika tidak, dia bisa kehabisan napas karena busa di mulutnya.
Tanpa pikir panjang, aku yang biasanya penakut dan selalu sembunyi di belakang Segara, kali ini maju ke depan.
Padahal Segara sudah menarik tanganku dari belakang dan berbisik keras, "Kahiyang, jangan! Berbahaya! Biar Tabib Ageng yang urus!"
Aku melepaskan tangan Segara dengan pelan dan berkata, "Gusti Kaisar, Tabib Ageng tidak punya obatnya. Saya punya. Izinkan saya."
Aku berlari ke tengah Balairung yang panik, mengangkat gaun emas ku, dan jongkok di samping penari yang kejang-kejang itu. Gaun emas sederhana ku langsung kotor terkena anggur yang tumpah dan busa dari mulut penari itu. Tapi aku tidak peduli.
"Mbok! Air kelapa muda! Cepat! Dan arang dari dapur! Yang masih hitam!" teriakku pada Mbok yang berdiri gemetar di sudut Balairung.
"Tabib Ageng, tolong miringkan tubuhnya agar busanya tidak masuk ke paru-paru!" perintahku pada Tabib Ageng yang masih membeku.
Mendengar perintahku yang tegas, Tabib Ageng langsung bergerak dan memiringkan tubuh penari itu.
Aku membuka kotak P3K kecil di balik selendang ku. Aku mengambil arang aktif yang sudah aku tumbuk halus, mencampurnya dengan air kelapa muda yang baru datang dibawa pelayan dengan napas terengah.
"Minum ini, Dek. Muntahkan semua racunnya," bisikku sambil meminumkan ramuan arang hitam itu ke mulut penari yang masih kejang.
Penari itu langsung muntah hebat. Muntahan hitam keluar semua, beserta anggur beracun itu.
Setelah muntah, aku memberikan oralit yang sudah aku campur air hangat.
"Minum ini pelan-pelan, biar tidak dehidrasi."
Satu menit. Dua menit. Kejangnya berhenti. Napasnya yang tadinya sesak, mulai teratur kembali. Busa di mulutnya hilang.
Penari itu membuka matanya dengan lemah. "Gusti... Permaisuri..."
Satu Balairung yang tadinya panik dan menjerit, sekarang hening total, menatapku yang jongkok di tengah Balairung dengan gaun emas kotor karena muntahan dan arang hitam.
Lalu, dari sudut Balairung, seorang kepala desa tua berteriak, "Permaisuri Obat Dewa! Permaisuri Obat Dewa menyelamatkan penari!"
Diikuti oleh teriakan-teriakan lain.
"Permaisuri Obat Dewa!"
"Permaisuri Obat Dewa!"
Sorakan itu menggema di seluruh Balairung Langit yang besar itu.
Segara berjalan mendekatiku dengan langkah cepat. Wajahnya masih marah karena ada yang berani meracuni pestanya, tapi matanya saat menatapku yang jongkok di lantai dengan gaun kotor, matanya berkaca-kaca.
Dia tidak peduli gaunku kotor. Dia langsung menggendong penari yang sudah sadar itu dan memberikannya pada Tabib Ageng untuk dibawa ke ruang tabib.
Lalu dia menarikku berdiri dan memeluk bahuku di depan semua bangsawan.
"Lihat! Lihat permaisuri kalian!" teriaknya dengan suara menggelegar, tapi bukan marah, tapi bangga. "Saat kalian semua panik dan menjerit, permaisuriku maju dan menyelamatkan satu nyawa! Inilah Permaisuri Mawar! Permaisuri Obat Dewa!"
Satu Balairung bersorak semakin keras.
Dari singgasana samping, Ibu Suri yang wajahnya pucat, tangannya meremas ujung gaun ungu tuanya dengan keras sampai kukunya hampir patah. Rencana untuk membuat pesta panen kacau agar aku dipermalukan karena tidak bisa mengatasi racun, gagal total. Malah aku yang menjadi pahlawan.
Selir Jelita yang duduk di dekat Ibu Suri, menatapku dengan tatapan kagum dan bersalah. Dia menggeleng pelan ke arah Ibu Suri, seolah berkata, "Saya tidak ikut meracuni pesta ini, Ibu Suri. Saya sudah berhenti."
Malam itu, pesta panen tetap dilanjutkan, tapi tanpa anggur. Semua orang makan kue beras dengan air putih.
Dan aku, dengan gaun emas kotor karena muntahan dan arang hitam, duduk di samping Segara di singgasana, dengan senyum lelah tapi puas.
Alurnya memang kacau hari ini, ada racun di pesta panen.
Tapi ngena sekali, karena di tengah kepanikan dan muntahan hitam itu, aku melihat Segara menatapku bukan sebagai permaisuri yang harus dia lindungi, tapi sebagai permaisuri yang bisa dia banggakan di depan seluruh Kerajaan Langit.