kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (◠‿◕)
Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?
Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK YANG TERSEMBUNYI DAN RASA DINGIN YANG DATANG.
Sejak pagi itu, dunia gue rasanya berubah warna. Bukan lagi cerah dan riuh kayak biasanya—sekarang tiap sudut, tiap lorong, tiap bayangan yang lewat bikin gue menoleh cepat. Kayak ada mata yang nggak kelihatan, mengawasi terus.
Arka nggak bohong. Tiap kali kita lewat di dekat Callysta, tatapannya bukan sekadar cemburu. Ada sesuatu yang lebih tajam, lebih dingin—kayak orang yang lagi menunggu momen pas buat ngejebak.
Siang itu istirahat, gue jalan ke perpustakaan sendirian—cuma sebentar, pikir gue, ambil buku terus balik. Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar di belakang, pelan, nggak mendekat tapi nggak menjauh juga. Gue berhenti, menoleh. Lorong kosong. Tapi ujung koridor, bayangan seseorang melesat cepat ke balik pintu.
Jantung gue berdegup kencang. Gue buru-buru balik, nggak jadi ke perpustakaan. Pas sampai di kelas, Arka udah nunggu di depan pintu, mukanya tegang banget.
"Lo tadi ke mana?" tanyanya cepat, langsung nyamperin.
"Ke perpustakaan... tapi nggak jadi. Ada yang ngekor gue, Arka. Gue nggak lihat wajahnya, tapi ada..."
Arka mengerutkan kening, tangannya menggenggam bahu gue pelan tapi erat. "Lo lihat jelas siapa?"
"Nggak. Cuma bayangan. Tapi... rasanya kayak bukan Callysta doang."
Dia diam sejenak, lalu menghela napas berat. "Gue juga nemu sesuatu. Kemarin gue cek nama keluarga Callysta—ternyata mereka punya hubungan bisnis yang putus sama keluarga kita bertahun-tahun lalu. Dengan cara yang nggak baik."
Gue menelan ludah. "Jadi ini... soal dendam lama?"
"Kelihatannya begitu. Dan Callysta nggak sendirian. Gue curiga ada orang dewasa di belakangnya yang ngarahin semua ini." Arka menatap gue lekat-lekat. "Itulah kenapa gue takut, Aluna. Ini bukan soal cinta sekolah lagi. Ini soal masa lalu yang nyangkut ke kita."
Sore itu, kita nggak pulang langsung. Arka ngajak gue ke tempat pertemuan gengnya—tempat tersembunyi di pinggir kota, di antara pepohonan rimbun, tempat mereka biasa kumpul. Raka, Zian, Dipo, sama Bimo udah di sana duluan, duduk melingkar, wajahnya serius banget.
"Gue panggil kalian karena situasinya udah nggak biasa," buka Arka, suaranya tenang tapi berat. "Mulai sekarang, Aluna nggak boleh pergi sendirian. Ke mana pun—pulang sekolah, ke kantin, ke mana aja—harus ada yang temenin."
"Siap, Bos!" Raka langsung angguk, mukanya nggak bercanda kayak biasanya. "Gue jaga di gerbang pagi, Zian temenin pas istirahat. Dipo sama Bimo pantau jalan pulang."
Gue berdiri tegak, dada bergemuruh. "Hei, gue bukan anak kecil yang harus dijaga terus lho! Gue bisa ikut cari tahu juga!"
Arka menatap gue, lembut tapi tegas. "Gue tahu lo hebat, berani, barbar—itu yang gue suka. Tapi ini berbahaya, Aluna. Gue nggak mau lo kena apa-apa."
"Gue juga nggak mau lo hadapin sendirian!" Gue pegang kedua tangannya erat. "Kita tim, kan? Tim rahasia? Bareng-bareng, dari awal kita udah sepakat!"
Dia terdiam, menatap mata gue lama banget, akhirnya mengangguk pelan. "Oke. Bareng. Tapi janji—dengerin gue kalau gue bilang mundur. Jangan nekat."
"Janji!" Gue ketuk dada.
Malam itu, gue nggak bisa tidur. Gue bangun, turun ke ruang tengah, mau minum air. Tiba-tiba gue dengar suara bicara pelan dari ruang kerja Ayah. Pintunya sedikit terbuka.
"...sudah mulai bergerak," suara Ayah terdengar berat. "Kalau mereka tahu anak-anak terlibat langsung..."
"Kita nggak bisa lindungi mereka selamanya," suara Bunda, bergetar. "Mereka harus tahu semuanya, Abian."
"Belum sekarang, Stella. Kalau mereka tahu siapa musuh sebenarnya..." Ayah berhenti, menghela napas panjang. "Mereka bisa dalam bahaya lebih besar."
Gue berdiri kaku di balik dinding. Siapa? Siapa musuh yang begitu ditakuti?
Tiba-tiba HP gue bergetar pelan di saku. Pesan masuk, nomor yang sama:
"Lo pikir mereka jujur sama lo? Mereka sembunyikan kebenaran yang bisa hancurkan dunia lo. Cari tahu sendiri sebelum terlambat."
Tangan gue dingin. Gue balas: "Siapa lo? Apa yang lo mau?"
Balasan datang cepat:
"Bukan aku yang mau. Ini pembayaran utang lama. Dan lo bagian dari rencananya."
Gue buru-buru simpan HP, nggak berani baca lagi. Pintu ruang kerja terbuka. Gue cepat-cepat naik ke kamar, jantung berpacu kencang.
Berdiri di balik pintu kamar, gue sadar satu hal: Bunda sama Ayah, Daddy sama Mommy Arka—mereka tahu lebih banyak dari yang mereka bilang. Dan mereka takut. Bukan cuma soal masa lalu, tapi soal siapa yang kembali.
Pagi berikutnya, suasana di sekolah berubah. Callysta nggak muncul. Teman-temannya bilang dia sakit, tapi tatapan mereka aneh—takut, bukan sedih.
Arka nyamperin gue pas masuk gerbang, mukanya pucat. "Aluna... tadi Daddy telepon. Rumah Callysta kosong. Mereka pindah semalam tanpa kabar siapa pun."
Gue ternganga. "Pindah? Ke mana?"
"Nggak ada yang tahu. Seperti lenyap." Arka menggenggam tangan gue erat, dingin dan tegang. "Ini bukan pergi biasa, Aluna. Ini tanda. Mereka mundur sebentar... untuk datang lebih kuat nanti."
Langit pagi itu mendung, gelap banget seolah mau malam. Gue menatap ke depan, ke arah gerbang yang perlahan tertutup kabut tipis. Permainan belum berakhir. Justru sebaliknya—bayangan yang selama ini bersembunyi mulai melangkah keluar.
Dan kita harus siap.