Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Malamnya Arhan kembali melanjutkan naskahnya.
Anya sudah tertidur sejak jam sepuluh. Obat malam membuatnya cepat terlelap. Di kamar, napas Anya terdengar pelan, teratur. Selimut menutupi tubuhnya sampai dada. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya lampu kecil di sudut yang menyala temaram.
Di ruang tengah, Arhan duduk di depan laptop. Di sampingnya ada segelas kopi hangat yang baru ia buat. Uapnya naik pelan, aroma kopi bercampur dengan aroma kayu dari meja yang sudah lama. Rumah kecil itu sepi, hanya suara jam dinding dan ketukan keyboard Arhan yang terdengar.
Ia melanjutkan naskah yang sore tadi tertunda. Tentang bunga yang tumbuh di musim hujan, tentang wanita yang menunggu di jendela. Kalimat demi kalimat ia ketik, sesekali berhenti, menghapus, lalu mengetik lagi. Kopinya ia sesap pelan, sudah mulai dingin.
Waktu berjalan tanpa terasa. Di luar, angin malam masuk melalui celah jendela. Lampu teras tetangga sudah padam satu per satu. Anjing di ujung gang menggonggong sebentar lalu diam lagi.
Hingga waktu menunjukkan pukul 2 malam.
Tangannya berhenti mengetik naskah. Punggungnya terasa pegal, matanya perih, lehernya kaku karena terlalu lama menunduk. Ia bersandar di kursi, menatap layar yang masih menyala. Naskahnya sudah bertambah tiga halaman, tapi kepalanya terasa kosong. Kursor berkedip di akhir kalimat yang belum selesai.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping kopi. Layar menyala, menampilkan jam dua lewat sepuluh. Tidak ada pesan baru. Hanya pantulan wajahnya sendiri yang lelah di layar hitam.
Arhan membuka galeri. Jarinya menggulir pelan, melewati foto-foto obat, foto struk rumah sakit, foto lily putih di gelas. Semuanya foto-foto beberapa minggu terakhir yang isinya hanya rumah sakit dan obat. Lalu tangannya berhenti di satu video yang warnanya lebih terang dari yang lain.
Pernikahannya bersama Anya.
Tangannya berhenti. Ia menekan play.
Di dalam video itu Anya terlihat sangat cantik. Memakai gaun putih yang sederhana, tidak mengembang seperti gaun di gedung mewah, tapi pas di tubuhnya. Di tangannya ada bunga yang indah, buket kecil dari lily putih dan baby breath yang ia rangkai sendiri pagi itu.
Pesta itu tidak berlangsung meriah. Acara yang sederhana. Dihadiri hanya beberapa orang saja. Kursi plastik putih, tenda kecil di halaman rumah, kue pernikahan yang dibuat oleh ibu Arhan. Tidak ada musik keras, hanya gitar akustik memainkan lagu yang romantis.
Di video itu, Arhan terlihat memakai kemeja putih yang sedikit kebesaran, rambutnya masih agak berantakan karena angin. Ia menatap Anya tanpa berkedip, seperti takut Anya hilang jika ia berkedip.
Lalu terdengar suara Arhan di dalam video, agak malu-malu tapi jelas, dengan suara yang masih muda.
"Sayang, kamu cantik banget pakai gaun itu," ucap Arhan di dalam video.
Anya yang mendengar itu langsung tersipu. Pipinya memerah, ia menunduk sambil memegang buketnya erat. Bunga di tangannya sedikit bergetar karena tangannya gemetar menahan malu.
"Masa? Ah perasaan aku... Aku gak ada bedanya," jawab Anya dengan suara pelan, masih dengan logat malunya yang khas.
Arhan di dalam video itu mengangguk, matanya tidak lepas dari Anya.
"Bener kok An. Kamu cantik banget," katanya lagi, kali ini lebih pelan.
Di video itu terlihat jelas, tenda sederhana itu bergoyang pelan karena angin sore. Tidak ada dekorasi mewah. Hanya pita putih yang diikat di tiang bambu. Tapi Anya terlihat bahagia sekali, bahagia yang tidak dibuat-buat. Matanya tidak pernah lepas dari Arhan, seolah hanya Arhan satu-satunya orang di halaman itu.
Melihat video itu, Arhan yang duduk di ruang tengah jam dua malam itu tersenyum. Senyum yang muncul dengan sendirinya, tanpa ia perintah. Dia ingat momen indah itu. Hari di mana mereka tidak punya banyak uang, tidak punya pesta besar, tapi mereka punya janji yang terasa lebih besar dari gedung mana pun.
Video itu selesai, layar kembali ke galeri. Suara jangkrik dari luar terdengar lagi.
Matanya mulai mengantuk. Kopi di sampingnya sudah dingin sepenuhnya. Kelopak matanya terasa berat, pandangannya mulai buram. Ia menguap pelan, menyandarkan kepala ke kursi.
Lalu samar-samar, di tengah kantuk yang hampir menariknya tidur, Arhan mendengar sesuatu.
Bukan dari video. Bukan dari luar.
Suara seseorang meringis. Menahan rasa sakit. Pelan, tertahan, seperti tidak ingin membangunkan siapa pun.
Arhan langsung menegakkan punggungnya. Kantuknya hilang seketika, seperti disiram air dingin.
Ia mematikan ponselnya, meletakkannya dengan cepat di atas meja sampai gelas kopinya bergeser. Suara itu datang dari kamar.
"An?" panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban, hanya suara meringis lagi, lebih jelas sekarang, disertai napas yang tertahan.
Arhan segera berjalan cepat ke kamar Anya. Langkahnya tergesa, hampir menabrak kursi, sandal terlepas satu.
Di dalam kamar, lampu kecil masih menyala temaram. Anya sudah terbangun, duduk setengah bersandar di kepala kasur. Wajahnya pucat, jauh lebih pucat dari sore tadi. Dahinya berkeringat dingin, bibirnya pucat, tangannya memegang perutnya dengan erat. Matanya terpejam kuat menahan sesuatu.
Ternyata benar, wajah Anya terlihat menahan rasa sakit yang besar.
Arhan berlutut di samping kasur, meraih tangan Anya yang dingin dan basah oleh keringat.
"Anya kamu kenapa An?" kata Arhan, suaranya panik, pelan tapi gemetar.
Anya membuka matanya perlahan. Air mata sudah menggenang di sudut matanya, lalu mengalir tanpa bisa ditahan. Ia mencoba bicara, tapi napasnya tersengal, terputus.
Anya terlihat meneteskan air matanya, satu tetes jatuh ke pipi, lalu ke bantal.
"Sakit. Sakit banget Han," kata Anya dengan suara hampir berbisik, menahan isak yang membuat bahunya bergetar.
Arhan duduk di sebelahnya, memegang bahu Anya dengan hati-hati, takut menyakiti bagian yang sakit. Tangannya mengusap pelan rambut Anya yang basah.
"Sakit kenapa? Sakit kamu kambuh lagi An?" tanya Arhan, matanya mulai berkaca-kaca, suaranya pecah.
Anya mengangguk sambil menahan rasa sakit. Tangannya mencengkeram selimut, kukunya memutih. Napasnya terengah-engah, tidak teratur dan wajahnya terlihat begitu pucat.
"Iya... perut... perut aku sakit banget... kayak ditusuk-tusuk Han," kata Anya terputus-putus.
Arhan tidak berpikir panjang lagi. Ia meraih ponselnya yang tadi ia letakkan di meja ruang tengah, kembali ke kamar dengan napas yang juga terengah.
"Tung... Tunggu aku akan segera menghubungi rumah sakit. Supaya mereka segera mengirimkan ambulans," kata Arhan, suaranya bergetar hebat, jarinya gemetar menekan nomor rumah sakit yang sudah ia hafal di luar kepala.
Di luar, jam menunjukkan pukul dua lewat dua puluh malam. Kopi dingin masih di atas meja, laptop masih menyala dengan naskah yang belum selesai, dan malam ini, di kamar, Anya tengah menahan sakit dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.