NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:817k
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Jangan Coba Kabur Lagi

Alden melangkah mendekati ranjang.

Dulu, ia selalu berusaha menjaga jarak. Tidur satu kamar saja sudah cukup membuatnya kesal, apalagi harus berbagi ranjang dengan Belvina. Karena itu, sofa di sudut ruangan selalu menjadi pilihannya.

Namun malam ini, pikirannya berbeda.

Belvina baru saja hampir terlelap ketika sisi kasur di sebelahnya turun perlahan, menandakan seseorang naik ke atas ranjang.

Matanya langsung terbuka. Spontan ia langsung berbalik.

“Mau apa kau?”

Alden sudah berbaring setengah badan di ranjang.

“Tidur," jawabnya santai.

Belvina menunjuk ke sofa. “Tempatmu di sana.”

“Tidak mau.” Alih-alih menjauh, Alden malah bergeser mendekat.

“Kau bilang tidak mau tidur denganku.” Belvina mendorong dadanya. “Pindah sana.”

“Besok aku ke kantor.” Nada Alden datar. “Aku tidak mau bangun dengan badan pegal karena sofa.”

Tangannya meraih pinggang Belvina dan menariknya kembali ke posisi semula.

“Alden! Lepas!”

Belvina mendorong lagi. Tidak bergerak sedikit pun.

Alden menunduk tipis, wajahnya cukup dekat hingga napasnya terasa.

“Diam,” ucapnya rendah. “Atau aku tidak akan berhenti di ciuman seperti tadi siang.”

Belvina menelan ludah tipis. Tatapan pria itu menyebalkan… dan mengganggu keberaniannya.

Namun hanya sebentar. Detik berikutnya ia maju dan menggigit bahu Alden.

“Akh— Belvina!” Alden refleks melepas pegangannya. “Jangan uji kesabaranku.”

“Kalau begitu belajar punya batas.” Belvina turun dari ranjang. “Kalau kau mau tidur di sana, silakan. Aku pindah.”

Ia mengambil bantal, lalu berjalan ke sofa dengan hentakan kaki jelas terdengar. Bibirnya mengerucut kesal.

Tak lama kemudian ia sudah berbaring, menutup tubuh sampai kepala.

Beberapa detik berlalu tak ada suara dalam kamar itu.

Belvina tersentak saat sofa di bawahnya bergeser karena beban lain ikut naik.

Seketika ia membuka selimut. Matanya membulat.

Alden sudah berada di atas sofa sempit itu, satu tangan menahan sandaran, satu lagi di sisi lengannya, membuat ruang geraknya nyaris hilang.

“Kau—”

“Kalau kau pindah,” katanya tenang, “aku ikut.”

Belvina menatap tak percaya.

“Kau sudah gila?”

“Memang.”

“Pergi!”

Ia memukuli dada Alden dengan kedua tangan kecilnya, meski tahu itu nyaris tak berpengaruh.

“Kau membuat sofa ini sempit!”

Alden menunduk sedikit, seolah protes itu tak berarti apa-apa.

“Bagus,” ujarnya datar. “Jadi kau tidak bisa kabur lagi.”

Belvina menyipitkan mata. Ia hendak maju menggigit bahunya lagi.

Namun Alden sudah lebih cepat.

Satu tangan menahan kepalanya pelan, lalu bibir pria itu singgah singkat di bibirnya.

Cup.

“Alden!”

Belvina benar-benar kesal.

“Jangan menciumku tanpa izin!”

Dan respon yang ia dapat benar-benar mengejutkan, Alden malah terkekeh rendah.

Suara itu membuat Belvina terdiam sepersekian detik.

Ia belum pernah mendengar pria ini tertawa seperti itu. Bahkan dalam ingatan Belvina lama, momen seperti ini tidak pernah ada.

Namun sebelum sempat mencerna, tubuhnya mendadak terangkat.

“Alden!”

Pria itu menggendongnya begitu saja menuju ranjang.

“Mulai malam ini kita tidur di sini.”

“Tidak mau!”

“Aku tidak menerima penolakan.”

Belvina mendelik.

“Aku juga tidak menerima dominasi.”

“Aku tidak peduli.”

Alden meletakkannya di atas kasur, lalu menatap lurus.

“Kau istriku. Sah di mata hukum dan agama.”

Ia berhenti sejenak.

“Sudah seharusnya kau tidur denganku.”

Kalimat itu menyeret ingatan asing ke kepala Belvina.

Pesta pernikahan megah. Sorot kamera. Pose-pose mesra yang dipaksakan.

Cara Belvina lama menggenggam lengan pria ini di depan publik, seolah sedang memamerkan kemenangan.

Dan cara Alden menahan muak di balik wajah dingin.

Belvina tersentak saat punggungnya menyentuh kasur. Ia hendak bangkit lagi. Namun lengan Alden sudah lebih dulu melingkar dari belakang, menahan tubuhnya tetap di tempat.

Belvina menegang.

“Lepas.”

“Tidur.”

“Aku bisa gigit lagi.”

“Coba saja.”

Napas hangat pria itu menyentuh tengkuknya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Belvina tidak tahu… mana yang lebih menyebalkan.

Alden yang memeluknya. Atau jantungnya sendiri yang berdetak terlalu keras.

Belvina memandang lengan di pinggangnya lama.

“Brengsek,” gumamnya pelan.

Tapi ia tidak benar-benar melepaskannya.

 

Dalam beberapa menit, napas Alden mulai teratur. Ia tertidur.

Sedangkan Belvina? Sama sekali tidak bisa. Ia menatap langit-langit kamar dengan kesal.

Lengan pria itu masih melingkar di pinggangnya seperti borgol hidup.

Belvina menunggu.

Setelah beberapa menit berlalu, ia yakin Alden benar-benar lelap. Ia mulai bergerak perlahan. Sangat hati-hati.

Ia mengangkat tangan Alden sedikit demi sedikit, lalu menyelinap keluar dari pelukan itu seperti pencuri di rumah sendiri.

Berhasil.

Mata Belvina berbinar puas. Ia beringsut menjauh, menahan senyum kemenangan kecil. Akhirnya bebas.

Kakinya baru menyentuh lantai—

Tiba-tiba pinggangnya ditarik kuat ke belakang.

“Ah!”

Tubuhnya kembali jatuh ke kasur.

Dalam satu gerakan, lengan Alden sudah melingkar lagi, kali ini lebih erat dari sebelumnya.

Belvina membeku.

Pria itu bahkan belum membuka mata.

“Kalau kau coba kabur lagi,” gumamnya serak setengah tidur, “aku pastikan pagi nanti kau tak punya tenaga untuk bangun dari ranjang ini.”

Belvina menegang. Ia tahu persis maksud ancaman itu.

“Brengsek…” desisnya lirih.

Namun akhirnya ia menyerah. Tidak ada gunanya berdebat dengan pria keras kepala yang bahkan mengatur orang saat tidur.

 

Pagi menjelang bersama suara hujan deras di luar jendela.

Udara menjadi lebih dingin. AC yang masih menyala membuat selimut terasa kurang hangat.

Dalam tidurnya, Belvina bergerak tanpa sadar. Tubuhnya mencari sumber hangat terdekat.

Ia mendekat.

Wajahnya bersandar di dada Alden, tangan kecilnya meraih sisi kemeja pria itu, lalu diam di sana.

Alden terbangun perlahan. Matanya turun ke wanita yang kini memeluknya tanpa sadar.

Wajah Belvina terlihat jauh lebih tenang saat tidur. Napasnya teratur. Tidak galak. Tidak membantah. Tidak berusaha kabur.

Sudut bibir Alden terangkat tipis.

"Tak kusangka… tidur seperti ini ternyata menyenangkan."

Pikiran itu membuatnya diam sesaat. Karena ia sendiri tidak pernah membayangkan bisa merasa seperti itu.

Alih-alih menjauh, ia justru menarik selimut lebih tinggi menutupi bahu Belvina. Lalu membiarkan hujan terus turun di luar sana.

 

Hujan sudah reda, tapi udara masih menyisakan dingin.

Perlahan Belvina terbangun. Bukan karena dirinya sendiri, melainkan karena sesuatu yang mengusiknya.

Ada tekanan hangat dan keras yang berdenyut di pahanya. Asing.

Sesuatu di belakangnya, terlalu nyata untuk diabaikan.

Seketika matanya terbuka lebar.

 

...✨"Ia terus berkata ingin pergi. Namun pagi itu, tubuhnya sudah lebih dulu memilih tinggal."...

..."Mereka tidur dengan ego yang belum selesai, lalu bangun dengan jarak yang tak lagi sama."✨...

.

To be continued

1
anonim
Alden semakin tidak peduli pada Serapina bukan saja karena Belvina. Tapi karena Alden sudah tahu permainan liciknya.

Tinggal menunggu apa nanti yang akan dilakukan Alden.
anonim
Alena dan Arsen rebutan ingin saling duluan menemui Belvina.

Beda dengan Alden yang kesal merasa terganggu dengan kehadiran kedua adknya yang tiba-tiba. Belvina hatinya menghangat.

Alena sok tahu kalau calon keponakannya perempuan 😄.

Arsen tak mau kalah, ia protes. Memastikan keponakannya ganteng, karena cowok.

Waduuuh tangan Arsen yang terulur mau pegang perut Belvina dipukul Alden.

Alden mengusir kedua adiknya.

Belvina terharu, senang merasakan kehangatan dari keluarga Alden.

Mereka semua keluar meninggalkan Alden dan Belvina yang butuh istirahat.
fii 🤩
👍👍💪
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Tamat juga happy ending...
Bagus banget, penulisannya tertata rapi,jalan ceritanya juga ngena banget.👍👍👍

Tapi Thor kalau bisa Ceritanya agak di persingkat saja biar ga terus muter² di situ masalah tentang musuhnya dan terus ga di ulang² juga yang jadi alasan konflik RT antara Belvina sama Alden, maaf hanya memberi saran saja... jangan tersinggung ya Thor.🙏🙂
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍: Sama² Thor.🤗
tetap terus berkarya hasilin cerita yang bagus².👍💪
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Bukan karna hormon kehamilan Bel tapi kamu memang egois sudah di batas keterlaluan namanya, untung Alden masihbsabar dan ga nyari pelampiasan atau jajan keluar... Coba pikirkan kalau seandainya Dia jenuh dan capek dengan sikap kamu dan akhirnya menyerah.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Kurang berkorban apa lagi Alden sama kamu Bel, Dia sudah banyak berkorban Lho dari semua aset dan nyawanya sekalipun justrubdibsini kamu yang hanya berkorban kasih kesempatan doang buat Dia selebihnya ga ada...

semoga sibSeraphina dapat perlakuan buruk deh dari penghunu jerusi yang lain biar ngerasain gimana sakitna.😁
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ada rahasia kah di balik kalung itu.
Buat pelajaran Bel kalau dapat kabar atau mau lakuin sesuatu itu jangan Ceroboh terus dan jangan bertindak sendiri sampe berUjung celaka.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Hadeuuhh mau nolong Belvina pake Teriak pake Pesan dulu lagi pak Polisi... ya gimana Sandera mau selamat yang ada malah jadi sasaran empuk Seraphina buat Bunuh Dia, harusnya pelan² saja bergerak Pak biar Korban selamat dan musuh tumbang.😤😤
Mulut di utamain bukannya gercep lewat tindakan.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Belvina yang masih Bodoh dan ceroboh dan Alden yang masih Kurang gercep dan Teledor...
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Nah kan benar tebakanKu di awal kalau Seraphina dalang bangkrutnya perusahaan Alden dan datang sebagai pahlawan palsu.🤣🤣🤣
udah curiga karna aneh setiap ada kejadian apapun tentang Alden maupun perusahaan kok siluman datang tepat bangetbseolah tau semua.😁
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Alden kalah mulu dari Deraphina percuma adanya pengawasan tapi Belvina masih kena juga untung Dia dan Bayinya ga apa².. lagian Belvina juga suka banget ceroboh kalau jalan jangan di biasakan main Hp tapi Dokus ke jalan dan sekitar Bel
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
lama² ga suka juga dengan sikap Belvina yang makin ke sini makin Sok, keterlauan sama Alden... jangan jadikan kesempatan yang Kamu berikan pada Alden buat Kamu semakin ngerasa kalau Alden harus terus nurut dan ngalah terus sama Kamu Belvina.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Dimas T O P.👍👍👍
pikirkan perkataan Dimas tuh Al kadang perwmpuan juga butuh pengakuat dari ucapan... jadi apa susahnya buat bilang I Love You Belvina.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Udah penjarakan saja si Seraphina udah ada bukti ini.😤

Thor jangan kasih kesempatan lagi buat Seraphina lolos.🤭✌️
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Nah mau gimana tuh Belvina kalau Alden sudah nyerahin semuanya padaMu dan itu bukti besar Cintanya sama Kamu... apa masih mau egois terus Kamu.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Kamu selalu Ceroboh Al, harusnya jangan mau kalau klien ngajak pertemuan di Club meskipun alasan ngerayain bisnis karna kepercayaan yang Belvina kasih bisa rusak kalau ada Orang yang ambil kesempatan biat hancurin hubungan Kalian.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Aneh kenapa selalu kecolongan si Alden padahal Dia kaya dan mampu pake bodygard buat jaga dan ngawasin semua keselamatan bahkan keadaan sekitar Dia tapiii Aahh sudahlah.
Thor kenapa mesti ngasih terus kemenangan sama Seraphiana.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Nah kan semua Orang bisa berpikir begitu karna dulu Kamu ngasih celah Orang ketiga tanpa berpikir kalau akibatnya berEfek buruk sampe Al, Kamu ga bisa bedain atau batasanantara bisnis dengan ranah pribadi
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Hmmm... kapan di kasih jera'nya si Seraphina Thor, gemes banget Aku pengen unyel² tuh Orang.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
di bela²in pulang cepet karna khawatir plus kangen tapi pas nyampe rumah justru Orang yang di tuju malah sedang asyik maen game.🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!