"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Jam dua lewat tujuh belas, Elang terbangun dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi kening, leher dan punggungnya. Jantungnya berpacu seperti malam itu juga.
Lagi. Mimpi itu datang lagi. Entah keberapa kalinya dalam 8 tahun ini.
Di mimpi, langit masih hitam. Jalanan kosong. Hanya lampu mobilnya yang membelah gelap.
Musik dari pesta kelulusan SMA dan tawa teman-teman, masih berdengung di kepalanya.
Ia mabuk. Bukan mabuk sampai tidak sadar. Mabuk cukup untuk merasa dirinya masih bisa menyetir.
Jalanan di dekat pasar lama memang sepi, karena pasar tersebut terbengkalai, para pedangangnya telah direlokasi. Kakinya menginjak pedal gas cukup dalam, mobil melaju kencang bak di sirkuit balap.
Tiba-tiba ia melihat sebuah siluet. Matanya menyipit, mencoba fokus. Seseorang berkendara di depannya dengan kecepatan sedang. Ia menginjak rem, namun terlambat.
_Brak._
Suara itu. Suara yang delapan tahun tidak pernah pergi dari telinganya. Beberapa bagian motor terpental ke udara, nyata di depan matanya.
Ia berhenti tiga detik. Tangannya gemetar di setir. Menarik gagang pintu, ia harus melihat kondisi orang yang ia tabrak. Pintu baru terbuka sedikit... lalu ia menutupnya lagi. Ia berubah fikiran.
Panik. Takut. Bayangan jeruji besi memenuhi kepala. Minggu depan ia terbang ke Jerman, sudah diterima di salah satu kampus ternama disana. Kasus ini bisa membuat dirinya dicekal untuk ke luar negeri. Tidak, masa depannya tidak boleh dipertaruhkan.
Elang menginjak pedal gas. Mobil sport merah itu melesat pergi, meninggalkan tubuh yang tergeletak di aspal dalam kegelapan dan berlumur darah.
Mimpinya selalu berhenti di detik ketika ia memilih kabur. Memilih menjadi pecundang demi masa depannya.
Elang duduk di tepi ranjang sambil mengatur nafas. Delapan tahun ia berusaha mengubur memori itu. Tapi ia seperti terus dikejar rasa bersalah, mimpi itu datang berkali-kali. Dan malam ini, wajah Ilona seketika muncul di kepalanya. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan, menangis, teringat saat Ilona menaikkan gaunnya sedikit ke atas, menunjukkan kakinya yang sekarang hanya tinggal sebelah. Entah bagaimana Ilona menjalani hari-harinya selama 8 tahun ini.
Kasus kecelakaan itu bisa tertutup karena bantuan orang tuanya yang kaya raya dan punya banyak koneksi orang di kepolisian. Benar kata Kenan, apa yang tidak bisa dibeli oleh orang kaya. Mungkin, hanya hati nurani yang tidak akan terbeli.
...----------------...
Pesawat menuju Jakarta berangkat pukul 09.00 WITA. Elang duduk di dekat jendela, tapi matanya tidak menikmati pemandangan di luar, ia sibuk memutar kembali setiap apa yang ia lihat kemarin, khususnya Ilona.
Ia sudah kembali ke Jakarta, kembali dengan rutinitas seperti biasa, tapi harinya berantakan. Email salah kirim. Rapat ia diam saja. Kopi ketumpahan ke dokumen, dan lain-lain.
Ia terus dihantui rasa bersalah. Bayangan Ilona terus berputar di kepalanya.
"Gimana, bagus gak?" Alisya yang mendatangi Elang di kantor, menunjukkan foto dirinya saat fitting kebaya kemarin.
Seminggu lagi Elang bertunangan dengan Alisya, kekasihnya sejak masih di Jerman. Undangan sudah dicetak. Cincin sudah jadi karena pesan bulan lalu. Pakaian, gedung, dan catering juga sudah DP. Semua sudah siap.
"Bagus." Elang memperhatikan foto Alisya dengan kebaya maroonnya.
"Menurut kamu kebanyakan aksesoris gak sih, apa selendang bentuk pita di bagian belakang mending gak usah dipakai?" Alisya bertanya dengan antusias, namun sang kekasih malah bengong, pandangannya kosong, melamun. "Yank" Ia menepuk bahu Elang yang duduk di kursi kerjanya.
"Hah, iya," Elang terperangah.
"Aku nanya kamu."
"Iya, apa?" Elang gelagapan.
Alisya mendengus kesal, namun tetap mengulang pertanyaannya.
"Seperti ini bagus kok," respon Elang.
Selain menunjukkan foto, Alisya juga membawa map berisi rundown acara dan daftar tamu. Ia yang berdiri di samping Elang, mengajak kekasihnya itu untuk diskusi membahas detail acara yang hanya tinggal beberapa hari lagi.
"Vendor dekor tanya warna bunga. Mau tetap putih-gold aja, atau mau ditambah dusty pink atau warna lain lagi?"
"Terserah kamu aja."
"Terus rundown acara, kayak gini menurut kamu pas atau mau ada yang diganti, nambah acara, atau gimana?"
"Udah."
"Ini untuk daftar undangan, sudah benar atau ada yang mau diganti. Besok mau disebar soalnya."
"Hem," Elang mengangguk.
"Terus untuk. .." Alisya tiba-tiba berhenti. Ia menatap Elang lama, kekasihnya itu seperti tidak bersemangat sama sekali. Selain tak menatap kertas-kertas yang ia tunjukkan, tak sekalipun juga memberi masukan, hanya menjawab sekedarnya, seolah acara minggu depan itu tidak terlalu penting. "Sayang. Kamu dengerin aku nggak sih?"
Elang tersentak saat bahunya ditepuk Alisya. "Denger. Maaf. Lagi banyak kerjaan." Ia pura-pura sibuk dengan laptop. "Aku masih banyak kerjaan, nanti malam saja kita bahas lagi." Ia sadar, jika pembahasan ini berlanjut, yang ada ia dan Alisya akan bertengkar.
Sebenarnya bukan pekerjaan yang memenuhi isi kepalanya, tapi Ilona. Ada Ilona di sana. Ilona dengan satu kakinya, yang di dorong di kursi roda malam itu.
Alisya mengangguk, meski menyimpan sedikit rasa kesal, tapi ia tak mau terlalu menunjukan itu. Ia merapikan mapnya, mengecup pipi Elang lalu pamit. "Oke. Nanti malam kita lanjut sambil VC ya. Jangan lupa makan."
Elang mengangguk sambil tersenyum. Kekasihnya itu, tak ada yang berubah, sejak 3 tahun yang lalu, perhatiannya masih sama. Pintu kembali tertutup, Alisya hilang dari pandangannya.