Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.
Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.
Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Yang paling Anindya takutkan selama dua hari istirahat bukan demamnya, melainkan kalimat yang mungkin menunggunya di depan pintu warung.
Ia sudah menyusun jawabannya berkali-kali sambil berbaring menatap langit-langit kamar kos. *Saya sudah sehat, Mas. Saya bisa kerja.* Atau, kalau ternyata kursinya sudah diisi orang lain, *Terima kasih sudah memberi kesempatan.* Kalimat yang rapi, sopan, dan tidak akan membuat siapa pun merasa bersalah. Ia sudah terlatih mengucapkannya.
Hari Sabtu, ia datang jam enam lima puluh dengan perasaan seperti anak sekolah yang masuk lagi setelah sakit dan tidak tahu apa yang dibicarakan teman-temannya selama ia tidak ada. Mbak Sari menunggu di depan pintu seperti biasa, melipat tangan di dada.
"Udah sembuh?"
"Udah, Mbak. Makasih ya, kemarin..."
"Jangan makasih ke saya." Mbak Sari membuka gembok. "Saya nggak ngapa-ngapain."
Kalimat itu mirip sekali dengan kalimat yang pernah ia dengar dari orang lain. Anindya hampir tertawa, lalu sadar tenggorokannya mengencang. Tidak ada yang mengganti kursinya. Tidak ada yang bertanya kenapa ia absen. Bak cuci itu masih di sana, keran bengkok itu masih di sana, dan di rak sebelahnya, sarung tangan kuning yang ia tinggalkan masih terlipat rapi di tempat yang sama.
Seseorang telah menunggunya kembali.
Pikiran itu begitu asing sampai ia harus berpura-pura merapikan apron agar tidak ada yang melihat matanya.
Hari Sabtu adalah hari paling gila di Waroeng Reyhan. Keluarga datang berombongan, anak-anak berlarian di antara meja, ibu-ibu memesan lima macam lauk lalu bilang tidak habis, dan piring kotor datang lebih cepat dari yang bisa dicuci. Anindya sudah mengencangkan apron ketika Bayu muncul di belakangnya, membawa gelas kaca yang masih mengepul.
"Nih."
Isinya cairan kuning keemasan dengan irisan jahe dan potongan serai mengambang di dalamnya. Aromanya hangat, pedas, dan sedikit manis.
"Ini apa, Bay?"
"Wedang jahe."
"Buat siapa?"
"Buat kamu." Bayu menyodorkannya lebih dekat. "Dari Mas Reyhan. Katanya kelebihan."
"Kelebihan?"
"Iya. Katanya dia salah bikin, kebanyakan."
Anindya menatap wajah Bayu, mencari tanda-tanda bercanda. Wajah itu datar, setenang air kolam yang tidak pernah dilempar kerikil.
"Mas Reyhan bikin sendiri?"
"Nggak usah tanya," kata Bayu singkat, lalu pergi ke dispenser kopinya dengan bahu yang bergetar sedikit, entah karena batuk atau menahan tawa.
Anindya menerima gelas itu dan menyesapnya pelan. Jahenya kuat, gula merahnya pas, ada sedikit kayu manis di ujungnya. Hangat itu turun ke dada dan menetap di sana lebih lama dari yang masuk akal untuk segelas minuman.
Ibunya dulu juga membuatkan wedang jahe setiap kali ia demam. Bukan dengan kayu manis, hanya jahe, gula merah, dan tangan yang selalu mengusap dahinya sampai ia tertidur. Sudah dua tahun ia tidak pernah merasakan rasa itu. Ia menunduk lebih dalam ke atas gelas, menahan sesuatu yang naik ke tenggorokan, dan baru berani mengangkat kepala setelah uapnya menutupi wajahnya sepenuhnya.
---
Menjelang jam dua belas, ia baru menyadari ada yang berubah.
Piring-piring Sabtu datang bergelombang seperti biasa, tapi dari tadi ada seseorang yang berdiri di sampingnya, membilas piring yang sudah ia sabun. Yoga, salah satu pelayan yang canggung dan baru ia kenal sekilas, dengan lengan baju digulung dan wajah serius seperti sedang mengerjakan ujian.
"Mas Yoga? Kok di sini? Bukannya bagian depan?"
"Disuruh Mas Reyhan," jawab Yoga. "Katanya Sabtu piringnya banyak, kamu jangan sendirian. Jadi saya bantu bilas."
"Tapi nanti meja..."
"Ada Rafi."
Di balik pintu dapur, Rafi, pelayan berambut paling rapi yang mulutnya terkenal ember, lewat membawa nampan dengan ekspresi orang yang baru diberi tugas dua kali lipat tanpa tambahan gaji. Ia berpapasan dengan Dimas di dekat penggorengan, dan Anindya sempat menangkap bisikannya yang tidak cukup pelan.
"Sejak kapan bos peduli siapa yang nyuci piring sendirian?"
"Sejak tukang cucinya Anin," sahut Dimas, nada suaranya setengah bercanda dan setengah sesuatu yang lain.
Anindya menunduk. Ia tidak mau tahu apa maksud nada itu.
Tapi ia juga tidak bisa menyangkal bahwa untuk pertama kalinya sejak berhenti dari toko roti, ada seseorang yang memikirkan beban di punggungnya.
---
Hujan turun jam tiga sore, dan ketika jam empat tiba, ia sudah deras sekali.
Anindya berdiri di teras belakang warung dengan tasnya dipeluk di dada. Jaketnya tipis. Payungnya, seperti biasa kalau dibutuhkan, tertinggal di kos. Angkot ke perempatan harus ditempuh dengan berjalan kaki lima ratus meter, dan jalanan di depan sudah berubah jadi sungai kecil.
Ia baru saja memutuskan untuk menunggu sampai reda ketika sebuah suara berat terdengar di belakangnya.
"Belum pulang?"
Reyhan berdiri di ambang pintu, kunci mobil di tangan.
"Hujan, Mas. Payung saya ketinggalan. Mau nunggu reda aja."
"Ini nggak bakal reda sebelum malam." Reyhan menatap langit, bukan menatap dia. "Saya antar."
"Nggak usah, Mas, saya nggak mau ngerepotin."
"Searah."
"Mas tahu kos saya di mana?"
Jeda kecil, sangat kecil. "Di daerah sini kan?"
"Iya, tapi..."
"Searah," ulang Reyhan, kali ini dengan nada seseorang yang menutup diskusi. "Tunggu di sini."
Di balik pintu dapur yang setengah terbuka, Rafi berbisik pada Yoga dengan suara yang tidak ada hubungannya dengan kata *bisik.*
"Rumah bos kan di arah utara, Ga. Kosnya Anin di selatan. Itu mah bukan searah, itu berlawanan."
"Ssst, Raf."
"Aku cuma bilang fakta."
---
Mobil Reyhan kecil, abu-abu, dan sangat rapi di dalamnya. Tidak ada sampah di dasbor, tidak ada tisu terselip di pintu, hanya sebotol air mineral yang tertata di tempatnya dan aroma samar kayu cendana dari pengharum mobil yang tampak sudah lama tidak diganti.
Hujan memukul atap seperti ribuan jari kecil. Wiper bergerak teratur, kiri kanan, kiri kanan, dan di dalam mobil, mereka berdua duduk dalam diam yang tidak tahu harus diisi apa.
"Kos kamu di mana?" tanya Reyhan akhirnya.
"Gang Mawar, Mas. Di belakang minimarket yang di perempatan."
"Oh."
Begitu saja. Lalu diam lagi.
Radio memutar lagu pop lawas dengan volume sangat kecil. Anindya memandangi jalanan yang berkilat basah di balik kaca, sampai ia sadar sesuatu.
"Mas, ini bukan jalan yang ke perempatan."
"Jalan pintas."
"Tapi jalan pintasnya... ke arah lain, Mas."
"Di depan ada banjir." Reyhan menatap lurus ke depan, kedua tangan di setir. "Harus muter."
Anindya menatapnya dari samping selama dua detik penuh. Rahang laki-laki itu mengeras seperti sedang menahan sesuatu. Entah senyum, entah kebohongan yang sedang ia pertahankan mati-matian. Anindya memilih untuk tidak bertanya lagi.
"Wedang jahenya enak, Mas," katanya, karena ia harus mengatakan sesuatu.
"Oh."
"Resep sendiri?"
"Resep ibu saya." Jawaban itu keluar lebih cepat dari yang Reyhan rencanakan. Ia berdeham. "Maksud saya, resep ibu saya. Bayu yang bikin."
"Bayu bilang Mas yang salah bikin, jadi kebanyakan."
Hening.
"Kebetulan kelebihan," kata Reyhan akhirnya, sangat datar.
Anindya menutup mulutnya dengan telapak tangan, menoleh ke jendela, dan pura-pura batuk. Bahunya bergetar. Di sisi lain mobil, Reyhan menatap ke depan dengan wajah orang yang berharap ada lubang di jalan yang cukup besar untuk menelannya sekarang juga.
"Ibu saya Jawa," katanya tiba-tiba, setelah beberapa menit. "Ayah saya Sunda. Kalau hujan, ibu biasanya bikin wedang jahe satu panci besar. Satu rumah minum."
"Wah. Pasti hangat banget rumahnya."
"Dulu." Reyhan menatap jalanan. "Sekarang rumahnya cuma saya."
Anindya tidak tahu harus menjawab apa, jadi ia tidak menjawab. Tapi ia menoleh, dan untuk pertama kalinya, ia melihat Reyhan bukan sebagai bos dengan wajah datar dan suara berat, melainkan sebagai laki-laki yang duduk di dalam mobilnya sendiri dengan tangan yang menggenggam setir sedikit terlalu erat.
"Ibu saya juga bikin wedang jahe kalau saya sakit," katanya pelan, hampir tidak terdengar di antara bunyi hujan. "Sudah dua tahun nggak ada yang bikinin."
Reyhan tidak menoleh. Tapi tangannya di setir mengencang sedikit, lalu mengendur. Dan untuk beberapa menit berikutnya, tidak ada dari mereka yang bicara, tapi diam itu tidak lagi terasa seperti jarak.
---
Mobil berhenti di mulut Gang Mawar. Hujan sudah mereda jadi gerimis tipis.
"Terima kasih, Mas. Beneran. Maaf ngerepotin."
"Nggak ngerepotin." Reyhan menatap kaca depan. "Besok minum obatnya sampai habis."
"Iya, Mas."
"Jangan berhenti pas udah enakan."
"Iya, Mas."
Anindya membuka pintu, turun, lalu menunduk di jendela untuk sekali lagi mengucapkan terima kasih. Reyhan hanya mengangguk, dan ketika mobil abu-abu itu menjauh, ia melihat lampu rem menyala sebentar di ujung gang, seolah pengemudinya ragu apakah harus berbalik atau tidak.
Lalu mobil itu menghilang.
Di dalam mobil, Reyhan mengendarai terlalu pelan di jalan yang kosong, dengan satu pikiran yang tidak mau pergi dari kepalanya: ia baru saja berbohong tiga kali berturut-turut kepada seorang perempuan yang jelas-jelas tahu ia berbohong. Dan anehnya, perempuan itu tidak marah. Perempuan itu malah tertawa.
Ia tidak ingat kapan terakhir kali ada orang yang tertawa di dalam mobilnya. Dan ia tidak ingat kapan terakhir kali ia sendiri ingin orang itu tertawa lagi.
Sementara itu, di kamar kos nomor tujuh, Anindya duduk di pinggir kasur dengan jaket yang masih basah, menatap ponselnya yang gelap. Ia mencari kata untuk apa yang ia rasakan, dan tidak menemukannya. Yang ia tahu hanya satu: hari ini, untuk pertama kalinya setelah sangat lama, ada seseorang yang membuatnya merasa tidak sendirian di dunia ini, dan seseorang itu bahkan tidak pernah tersenyum padanya.
Bersambung ke Bab 5..