NovelToon NovelToon
Suami Cupu Kakak Ku Ternyata Mafia

Suami Cupu Kakak Ku Ternyata Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Sinar matahari pagi yang dingin menerobos masuk melalui celah jeruji besi di ruang penahanan sementara markas kepolisian sektor kota. Hazel perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa berat, berdenyut parah akibat benturan dan syok dahsyat yang dialaminya semalam. Tubuhnya yang terbalut pakaian lusuh berbercak lumpur basah terasa kaku di atas bangku kayu yang dingin.

Begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya, ingatan mengerikan semalam menghantam dadanya bagaikan godam besar. Bayangan tubuh Sagara yang terdorong jatuh melayang ke dasar jurang yang gelap seketika berputar di kepalanya.

"Kak... Kak Sagara..." bisik Hazel dengan suara serak parah. Air mata yang belum kering kembali menggenang deras di pelupuk matanya. Dada gadis 19 tahun itu sesak oleh duka mendalam dan rasa kehilangan yang teramat sangat. Pria polos yang baru saja membawa sedikit kehangatan dalam hidupnya telah direnggut secara kejam.

CKLEK.

Suara engsel pintu besi yang berderit nyaring memecah keheningan. Dua orang penyidik bertubuh tegap bersama seorang polwan melangkah masuk, disusul oleh Cateline dan Helena yang berdiri di ambang pintu.

"Hazella Adeline," panggil salah satu penyidik dengan raut wajah sangat serius dan tegas. "Anda resmi kami amankan atas tuduhan tindakan kekerasan berat dan dugaan pembunuhan berencana terhadap Saudara Sagara."

Hazel mendongak perlahan. Matanya yang sembap menatap penyidik itu dengan pandangan kosong tak percaya. "Apa...?"

"Pengawal pribadi keluarga Adeline dan kesaksian Nona Cateline menyatakan bahwa Anda membawa lari korban secara paksa dari rumah sakit, memicu kejar-kejaran hingga ke tepi jurang kawasan hutan, dan mendorong korban masuk ke dalam jurang saat terjadi percekcokan," pangkas penyidik itu sambil membacakan berkas laporan.

Hazel tertegun kaku. Rencana keji dan manipulasi keluarga Adeline benar-benar berjalan sesuai skenario iblis mereka.

Di balik punggung para polisi, Cateline mendadak histeris. Perempuan itu menyergap wajahnya dengan kedua tangan, terisak-isak keras dengan guncangan tubuh yang dibuat-buat, berakting seolah-olah ia adalah seorang istri yang hancur kehilangan suami tercintanya.

"Kenapa kau tega sekali, Hazel?!" jerit Cateline dengan nada suara yang bergetar penuh drama, melemparkan tuduhan palsu di depan para petugas. "Sagara itu suamiku! Kenapa kau begitu tega membawanya kabur lalu mendorongnya ke jurang hanya karena dia menolak cintamu?! Kau benar-benar iblis tidak berhati!"

Helena merangkul bahu putrinya dengan raut wajah terpukul yang sama palsunya. "Pak Polisi, tolong proses anak haram ini secara hukum! Dia sudah gila dan membunuh menantuku demi melampiaskan dendamnya pada keluarga kami!"

Melihat sandiwara murahan dan air mata buaya yang ditunjukkan Cateline, rasa sedih di dalam dada Hazel seketika menguap, berganti menjadi muak dan benci yang membakar hingga ke ubun-ubun. Kepalsuan mereka benar-benar menjijikkan.

Hazel berdiri dari bangku kayu. Meskipun tubuhnya lemas dan gemetar, gadis itu menegakkan punggungnya. Matanya yang sembap menyalang tajam, menatap Cateline lurus-lurus dengan pendar kemarahan yang amat pekat.

"TUTUP MULUTMU, CATELINE!" bentak Hazel dengan suara melengking penuh kebenyian, membuat para petugas dan Cateline sendiri tersentak kaget.

Hazel melangkah satu kali mendekati jeruji besi, menunjuk tepat di depan wajah Cateline dengan jari yang gemetar menahan geram.

"Hentikan drama menjijikkanmu ini!" seru Hazel murka, dadanya naik turun memburu. "Kau dan ibumu yang menyewa para pengawal berengsek itu untuk mengejar kami! Kau yang menyuruh orang-orangmu memukul dan mendorong Kak Sagara ke jurang! Kau pembunuh sebenarnya di sini, Cateline! Kau dan ibumu yang iblis!"

"Nona Hazella, harap tenang dan jaga ucapan Anda!" tegur polisi wanita itu tegas, menahan pergerakan Hazel.

Cateline semakin berpura-pura ketakutan, bersembunyi di balik tubuh Helena. "Lihat itu, Pak! Dia bahkan masih bertindak emosional dan menuduh balik! Dia benar-benar berbahaya!"

"Harap kooperatif, Nona Hazella," timpal penyidik utama dengan nada dingin tak terbantahkan. "Bukti awal dan saksi di lokasi kejadian mengarah pada Anda. Anda harus menjalani pemeriksaan intensif di ruang penyidikan sekarang juga. Tim SAR saat ini juga sedang bergerak menyisir dasar jurang untuk pencarian jasad korban."

Kata 'jasad' yang diucapkan polisi menghantam tangis Hazel untuk kesekian kalinya. Namun di balik derasnya air mata yang menetes membasahi pipinya, Hazel mengunci tatapannya pada Cateline yang menyunggingkan senyum miring yang teramat tipis di balik bahu ibunya sebuah senyuman penuh kemenangan yang teramat culas.

Petugas kepolisian baru saja hendak mengunci borgol besi di kedua pergelangan tangan Hazel, ketika suasana di koridor utama markas kepolisian mendadak berubah mencekam.

Suara derap langkah sepatu kulit yang berat, teratur, dan bergema kompak dari arah pintu depan membuat seluruh pergerakan di ruangan itu terhenti seketika. Hawa dingin yang mengintimidasi mendadak merayap masuk, membekukan atmosfer.

Seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas hitam eksklusif melangkah masuk dengan keangkuhan mutlak. Di belakangnya, delapan orang pengawal berbadan tegap berseragam serba hitam bersenjata lengkap menyebar, menguasai setiap sudut ruangan tanpa celah.

Pria di depan itu adalah Gideon.

Di kalangan pejabat tinggi, instansi hukum, hingga jajaran konglomerat teratas, tidak ada satu pun orang yang tidak mengenali wajah pria itu. Gideon adalah tangan kanan, perpanjangan tangan, sekaligus eksekutor utama klan Victor yang paling sering turun ke lapangan untuk menyampaikan kehendak sang Raja Mafia.

Para polisi yang tadinya bersikap tegas mendadak membeku kaku. Penyidik utama yang memegang borgol Hazel mendadak memucat, tangannya gemetar hebat hingga kunci borgol hampir terjatuh. Tak ada satu pun polisi yang berani berkutik, bernapas, apalagi melayangkan protes. Di hadapan klan Victor, hukum negara sekalipun seolah bertekuk lutut.

Hazel menatap pemandangan itu dengan kening berkerut. Rasa heran dan bingung memenuhi pikirannya di tengah duka yang masih melanda. Siapa orang-orang ini? Mengapa para polisi yang tadi sangat berkuasa mendadak ketakutan seperti menghadapi malaikat maut?

Di sisi lain koridor, Cateline dan Helena saling melempar pandangan penuh kepanikan. Keringat dingin mulai membasahi pelipis dan tengkuk Cateline. Jantungnya berdegup kencang tak karuan.

"M-Mama..." bisik Cateline dengan suara gemetar, meremas lengan ibunya erat-erat. "Kenapa... kenapa tangan kanan klan Victor ada di sini? Untuk apa orang sekelas Gideon datang ke kantor polisi kecil ini?"

Helena menggeleng cepat, wajah mewahnya yang dipoles bedak tebal mendadak pucat pasi bagai mayat. "Mama tidak tahu, Cateline... Klan Victor tidak pernah berurusan dengan rakyat biasa atau polisi lokal. Ini... ini tidak masuk akal!"

Gideon menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan. Mata tajamnya menyapu seisi koridor sebelum akhirnya mengunci pandangannya pada Cateline dan Helena. Sebuah senyuman dingin yang teramat tipis dan menusuk terukir di bibirnya.

"Nona Cateline Adelia... dan Nyonya Helena Adeline," panggil Gideon dengan suara berat yang menggelegar tenang namun penuh tekanan mematikan.

Cateline melangkah maju setengah ragu, berusaha menekan getaran di dadanya dan mengukir senyum canggung. "T-Tuan Gideon... Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Anda. Tapi... maaf, ada urusan apa tangan kanan Klan Victor yang terhormat hadir di sini? Apakah keluarga Adeline melakukan kesalahan tanpa sengaja pada bisnis Anda?"

Gideon tidak membalas senyuman itu. Tatapannya mendadak berubah sangat dingin dan mematikan.

"Kesalahan?" ulang Gideon pelan, intonasinya sarat akan ancaman yang sanggup meruntuhkan jantung siapa pun yang mendengarnya. "Keluarga Adeline... telah menyinggung Tuan Besar kami."

DEG.

Kalimat singkat itu menghantam ruangan bagaikan ledakan bom. Keringat dingin mengucur deras di dahi Cateline. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya memburu penuh ketakutan yang tak lagi bisa ia sembunyikan.

"M-Menyinggung Tuan Besar?!" seru Cateline histeris dengan suara pecah, matanya membelalak lebar. "T-Tidak mungkin! Tuan Gideon, ini pasti ada kesalahpahaman! Kami bahkan tidak pernah melihat wajah Tuan Besar Victor! Bagaimana mungkin kami menyinggung beliau?! Kami tidak tahu apa salah kami!"

Helena ikut maju dengan bibir gemetar. "Benar, Tuan Gideon! Kami keluarga terpandang yang selalu menghormati klan Victor! Kami tidak pernah menyentuh atau mengusik urusan Tuan Besar!"

Gideon terkekeh pelan sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk semua orang di ruangan itu merinding ketakutan.

"Kalian tidak tahu apa salah kalian?" bisik Gideon penuh penekanan beracun. "Kalian akan segera mengetahuinya."

Gideon mendadak memutar tubuhnya menghadap ke arah pintu masuk utama. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Secara serentak, delapan pengawal bertubuh tegap di belakangnya membungkukkan badan sembilan puluh derajat, memberi hormat tertinggi yang hanya diperuntukkan bagi satu orang di dunia ini.

"Selamat datang, Tuan Besar," ucap Gideon dengan nada kepatuhan mutlak.

Aura di koridor markas kepolisian seketika merosot hingga ke titik beku.

Dari balik pintu utama, seorang pria bertubuh tegap dan jangkung melangkah masuk dengan anggun. Pria itu mengenakan setelan jas hitam eksklusif rancangan Italia yang sangat rapi dan mewah. Rambut hitamnya tertata rapi ke belakang, memperlihatkan rahang tegas dan struktur wajah yang teramat tampan namun dingin tanpa ekspresi.

Langkah kakinya bergema mantap, memancarkan aura dominasi, keangkuhan, dan kekejaman mutlak yang membuat udara di ruangan itu terasa begitu berat untuk dihirup.

Mata elangnya yang sangat tajam, dingin, dan mematikan menyapu seisi ruangan. Tak ada lagi sisa-sisa pria lugu, polos, dan takut yang biasa mengenakan celemek dapur di mansion Adeline.

Itu adalah Arlend Kyren Victor. Sang Raja Mafia.

1
Mundri Astuti
kirain hazel bener" tulus ...wewww sama aja kamu kaya Catlin zel, cuma manfaatin arlend
merry
astoge klian berdua in psangan bonglon ternyata,, klo Sagara tidak anemsia knp mau aj di injk injk cbb sm cat,,, hazel tujuan y ap sm Sagara selain bls dendam,, 🤔🤔🤔🤔
merry
jdi psagann gk y nntii hazel sm Sagara
Mundri Astuti
dikit beud thor...perasaan baru baca dah kelar aja 🤭
double up y thor 😄🙏
@cristi
kaak bagus banget ceritanya😍
Mundri Astuti
Alhamdulillah selamet juga akhirnya hazel
merry
syukur ktmu bos cb telat dikit ajjh,,, cept sembuh hazel kmu kn hrs sekolh zel 🤭🤭🤭jgn bnci arlend ya kn dia lupa🤭🤭🤭🤭
𝐀⃝🥀Weny
wes telat🤣🤣 sak Iki nyesel kan/Facepalm/
Mei TResna Rahmatika
hazel😭
merry
nah kapok kann kmu gara 🤭🤭🤭🤭 org wlpun hilng ingat tp msh bisa liat kebiasaan kebiasaan atau sentuhan psti tdk bisa dilupakan ada perasaan familiar gt,,, lh kmu main sikat ajj,, moga hazel ktmu org baik dan tgl di desa terpencil,, tp gmn dgn sekolah y hazel ya 🤔🤔🤔🤔
anonim
la nyesel kan ?
Mundri Astuti
lah emang ga disentuh.. dah masuk ke laut ...kumaha si arlend ...
kasihan si hazel ...
Intan Aprilia Rahmawati
thor up yg banyak dong minimal 10 aku ingin kk mafianya menyesal setelah ingatannya kembali bawa hazel gk salah aduh sedikit sekali nih
Mei TResna Rahmatika
buang ke laut trs baru deh ingatan arlend muncul tentang hazel tapii terlambat semoga hazel udah ilang ke bawa arus
Mundri Astuti
apes amat si hazel
𝐀⃝🥀Weny
astagaa... jangan sampai kamu menyesal Arlend.. up lagi thor.. dikit banget sih😊
merry
nah kn kena jg hazel moga hbs hazel dibuang di laut si mafia ingt dikit-dikit gt 🤭🤭🤭hbs itu cariin hazel tp hazel di ud di selamatin org lain gt biar nyesel,, setau klo org lupa ingt tp hati y bisa bedain loh mn baik dan jhtt
merry
hbs lhh kau nenek sihir😆😆😆😆hazel gmn donk ya
𝐀⃝🥀Weny
kemana wajah angkuhmu Cateline😂😂 up lagi thor😍
berry
yg banyak up nya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!