NovelToon NovelToon
MENG LIN DI ERA 1970 AN

MENG LIN DI ERA 1970 AN

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.

Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.

Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.

Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.

"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Berangkat Ke Desa

Di malam hari Meng Lin diintrogasi oleh Paman dan Bibinya tentang apa yang terjadi dengan mereka berdua.

Saat pulang kerja, keduanya sangat terkejut melihat mata Meng Wan yang bengkak, sedangkan bekas tamparan itu masih berbekas, mau bagaimanapun Meng Lin menamparnya dengan kekuatan penuh.

Meng Lin menceritakan dari awal sampai akhir tanpa dilebih-lebihkan. Meng Wan tampak tak percaya, karena Meng Lin tidak lagi tutup mulut jika dia berbuat salah.

Bibi Lin sangat marah pada Meng Lin, apa susahnya mentraktir Meng Wan dan teman-temannya?

Tapi Meng Lin membela, dia tidak punya kewajiban untuk mentraktir mereka. Sedangkan Paman Lin marah dan kecewa kepada putrinya yang tampak sangat lembut dan penurut, ternyata bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu.

Meng Lin juga berkata, jika dia tidak akan minta maaf karena Meng Wan yang bersalah terlebih dahulu. Dia beranjak dan kembali masuk kamar.

***

Beberapa hari berlalu. Meng Lin masih sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawanya.

Dia tidak berniat pergi ke sana dengan tangan sedikit persediaan. Beras, tepung, minyak, garam, pakaian, selimut, alat tulis, obat-obatan, peralatan sederhana, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari harus dipersiapkan sedikit demi sedikit.

Persediaan resmi yang bisa dibeli dengan kupon tentu saja terbatas. Karena itu, hampir setiap hari Meng Lin pergi ke pasar gelap.

Dia tidak pernah membeli dalam jumlah terlalu banyak di satu tempat. Meng Lin berpindah-pindah dari satu pedagang ke pedagang lainnya agar tidak menarik perhatian.

Setelah beberapa hari, sebagian besar barang yang dibutuhkan sudah berhasil dikumpulkan.

Meski begitu, Meng Lin masih terus mencari.

Dia tahu kehidupan di desa tidak akan mudah.

Terlebih lagi, dirinya akan ditempatkan di wilayah yang cukup jauh dari kota. Jika ada sesuatu yang sulit didapat setelah tiba di sana, dia tidak ingin menyesal karena tidak mempersiapkannya sejak awal.

---

Di sisi lain, Tang Qi masih belum menyerah. Hampir setiap hari setelah selesai bekerja, dia datang ke rumah keluarga Lin.

Namun setiap kali itu pula, Meng Lin tidak menemuinya.

"Tang Qi datang lagi." Bibi Lin menyampaikan kabar itu suatu sore. Dia juga tidak mempersalahkan kejadian berapa hari yang lalu.

Meng Lin yang sedang memeriksa barang-barang di kamarnya hanya mengangkat kepala. "Biarkan saja."

"Kamu tidak mau menemuinya?" Dia juga sudah tahu Meng Wan dengan Tang Qi yang meminta putus.

"Tidak." Meng Lin kembali menunduk. Menurutnya, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Hubungan mereka sudah berakhir.

Tang Qi boleh datang sepuluh kali atau seratus kali, keputusan Meng Lin tetap tidak akan berubah.

Bibi Lin melihat wajahnya yang tenang dan akhirnya tidak mengatakan apa-apa lagi.

Di luar, Tang Qi masih menunggu cukup lama.

Namun setelah mengetahui Meng Lin tidak mau menemuinya, dia hanya bisa pergi dengan wajah kecewa.

Dia belum memahami mengapa gadis yang selama ini selalu lembut kepadanya tiba-tiba berubah begitu tegas.

Tetapi bagi Meng Lin, masalah itu sudah selesai. Ada hal yang jauh lebih penting untuk dipikirkan.

Sementara itu, perubahan mengejutkan terjadi di ruang dimensinya. Tiga hari setelah menanam benih pertama, Meng Lin kembali masuk ke dalam ruang tersebut.

Awalnya dia hanya ingin memeriksa apakah ada perubahan. Namun begitu sampai di dekat lahan yang ditanaminya, langkahnya terhenti.

Tanaman-tanaman yang beberapa hari lalu masih berupa tunas kecil kini sudah tumbuh dengan subur.

Sawi memenuhi sebagian petak tanah. Mentimun menjalar panjang dengan buah-buah yang sudah cukup besar. Labu juga mulai membesar. Bahkan beberapa tanaman semangka sudah sebesar bola.

Meng Lin berdiri diam selama beberapa detik.

Dia kemudian berjalan mendekat dan memeriksa salah satu tanaman.

Hanya membutuhkan waktu tiga hari, sudah bisa panen.

Meng Lin mengangkat alis sedikit. "Secepat ini?"

Dia memetik satu mentimun dan mengamatinya. Rasanya segar ketika dicoba, tidak ada yang aneh.

Meng Lin kemudian berjalan mengelilingi seluruh lahan. Setelah memastikan bahwa tanaman lainnya juga mengalami pertumbuhan yang sama, sebuah kesimpulan perlahan terbentuk di dalam pikirannya.

Ruang dimensi ini bukan sekadar tempat penyimpanan. Tanaman yang ditanam di dalamnya juga tumbuh jauh lebih cepat daripada tanaman biasa.

Meng Lin menatap lahan tersebut dengan tenang. Kalau begini... Persediaan makanan yang harus dibawanya ke desa bisa jauh lebih banyak daripada perkiraannya.

Meng Lin mulai memanen sebagian tanaman yang sudah matang. Satu demi satu hasil panen dikumpulkannya.

Melihat tumpukan sayuran segar di hadapannya, untuk pertama kalinya sejak datang ke era ini, Meng Lin merasa persiapan menuju desa jauh lebih meyakinkan.

Dia tidak tahu seperti apa kehidupan yang menunggunya di sana. Tetapi setidaknya, kali ini dia memiliki cukup persediaan untuk membuat hidupnya sedikit lebih mudah.

...----------------...

Hari keberangkatan akhirnya tiba. Pagi-pagi sekali, Meng Lin sudah bangun.

Barang-barang yang akan dibawanya telah dipersiapkan sejak malam sebelumnya. Satu koper sederhana dan dua tas sudah tertata rapi. Sebagian besar persediaan penting telah disimpan diam-diam di dalam ruang dimensinya.

Dia sengaja memperlihatkan seolah-olah membawa banyak barang. agar Jika dia mengeluarkan persediaan dia punya alasan.

Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Meng Lin keluar dari kamar. Di ruang makan, Paman Lin dan Bibi Lin masih sedang sarapan.

Melihat Meng Lin membawa barang-barangnya, Paman Lin segera meletakkan mangkuknya.

"Sudah mau berangkat?" tanyanya basa basi.

"Ya." Meng Lin mengangguk.

Paman Lin melihat jam dinding, kemudian menatap barang-barang yang dibawanya.

"Kalau begitu sarapan dulu. Masih ada waktu."

"Tidak perlu, Paman." Meng Lin menggeleng.

"Kereta berangkat pukul delapan. Aku tidak ingin terlambat."

"Kamu bisa makan sedikit. Perjalanan ke sana tidak sebentar."

"Aku sudah menyiapkan makanan untuk perjalanan." Jawaban Meng Lin tetap tenang.

Paman Lin menghela napas. "Kalau begitu, Paman akan mengantarmu ke stasiun."

"Tidak perlu." Meng Lin langsung menolak.

Paman Lin mengernyit. "Kenapa? Paman bisa mengantarmu."

"Aku sudah membuat janji dengan tetangga."

"Siapa?"

"Orang yang tinggal beberapa rumah dari sini. Dia punya sepeda dan bersedia mengantarku ke stasiun. Aku sudah sepakat membayar uang sewanya."

Paman Lin terdiam sebentar. Dia sebenarnya masih ingin mengantar keponakannya itu sendiri.

Namun melihat Meng Lin sudah mengatur semuanya, akhirnya dia tidak memaksa.

"Baiklah." Paman Lin kembali mengambil mangkuknya, lalu berkata. "Kalau begitu, kamu harus berhati-hati di perjalanan."

Meng Lin mengangguk. "Ya."

"Kalau sudah sampai di desa, jangan terlalu memaksakan diri. Kalau ada kesulitan, cari orang yang bisa dipercaya."

"Mm."

Paman Lin masih belum selesai. "Dan jangan lupa mengirim surat." Dia menatap Meng Lin dengan serius. "Bagaimanapun juga, kamu akan pergi jauh. Setidaknya beri kabar setelah sampai."

Meng Lin terdiam sesaat. Kemudian dia mengangguk. "Aku akan mengirim surat." mau bagaimanapun Pamannya itu tidak pernah main fisik dengannya dia hanya kurang komunikasi.

Paman Lin akhirnya merasa sedikit lega. Dia tidak banyak bicara lagi. Hubungan mereka memang tidak sedekat keluarga pada umumnya, tetapi bagaimanapun juga Meng Lin tetap keponakannya.

Sebelum berangkat, Meng Lin berdiri di dekat pintu dan menatap Paman serta Bibinya sebentar. "Aku pergi."

"Hati-hati," jawab Paman Lin.

Bibi Lin hanya mengangguk kecil.

Meng Lin kemudian membawa barang-barangnya keluar rumah. Di luar, dua orang tetangga yang memiliki sepeda sudah menunggunya.

Setelah memastikan semua barang terikat dengan baik, Meng Lin membayar uang yang telah mereka sepakati. Kemudian dia naik dan meninggalkan kompleks tempat tinggalnya.

.

.

.

.

.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat
yang banyak update nya Thor 👍😀
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Didi Wahyudi
niubi
nengnong
meng Lin ke kota cuma mau beli kemoceng 🤔🤦
nengnong
💪💪
Musdalifa Ifa
klo boleh request Thor tolong upnya dibanyakin🙏🤭🤭🤭
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
terus sehat n lanjut
Heni Setiyaningsih
tetap sehat dan semangat
next double up ya Thor 😁
Musdalifa Ifa
tambah up Thor 🙏
Kia Zahra
tes dulu
Fauziah Daud
lanjuttt
Heni Setiyaningsih
tolong tambah lagi upload nya kurang klo 1 bab
Andira Rahmawati
thorr knp up nya cuma satu eps aja..double up lagi dong thorrr👍👍🙏💪
Fauziah Daud
terus sehat
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
update nya kurang banyak Thor 😀👍
Kusii Yaati
kurang banyak Thor 🤗
Fii
maaf jarang update. kurang sehat 🙏🙏
Musdalifa Ifa: semoga cepat sembuh thor💪
total 1 replies
Fauziah Daud
trusemangattt
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat biar bisa update setiap hari 😍😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!