Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Pagi hari di kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu terasa jauh lebih pengap daripada biasanya. Meskipun jendela kaca di sudut ruangan dibiarkan terbuka sedikit untuk membiarkan angin sisa hujan semalam masuk, udara di dalam ruangan seolah tertahan oleh beban tak kasat mata yang memenuhi setiap jengkal ruang.
Keira duduk bersila di atas karpet tipis, menatap lurus ke arah tumpukan buku diktat kuliah di sudut meja. Di balik tumpukan buku-buku tebal itu, map plastik transparan dari Nadia masih tersimpan rapi, tidak berubah bentuk, tidak bersuara, namun keberadaannya bagaikan bara api kecil yang terus memancarkan panas di dalam kegelapan.
Hari-hari berikutnya dalam hidup Keira tidak lagi berjalan dengan kepolosan yang sama.
Percakapannya dengan Nadia di kedai kopi Jalan Sudirman serta pembelaan diri yang disampaikan Davin malam tadi telah membuka sebuah celah di dinding pertahanan psikologisnya.
Selama berbulan-bulan, ia hidup dalam keyakinan bahwa dunia luar milik Davin dan dunianya di kamar kos adalah dua entitas yang terpisah dinding tebal satu penuh tekanan dan kerja keras, satu lagi penuh perlindungan dan ketenangan.
Kini, dinding tebal itu jebol. Ia menyadari bahwa kebohongan, tekanan, dan kepalsuan korporat bisa merembes masuk ke mana saja, bahkan ke dalam pelukan lelaki yang setiap malam ia anggap sebagai tempat paling aman di dunia.
Pukul delapan lewat sepuluh menit, Davin sudah berangkat kerja setelah sempat berpamitan dengan ciuman di kening seperti biasa. Hari itu adalah hari pertama setelah penutupan proyek cabang Bandung; Davin mengatakan di kantor suasananya sudah jauh lebih santai karena laporan akhir telah resmi diterima oleh jajaran direksi pusat.
Namun, kelegaan yang dirasakan Davin sama sekali tidak menular ke dalam dada Keira.
Setelah memastikan suara motor matic kekasihnya benar-benar hilang dari ujung gang Jalan Melati, Keira merangkak mendekati meja plastik.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia menarik keluar map plastik transparan dari dasar tumpukan diktat. Ia membukanya kembali, mengeluarkan lembar demi lembar salinan rekapitulasi anggaran yang diberikan Nadia, lalu membacanya dengan teliti untuk kesekian kalinya.
Angka-angka itu tetap sama. Kolom selisih puluhan juta rupiah pada pos pengeluaran operasional lapangan itu tetap berdiri kaku, mencurigakan, dan tidak masuk akal jika disandingkan dengan laporan fisik yang sebenarnya.
Kenapa Davin harus berbohong? batin Keira pilu, menatap deretan angka tersebut dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Kalau memang itu hanya penyesuaian administratif biasa seperti kata Davin, kenapa dia harus marah besar dan menyudutkan Nadia sedemikian rupa di kantor? Kenapa dia harus menutupi hal sekrusial ini dariku?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa ada satu pun jawaban yang bisa menenangkannya. Selama ini, Keira selalu memposisikan dirinya sebagai perempuan yang tidak tahu apa-apa, yang cukup mendengarkan cerita kekasihnya tanpa perlu mempertanyakan kebenarannya.
Namun, kini, ketidaktahuan itu tidak lagi terasa sebagai bentuk perlindungan, melainkan sebuah bentuk kebodohan yang menyiksa batinnya sendiri.
Di tengah keheningan kamar yang sesak oleh keraguan itu, tiba-tiba layar ponsel retak di atas meja menyala terang.
Sebuah notifikasi pesan masuk dari aplikasi perpesanan muncul di sudut layar. Bukan dari Davin, dan bukan pula dari Rian si penerbit zine.
Pesan itu datang dari nomor yang sama dengan yang mengiriminya undangan pertemuan beberapa hari lalu.
Nadia...
“Mbak Keira, selamat pagi. Maaf kalau pesan ini mengganggu aktivitas Mbak pagi ini. Semoga Mbak dan keluarga di kos sehat selalu.”
Membaca rentetan kalimat tersebut, jantung Keira berdegup kencang tak beraturan.
Tidak ada kalimat lanjutan yang menuntut atau mendesak. Nadia hanya mengirimkan sapaan singkat dan doa, seolah menyadari bahwa pertemuan kemarin sudah cukup memberikan beban yang berat bagi Keira, dan ia tidak ingin terlalu jauh mendesak atau memaksa masuk ke dalam kehidupan pribadi mereka.
Keira menatap layar ponselnya dengan perasaan serba salah. Di satu sisi, sikap Nadia yang tahu batasan itu justru membuat Keira merasa lebih tenang, tidak merasa dihakimi atau dipojokkan.
Di sisi lain, sapaan itu tetap menjadi pengingat bahwa di luar sana ada rahasia-rahasia besar yang belum terungkap sepenuhnya.
Ia tidak membalas pesan tersebut. Jemarinya memilih untuk menonaktifkan layar ponselnya, meletakkan benda itu kembali ke dalam laci meja, lalu menutup map plastik dokumen dan mendorongnya kembali ke dasar tumpukan diktat kuliah.
Ia tahu, berdiam diri dan memilih tidak merespons adalah satu-satunya jalan paling aman yang bisa ia ambil saat ini. Ia belum siap menghadapi konsekuensi yang lebih besar jika ia terus terseret ke dalam pusaran masalah kantor Davin.
Sementara itu, di lantai dua puluh gedung perkantoran di Jalan Sudirman, suasana divisi keuangan tampak jauh lebih tenang dari hari-hari sebelumnya.
Proyek cabang Bandung telah resmi ditutup, dan tumpukan berkas audit yang tadinya menggunung di atas meja kerja Davin kini telah berpindah ke ruang arsip pusat.
Davin duduk di kursi kerjanya sambil memutar-mutar pena di antara jemarinya.
Di hadapannya layar komputer menyala menampilkan laporan rutin mingguan, namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana. Meskipun laporan akhir telah diserahkan dan direksi tidak menemukan kejanggalan formal pada dokumen tersebut, ada satu hal kecil yang sejak kemarin malam terus mengusik kenyamanannya.
Sikap Keira.
Meskipun kekasihnya itu tersenyum manis, menyambut kepulangannya seperti biasa, dan mendengarkan keluh kesahnya tentang Nadia, Davin seorang manajer yang terbiasa membaca gerak-gerik dan ekspresi orang di ruang rapat menangkap ada sesuatu yang sedikit berbeda dari tatapan mata Keira malam tadi.
Ada jeda yang terlalu lama sebelum Keira merespons ceritanya tentang perdebatan terakhir dengan Nadia. Ada nada suara yang tertahan saat Keira menanyakan perihal prosedur audit dan alasan di balik perbedaan angka di lapangan.
Selama ini, Keira tidak pernah peduli dengan urusan kantor. Gadis itu adalah tipikal perempuan penurut yang menganggap dunia korporat adalah hal abstrak yang tidak perlu dipahami.
Kenapa tiba-tiba semalam Keira menanyakan soal prosedur dan pentingnya meluruskan data?
Kecurigaan kecil itu merayap di benak Davin.
Apakah Nadia sempat menghubungi Keira di luar jam kantor? Apakah perempuan rewel itu mencoba mencari-cari sekutu di luar divisi keuangan dengan cara menceritakan hal-hal yang tidak benar kepada kekasihnya?
Pikiran itu membuat rahang Davin mengeras. Jika benar Nadia berani melibatkan Keira ke dalam konflik internal kantor mereka, maka batas kesabaran Davin terhadap perempuan itu telah benar-benar habis.
Hubungannya dengan Keira adalah satu-satunya benteng pertahanan paling suci yang ia miliki di luar dunianya yang penuh intrik dan kebohongan korporat.
Tidak boleh ada seorang pun yang merusak ketenangan di kamar kos Jalan Melati tersebut terutama bukan Nadia.
Davin meletakkan penanya di atas meja dengan bunyi ketukan yang cukup keras.
Ia meraih ponsel kantornya, mencari kontak Nadia di direktori internal, lalu tanpa pikir panjang langsung menekan tombol panggil.
Panggilannya tersambung setelah dering ketiga.
"Halo, Nadia? Bisa ke ruang kerja saya sekarang?" ucap Davin dengan nada suara yang dingin, tegas, dan tidak membantah.
"Ada hal penting menyangkut batas profesionalitas kerja yang harus kita selesaikan hari ini juga."
Tanpa menunggu jawaban panjang dari ujung sana, Davin langsung menutup sambungan teleponnya.
Di dalam ruangan kerjanya yang berpendingin udara dingin, Davin merapikan letak dasinya, menyiapkan tatapan tajamnya, dan bersiap menghadapi siapa pun yang mencoba mencampuri urusan privasi dan karier yang telah susah payah ia bangun.
Kembali ke kamar kos Jalan Melati, keputusan untuk berdiam diri diambil oleh Keira. Setelah merenung cukup lama dengan tangan yang masih gemetar, ia memilih tidak membalas sapaan Nadia dan membiarkan layar ponselnya tetap sunyi.
Ia berdiri, melangkah lemah ke arah jendela kecil kamarnya. Ia membuka sedikit tirai, menatap ke arah luar di mana langit Kota Bimantara tampak mendung menggantung, siap menumpahkan hujan kapan saja.
Ada sesuatu yang retak di dalam hidupnya, tetapi benteng dunianya belum benar-benar hancur. Ia masih memiliki buku sketsanya, masih memiliki ruang-ruang kecil rahasia yang ia bangun sendiri, dan masih memiliki sisa-sisa keyakinan untuk bertahan.
Namun, untuk hari ini, di dalam ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu, Keira memilih untuk menutup tirai jendralnya rapat-rapat berpura-pura bahwa di luar sana badai itu belum datang, sementara di sudut meja, map plastik berisi rahasia itu menunggu waktu untuk berbicara.