NovelToon NovelToon
Saving My Ex-Husband

Saving My Ex-Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mafia / Penyelamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hyacinthus Rainwood

IG: @hyacinthschia

Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.

Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: "Perayaan Pemakaman"

Beberapa bulan telah berlalu sejak malam menyakitkan ketika sweater rajut hasil kerja kerasnya hancur di tangan Liam. Musim gugur telah berganti menjadi musim dingin, dan kini salju tipis mulai menyelimuti jalanan Manhattan, mengubah kota itu menjadi lanskap putih yang indah namun tetap terasa dingin—sama seperti hubungan pernikahan Brooklyn dan Liam yang tidak kunjung mencair.

Sejak malam itu, Brooklyn telah menepati janjinya pada diri sendiri untuk berhenti mengejar perhatian Liam dengan cara-cara yang penuh usaha berlebihan. Ia tetap menjalankan perannya sebagai istri di depan umum—menghadiri acara-acara sosial yang mengharuskan kehadiran mereka berdua, tersenyum ketika difoto oleh media bisnis, dan bersikap sopan setiap kali mereka berpapasan di dalam penthouse mewah mereka. Namun di balik semua itu, Brooklyn telah membangun tembok pelindung di sekeliling hatinya, sebuah pertahanan yang perlahan membuatnya terlihat lebih tenang, lebih dingin, meski jauh di dalam dirinya luka-luka lama masih menganga.

Hari ini adalah tanggal dua puluh Desember—hari ulang tahun Liam Whitmore yang ketiga puluh dua.

Meski hubungan mereka masih sedingin es, Brooklyn tetap merasa memiliki kewajiban untuk memberikan sesuatu di hari istimewa suaminya. Bukan karena ia masih berharap keajaiban akan terjadi—harapan semacam itu telah lama padam sejak malam sweater rajut itu tercabik-cabik—melainkan karena ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia masih bisa bersikap baik, terlepas dari bagaimana ia diperlakukan.

Pagi itu, Brooklyn mengunjungi sebuah butik pakaian pria eksklusif di kawasan Fifth Avenue, tempat para desainer ternama memamerkan koleksi jas dan kemeja kelas atas. Ia menghabiskan waktu hampir dua jam memilih dengan teliti, akhirnya memutuskan untuk membeli satu set pakaian lengkap—jas wol berwarna navy gelap buatan tangan, kemeja putih dengan kancing mutiara kecil, serta dasi sutra bermotif garis tipis yang elegan. Semuanya dipilih dengan mempertimbangkan selera Liam yang selalu tampil rapi dan berkelas dalam setiap kesempatan bisnis.

Set pakaian itu dibungkus dengan kotak kado berwarna hitam mengkilap, dihiasi pita satin berwarna emas—sederhana namun terlihat mewah, sesuai dengan gaya Liam yang selalu menyukai kesan minimalis namun berkualitas tinggi.

...***...

Malam harinya, Brooklyn menunggu di ruang keluarga penthouse mereka, kotak kado tersebut telah ia letakkan rapi di atas meja kaca. Ia sengaja tidak mengadakan perayaan besar-besaran, cukup sadar bahwa hal semacam itu hanya akan berujung pada penolakan yang lebih menyakitkan seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya. Ia hanya berencana memberikan hadiah itu secara sederhana, tanpa embel-embel apa pun yang bisa memicu amarah Liam.

Liam pulang lebih larut dari biasanya, sekitar pukul sepuluh malam, tampak lelah setelah menghadiri jamuan makan malam bisnis bersama beberapa investor penting. Ketika ia melangkah masuk ke ruang keluarga dan mendapati Brooklyn masih terjaga menunggunya, alisnya sedikit terangkat dengan ekspresi bertanya.

"Kau belum tidur?" tanyanya datar, melepas jasnya dan melemparkannya sembarangan ke sandaran sofa.

"Aku menunggumu," jawab Brooklyn, berdiri dari kursinya dan mengambil kotak kado dari atas meja. "Selamat ulang tahun, Liam."

Ia menyerahkan kotak hitam mengkilap itu dengan kedua tangannya, senyum tipis yang lebih terlihat seperti formalitas dibandingkan ketulusan tersungging di bibirnya—bukan lagi senyum penuh harap seperti bulan-bulan sebelumnya, melainkan senyum seorang wanita yang telah belajar untuk tidak lagi mengharapkan apa-apa.

Liam menatap kotak itu sejenak, ekspresinya sulit ditebak. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri diam, seolah mempertimbangkan sesuatu dalam pikirannya sebelum akhirnya mengambil kotak tersebut dari tangan Brooklyn.

Ia membuka kotak itu dengan gerakan yang terkesan malas, mengeluarkan jas navy gelap yang tertata rapi di dalamnya. Sejenak, matanya memperhatikan detail jahitan pada jas tersebut—kualitas yang jelas terlihat premium, dipilih dengan selera yang cukup baik. Namun alih-alih menunjukkan sedikit apresiasi, ekspresi wajah Liam justru berubah semakin dingin.

"Kau pikir dengan memberikan barang-barang mahal seperti ini, aku akan mulai menyukaimu?" tanyanya sinis, melipat kembali jas itu dengan asal-asalan ke dalam kotak.

"Aku tidak berharap seperti itu, Liam," jawab Brooklyn tenang, meski hatinya kembali berdebar cemas mendengar nada suara suaminya yang mulai meninggi. "Aku hanya ingin memberikan sesuatu untuk hari ulang tahunmu. Tidak lebih dari itu."

"Tidak lebih dari itu?" Liam tertawa pahit, suaranya penuh sarkasme. "Kau tahu, Brooklyn, setiap kali kau melakukan hal semacam ini—memberikan hadiah, memasak makan malam, membuatkan sweater konyol itu—kau hanya membuatku semakin muak."

Kata-kata itu menusuk lebih dalam dibandingkan yang Brooklyn kira, meski ia sudah berusaha membangun tembok pertahanan di sekeliling hatinya selama berbulan-bulan terakhir.

"Aku hanya mencoba bersikap baik," ucap Brooklyn, suaranya mulai sedikit bergetar meski ia berusaha keras mempertahankan ketenangannya.

"Bersikap baik?" Liam mendekati Brooklyn dengan langkah tegas, matanya dipenuhi amarah yang telah lama terpendam. "Kau tahu apa yang sebenarnya kau lakukan? Kau terus mengingatkanku setiap hari bahwa aku terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah kuinginkan! Setiap hadiah yang kau berikan, setiap usaha kecil yang kau lakukan, semua itu hanya membuatku semakin merasa terkurung!"

"Liam, aku hanya ingin membuat hari ulang tahunmu sedikit lebih baik—"

"Lebih baik?" potong Liam kasar, suaranya kini menggema di ruangan yang sunyi. "Kau tahu apa yang kupikirkan setiap kali aku melihatmu mencoba merayakan sesuatu bersamaku, Brooklyn? Rasanya seperti aku sedang merayakan pemakamanku sendiri!"

Brooklyn terpaku, matanya membelalak mendengar perkataan sekejam itu keluar dari mulut suaminya sendiri.

"Setiap kali kau membuat kue, memasak makan malam, atau membelikan hadiah semacam ini," lanjut Liam tanpa ampun, "yang kurasakan bukan kehangatan atau kebahagiaan seperti yang mungkin kau harapkan. Yang kurasakan hanyalah seolah aku sedang menyaksikan pemakaman kebebasanku sendiri, dirayakan dengan lilin-lilin dan pita-pita indah yang sama sekali tidak berarti apa-apa bagiku!"

Dengan kata-kata terakhir itu, Liam mengambil kembali kotak kado yang tadi ia letakkan di atas meja, lalu melangkah tegas menuju dapur. Brooklyn mengikutinya dengan langkah gemetar, hatinya sudah mulai merasakan firasat buruk tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Liam, tunggu—"

Namun terlambat. Di depan mata Brooklyn yang terbelalak ngeri, Liam membuka tutup tempat sampah besar di sudut dapur dan menjatuhkan seluruh isi kotak kado tersebut—jas navy gelap, kemeja putih berkancing mutiara, dan dasi sutra elegan—begitu saja ke dalam tempat sampah, bercampur dengan sisa-sisa makanan dan sampah rumah tangga lainnya.

"Selamat," ucap Liam dingin, menatap Brooklyn dengan tatapan penuh kepuasan yang menyakitkan. "Sekarang perayaan pemakamanku sudah selesai. Kau bisa kembali ke kamarmu, Brooklyn."

Ia berbalik dan berjalan meninggalkan dapur tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkan Brooklyn yang berdiri mematung di depan tempat sampah, menatap set pakaian mahal yang baru saja ia pilih dengan penuh perhatian kini teronggok begitu saja di antara sampah, tidak lebih berharga dari sisa makanan yang dibuang setiap hari.

Brooklyn berdiri dalam diam untuk waktu yang cukup lama, air mata yang biasanya akan segera mengalir kali ini terasa tertahan, seolah tubuhnya sudah terlalu lelah untuk terus meratapi penghinaan demi penghinaan yang terus ia terima. Ia hanya menatap kosong ke arah tempat sampah itu, pikirannya dipenuhi kata-kata Liam yang terus terngiang di kepalanya.

Perayaan pemakamanku sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!