Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.
Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.
Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.
"Jangan sentuh!"
Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.
"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Pukul 17.00 tepat.
Detik demi detik terasa begitu lambat merayap hingga Hayden akhirnya menurunkan kuasnya, menyandarkan alat lukis itu di tepi palet kayu yang dipenuhi adonan cat minyak yang mulai mengering.
"Selesai untuk hari ini," ucap Hayden dingin, memutus ketegangan yang membeku di udara studio selama berjam-jam.
Aluna menghembuskan napas panjang. Punggung dan lehernya terasa luar biasa kaku, seperti ditancapi ribuan jarum kecil. Namun, ia enggan memperlihatkan rasa lelahnya di hadapan pria itu. Dengan gerakan perlahan, Aluna berdiri dari kursi kayu di atas podium, meregangkan jemarinya yang dingin, lalu melangkah turun.
"Bagaimana dengan lukisannya?" tanya Aluna spontan, melirik ke arah kanvas raksasa yang posisinya sengaja membelakanginya.
Hayden yang sedang membersihkan sisa cat di jemarinya menggunakan kain perca berbau tiner mendongak tipis. Tatapannya datar. "Kau belum berhak melihatnya. Tugasmu hanya menjadi objek, bukan kritikus seni."
Aluna merapatkan bibir, menahan kejengkelan yang mendadak meluap. "Aku hanya bertanya. Lagi pula, itu wujud diriku."
"Dan itu karyaku," potong Hayden tanpa kompromi. Ia menunjuk ke arah tirai pembatas menggunakan dagunya. "Ganti pakaianmu. Mobil jemputan rumah sakit sudah kusiapkan di depan."
Aluna tidak membantah lagi. Ia melangkah ke balik tirai, melepas gaun sutra putih yang melilit tubuhnya, lalu menggantinya kembali dengan kaos oblong dan celana jeans.
Saat Aluna keluar dari balik tirai, Hayden sudah berdiri di dekat pintu kayu utama studio, mengenakan kembali jaket kulit hitamnya.
"Besok jam satu siang di sini lagi," kata Hayden sembari membukakan pintu. "Jangan sampai terlambat."
"Aku tidak pernah ingkar janji," sahut Aluna tegas. Tanpa mengucap kata lain, ia melangkah melewati Hayden menuju mobil sedan hitam yang sudah menunggunya di depan gerbang studio.
Malam itu, Aluna menghabiskan waktunya di ruang tunggu ICU. Ia tertidur beralaskan jaket tipis di kursi besi yang dingin. Romeo masih belum siuman; tubuhnya masih terbaring lemah dengan perban membungkus kepala dan selang-selang medis yang menopang hidupnya.
*
Keesokan harinya, sinar matahari pagi mulai menerobos jendela koridor rumah sakit. Aluna terbangun dengan tubuh pegal. Ia merapikan pakaiannya lalu menghampiri Suster Maya di pos penjagaan.
"Suster Maya," panggil Aluna pelan.
Suster Maya menoleh dan tersenyum ramah. "Iya, Mbak Aluna? Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau titip Kak Romeo sebentar, Suster," ujar Aluna dengan raut wajah serba salah. "Mulai pagi ini izin kuliah saya sudah habis. Saya harus masuk kampus untuk mengurus beberapa hal dan mengikuti kelas morning lecture. Kalau ada perkembangan apa pun tentang Kak Romeo, tolong segera hubungi saya ya, Suster?"
"Tentu saja, Mbak Aluna. Mbak tidak usah khawatir, tim medis kami akan menjaga Mas Romeo dua puluh empat jam. Mbak Aluna fokus saja kuliah dulu," balas Suster Maya menenangkan.
"Terima kasih banyak, Suster."
Aluna melangkah keluar dari rumah sakit menuju kampusnya. Begitu menginjakkan kaki di pelataran gedung fakultas, langkahnya terasa begitu berat. Di antara lalu-lalang mahasiswa yang tertawa dan bersenda gurau, Aluna merasa seperti asing di dunianya sendiri.
"Aluna!"
Sebuah suara akrab memanggilnya dari arah koridor. Berta, teman sekelas sekaligus sahabat kampusnya, berlari-lari kecil menghampirinya.
"Aluna! Ya ampun, akhirnya kamu masuk juga!" seru Berta sembari merangkul bahu Aluna hangat. "Gimana kabar kamu? Terus pekerjaan yang tempo hari kamu ceritain itu... gimana? Lancar?"
Aluna menegang sejenak. Pikiran tentang gaun sutra putih, pose kaku di atas podium, dan tatapan menembus dari Hayden mendadak membayang di benaknya. Namun, ia dengan cepat memaksakan sebuah senyuman tipis.
"Lancar, Berta. Semuanya berjalan lancar," jawab Aluna bohong. Ia sama sekali tak berniat menceritakan bahwa ia berbohong soal bekerja di kafe, apalagi membocorkan kenyataan pahit bahwa dirinya kini menyerahkan harga dirinya menjadi model lukis pribadi teman kakaknya.
"Syukurlah kalau lancar," Berta menghela napas lega, lalu raut wajahnya berubah cemas. "Terus gimana kondisi Kak Romeo? Operasinya sukses, kan?"
Aluna menunduk, menatap ujung sepatunya. Binar matanya redup, tak ada lagi keceriaan hangat yang biasanya dipancarkan gadis itu. "Operasinya sukses... tapi Kak Romeo belum bangun juga sampai pagi ini."
Melihat perubahan sikap sahabatnya yang begitu drastis, Berta memegang kedua lengan Aluna dan mendesaknya. "Aluna, kamu kenapa? Kamu kelihatan beda banget. Ada masalah lain yang kamu sembunyiin dari aku? Cerita sama aku, Na."
Aluna menggeleng pelan, menghindari tatapan mata Berta. Dadanya terasa sesak. Bagaimana mungkin ia bisa jujur bahwa ia merasa harga dirinya telah terkoyak dan hancur berantakan di hadapan Hayden? Pria itu memandangnya sebagai cewek manja tak berguna yang kini terikat utang darurat.
"Aku tidak apa-apa, Berta..." bisik Aluna dengan suara bergetar. "Aku cuma... sangat mengkhawatirkan Kak Romeo. Dia satu-satunya keluargaku yang tersisa, dan aku takut banget kalau dia kenapa-kenapa."
Berta meremas jemari Aluna dengan iba. "Iya, aku paham. Maaf ya sudah mendesak kamu. Kak Romeo pasti bangun, Na. Dia kan kuat."
"Makasih ya, Berta."
Mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruang kuliah. Sepanjang perkuliahan berlangsung, Aluna sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Matanya menatap papan tulis, namun pikirannya melayang antara ruang ICU yang dingin dan studio perbukitan milik Hayden.
Pukul 12.00 tepat. Dosen menutup perkuliahan sore itu.
Saat mahasiswa lain baru mulai merapikan tas dan mengobrol, Aluna sudah berdiri lebih dulu. Tanpa menunggu Berta, ia bergegas melangkah keluar dari ruang kelas dengan terburu-buru.
"Na! Aluna! Mau ke mana? Tungguin!" panggil Berta bingung.
Berta cepat-cepat memasukkan bukunya ke dalam tas lalu berlari menyusuri koridor untuk mengejar Aluna. Begitu sampai di halaman depan kampus, Berta menghentikan langkahnya di balik pilar gedung.
Di tepi jalan utama kampus, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengilat tampak berhenti. Pintu penumpang belakang terbuka, dan Berta melihat Aluna melangkah masuk ke dalam mobil itu tanpa ragu. Tak lama kemudian, mobil mewah itu melaju kencang meninggalkan area kampus.
Berta melongo dengan kening berkerut dalam.
Mobil mewah? Aluna naik mobil selelevel itu? batin Berta kebingungan. Apakah mungkin Aluna bohong soal pekerjaannya di kafe?
Namun, Berta segera menggelengkan kepalanya keras-keras, menepis pikiran buruk itu. Ah, tidak mungkin. Aluna kan anak yang polos dan jujur. Mungkin dia naik taksi online premium atau dijemput saudara jauhnya. Aku salah lihat paling.
*
Sore itu, Berta memutuskan untuk datang menjenguk Romeo di Rumah Sakit Medika. Ia melangkah menyusuri koridor lantai tiga dengan membawa sekeranjang buah, berharap bisa menemani Aluna yang mungkin sedang kelelahan di sana.
Namun, begitu tiba di depan ruang ICU, Berta tidak menemukan keberadaan sahabatnya. Kursi-kursi besi di ruang tunggu tampak kosong melompong.
Berta mendekati pos jaga dan mendapati Suster Maya yang sedang mencatat lembar medis.
"Permisi, Suster," sapa Berta sopan. "Saya Berta, teman sekolahnya Aluna. Alunanya ada di dalam?"
Suster Maya mendongak dan menggeleng pelan. "Oh, Mbak Aluna tidak ada di sini, Mbak. Beliau belum datang lagi sejak berangkat ke kampus tadi pagi."
Berta tertegun. "Belum pulang ke rumah sakit dari pagi? Padahal kelas kami sudah selesai dari jam dua belas siang tadi..."
Berta terdiam sejenak. Ingatannya langsung melayang pada kejadian siang tadi saat Aluna terburu-buru naik ke dalam mobil mewah di depan kampus. Kalau jam dua belas dia sudah jalan, tapi jam setengah empat belum sampai rumah sakit... apakah Aluna langsung pergi bekerja? Tapi kerja di kafe mana yang dijemput mobil semewah itu?
Saat Berta masih terpaku dalam keraguan, tiba-tiba bunyi bip dari monitor jantung di dalam ruangan ICU terdengar berakselerasi.
"Suster! Pasien di bed tiga menunjukkan pergerakan!" panggil seorang perawat dari dalam ruangan.
Suster Maya bergegas masuk ke dalam, diikuti Berta yang mengintip cemas dari balik pintu kaca.
Di atas ranjang, kelopak mata Romeo bergetar hebat sebelum akhirnya perlahan-lahan terbuka. Manik matanya yang redup bergerak kaku menyesuaikan cahaya ruangan. Masker oksigen di wajahnya naik turun seiring deru napasnya yang terengah.
Romeo telah sadar.
"Mas Romeo? Mas Romeo bisa mendengar suara saya?" tanya Suster Maya lembut sembari memeriksa refleks pupil matanya.
Romeo mengedipkan matanya lemah. Tenggorokannya terasa sangat kering dan kaku. Dengan sisa tenaga yang ada, bibirnya bergerak kaku mengeja sebuah nama yang paling ia khawatirkan.
"...A...luna..." bisik Romeo sangat serak. "...di... mana... Aluna...?"
Berta yang tidak tahan lagi melangkah masuk ke batas pintu steril. "Kak Romeo! Kakak sudah sadar?"
Romeo memalingkan kepalanya pelan, mengenali wajah Berta. "Ber...ta...? Aluna... mana...?"
Berta mendekati ranjang, menatap raut wajah Romeo yang pucat pasi dan penuh kecemasan. Berta menelan ludah, bingung harus menjawab apa. Namun teringat ucapan Aluna tadi pagi di kampus, Berta mencoba memberikan jawaban yang paling ia tahu.
"Aluna... Aluna sedang bekerja, Kak," bisik Berta pelan. "Dia bilang dia kerja untuk bantu biaya rumah sakit Kakak."
Mendengar kata 'bekerja', dada Romeo menghantam rasa sakit yang luar biasa hebat. Bayangan adiknya yang polos, gadis kecil yang selalu ia lindungi dari kerasnya dunia, kini harus membanting tulang dan menanggung beban seberat ini di luar sana saat dirinya tak berdaya di atas ranjang.
Air mata menetes dari sudut mata Romeo, meluncur basah melewati pelipisnya menuju bantal. Pria itu memejamkan matanya erat-erat, menahan sesak dan rasa bersalah yang mencabik-cabik hatinya.
*
*
*
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna