Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun Kecantikan
Pagi hari Perayaan Musim Panas akhirnya menyingsing. Udara hangat musim panas disambut oleh dentang lonceng emas kerajaan yang bergema di seluruh pelosok ibu kota. Aula Utama Istana Interior dihiasi oleh kain-kain sutra emas dan rangkaian bunga mawar putih yang indah.
Di Pavilion Timur, persiapan pakaian dan riasan Aurelia sedang berlangsung secara ketat. Namun, Faksi Vance yang semakin terdesak kembali melancarkan serangan nekat terakhir mereka melalui bidak baru: Selir Beatrice—seorang selir muda anggun dari faksi barat yang ahli dalam seni kecantikan dan kosmetik istana.
Pintu kediaman Aurelia terbuka, dan Selir Beatrice melangkah masuk dengan senyuman manis nan hangat, membawa sebuah kotak kayu cendana berlapis beludru merah.
"Salam untuk Lady Aurelia yang mulia," sapa Beatrice dengan senyuman anggun yang memikat. "Sebagai bentuk penghormatan dan permintaan maaf dari para selir faksi barat atas insiden kemarin, hamba membawakan hadiah khusus: Bedak Bedak Mutiara Surgawi dari perbatasan utara untuk mempercantik riasan Anda di pesta malam nanti."
Marta menerima kotak tersebut dengan cermat dan membukanya di hadapan Aurelia. Di dalamnya, terdapat wadah porselen berisi bedak putih halus bernoda kilau mutiara yang memancarkan aroma bunga lavender yang sangat harum.
Beatrice tersenyum sangat manis. "Bedak ini akan membuat kulit wajah Anda tampak memancarkan cahaya alami di bawah lampu kandelir pesta, Lady Aurelia. Izinkan hamba sendiri yang mengoleskannya pada wajah Anda sebagai bentuk bakti."
Aurelia duduk di depan cermin gadingnya, menatap bayangan Beatrice di dalam cermin dengan pandangan jernih yang amat tenang. Jemari lentik Aurelia yang mengenakan cincin Blue Sapphire mengusap pinggiran wadah porselen tersebut.
Naluri tajam Aurelia dan pengetahuan herbal yang dipelajarinya langsung mendeteksi ada yang salah. Di balik aroma wangi lavender yang menyengat, terdapat jejak aroma samar ekstrak Bunga Seribu Duri—sebuah bahan kimia kosmetik beracun yang jika dioleskan pada kulit wajah dan terkena panas uap lilin pesta, akan memicu reaksi alergi membakar yang merusak kulit wajah secara permanen dalam hitungan jam!
Racun kecantikan yang sangat licik, batin Aurelia dengan senyuman dingin yang tak terabaikan di dalam hatinya. Genevieve ingin merusak wajahku agar aku tidak bisa tampil mendampingi Julian di meja utama malam ini.
Aurelia tidak menolak. Ia justru memutar tubuhnya, menatap Beatrice dengan mata cokelatnya yang memikat.
"Bahan bedak ini sungguh sangat halus dan harum, Selir Beatrice," puji Aurelia dengan suara merdu yang amat lembut. "Namun, tradisi keluarga Montclair mengajarkan bahwa seorang pengirim hadiah yang mulia harus mendapatkan kehormatan untuk mencobanya terlebih dahulu sebagai bentuk jaminan kesucian."
Wajah Beatrice seketika membeku. Senyuman manis di bibirnya bergetar samar. "M-maksud Anda, Lady Aurelia?"
Aurelia mengambil sedikit bedak mutiara tersebut menggunakan kuas sutra halus. "Mari, Beatrice... biarkan aku sendiri yang mengoleskan bedak surgawi ini pada pipimu yang cantik sebagai bentuk penerimaan persahabatan kita."
Beatrice mundur satu langkah dengan peluh dingin mulai membasahi dahinya. "L-Lady Aurelia... hamba hanyalah selir biasa, hamba tidak pantas menggunakan bedak seberharga ini!"
"Apakah kau menolak kebaikan dari pemilik cincin segel kerajaan ini, Beatrice?" suara Aurelia mendadak berubah sangat dingin dan menekan, memancarkan wibawa mutlak yang membungkam perlawanan Beatrice seketika.
Atmosfer di dalam kamar rias Pavilion Timur mendadak membeku. Dua pengawal zirah perak yang berdiri di dekat pintu maju satu langkah atas isyarat mata dari Marta, menutup seluruh celah melarikan diri bagi Selir Beatrice.
"A-ampunkan hamba, Lady Aurelia!" cicit Beatrice dengan tubuh gemetar hebat di atas lantai pualam.
"Mengapa kau meminta ampun untuk sebuah bedak mutiara yang kau sebut sebagai hadiah persahabatan?" tanya Aurelia halus, melangkah mendekati Beatrice dengan kuas sutra berbedak di tangannya.
Dengan gerakan yang sangat lembut namun tidak bisa dibantah, Aurelia mengusapkan kuas bedak tersebut pada pipi kanan dan leher Beatrice. Bedak halus beraroma lavender itu menempel sempurna pada kulit mulus Beatrice.
"Bedak ini memang tampak sangat indah, Beatrice," bisik Aurelia di dekat telinga wanita yang menggigil itu. "Namun kau lupa bahwa uap panas dari lampu minyak di ruangan ini sudah cukup untuk memicu reaksi racun Bunga Seribu Duri yang kau campurkan di dalamnya."
Dalam hitungan menit, reaksi kimia dari kosmetik beracun itu bekerja. Pipi kanan Beatrice yang teroles bedak mendadak memerah membara. Rasa gatal dan panas seperti terbakar api menyengat kulit wajahnya, membuat Beatrice menjerit kesakitan seraya mencakar pipinya sendiri!
"AAGHHH! PANAS! WAJAHKU! WAJAHKU!" jerit Beatrice histeris, bergulingan di atas lantai pualam seraya meratapi rasa terbakar yang merusak kulit cantiknya.
Aurelia berdiri tegap di atasnya, menatap cermin gading di meja riasnya yang memantulkan bayangan kehancuran musuh barunya. Cermin persahabatan palsu Faksi Vance telah retak secara total.
"Bawa Selir Beatrice ke ruang tahanan interior," perintah Aurelia dingin kepada para pengawal. "Pastikan tabib mengobati lukanya agar ia tetap hidup untuk menyaksikan persidangan Faksi Vance di Hall of Council malam ini."
"Baik, Lady Aurelia!" teriak para pengawal seraya menyeret Beatrice yang menangis histeris keluar dari kediaman.
Aurelia berjalan mendekati cermin gadingnya kembali. Marta dengan sigap merapikan gaun malam sutra biru tua berlapis benang emas milik Aurelia dan memasangkan mahkota kecil bertatahkan batu Blue Sapphire di atas rambut cokelat kemerahannya yang ditata sangat anggun.
Tidak ada lagi cela, tidak ada lagi keraguan. Seluruh jebakan musuh telah diputarbalikkan, dan bukti konspirasi pengkhianatan Oakhaven telah berada aman di dalam genggamannya.
Aurelia menatap pantulan dirinya di dalam cermin—seorang wanita tangguh yang telah bangkit dari kematian untuk merebut kembali seluruh tahta, kehormatan, dan keadilan yang menjadi haknya.
"Saatnya mengakhiri permainan ini, Genevieve," bisik Aurelia dengan senyuman maut yang teramat memikat.
Dengan langkah yang tegap, anggun, dan penuh wibawa seorang Ratu, Aurelia melangkah keluar dari Pavilion Timur menuju Aula Utama, siap menyambut puncak malam Perayaan Musim Panas dan meruntuhkan Faksi Vance untuk selamanya.
Hujan deras mengguyur Istana Interior tanpa ampun, membasahi atap-atap pualam dan mengalir deras menyusuri pilar-pilar batu Paviliun Timur. Kilatan petir sesekali menyambar di langit malam, membiaskan pendar keperakan di dalam ruang kerja Aurelia. Udara malam terasa begitu dingin, tetapi di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh pendar lilin lebah itu, atmosfer di antara dua insan manusia terasa begitu sesak dan membakar.
Aurelia berdiri tegap di dekat jendela besar yang terbuka sedikit, membiarkan percikan air hujan menerpa gaun malam birunya. Cincin Blue Sapphire di jari manisnya memantulkan kilau redup.
Tiba-tiba, suara derap langkah berat tanpa pengawalan menghentak di ambang pintu. Julian melangkah masuk. Pria itu tidak mengenakan jubah kebesarannya; kemeja linen hitamnya basah kuyup oleh air hujan, menempel ketat pada dada bidangnya yang tegap. Tetesan air mengalir dari helai rambut gelapnya, melintasi garis rahangnya yang tegas.
"Anda mengabaikan hujan dan datang tanpa pengawal, Yang Mulia?" suara Aurelia mengalun halus, berusaha mempertahankan benteng pertahanan dinginnya.
Julian tidak menjawab dengan kata-kata. Sang Raja memangkas jarak di antara mereka dengan langkah-langkah tegap yang penuh penekanan. Sebelum Aurelia sempat melangkah mundur, tangan kekar Julian yang hangat dan basah meraih kedua bahu Aurelia, menarik tubuh wanita itu mendekat hingga tidak ada lagi jarak yang memisahkan mereka.
~ To Be Continue