NovelToon NovelToon
SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:66.7k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.

Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.

Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.

Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.

Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.

Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.

Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Bukan Pembantu di Rumah Ini, Bu.

Malam akhirnya tiba.

Setelah cukup lama berada di dalam kamar, Raya keluar dengan penampilan yang jauh berbeda dari biasanya. Dengan dress yang ia pilih tadi sore.

Rambutnya dibiarkan tergerai, sementara langkahnya terdengar perlahan ketika ia mulai menuruni anak tangga.

Begitu sampai di beberapa anak tangga terakhir, pandangan Raya langsung tertuju ke ruang tamu.

Zevan dan Rara sudah berada di sana.

Keduanya duduk berdampingan di sofa. Yang membuat langkah Raya sempat melambat adalah pakaian mereka. Warna yang dikenakan Zevan dan Rara tampak senada, seolah keduanya memang sengaja memilih pakaian dengan warna yang sama.

Raya hanya mengangkat sudut bibirnya.

Ia melanjutkan langkah tanpa berniat menunjukkan bahwa pemandangan itu mengusik perasaannya.

Namun, baru beberapa langkah mendekati ruang tamu, suara Zevan terdengar.

“Raya.” Pria itu menatap penampilannya. “Kenapa pakai baju seperti itu?”

Raya menghentikan langkah, lalu menoleh.

“Kenapa, Mas?” tanyanya santai sembari mengibaskan rambut ke belakang bahu.

“Tapi baju itu terlalu terbuka, Raya.”

“Apa aku harus pakai muslimah biar sok suci gitu?” tanya Raya. “Enggak, Mas. Aku nggak mau, lagian baju ini aku beli sendiri. Aku nggak menggunakan uang kamu, jadi seharusnya nggak masalah.”

Raya tersenyum tipis.

“Kecuali aku memakai uang Mas, baru protes. Lagipula, uang Mas mana cukup belikan aku dress yang setara dengan gajinya Mas. Bisa-bisa, Mas nggak akan bisa kasih makan kedua istrimu.”

Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, Raya berbalik dan melangkah melewati mereka.

Langkahnya tetap tenang, saat ia melanjutkan langkahnya dan melewati mereka berdua sambil Raya mengangkat dagu sedikit.

. . .

Setibanya di halaman rumah, Raya terus melangkah menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempatnya berada sekarang.

Begitu sampai di dekat mobil, Raya membuka tas tersebut dan merogoh bagian dalamnya untuk mengambil kunci. Ia menekan tombol pada kunci mobil.

Bip!

Lampu mobil berkedip dan suara kunci terdengar terbuka.

Namun, baru saja Raya hendak membuka pintu, suara Zevan kembali terdengar dari belakang.

“Satu mobil saja, Raya.”

Raya menghentikan gerakannya. Ia memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya menoleh.

Zevan dan Rara berdiri tidak jauh darinya.

Raya mengangkat alis, kemudian tersenyum tipis.

“Nggak perlu, aku berangkat pakai mobilku sendiri,” jawabnya santai. “Mas naik taksi yang Mas pesan saja.”

Tangannya masih menggenggam gagang pintu mobil.

“Lagian nggak enak berdesakan, takutnya mengganggu kemesraan kalian seperti tadi sore,” lanjut Raya, suaranya terdengar menyindir.

Ia menatap Zevan sejenak sebelum melirik ke arah rumah.

“Nggak tahu malu.”

Tanpa menunggu jawaban, Raya menarik pintu mobil dan segera masuk ke dalam.

Ia menutup pintu dengan tenang, lalu meletakkan tasnya di kursi sebelah.

Tangannya meraih sabuk pengaman, tetapi sebelum menyalakan mesin, Raya sempat menarik napas panjang. Pandangannya menatap lurus ke depan melalui kaca depan mobil lalu mulai menekan gas mobil hingga akhirnya melaju perlahan meninggalkan pelantaran rumah.

Sementara Zevan, ia masih berdiri menatap punggung mobil Raya yang mulai meninggalkan pelantaran rumah.

Zevan mengusap wajahnya sekilas. Ucapan sederhana itu justru membuat perasaannya tidak nyaman.

“Sudah, Mas. Ayo berangkat. Mobil sudah nungguin kita, dan takutnya ibu nungguin kita kelamaan.”

Suara Rara membuat Zevan tersadar dari lamunannya.

Ia menoleh kepada perempuan yang kini berdiri di sampingnya. Setelah terdiam beberapa saat, Zevan akhirnya mengangguk.

“Iya.”

Rara tersenyum tipis, kemudian berjalan lebih dahulu menuju mobil.

Sesampainya, Zevan membantu Rara membukakan pintu mobil bagian belakang.

Dan setelah Rara masuk kedalam mobil, tiba gilirannya.

Pintu mobil tertutup.

Pandangan Zevan menatap pria yang duduk di balik kemudi.

“Di tempat tujuan ya, Pak,” ucap Zevan.

“Baik, Pak.”

Beberapa saat kemudian, suara mesin kendaraan terdengar dan mobil itu mulai meninggalkan halaman rumah.

.

.

Dua puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Raya akhirnya tiba di halaman rumah mertuanya. Ia mematikan mesin, lalu membuka pintu mobil dan turun.

Belum sempat melangkah jauh, suara kendaraan lain terdengar dari belakang. Raya melirik sekilas dan mendapati mobil asing memasuki pelataran rumah, berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Raya memilih tetap menunggu.

Ia berdiri di samping mobil sambil menggenggam tasnya, menanti sepasang suami istri itu turun. Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar samar dari arah belakang.

Raya menoleh. Tatapannya langsung tertuju pada lengan Zevan yang sedang digelayuti Rara.

Raya terdiam sesaat. Namun, sebelum ia sempat bereaksi, Rara buru-buru melepaskan tangannya dari lengan Zevan.

Raya hanya mengalihkan pandangan. Ia tidak ingin mempermasalahkan hal itu, apalagi menunjukkan bahwa pemandangan tersebut masih mampu mengusik hatinya.

Raya membenarkan posisi tas di tangannya, lalu melangkah lebih dahulu menuju pintu rumah.

“Buruan,” ucapnya singkat tanpa menoleh.

Ia tidak menunggu jawaban. Langkahnya terus membawanya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Zevan dan Rara di belakang.

. . .

Setibanya di depan pintu, Raya berhenti sejenak. Zevan dan Rara menyusul beberapa langkah di belakangnya.

Tok... tok...

Zevan mengetuk pintu dua kali, kemudian berseru, “Bu, Ayah, kami datang.”

Tidak lama kemudian, terdengar suara kunci diputar dari dalam. Pintu terbuka, memperlihatkan Riana dengan senyum lebar yang langsung menghiasi wajahnya.

“Akhirnya kalian sampai juga. Ayo, masuk.” Tatapan Riana segera beralih kepada Rara. “Eh, ya ampun, Rara. Bagaimana kabarmu, Sayang? Kamu baik-baik saja?”

Rara tersenyum sopan. “Alhamdulillah, Bu.”

Riana mengangguk, lalu menyentuh lengan Rara dengan lembut.

“Bagus. Ingat, jaga kesehatanmu. Jangan terlalu banyak beraktivitas.”

Raya hanya berdiri beberapa langkah dari mereka. Ia memperhatikan bagaimana ibu mertuanya begitu perhatian kepada Rara, bahkan tidak sedikit pun melirik ke arahnya.

Pemandangan itu tanpa sadar mengingatkannya kepada ibunya sendiri.

‘Bahkan Ibu yang telah melahirkan dan membesarkanku juga nggak pernah memperlakukanku seperti itu, apalagi ibu mertua.’

Perbandingan yang setara cukup membuatnya nyeri hati. Tak ada yang berbeda dari sikap kedua wanita paruh baya itu.

Namun, Raya segera mengalihkan pandangan. Tam ingin terlalu lama memikirkan perlakuan yang selama ini sudah biasa diterimanya.

“Ayo masuk,” ucap Bu Riana.

Mereka kemudian masuk ke dalam rumah.

“Rara, ibu masakin makanan kesukaanmu, terlur bumbu, pasti kamu suka,” ucap Bu Riana.

“Ibu tahu dari mana?” tanya Rara.

“Ya dari ibu kamulah, Ra.”

Raya hanya diam mendengar obrolan kedua wanita didepannya.

Hingga akhirnya mereka tiba di ruang makan.

Langkah Raya terhenti saat ia tak mendapati satupun sesajian apapun di atas meja sana.

Raya baru saja hendak menarik kursi ketika suara wanita yang begitu familiar terdengar dari belakang.

“Raya, tolong ambilkan makanan di dapur.”

Raya berhenti.

Ia menoleh sekilas kepada ibu mertuanya, tetapi tidak langsung menjawab. Tanpa berkata apa-apa, Raya justru menarik salah satu kursi dan duduk.

“Raya.”

Ibu mertuanya kembali memanggilnya dengan nada yang lebih tegas.

Raya mengangkat wajah.

“Bukankah ada dua asisten rumah tangga, Bu?” tanyanya tenang.

Tampak Bu Riana mengerutkan kening.

“Mereka sibuk. Seharian mereka sudah lelah memasak.”

Raya tersenyum tipis. “Tapi, Bu, aku ini datang sebagai tamu, bukan asisten rumah tangga.”

Ucapan itu membuat suasana seketika hening.

“Kamu...” Bu Riana menatapnya tajam.

Namun, sebelum perkataan itu berlanjut, suara Rio terdengar menengahi.

“Sudah, Rin.”

Pria paruh baya itu menghela napas pelan sebelum melanjutkan, “Sekarang panggil saja mereka untuk menata makanan. Lagian kamu sendiri sih, yang suruh mereka istirahat padahal makanan belum di tata.”

Terdengar suara dengusan kecil dari ibu mertuanya, lalu mengalihkan pandangan.

Raya tidak mengatakan apa-apa lagi.

Ia hanya duduk dengan tenang. Jemarinya perlahan meremas ujung dress merah yang dikenakannya.

Raya tersenyum tipis. ‘Kenapa hati ini terasa sangat lega setelah aku melawan perintah ibu mertua?’

Ia menundukkan pandangan, memperhatikan jemarinya sendiri.

‘Dulu aku bahkan nggak punya keberanian untuk menolak, apalagi melawan.’

Raya menarik napas pelan. Lalu ia menatap ke arah suaminya yang sedang duduk di seberang meja.

‘Apa mungkin... semua ini karena Mas Zevan sudah mengkhianatiku?’

1
Herdian Arya
membesarkan anak ular.
sutiasih kasih
andai kansa & raya tau..
nyesel kalisn miara ank tak tau diri... yv justru sll mnyskiti ank kndung kalian....
Meee
tuhkan anak g tau diri dah fitnah buah g jatuh dari pohonnya,emaknya jahat ya anaknya juga g beda.
sutiasih kasih
udh tau kturunan dajjal.... knapa jga dipiara sih.....
mna kelakuan g ada baik"nya tuh ank dajjal....
bkal nyesel km raya & kansa.... merawat ank tak tau diri🙄🙄
sutiasih kasih
gila ya.... ank pungut tak tau diri🙄🙄
Yuni Ngsih
Authooor ceritramu bgs bangeeeet ku yg baca asyik ,membaca jln ceritra ,banyak fakta dlm kehidupan nyata Thor terutama Kaka mengurus adiknya ,Kakanya punya suami eh suaminya di embat ,....smg lanjutannya Raya bahagia sm Kansa selamanya ok ditunggu lanjutannya
Ma Em
Lagian Raya dan Kansa mau saja merawat anaknya Rara dan Zevan , apa bodoh atau gimana sih mereka berdua cuma bikin penyakit saja harusnya kalau Raya sdh lepas dgn Zevan Raya tdk usah pedulikan lagi dan mau saja mengurus anak Rara dan Zevan .
Elina thea
nanti kalo keluargamu hancur,salahkan dirimu sendiri,oke~~~
Elina thea
terserahmu raya~~~
stela aza
bibitnya y aja beda kelakuan tetep mengikuti ibu kandungnya walaupun dia udh di adopsi dari bayi ,,,🤦 loe j yg bodoh mau nampung bayinya orang yg udh pernah merusak rumah tangga kamu 🤦
sunaryati jarum
Anisa, berawal kau yang salah tapi kok dendam dengan Raya.Kau bekerja dengan tekun akan enak hidupmu
sunaryati jarum
Bebas umur berapa Zevan
sutiasih kasih
ambil saja zevan buat km ra... kekepe sana suami keru smpe km muntah"😅😅😅....
raya pasti ikhlas ngasih zevan buat km seorang.... tpj jgn mmpi km bisa kuasai rmh raya ya ra.....
sutiasih kasih
ya ampun.... keluarga.... suami.... mertua parasit kok ttp km prtahankan sih ray....🙄🙄
sutiasih kasih
bu riana matamu buta ya.... mna ada sejarahnya.... perempuan perebut laki orang... adalah perempuan baik"😂😂😂
sutiasih kasih
eeee dasar musang berbulu domba.... tdi kau bilang msak cm 2 porsi....
skrg bilang ke suamimu msak 3 porsi...
dasar gundik tak tau diri kau ra.... benalu... pelakor 🙄🙄
Meee
KLO bisa mah anak sirara g di urus sama raya dan Kanza,di taroh di panti asuhan ajalah,tkt jdi petaka buat anak raya nantinya.
sunaryati jarum
Jual diri dapat uang atau mati saja Rara 🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Anisa berani mengganggu bahkan menyakiti istri bosnya sendiri, tindakan konyol menggali lubang untuk kuburnya sendiri
sunaryati jarum
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!