Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepungan Gagak Hitam
Tekanan batin yang dipancarkan dari langit-langit Red Crow Wine House meluncur turun bagaikan bongkahan batu raksasa yang menimpa dada. Suara gemeretak kayu berpendar kuat saat pilar-pilar utama amfiteater bergetar hebat di bawah bobot Qi Ranah Jiwa Pedang.
Para pengunjung lelang yang terjebak di dalam ruangan menjerit histeris, saling bertabrakan mencari celah melarikan diri. Namun, pintu-pintu besi bertatahkan runa merah telah menancap kokoh di setiap gerbang keluar, mengunci rapat seluruh bangunan tanpa menyisakan celah sekecil apa pun.
Dari balkon paling atas lantai lima, sebuah sosok tinggi tegap melayang turun perlahan.
Pria itu mengenakan zirah besi hitam bersisik tebal dengan jubah bulu burung gagak yang berkibar ditiup angin buatan. Wajahnya yang bersudut tajam dihiasi oleh bekas luka bakar di leher, sementara sepasang matanya berwarna merah darah membara. Di tangan kanannya, tergenggam sebuah pedang panjang tanpa kilatan cahaya—Pedang Bayangan Hitam.
Dialah Ketua Vane, pimpinan tertinggi Sindikat Gagak Hitam di Kota Angin Kelam.
"Gani memang seekor anjing penakut yang tidak berguna," suara Vane bergema berat, memotong keheningan malam bagaikan dentang lonceng kematian. "Tetapi membunuhnya di dalam domainku dan mengacaukan lelang pasar gelap adalah kejahatan yang hanya bisa dibayar dengan nyawa."
Pandangan mata merah Vane mengunci sosok Hiraisin yang berdiri tenang di atas panggung mahoni, bersanding di dekat jasad Gani yang masih memancarkan asap tipis.
Liora melompat turun dari balkon lantai dua dengan gerakan seringan kapuk, mendarat tepat di samping Hiraisin. Jarum-jarum perak di selipan jemarinya berkilauan redup.
"Vane berada di Ranah Jiwa Pedang tingkat menengah," bisik Liora cepat dengan nada cemas. "Di dalam ruangan tertutup ini, Qi bayangannya sepuluh kali lebih mematikan. Kita tidak bisa bertarung secara terbuka darat dengannya."
"Di mana jalur keluar paling memungkinkan?" tanya Hiraisin tanpa memalingkan pandangannya dari Vane.
"Lantai paling atas," jawab Liora mantap. "Di balik kamar pribadi Vane terdapat ventilasi kubah atap yang terhubung langsung ke saluran air hujan kota. Jika kita berhasil menembus atap, kita bisa melompat ke saluran bawah tanah."
Vane terkekeh dingin melihat Liora berbisik-bisik. Tangan kirinya terangkat ke udara, memberi isyarat tak terbantahkan.
"Pengawal elite Gagak Hitam, penggal kepala pemuda itu! Ambil wanita itu hidup-hidup untuk dijadikan budak racun!" perintah Vane datar.
Sst! Sst! Sst!
Dari balik bayangan pilar dan tirai sutra lantai satu hingga tiga, puluhan pembunuh bayaran berzirah hitam meluncur turun bersamaan. Mereka membawa rantai besi berujung kait dan belati beracun, membentuk barikade berlapis yang mengurung jalan menuju tangga utama.
"Bergerak sekarang!" teriak Hiraisin.
Tanpa menunggu kepungan musuh rapat, Hiraisin menghentakkan tumitnya ke panggung. Tubuhnya melesat bagaikan anak panah lepas dari busur, memimpin serangan ke arah tangga melingkar di sisi kiri.
Tring! Tring! Crasss!
Dua pembunuh bayaran pertama yang mencoba menghadang langsung ditebas roboh oleh gerak memutar pedang patah Hiraisin. Meskipun Pil Meredam Jiwa masih menekan luapan kilatnya, ketajaman getaran frekuensi tinggi di mata pedangnya sanggup memotong zirah besi musuh bagaikan memotong kertas basah.
Liora menyusul tepat di belakang punggung Hiraisin. Wanita itu mengibaskan lengan bajunya, melemparkan Bubuk Pembuta Jiwa ke udara. Awan debu hijau menyebar seketika, membuat para pembunuh bayaran yang mengejar dari belakang berteriak kesakitan saat mata mereka terbakar racun.
"Tikus-tikus tidak tahu diri!" raung Vane dari atas.
Tubuh Vane memudar menjadi gumpalan asap hitam. Dalam sekejap mata, ia sudah muncul kembali di pertengahan tangga melingkar, menghadang jalan Hiraisin dan Liora.
Pedang Bayangan Hitam di tangan Vane mengayun miring. Gelombang energi hitam berbentuk cakar raksasa meluncur membelah udara, membawa bau busuk lumpur dan kematian.
"Awas!" jerit Liora seraya mendorong bahu Hiraisin.
Hiraisin mengangkat pedang patahnya melintang di depan dada, menahan sabetan cakar hitam tersebut secara langsung.
BOOM!
Benturan energi batin itu menciptakan ledakan angin yang menghancurkan tangga batu di bawah kaki mereka. Hiraisin terdorong mundur tiga langkah, merasakan sapuan energi bayangan Vane yang begitu berat menembus pertahanannya. Rasa mual menusuk dadanya saat darah hangat merembes dari sudut bibirnya.
Qi Vane terlalu pekat! batin Hiraisin bergejolak. Jika aku terus menahan diri dengan Pil Meredam Jiwa, kita berdua akan mati terbunuh di sini!
"Hiraisin, jangan paksa menggunakan energi petirmu secara penuh!" peringat Liora yang melihat guratan pembuluh darah di leher Hiraisin mulai menegang. "Meridianmu yang baru pulih bisa hancur!"
"Tidak ada pilihan lain!" tegas Hiraisin.
Dengan paksa, Hiraisin membakar dantiannya, mendobrak kurungan racun penekan Pil Meredam Jiwa dari dalam.
CZZZZZT!
Cahaya ungu keemasan meledak hebat dari poros tubuh Hiraisin. Gelombang kilat purba yang terkunci rapat mendadak menyembur keluar, menghancurkan topeng besi di wajahnya hingga berkeping-keping dan menerangi seluruh aula bawah tanah dengan cahaya sejernih siang hari.
BZZZZ-CLACK!
Runa-runa pelindung di dinding amfiteater meletus satu per satu, tak sanggup menampung daya kejut dari Elemen Petir Purba. Belasan pembunuh bayaran yang berada dalam radius lima meter terpental menghantam dinding batu dengan tubuh hangus terkilat.
Vane membelalakkan mata merahnya, melangkah mundur secara refleks saat hawa murni petir membakar ujung jubah bulunya.
"Kekuatan ini... kau adalah Pewaris Petir?!" teriak Vane kaget setengah mati.
"Liora, lari!" jerit Hiraisin seraya mengayunkan pedangnya ke arah langit-langit lorong.
BOOM!
Semburan kilat ungu keemasan melubangi atap lantai empat dan lima secara beruntun, meruntuhkan struktur kayu dan batu menjadi puing-puing yang menimbun jalan Vane.
Memanfaatkan kekacauan tersebut, Hiraisin meraih pinggang Liora dan melompat tinggi menerobos lubang runtuhan yang baru dibuatnya. Keduanya melintasi ruangan pribadi Vane yang terbakar dan keluar menembus kubah atap bangunan.
Ssshhhh...
Hujan deras yang mengguyur Kota Angin Kelam menyambut mereka di atas atap genteng basalt hitam. Angin malam bertiup kencang, membawa aroma tanah basah dan guntur yang bersahutan di langit malam.
Namun, sebelum mereka sempat melangkah dua tindak di atas atap basah, bayangan hitam memanjang meluncur cepat di bawah genangan air hujan.
CRASSS!
Vane menerobos genteng atap dari bawah, tubuhnya dibalut oleh Aura Bayangan Iblis yang menyerupai sayap gagak raksasa. Wajahnya dipenuhi murka yang teramat sangat karena markas besarnya dihancurkan.
"Kalian tidak akan pernah keluar hidup-hidup dari kota ini!" raung Vane.
Vane mengayunkan Pedang Bayangan Hitamnya dalam teknik mematikan: Tebasan Gerhana Bayangan. Gelombang bayangan hitam pekat setinggi tiga meter meluncur membelah hujan, mengincar tubuh Hiraisin dan Liora dari depan.
Hiraisin mendorong Liora ke samping. Dengan sisa-sisa tenaga dan meridian yang mulai retak akibat pemaksaan energi, Hiraisin menyilangkan kedua tangannya, memanggil seluruh sisa Qi Petir Purba di tubuhnya.
"Perisai Petir Purba!"
BOOOOOM!
Ledakan dahsyat antara energi bayangan hitam dan petir ungu keemasan terjadi di atas atap Red Crow Wine House. Gelombang kejutnya merubuhkan separuh struktur atap kayu dan melempar tubuh Hiraisin serta Liora melayang melewati tepi bangunan.
Di bawah tepi atap tersebut, membentang sebuah jurang gelap tempat saluran air utama Kota Angin Kelam mengalir deras menuju sungai bawah tanah.
Sambil melayang di udara, Hiraisin menggunakan sisa kesadarannya untuk mendekap tubuh Liora rapat-rapat dalam pelukannya, membelakangi permukaan air agar Liora tidak menghantam dasar sungai keras-keras.
SPLASHHH!
Tubuh keduanya jatuh menghantam pusaran air deras yang dingin membeku, tenggelam ke dalam kegelapan saluran air bawah tanah dan terbawa arus liar yang melesat menjauhi pusat kota.
Di atas atap yang hancur, Vane berdiri di bawah guyuran hujan deras sembari memegangi dadanya yang terbakar luka pendar kilat. Matanya menatap tajam ke arah sungai bawah tanah yang gelap guram.
"Cari mayat mereka!" raung Vane kepada puluhan anak buahnya yang baru bermunculan di atap. "Susuri setiap jengkal saluran air! Jika kalian tidak menemukan kepalanya, kepala kalian yang akan kugantikan!"
Dua jam kemudian, jauh di balik pinggiran Kota Angin Kelam.
Di sebuah ceruk gua batu yang lembap di dalam jaringan saluran air tua, suara gemericik air terdengar pelan.
Liora dengan bersusah payah menyeret tubuh Hiraisin keluar dari tepian sungai basah menuju tanah kering. Pakaian hitam Hiraisin telah robek-robek dan basah kuyup oleh air hujan dan darah.
"Hiraisin! Buka matamu!" bisik Liora panik seraya menepuk pelan pipi pemuda itu.
Hiraisin terbaring kaku tak berdaya. Kelopak matanya terpejam rapat, sementara di bawah permukaan kulit dadanya, percikan api listrik ungu keemasan memancar liar tanpa kendali. Efek samping (backlash) akibat memaksakan pelepasan energi petir saat meridiannya tertekan racun telah merusak jaringan Dantian dalam tubuhnya.
Napas Hiraisin terdengar sangat lemah dan terengah-engah, tubuhnya memanas tinggi bagaikan lahar mendidih di tengah dinginnya malam.
Liora meraba nadi leher Hiraisin, meresapi gejolak panas yang nyaris membakar jarinya sendiri.
"Meridiannya berada di ambang kehancuran..." desis Liora dengan wajah pucat pasi.
Ia segera mengambil Lencana Pimpinan milik Tetua Shan yang masih terikat erat di dalam genggaman tangan dingin Hiraisin. Saat jemari Liora menyentuh lencana giok tersebut, getaran energi petir dari tubuh Hiraisin mendadak merespons batu giok itu.
Hummm...
Lencana Pimpinan memancarkan cahaya hijau lembut yang memproyeksikan sebuah peta pola Runa purba ke dinding gua batu. Di tengah peta bercahaya tersebut, terukir sebuah nama wilayah terlarang yang dikelilingi oleh simbol badai petir abadi:
Lembah Badai Purba.
Liora menatap peta proyeksi itu dengan mata membelalak, lalu beralih memandangi wajah Hiraisin yang terbaring lemah di hadapannya.
"Artefak Kilat Pertama..." bisik Liora. "Satu-satunya cara menyembuhkan meridianmu adalah membawa tubuhmu ke Lembah Badai Purba sebelum energi petir ini membakarmu dari dalam."