Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29 - Bros yang Hilang
Arman datang kurang dari satu jam setelah Ratna menelepon.
Ia datang tidak sendiri. Ada asisten muda bernama Bima, seorang perempuan dari bagian rumah tangga keluarga Wibisana, dan dua petugas keamanan. Ratna berdiri di teras dengan wajah dingin saat mobil mereka berhenti.
Bu Rini, yang kebetulan sedang mengantar pesanan nasi uduk ke tetangga, langsung memperlambat langkah.
Ratna menatapnya.
Bu Rini mengangkat tangan. "Saya lewat."
"Lewatlah lebih cepat."
Bu Rini berjalan cepat, tetapi kepalanya tetap menoleh.
Arman mendekat.
"Bu Ratna."
"Masuk."
Tidak ada basa-basi. Arman mengikuti.
Di ruang tamu, Ratna menjelaskan singkat. Bros emas dengan batu hijau hilang dari kotak perhiasan. Tidak ada tanda pintu rusak. Yang masuk rumah hanya Ratna, Melati, Sulastri, Mira, dan kemarin sebentar Raka mengantar galon. Dari semua itu, Ratna hanya mencurigai satu orang, tetapi ia tidak ingin menuduh tanpa bukti.
Arman mendengarkan tanpa memotong.
Setelah selesai, ia berkata, "Ada kamera?"
"Tidak."
"Pintu kamar?"
"Tidak terkunci. Saya tidak terbiasa mengunci kamar di rumah sendiri."
Arman mengangguk. "Bros itu dari saya, jadi saya ikut bertanggung jawab karena orang-orang itu juga dari saya."
"Saya yang menerima mereka bekerja."
"Tetap saya yang memperkenalkan."
Ratna tidak membantah.
Bima memeriksa daftar staf. Perempuan bagian rumah tangga, namanya Bu Tien, tampak tegang.
"Pak, Sulastri sudah lama bekerja lepas untuk keluarga. Mira baru tiga bulan masuk daftar panggilan."
Arman menatapnya. "Siapa yang merekomendasikan?"
"Sepupunya staf lama."
"Panggil keduanya."
Ratna berkata, "Jangan kasar."
Arman menoleh padanya. "Saya tidak perlu kasar untuk membuat orang bicara."
Kalimat itu benar.
Satu jam kemudian, Sulastri dan Mira datang. Sulastri tampak bingung dan takut. Mira datang dengan wajah tersinggung.
"Ada apa, Bu? Saya sedang masak di rumah."
Ratna duduk di kursi ruang tamu. Arman berdiri di dekat jendela. Bima memegang map.
Ratna berkata, "Bros saya hilang."
Sulastri terkejut. "Innalillahi. Bros yang kotak biru itu, Bu?"
Ratna memperhatikan reaksinya.
"Kamu tahu?"
"Saya lihat waktu Ibu buka laci, Bu. Saya tidak pegang."
Mira langsung berkata, "Saya tidak tahu apa-apa."
Ratna menatapnya. "Saya belum menuduh."
"Tapi semua orang melihat saya."
Arman berkata tenang, "Karena Ibu Mira paling lama berada di kamar."
Mira menoleh cepat. "Saya membersihkan."
"Membersihkan laci?"
"Tidak."
Bima membuka map. "Bu Mira, sebelum ke sini, tim kami mengecek CCTV gerbang cluster. Pagi tadi setelah keluar dari rumah Bu Ratna, Ibu berhenti di depan warung emas kecil dekat pasar selama tujuh menit."
Wajah Mira berubah.
Sulastri menutup mulut.
Ratna menatap Bima. Ia tidak tahu mereka bisa mengecek secepat itu.
Mira berkata, "Saya beli anting."
Bima mengeluarkan foto dari ponsel. "Pemilik toko mengaku Ibu menawarkan bros emas dengan batu hijau. Dia menolak karena curiga barangnya tidak ada surat."
Mira berdiri. "Ini fitnah!"
Arman tidak bergerak.
"Duduk."
Suara Arman pelan, tetapi Mira duduk kembali.
Ratna merasakan tengkuknya dingin. Ia tidak suka adegan ini, tetapi ia lebih tidak suka rumahnya dicuri.
"Mira," kata Ratna. "Kalau kamu kembalikan sekarang, saya pertimbangkan tidak melapor polisi."
Mira menangis tiba-tiba. "Bu, saya khilaf."
Sulastri menatapnya, kecewa. "Mir..."
Mira merogoh tasnya dengan tangan gemetar. Dari dompet kain kecil, ia mengeluarkan bros emas hijau itu, dibungkus tisu.
Ratna menerima bros itu.
Barangnya kecil. Tidak seberapa dibanding kekayaan Arman, mungkin. Tetapi bagi Ratna, benda itu menjadi simbol rumah baru yang nyaris ternoda.
"Kenapa?" tanya Ratna.
Mira menangis. "Saya butuh uang. Anak saya mau masuk sekolah. Saya pikir Bu Ratna pasti punya banyak. Pak Arman juga kaya. Bros itu mungkin tidak berarti."
Ratna menatapnya lama.
Kalimat itu terdengar sangat akrab.
Kamu punya banyak, jadi sedikit untukku tidak apa-apa.
Sari berpikir begitu.
Saudara-saudaranya berpikir begitu.
Sekarang Mira juga.
"Mira, kalau kamu butuh uang dan meminta pinjaman, saya mungkin menolak, mungkin membantu sedikit. Tapi mencuri membuatmu kehilangan kepercayaan."
"Maaf, Bu. Jangan lapor polisi. Saya mohon."
Ratna menatap Arman.
Arman berkata, "Keputusan di tangan Ibu."
Semua menunggu.
Ratna menggenggam bros itu.
"Saya tidak melapor polisi hari ini."
Mira langsung menangis lega.
"Tapi kamu tidak bekerja di rumah saya lagi. Dan Pak Arman, saya minta nama dia dicoret dari daftar staf yang dikirim ke rumah mana pun sampai ada evaluasi."
Arman mengangguk. "Baik."
Mira pucat. "Bu..."
"Kalau kamu mencuri di rumah orang lain, belum tentu mereka memberimu kesempatan seperti ini."
Mira menunduk.
Bu Tien membawa Mira keluar. Sulastri tetap tinggal, wajahnya malu.
"Bu Ratna, saya minta maaf. Saya tidak tahu dia begitu."
"Kamu tidak salah."
"Kalau Ibu tidak mau saya bekerja lagi, saya mengerti."
Ratna menatapnya. Sulastri tampak sungguh takut kehilangan pekerjaan, tetapi tidak mencoba membela diri berlebihan.
"Kamu tetap datang. Tapi kamar saya tidak perlu dibersihkan kecuali saya ada."
"Baik, Bu. Terima kasih."
Setelah semua pergi, tinggal Ratna dan Arman di ruang tamu.
Ratna meletakkan bros di meja.
"Saya tidak bisa menerima ini."
Arman menatap bros itu. "Karena dicuri?"
"Karena sejak benda ini masuk, orang mulai merasa rumah saya berisi sesuatu yang bisa diambil."
"Bukan salah benda itu."
"Saya tahu. Tapi saya belum siap menyimpan barang mahal."
Arman duduk di kursi seberang.
"Bros itu tidak terlalu mahal."
Ratna menatapnya.
Ia mengoreksi, "Menurut ukuran saya."
"Menurut ukuran saya, itu cukup untuk membuat orang kehilangan pekerjaan."
Arman mengangguk pelan. "Poin diterima."
Ratna mendorong bros ke arahnya.
Arman tidak mengambil.
"Simpan saja. Bukan sebagai hadiah. Sebagai pengingat bahwa rumah Ibu butuh kunci kamar."
Ratna hampir marah, tetapi melihat wajahnya, ia tahu Arman tidak sedang bercanda.
"Saya bisa membeli kunci."
"Tentu. Saya hanya berharap Ibu tidak mengembalikan semua hal baik karena ada orang buruk yang mencoba mengambilnya."
Ratna diam.
Arman melanjutkan, "Kalau bros itu membuat Ibu tidak nyaman, saya ambil. Tapi jangan karena Mira. Jangan karena Sari. Jangan karena saudara Ibu. Pilih karena Ibu memang tidak menginginkannya."
Ratna menatap bros itu.
Apakah ia tidak menginginkannya?
Ia belum pernah memakai, tetapi diam-diam ia menyukai warnanya. Hijau tua seperti selendang batik Yogyakarta. Tidak mencolok, tetapi hidup.
"Saya simpan," kata Ratna akhirnya. "Tapi tidak saya pakai dulu."
"Itu sudah lebih dari cukup."
Arman berdiri.
"Saya akan kirim tukang untuk pasang kunci tambahan."
Ratna langsung menatapnya.
Arman cepat berkata, "Dengan izin Ibu."
Ratna menahan senyum. "Besok pagi. Saya bayar."
"Baik."
Setelah Arman pergi, Ratna memasukkan bros itu kembali ke kotak. Kali ini ia mengunci laci.
Sore hari, kabar pencurian sudah sampai ke telinga Sari.
Entah dari siapa, Ratna tidak tahu.
Yang ia tahu, malamnya Sari mengirim pesan.
Sari: Jadi benar Pak Arman kasih perhiasan? Kalau Bambang tahu, dia pasti sadar siapa yang sebenarnya tidak setia.
Ratna membaca pesan itu tanpa gemetar.
Lalu ia membalas:
Ratna: Datanglah kalau ingin bicara. Jangan bersembunyi di pesan.
Sari tidak membalas.
Tetapi Ratna tahu perempuan itu tidak akan diam lama.
Sebelum tidur, Ratna memasang kunci tambahan di laci kamar. Tukang yang dikirim Arman datang sore tadi, memasang dengan cepat, lalu menerima bayaran langsung dari Ratna meski awalnya menolak.
"Pak Arman sudah..."
"Saya yang bayar," kata Ratna.
Tukang itu tidak berani membantah.
Sekarang kunci kecil itu tergantung di gantungan bersama kunci rumah. Ratna memegangnya, merasakan dingin logam di telapak tangan.
Rumah aman bukan hanya soal pagar dan satpam.
Rumah aman adalah tempat di mana ia boleh menentukan siapa menyentuh apa, siapa masuk sampai mana, dan siapa harus berhenti ketika ia berkata cukup.
Ponselnya bergetar lagi.
Bambang: Aku dengar kamu terima perhiasan dari dia.
Ratna menatap pesan itu.
Ia bisa saja menjelaskan. Bisa saja marah. Bisa saja mengirim bukti kontrak rumah, bukti pembayaran sewa, bahkan foto bros yang hampir dicuri.
Ia tidak melakukan semua itu.
Ratna: Urusanmu dengan Sari belum selesai. Jangan sibuk dengan rumahku.
Bambang tidak membalas.
Ratna meletakkan ponsel.
Ia tidak tahu mana yang lebih melelahkan: orang yang mengambil barangnya, atau orang yang masih merasa berhak mengatur setelah menghancurkan haknya.
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
emosiiii akuuuuu
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan