NovelToon NovelToon
Dendam Putri Yang Tertukar

Dendam Putri Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Yuxin melangkah mendekati kerumunan para gadis bangsawan, menyapa dengan senyum sopan. "Selamat malam, semuanya. Terima kasih sudah datang ke pestaku."

Percakapan yang tadi riuh langsung senyap sesaat. Gadis berhanfu hijau muda melirik Ruoxi lebih dulu, seolah menunggu isyarat bagaimana harus bersikap.

"Oh, Nona Lin," sahut salah satu dari mereka, nadanya dibuat ramah namun matanya menyapu penampilan Yuxin dari atas ke bawah, seperti menilai barang di pasar. "Kami baru saja membicarakan betapa... menariknya kisahmu."

Ruoxi mengangkat cangkir tehnya, menyesap pelan, tidak repot-repot berdiri menyambut. "Yuxin, kau datang tepat waktu. Kami sedang bicara soal puisi. Kau tahu tentang puisi, bukan?"

Nada pertanyaan itu bukan pertanyaan biasa, melainkan jebakan yang dibungkus rapi.

"Aku tahu sedikit," jawab Yuxin tenang, tidak menunjukkan gentar sedikit pun.

Gadis berhanfu hijau muda menutup mulutnya dengan kipas, tawa kecil lolos dari sela jarinya. "Sedikit? Oh, tidak apa-apa, Nona Lin. Tidak semua orang punya kesempatan belajar sastra sejak kecil."

"Benar," sambung yang lain, "apalagi kalau dulu sibuk membantu berjualan di pasar."

Tawa kecil menyebar, tertahan di balik kipas sutra.

Ruoxi tersenyum puas melihat reaksi itu. "Sudahlah, jangan terlalu keras padanya. Yuxin baru belajar tiga hari." Dia menoleh, wajahnya penuh keprihatinan yang dibuat-buat. "Duduklah, Yuxin. Kau tidak perlu memaksakan diri kalau memang belum siap."

Yuxin tersenyum tipis. "Kalau begitu, mungkin ini kesempatan bagus untuk kita saling belajar. Ruoxi tadi bilang sedang membicarakan puisi. Boleh aku tahu, syair siapa yang sedang dibahas?"

Ruoxi mengangkat alis, sedikit terkejut Yuxin tidak langsung mundur seperti yang dia harapkan. Tapi rasa terkejut itu cepat berubah jadi kesenangan. Ini justru lebih baik daripada rencananya semula, biar Yuxin sendiri yang meminta untuk dipermalukan.

"Syair karya Li Shangyin," jawabnya. "Tapi kalau kau memaksa, Meihua, bacakan bait yang tadi. Yang paling sulit."

Meihua membuka kipasnya, sengaja memilih larik paling berbelit tentang cinta yang tak sampai dan lilin yang meleleh menjadi abu.

Semua mata beralih pada Yuxin, menunggu keheningan canggung yang mereka yakin akan segera muncul.

Tapi Yuxin hanya diam sejenak, lalu menjawab tenang, menjelaskan makna syair itu tentang kesetiaan yang terus berkorban meski tahu semuanya sia-sia, bahkan menyisipkan cerita kecil tentang tabib tua yang pernah membacakannya di samping pasien sekarat.

Tawa yang tadi mengambang di udara lenyap seketika.

"Kau..." Ruoxi berdiri dari duduknya, secangkir teh di tangannya tumpah sedikit karena gerakan tiba-tiba. Wajahnya memerah, bukan karena malu, tapi amarah yang sulit dia tahan. "Sok tahu sekali kau bicara tentang pengorbanan. Kau bahkan baru tiga hari di rumah ini, dari mana kau tiba-tiba jadi paham sastra begini dalam?"

Suaranya sudah meninggi, cukup membuat beberapa tamu di dekatnya menoleh.

"Aku hanya menjawab yang Kak Ruoxi minta," jawab Yuxin, nadanya tetap datar, sengaja tidak terpancing.

"Jangan berlagak polos!" Ruoxi melangkah maju, jarak di antara mereka menyempit. "Kau pikir dengan menghafal beberapa tafsiran, kau bisa menyamai orang yang sudah belajar sastra bertahun-tahun? Ini memalukan, Yuxin. Kau membuat dirimu sendiri terlihat seperti sedang berpura-pura pintar di depan semua orang."

Bisik-bisik kecil mulai merambat dari satu kelompok tamu ke kelompok lain.

Meihua menarik lengan Ruoxi pelan. "Ruoxi, orang-orang mulai melihat..."

"Aku tidak peduli!" Ruoxi menepis tangan itu, matanya masih menyala menatap Yuxin. Dia baru sadar suaranya sudah terlalu keras, terlalu tidak terkendali untuk seorang nona bangsawan di depan tamu-tamu penting, tapi amarahnya sudah kadung meluap dan tidak bisa dia tarik kembali secepat itu.

Yuxin menatapnya, tidak bergerak, tidak membalas dengan nada tinggi yang sama. Justru keheningannya yang membuat kemarahan Ruoxi terlihat semakin berlebihan di mata orang-orang yang mulai berkumpul menonton.

Di sudut halaman, berdiri sendirian di antara bayang-bayang lentera, Li Chen menyaksikan seluruh adegan itu dengan tenang. Jubah birunya yang sederhana membuatnya lebur di antara tamu-tamu biasa, tak seorang pun menyadari bahwa yang sedang mengamati mereka malam ini adalah putra mahkota yang sengaja menanggalkan gelarnya untuk melihat bagaimana rakyatnya berperilaku.

Dia sudah memperhatikan Ruoxi sejak awal pesta, cara gadis itu tersenyum pada satu tamu lalu berbisik sinis begitu tamu itu berlalu. Dan sekarang, cara kesabarannya runtuh hanya karena kalah adu kata dari seorang gadis yang baru tiga hari kembali ke keluarganya.

Sementara itu, mata Li Chen terus tertuju pada Yuxin. Bukan pada kecantikannya, melainkan pada caranya berdiri diam di tengah amukan yang jelas ditujukan untuk merobohkannya.

Ada sesuatu di balik ketenangan itu yang tidak dia temukan di antara para nona bangsawan yang selama ini berlomba menariknya perhatian. Senyum tipis di bibirnya perlahan berubah jadi sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa ingin tahu.

1
Adi Sudiro
lama" muak ama ni cerita drama yg di ulang ulang ujung " nya matanya pada picek menjijik kan wassalam lah ku kira cerita nya agak lain dari yg lain ternyata sama saja alurnya..
Dessy C: Maaf ya akak kalau tidak sesuai harapan 🙏... terimakasih atas masukannya nanti akan di perbaiki ke depan nya 🙏🥰
total 1 replies
Yeni Astriani
saya kecewa sama Li cen sbg Putra Mahkota yang tidak mampu melindungi Putri Mahkota dr persengkokolan jahat Permaisuri Xuan terlalu mudah kena tipu daya Gu Yueran
kymlove...
selalu diam dan mengamati, sehingga telat untuk membela diri.... entah kenapa yuxin ini mengamati situasi terlalu lama, seakan berhati-hati sekali, tapi dengan selalu lama dalam mengambil tindakan terkesan membiarkan masalah terlalu terlambat untuk di selesaikan!
Dessy C: makasih akak masukan nya 🙏🥰
total 1 replies
Adi Sudiro
perkumpulan wanita culas.... 🤭🤭🤭
Adi Sudiro
lah kan memang bukan putri keluarga lin... lawak nih tuan besar... 🤭🤭
Dessy C: makasih akak komemn nya 🙏🫰
total 1 replies
kymlove...
bagus!! jika ruoxi masih tak tau diri.. dan tetap gak sadar diri...!! emang bener 2 benalu abadi sih ini!!
kymlove...
bilang aja jujur yuxin kalau ruoxi memberi mu hanfu sampah!!!
kymlove...: semangat trz kk🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!