Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?
Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.
Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Saat fajar mulai menyingsing di balik pepohonan pinus, cahaya keemasan menyinari perimeter luar Sektor Tujuh. Hayden dan Fiora sudah selesai mengemas seluruh perlengkapan ke dalam *Armored Rover*, memastikan jeriken bahan bakar tambahan terikat sempurna di bagian belakang kendaraan.
Sarah melangkah mendekati mereka di dekat gerbang kayu, memperhatikan gerak-gerik keluarga kecil itu dengan raut wajah menghargai sekaligus berat hati.
"Kalian yakin mau berangkat sepagi ini?" tanya Sarah seraya bersedekah tangan. "Jalur utara bukan tempat yang ramah, Hayden. Apalagi membawa anak kecil."
"Semakin cepat kami bergerak, semakin besar peluang kami sampai sebelum badai atau ancaman lain datang," jawab Hayden mantap, menjabat tangan Sarah dengan hangat. "Terima kasih atas tempat bernaung dan pasokan bahan bakarnya, Sarah. Perbaikan generator itu tidak sebanding dengan kebaikan kelompokmu."
Sarah mengulas senyum tipis, lalu berlutut menyamai tinggi Leo yang sedang memeluk erat boneka beruangnya. "Jaga orang tuamu ya, Jagoan. Jangan nakal di jalan."
Leo mengangguk polos seraya tersenyum kecil. Fiora merangkul bahu sang bocah, menatap Sarah dan Dr. Evan yang berdiri di sampingnya dengan binar mata penuh rasa syukur.
"Semoga kalian tetap aman di Sektor Tujuh," ujar Fiora tulus sebelum menuntun Leo naik ke kursi belakang *Armored Rover*.
Hayden melompat ke kursi pengemudi, menyalakan mesin kendaraan baja yang menderu halus membelah keheningan pagi. Tom menarik tuas barikade, membukakan jalan keluar bagi mereka.
Saat *Armored Rover* perlahan meluncur meninggalkan pos stasiun radio tua, Hayden menatap lurus ke jalanan tanah yang mengarah ke Ngarai Kelam. Di sampingnya, Fiora membuka peta topografi digital yang baru saja mereka unduh semalam.
Perjalanan melintasi zona berbahaya menuju Fasilitas Oase kini resmi dimulai kembali. Dengan antibodi Leo yang terbukti stabil dan jalur navigasi yang jelas di tangan, harapan untuk menyembuhkan dunia kini melaju makin dekat menuju tujuannya.
*Armored Rover* meluncur memotong jalan pintas sesuai peta navigasi digital, melintasi gerbang beton tua bertuliskan *Kota Sektor Sembilan*. Kota mati yang dahulunya pusat industri padat itu kini sunyi mencekam. Gedung-gedung pencakar langit yang merana berdiri bagai raksasa mati di antara tumpukan bangkai mobil dan puing-puing bangunan.
"Hayden, rute ini seharusnya tidak melewati area padat penduduk," ujar Fiora seraya meneliti layar navigasi yang mulai berkedip-kedip kusam.
"Ngarai Kelam longsor," jawab Hayden dingin, matanya terus menyapu sudut-sudut jalanan yang dipenuhi bayangan. "Ini satu-satunya rute melingkar yang tersisa jika kita ingin sampai ke Oase sebelum malam."
Tiba-tiba, suara retakan logam keras berbunyi dari kolong kendaraan.
*BLEKOK! BANG!*
Banjir sisa reruntuhan beton bertulang besi tajam mencabik ban kanan depan *Armored Rover*. Mobil baja itu terhuyung hebat, menabrak barikade bus kota yang melintang, sebelum akhirnya berhenti total di tengah persimpangan utama kota.
"Semuanya merunduk!" bisik Hayden tegas seraya mematikan mesin secara instan untuk menekan suara.
Di kursi belakang, Leo membungkam mulutnya sendiri, memeluk boneka beruangnya erat-erat dalam dekapan Fiora. Keheningan yang menakutkan mendadak menyelimuti kabin mobil.
Namun, hantaman keras *Armored Rover* ke bus kota tadi rupanya merambatkan getaran hebat hingga ke celah-celah lorong bawah tanah kota. Dari balik jendela kaca berdebu, Hayden melihat pergerakan.
Satu, dua... lalu belasan bayangan manusia yang membusuk merayap keluar dari celah-celah pertokoan dan lubang gorong-gorong. Dalam hitungan detik, desisan parau dan langkah kaki berserat bergema memantul di antara dinding-dinding beton. Ratusan zombie dari seluruh penjuru Sektor Sembilan mulai berdatangan, tertarik oleh aroma minyak mesin dan sisa getaran kendaraan.
Mereka mengepung *Armored Rover* dari segala sisi, menutup setiap celah jalan keluar. Kota mati itu kini berubah menjadi sarang jebakan tanpa jalan melarikan diri.
*GUBRAK! GUBRAK!*
Puluhan tangan membusuk mulai menghantam kaca tebal *Armored Rover*. Desisan parau dan erangan kelaparan ratusan terinfeksi bergema dari segala penjuru, mengepung mobil baja itu hingga tak tersisa celah untuk bergerak.
"Hayden, kaca samping mulai retak!" bisik Fiora tegang, merangkul Leo makin erat di dekapan dadanya seraya mengokang senjata dengan tangan satunya.
"Jangan menembak," pangkas Hayden cepat dan dingin. "Suara letusan senjata cuma bakal memanggil seluruh isi kota ini ke sini."
Hayden dengan cepat memeriksa panel kontrol dasbor. Ban kanan depan hancur total, mengunci arah roda. Menabrakkan mobil secara paksa hanya akan membuat mesin mati di tengah lautan zombie. Matanya yang tajam menyapu sekeliling, mencari celah di antara himpitan gedung-gedung tua.
Lima puluh meter di sebelah kiri mereka, terdapat sebuah pintu besi tebal menuju lorong perawatan bawah tanah *Sektor Sembilan*. Pintu itu setengah terbuka, cukup lebar untuk dilewati manusia, tapi terlalu sempit untuk dilewati kendaraan.
"Kita harus keluar dan lari ke pintu besi sebelah kiri itu," ujar Hayden mantap seraya meraih dua granat asap dari sabuk taktisnya. "Begitu aku lempar granat ini, Fiora, kamu lari secepat mungkin sambil gendong Leo. Jangan menoleh ke belakang!"
"Lalu kamu bagaimana?!" tanya Fiora khawatir.
"Aku di belakang kalian."
Hayden menarik pin kedua granat asap lalu membuka sedikit celah atap kendaraan. Ia melempar keduanya ke arah berlawanan—ke tumpukan bangkai bus di sebelah kanan.
*HISS!*
Asap putih tebal meledak menyembur, disertai bau kimia menyengat yang membingungkan indra penciuman dan penglihatan kawanan terinfeksi. Sebagian besar zombie mulai beralih dan merayap gila menuju sumber asap tersebut.
"Sekarang!" teriak Hayden.
Ia mendobrak pintu pengemudi, menjatuhkan dua zombie terdepan dengan sabetan pisau komando tepat di leher. Fiora melompat keluar seraya menggendong Leo erat-erat, berlari melintasi puing-puing jalanan menuju pintu besi bawah tanah.
Hayden memberi tembakan peredam presisi untuk melindungi jalur lari Fiora. Namun, dari balik lorong gelap di samping mereka, tiga zombie bertubuh besar menerjang cepat. Hayden menahan hantaman itu dengan pelindung lengannya, menyikut satu terinfeksi hingga terjerembet, lalu menembak dua lainnya tepat di kepala.
"Fiora, masuk!" raung Hayden.
Fiora berhasil menembus pintu besi bersama Leo. Hayden menyusul masuk dalam satu lompatan cepat, lalu bersama Fiora menarik pintu besi tebal itu rapat-rapat.
*BANG!*
Palang besi dikunci dari dalam tepat saat puluhan tangan zombie menghantam permukaan luar pintu tersebut. Erangan histeris bergema dari luar, tapi pintu tahan ledakan itu berdiri kokoh.
Di dalam lorong bawah tanah yang gelap dan lembap, Hayden terduduk menyandar ke dinding beton, napasnya memburu. Di sampingnya, Fiora memeluk Leo yang bergetar ketakutan. Mereka selamat dari kepungan atas, namun kini terjebak di labirin lorong bawah tanah kota zombie tanpa kendaraan.